HALIMAH BINTI MASDARI

Sabtu, 10 Desember 2016

Fatimah Az Zahra, Pemimpin Kaum Wanita Mukmin

Fatimah Az Zahra, Pemimpin Kaum Wanita Mukmin



            Assalamualaikum Salikhah…J
            Dear ladies around the world, Nama Fatimah Az Zahra atau dikenal sebagai sayyidah Fatimah RA tentu bukanlah hal asing bagi kalian. Ya, dialah sosok wanita terhormat yang mulia di dunia dan di akherat. Dialah sosok pemimpin wanita mukmin, Sayyidah Fatimah RA adalah putri Rosulullah SAW dengan Siti Khodijah RA. Sayyidah Fatimah RA adalah istri dari Sayyidina Ali RA, ibunda dari dua pemimpin mulia (Hasan dan Husein) serta ibunda dari dua putri tercintanya yakni Zainab dan Ummu Kultsum.
            Bagaimanakah sosok Sayyidah Fatimah RA?. Sayyidah Fatimah RA adalah sosok wanita solikhah yang penyayang, lemah lembut, taat perintah Allah dan RosulNya. Berikut adalah keteladanan sifat-sifat mulia yang dimiliki sayyidah Fatimah RA yang patut ditiru oleh wanita mukmin seluruh dunia:
1.      Memiliki jiwa leadership (kepemimpinan) tinggi.
Sayyidah Fatimah RA turut serta dalam perang Khondaq dan Khoibar. Pada peperangan ini, Nabi Muhammad SAW memberikan bagian untuknya sebanyak 85 wasaq gandum Khoibar.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rosulullah SAW bersabda, “Wanita penghuni surga terbaik adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam dan Asiyah”.  [ HR. Ahmad (1/ 294), dishahihkan Hakim (V/ 278,279), dan disetujui Adz-Dzahabi ].
Rosulullah SAW bersabda, “Engkau (Fatimah) pemimpin kaum wanita penghuni surga kecuali Maryam binti imran,” [ Sanad hadis ini Hasan, disebutkan Al-Muttaqi dalam Kanzul Ummal (XIII/ 675), dan ia nyatakan bersumber dari Ibnu Abi Syaibah. Tambahan hadis ini berasal darinya ].
Selain itu, Sayyidah Fatimah RA adalah sosok ibunda dari dua pemimpin pemuda penghuni surga.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin pemuda penghuni surga.” [ HR. Ahmad (III/ 3), HR. Tirmidzi (3768), Abu Ya’la (II/ 395) dengan sanad Hasan).
2.      Jujur dalam Berkata
Diriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata, “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang tutur katanya lebih jujur melebihi Fatimah, kecuali ayahnya,”. (HR. Hakim dan ia nyatakan shahih, Adz-Dzahabi menyetujui pernyataannya).
3.      Pemalu
Diriwayatkan dari Anas RA, Rosulullah SAW datang menemui Fatimah dengan membawa seorang budak yang beliau berikan padanya. Saat itu Fatimah mengenakan baju yang jika digunakan untuk menutup kepala, kakinya terbuka dan jika digunakan untuk menutup kaki, kepalanya terbuka. Saat Nabi Muhammad SAW melihat sikap Fatimah, beliau bersabda: “Tidak kenapa bagimu, yang ada hanya ayah dan budak milikmu” [ HR. Abu Dawud da Baihaqi, Dishahihkan Al-Albani dalam Al Irwa (VI/ 206) ].     
4.      Sayyidah Fatimah RA adalah sosok yang pekerja keras dan mengabdi pada suami
Sayyidah Fatimah RA taat terhadap suami. Karena surga bagi seorang istri mukmin adalah taat pada suaminya.
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Fatimah RA mengamalkan sunnah. Ia tidak mengizinkan seorangpun masuk ke dalam rumah tanpa izin suami”.
Bukan hanya itu, meskipun Sayyidah Fatimah RA adalah putri dari seorang Amirul mukminin, beliau bukanlah sosok yang manja, pemalas, dan ogah-ogahan. Hal itu terlihat pada beliau yang sering menyapu rumah hingga debu menempel pada pakaiannya, menumbuk gandum untuk makan, dan menyalakan api hingga bajunya kotor.
Ali RA menuturkan, “Aku menikahi Fatimah. Kami tidak punya tikar selain kulit kambing yang kami jadikan alas tidur pada malam hari, dan pada siang harinya kami gunakan untuk alas makan. Aku tidak memiliki pelayan selainnya. Saat Rosulullah SAW menikahkannya denganku, beliau mengirimnya dengan membawa sebuah selimut, bantal dari kulit berisi serabut, dua batu penggiling, kendi, dan dua gelas. Ia menggiling (gandum) dengan batu gilingan hingga membekas di tangannya, meminum dari geriba air hingga membekas di lehernya, menyapu rumah hingga debu-debu menempel di pakaiannya, dan menyalakan api hingga bajunya kotor.”  (Ahkmamun Nisa, Ibnu Jauzi, hal: 124).


Dear salikhah…tulah kisah Sayyidah Fatimah RA yang menginspirasi. Semoga kita dapat memetik hikmah darinya dan menjadikannya sebagai sosok tauladan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama dalam rumah tangga. Sayyidah Fatimah RA adalah sosok yang zuhud, lebih mencintai kehidupan akherat yang sifatnya abadi dibandingkan kehidupan dunia yang sifatnya fana atau hanya sementara. Beliau senantiasa menjalankan sunnah, taat beribadah…mengutamakan Allah SWT dan RosulNya dia atas kepentingannya. Beliau sosok pribadi yang penyabar hidup di atas garis kemiskinan, beliau sosok penyayang, beliau sosok yang rajin beribadah. Semoga kita bisa berkumpul dan termasuk golongan yang beruntung yang dipertemukan dan disatukan dengan beliau di akherat nanti. Aaamiin.   

Jumat, 09 Desember 2016

Sayyidah Saudah RA, Wanita Mulia nan Murah Hati

Sayyidah Saudah RA, Wanita Mulia nan Murah Hati


         Dear Salikhah…
        Siapakah sosok Sayyidah Saudah Binti Zam’ah RA?. Sayyidah Saudah Binti Zam’ah RA adalah istri kedua rosulullah SAW setelah sepeninggalnya (setelah wafadnya) Sayyidah Khodijah RA. Suami pertama Sayyidah Saudah binti Zam’ah RA adalah Sakran bin Amr. Sakran bin Amar dan Saudah binti Zam’ah termasuk orang pertama yang memeluk islam dan meletakkan islam dan iman di dalam relung hatinya. Keduanya (Sakran bin Amr dan Saudah binti Zam’ah) termasuk orang-orang yang lebih dulu berpasrah hati dengan segenap jiwanya kepada Allah SWT, sehingga mereka dimasukkan sebagai golongan orang-orang yang meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.
            Namun, tak lama kemudian, berita keislaman Sakran bin Amr menyebar. Saat itu pula kaum kafir quraisy (para budak nafsu dan syahwat yang akalnya ditiup setan dan hatinya dipenuhi rasa benci terhadap kaum muslimin) langsung menimpakan siksa pada Sakran bin Amr sejadi-jadinya tanpa memperdulikan hubungan kekerabatan. Bagaimanakah kejamnya kaum kafir quraisy kala itu bila mendengar keislaman seseorang?. Ya…kaum kafir quraisy memperlakukan semena-mena siapapun yang masuk islam dan mengikuti Rosulullah SAW. Setiap muslim yang ada di tengah-tengah mereka ditangkap, lantas disiksa dengan pemukulan, ditelantarkan dalam kelaparan dan kehausan, dan dijemur dipadang pasir. Astagfirullah…L
            Dahulu, demi membela islam, seorang rela dipukul, disiksa, dijemur di bawah terik matahari di padang pasir. Sungguh begitu besar cintanya akan islam. Marilah merenung sejenak? Apabila anda muslim, seberapa besarkah cintamu pada Allah SAW dan Nabi Muhammad SAW?. Bila engkau mencintainya, dalam sehari berapa kali engkau mengingat Allah SWT (berdzikir dan bertasbih menyebutNya)?, dalam sehari berapa ratus engkau mengucap sholawat sebagai bentuk cintamu pada Nabi Muhammad?. Marilah merenung sejenak, kita renungkan seberapa banyak dosa kita, mari kita perbaiki perlahan-lahan.
            Back to Sayyidah Saudah RA Story...
Karena kejamnya kaum quraisy terhadap kaum muslim, maka Sayyidah Saudah RA bersama suaminya (Sakran bin Amr) hijrah ke tanah Habasyah. Keduanya menjalani kehidupan terbaik di bawah naungan iman dan tauhid di tanah An-Najasyi, raja yang adil.  Setelah itu mereka berdua (Sayyidah Saudah binti Zam’ah RA dan Sakran binti Amr) kembali ke Makah. Saat kembali ke Makah, Saudah binti Zam’ah RA dan suaminya rupanya masih melihat kaum quraisy masih saja memusuhi Nabi  Muhammad SAW beserta para pengikutnya. Hari-haripun berlalu, sementara pasangan ini (Saudah binti Zam’ah dan Sakran bin Amr) tetap hidup berdampingan dengan kitab Allah dan sunnah Rosulullah SAW setiap saat. Hingga akhirnya, tibalah Sakran bin Amr mengahadap Sang Maha Kuasa (tidur di atas ranjang kematian), dan Saudah binti Zam’ah menjadi janda.
Sayyidah Saudah binti Zam’ah RA adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad SAW setelah Khodijah RA wafad. Sayyidah Saudah tinggal bersama Nabi Muhammad SAW sekitar tiga tahun hingga beliau menikahi Sayyidah Aisyah RA. Berikut adalah keteladaanan kemuliaan hati Sayyidah Saudah RA:   
1.      Lebih mementingkan kebahagiaan orang yang dicintai di atas kebahagiaan diri sendiri.
Sayyidah Saudah RA berupaya sekuat tenaga menyenangkan hati Rosulullah SAW, meski harus mengorbankan kebahagiaan diri sendiri. Ia (Sayyidah Saudah RA) tahu bahwa istri yang paling Rosulullah SAW cintai adalah Sayyidah Aisyah RA. Ia ingin membahagiakan hati rosulullah SAW dengan memberikan jatah hari gilirannya kepada Sayyidah Aisyah RA demi mencari ridho Rosulullah SAW.
Bayangkan, wanita mana yang rela memberikan jatah malamnya bersama suaminya untuk madunya. Wanita mana yang ikhlas memberikan waktu kebersamaannya untuk wanita lain, demi menyenangkan hati suaminya. Sungguh, begitu mulia hati Sayyidah Saudah RA. Maka tak heran, bila ada wanita yang rela dimadu semata-mata untuk mencari ridho suaminya, berarti ia meneladani Sayyidah Saudah RA.
Diriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata, “Setiap kali hendak bepergian, Rosulullah SAW mengundi istri-istri beliau. Siapa yang undiannya keluar, dialah yang ikut pergi bersama beliau. Beliau membagi waktu satu hari satu malam untuk setiap istri beliau. Hanya saja Saudah binti Zam’ah memberikan jatah hari dan malamnya kepada Sayyidah Aisyah RA, Istri Nabi Muhammad SAW, demi mencari ridho Rosulullah SAW” ( Shahih, HR Bukhari (3593), kitab: Hibah, HR. Abu Dawud (2138) ).
2.      Dermawan
Sayyidah Saudah RA adalah istri Rosulullah SAW yang mencintai Allah SWT dan Rosulullah SAW diatas mencintai dirinya, sosok wanita yang mulia dan rendah hati, zuhud dan dermawan. Ia lebih mementingkan kebahagiaan akherat yang abadi dibandingkan kebahagiaan dunia yang sementara, sehingga hatinya tidak condong pada harta dan kesenangan duniawi yang kebahagiaannya nan fana. Bahkan, setiap kali mendapatkan uang, ia lebih mementingkan orang sekitar demi menginginkan kenikmatan di sisi Allah SWT.
Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa Umar RA mengirim sekarung dirham kepada Sayyidah Saudah RA. Saudah bertanya, “Apa ini?”, “Dirham”, jawab mereka. “Dirham ditaruh di dalam karung seperti kurma? Wahai budak wanitaku, bawa kemari talam itu lalu bagi-bagikan dirham-dirham ini “. (HR Ibnu Sa’ad VII/56).
3.      Lucu dan Selalu menyenangkan hati suami
Sayyidah Saudah RA adalah sosok yang lucu dan selalu menyenangkan hati suami. Bahkan candaannya selalu menyenangkan dan menghibur hati Rosulullah SAW. Sayyidah Saudah RA sering bercanda dan membuat beliau (Rosulullah SAW) tertawa, membuat beliau bahagia dan senang.
Sudah berkata “Wahai Rosulullah, tadi malam aku shalat di belakangmu, saat aku rukuk bersamamu, aku memegangi hidungku karena kawatir mimisan.” Beliau (Rosulullah SAW) tertawa mendengarnya. Kadang Sayyiadah Saudah RA juga membuat beliau (Rosulullah SAW) tertawa karena sesuatu. (HR. Ibnu Sa’ad VIII/ 54).
4.      Sayyidah Saudah RA senantiasa rajin beribadah, selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.

Semoga menginspirasi dan bermanfaat…J    


Rabu, 07 Desember 2016

Berteladan pada Sayyidah Aisyah RA

Berteladan pada Siti Aisyah RA



            Assalamualaikum. Hello ladies…J
            Masih ingatkah sosok Sayyidah Aisyah RA? Siapakah beliau. Well…Sayyidah Aisyah RA adalah istri kesayangan rosulullah SAW. Sayyidah Aisyah RA adalah sosok wanita yang memiliki jiwa leadership tinggi. Bagimana tidak?, ia adalah seorang panglima perang. Bukan hanya itu. Ia adalah sosok yang sangat cerdas. Hal ini terbukti pada beliau hafal ribuan hadist (banyak hadist yang diriwayatkan olehnya yang digunakan para sahabat Nabi sebagai rujukan). Subhanallah…luar biasa bukan?. Cantik, cerdas, memiliki jiwa leadership tinggi pula.
            Sayyidah Aisyah RA adalah sosok yang lembut, anggun, imut, dan sangat cantik. Karena kecantikannya, matanya yang berbinar-binar, bibirnya yang indah dan pipinya yang merah delima hingga dipanggil “Khumairah” oleh Rosulullah SAW. Bayangkan, jika Nabila Syakieb begitu cantik dan mampu membuatmu terpesona, bagaimana dengan kecantikan sayyidah Aisyah RA. Sudah cantik jelita, sangat cerdas, lemah lembut, santun, lucu, tegas pula. Subhanallah, inilah sosok Bunda (Ummah sepanjang zaman) yang begitu menginspirasi ummat muslim seluruh dunia.   
            Kaum  muslimin muslimat yang dirahmati Allah SWT…
            Ada hal yang penting yang perlu engkau ketahui, bahwa sosok Sayyidah Aisyah RA adalah sosok yang dermawan. Hal ini karena beliau meneladani sang ayah yang dermawan (Sayyidina Abu Bakar RA menyedekahkan seluruh hartanya untuk berjuang dijalan Allah). Bayangkan, adakah orang sebaik Sayyidina Abu Bakar RA yang rela menyedekahkan seluruh hartanya untuk berjuang di jalan Allah?. Sungguh, begitu cintanya pada Allah SWT dan Rosulullah SAW. Sayyidah Aisyah RA rajin bersedekah, dermawan, penyayang terhadap fakir miskin. Sayyidah Aisyah RA sangat taat terhadap kedua orangtuanya, beliau berjiwa pengasih lagi penyayang. Sungguh, begitu mulia Hatinya.
            “Sayyidah Aisyah RA menyedekahkan 70.000 dirham, sementara ia sendiri menambal sisi baju panjang miliknya” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thbaqot, VIII/45).
Beliau (Sayyidah Aisyah RA) adalah sosok yang lebih mementingkan orang lain. Bagaimana tidak, beliau menyedekahkan hartanya pada orang-orang, sementara bajunya sendiri ditambah. Subhanallah Ya Sayyidah Aisyah RA. Sayyidah Aisyah RA, jua sosok ahli ibadah dan puasa.
Al-Qasim berkata “Sayyidah Aisyah RA berpuasa sepanjang massa”. (HR. Ibnu Sa’ad, VIII/ 47).
Maksudnya adalah Sayyidah Aisyah RA berpuasa sepanjang tahun, kecuali hari-hari terlarang untuk berpuasa, seperti dua hari raya, hari-hari tasyriq, haid, dan lainnya.
Sayyidah Aisyah RA adalah ummul mukminin yang menjadi pemimpin segala kemuliaan, kemurahan hati, zuhud, dan seluruh nilai-nilai utama. Beliau itu lucu, menyenangkan, berakhlak mulia. Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA, ia berkata, “Rosulullah SAW pulang dari perang Tabuk dan Khoibar. Di depan pintu rumah terdapat tirai, laluangin berhembus menyingkap boneka boneka Sayyidah Aisyah RA yang ada di ujung tirai. Beliau bertanya, “Apa ini Aisyah?,”. “Boneka-bonekaku,” jawabnya. Di antara boneka-boneka itu, beliau melihat kuda memiliki dua sayap dari kertas. Beliau kemudian bertanya, “Yang aku lihat ditengah tengahnya ini apa?”. “Kuda,” jawabnya. “Ini apanya? Tanya beliau. “Dua sayap,” jawabnya. “Kuda punya dua sayap?,” tanya beliau. “Apa kau tidak mendengar kalau Sulaiman punya kuda bersayap?, balik Aisyah. Beliau (Rosulullah SAW) pun tertawa hingga gigi-gigi geraham beliau nampak (HR Abu Dawud (4932), lafal hadits miliknya. An-Nasa’I dalam As-Sunan Al-Kubra. Al-Arnauth berkata, “Sanad hadits ini shahih”)
Duhai insan yang dirahmati Allah SWT..
Hendaklah engkau berlaku lemah lembut…
Karena setiap kelemah lembutan
Akan meluluhkan hati yang keras
Karena kelemah lembutan
Membawakan kedamaian
Sebagaimana yang diteladankan oleh Sayyidah Aisyah RA.          


Jumat, 25 November 2016

KADO UNTUK EMAK DAN ADEK

JAM TANGAN UNTUK EMAK DAN AFIDA
  
            قال رسول الله ص. م.
ان المتحابين لتري غرفهم في الجنة كالكوكب الطالع الشرقي اوالغربي فيقال من هؤلاء فيقال هؤلاء المتحابون في الله عزوجل (رواه أحمد)

Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla. (HR. Ahmad).

         
Kamis, 24 November 2016 adalah hari yang spesial bagiku. Dimana tanpa kusangka-sangka, semuanya terjadi kebetulan dan terpikir saat itu juga tanpa planning jauh-jauh hari, aku menyambangi (menengok) adek Afida di pesanten. Adekku bernama Afidatul Mafrucha, biasa dipanggil Afida, usia kami terpaut 3 tahun. Bila aku 22 tahun saat ini, usia adekku 19 tahun. Afida saat ini sedang memperdalam agama, sudah hampir 5 tahun sejak kelulusannya dari SMP N 1 Ngawen dia belajar di pesantren, tepatnya di pesantren Al-Mus Putri 1 yang di asuh oleh Ibu Nyai Hajjah Halimah (Adek KH. Maemoen Zubair), letaknya di Sarang (ujung Timur Kota Rembang).
     Sebelum berangkat menyambang adek di Pesantren, Halimah mampir di toko swalayan membelikan kebutuhan utama pesantren adek (seperti: shampo, pewangi, rinso, sabun, pasta gigi, makanan dan kebutuhan pesantren lainnya). Tak lupa beli kue untuk di bawa silaturahmi ke rumah kakek sekaligus memberikan foto wisuda permintaan almarhumah nenek, kan nyenengin hati kakek itu sebuah kebajikan. Yups….Halimah sayang kakek hehe, sayang adek juga. Alhamdulillah setelah 3 jam perjalanan melewati Bogorejo, Jatinegoro, Bancar , Bulu akhirnya sampai Sarang juga. Begitu tiba di pesantren ternyata adek ikut musyawarah, jadi Ibu memanggilnya di sekolah. Begitu tahu yang datang menyambanginya adalah Emak dan aku, wajahnya sumringah…soalnya jarang banget aku ada waktu buat dateng ke pesantren dia kecuali silaturahmi lebaran hehe. Begitu sumringah wajah adekku, rautnya dihiasi senyum, matanya berbinar-binar dan mukanya berseri-seri. Kami begitu dekat, canda, guyon, meluk, nyubit pipi, dan tak lupa salam sayangku yang berupa ledekan cinta hehe. Nggak seru rasannya kalau nggak mencet-mencet hidung si adek juga nggoda si adek buat partner canda hehe.
       Kebahagiaan Halimah adalah saat melihat orang-orang yang Halimah cintai tersenyum bahagia dan Halimah bisa melihat sumringah wajahnya hehe. By the way cinta Halimah ke siapa?. Ke Idola seluruh ummat islam (untuk yang sudah wafad). Nah selain itu Halimah sangat mencintai keluarga Halimah, yatim, dhuafa dan fakir miskin. Dari kecil sudah cinta jadi sudah mendarah daging. Ketika Halimah waktu kerja dulu (semasa kuliah), Halimah sering nyisihin uang buat dibagi-bikan ke orang-orang yang Halimah cinta (yang tersebut di atas). Pas ngejenguk adek, Halimah berikan oleh-oleh yang Halimah dan Emak bawa ke Adek biar untuk kebutuhan pesantrennya dan khusus oleh-oleh snack dan makanan adek makan bareng-bareng dengan teman-teman pesantrennya hehe.
        Pas ngelihat jam tangan yang aku pakai (baru 3 jam pakai, karena baru beli), yups aku suka sesuatu yang simple, sederhana tapi kalau dipakai elegant manis hehe. Nah si adek (Afida) naksir sama jam tangan yang baru aku pakai, yups…maka aku berikanlah jam tangan yang baru aku beli itu ke adek. Dia senyum, dan bolpen bateraiku yang unik kuberikan dia juga. Dia makin senyum sumringah. Jujur seneng lihat adekku satu-satunya itu tersenyum manis. Ketika adek izin sholat Jama’ah selama sekitar setengah jam, hehe…Halimah pergi ke rumah kakek sambil bawain foto (berukuran 10 R) dan kue ke rumah kakek. Alhamdulillah kakek sehat. Maturnuwun duh gusti. Rasanya senang kalau melihat orang-orang yang kita cintai tersenyum. Sepulang menjenguk adek, Halimah dan Emak langsung pulang Blora…yups motoran. Pulang dari pesantren jam 15.00 dan sampai rumah jam 18.10. By the way sebelum pulang, Emak Halimah ajak mampir ke Toko Swalayan. Kasihan Emak….Semua orang yang Halimah cintai sudah Halimah berikan kado, adek yang paling banyak, sementara Emak belum. Makanya Emak Halimah ajak ke Toko Swalayan, Halimah minta Emak memilih barang kesukaannya dan Halimah belikan. Ternyata Emak ingin jam tangan bermotif emas dan perak. Yups Halimah belikan kebetulan pas…uang Halimah pas buat bayar. Sekaligus Halimah beli persiapan barang yang mau Halimah bawa sebelom nanti merantau lagi.
        Sebaik apapun Halimah, kebaikan Halimah tak akan menandingi kebaikan jasa Emak. Jasa Emak begitu besar sejak Halimah dalam kandungan hingga segedhe ini. Itulah sebabnya Halimah selalu berusaha membahagiakan Emak semampu Halimah. Sebagaimana Sayyidah Fatimah RA yang mencintai rosulullah SAW dan mau melakukan apapun demi Rosulullah SAW (sang ayah). Mengapa Halimah mencintai dek Afida dan selalu berusaha membuatnya tersenyum? Karena dek Afida banyak berkorban untuk Halimah. Karena Halimah sangat menyayanginya sebagaimana Nabi Yusuf AS sangat menyayangi Bunyamin (Adek Nabi Yusuf AS). Terlebih Afida adalah satu-satunya saudara kandung yang aku punya, maka membahagiakannya adalah kebahagiaan utamaku.   

Senin, 21 November 2016

KMI (KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA INDONESIA) WADAHI MAHASISWA JADI PENGUSAHA

Wakili UNDIP di KMI (Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia) 2016,
Membawaku Melancong di Universitas Brawijaya



EXPO KMI (Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia) 2016 adalah puncak acara PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) selama 2 periode yakni PMW 2014 dan PMW 2015. KMI 2016 ini semacam PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dari PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), tetapi di KMI ini hanya untuk kewirausahaan saja. Tiap universitas diminta mengirimkan 3 delegasi PMW untuk mewakili universitasnya. KMI ini akan menyeleksi 100 universitas dan tiap universitas mengirimkan delegasinya.
Alhamdulillah, Halimah terpilih sebagai salah satu delegasi UNDIP dalam puncak acara KMI 2016. Disana ada ratusan stand mahasiswa yang mempromosikan produknya. Usaha dikelompokkan menjadi 3 yakni: 1) usaha di bidang jasa, 2) usaha di bidang makanan dan minuman, dan 3) usaha di bidang industri kreatif dan teknologi. Dimalam penganugerahan nanti akan dipilih juara 1, 2, 3 dan harapan dari tiap kategori stand terbaik, top three usaha di bidang makanan dan minuman, top three usaha di bidang usaha jasa, dan to three usaha di bidang industri kreatif. Yups, nggak jauh beda sama PIMNAS.
Dari awal datang KMI, niat Halimah bukan nyari juara tapi untuk menambah silaturahmi dengan teman-teman pengusaha se-Indonesia. Mengapa niatnya demikian?, karena dari silaturahmi-lah, sebagai jalan Allah memberikan rizki ke Halimah…yups, semacam memperluas marketing melalui networking hehe. Keuntungannya ikut KMI adalah bertemu mahasiswa pengusaha se-Indonesia, mendapatkan ilmu bisnis gratis, menambah wawasan, dan memperluas jaringan. Selain itu sebagai wadah jalan-jalan sekaligus nyari IDE buat berkarya hehe. 


EXPO KMI STAND UNDIP DI KMI 2016

BERSAMA DELEGASI UNDIP DALAM EXPO KMI STAND UNDIP DI KMI 2016

BERSAMA SIBRA (SINGA BRAWIJAYA) DALAM EXPO KMI STAND UNDIP DI KMI 2016

BERSAMA PENGUNJUNG DALAM EXPO KMI STAND UNDIP DI KMI 2016

EXPO KMI STAND UNDIP DI KMI 2016

Kata guru:
Thanks to God for what you have gotten and Keep everything that you have”
Seperti kata my teacher, bahwa segala yang Tuhan berikan harus disyukuri, maka sudah terpilih sebagai delegasi dalam KMI 2016, Halimah sudah bersyukur. Banyakin bersyukur atas nikmat Tuhan YME. Hidup itu bukan kompetisi siapa yang MENANG atau KALAH tetapi BEKERJASAMA bagaimana peduli terhadap yang lainnya. Pelajaran berharga yang Halimah dapat dari seseorang hari ini adalah sebagai berikut: 
*CERITA SEORANG TEMAN, DIASPORA DI AMRIK, YG BEKERJA DI CHEVRON, CALIFORNIA*
(sebuah catatan, yg mungkin bagus utk anak-anak Indonesia dan kita sendiri di lingkungan pekerjaan kita).
********************
*COMPETITION* vs *_COOPERATION_*
Jumat lalu, kedua anak saya menerima *Report Card* dari sekolahnya Ronald Reagan Elementary School (rapor kalau di Indonesia). Melihat keduanya mendapat nilai-nilai yang sangat bagus. Anehnya kok tidak tercantum *info tentang rangking?*, Saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya...
“Anak saya ranking berapa, Ms. Batey?”
Dia balik bertanya, *“Kenapa Anda orang Asia selalu nanya seperti itu?”*
"Wah, salah apa saya ini....?" kata saya dalam hati.
Dia melanjutkan bicara, “Anda kok sangat suka sekali berkompetisi?", katanya.
"Di level anak Anda, tidak ada rangking-rankingan...!"
"Tidak ada kompetisi!" tambahnya.
"Kami mengajari mereka tentang 'cooperation' alias kerjasama....!. "Mereka harus bisa bekerja dalam “team work”. Dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi. Mereka harus punya banyak teman. Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis!. Kami mengajari mereka "logika" dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan! Dari sini, rupanya kenapa teman-teman saya di kantor mentalnya selalu "How can I help you?”. Hampir tidak pernah saya lihat mereka “jegal-jegalan”. Dan, di Amerika hampir semua profesi mendapat penghasilan/ penghargaan yang layak. Tidak harus semua jadi dokter, insinyur atau profesi lain yang terlihat "terhormat" seperti di Indonesia. Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai “passionnya”, sehingga semua bidang kehidupan berkembang maju, karena diisi oranng-orang yang bekerja dengan penuh gairah. Wah…saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif. Banyak orangtua yang narsis kemudian memajang prestasi anak-anaknya di sosmed. Wow!...Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu suka berkompetisi dan lupa bekerjasama. Kiri-kanannya dianggap “saingan” bahkan sangat mungkin sebagai “musuhnya”?. Dirinya harus menjadi yang terbaik! Mending kalau si anak bisa mengembangkan dirinya supaya menang persaingan. Yang ada, kadang mereka justru menunjukkan kebaikan dirinya dengan cara menungkapkan kejelekan2 temannya ataupun orang lain..."Kalo bukan kita siapa lagi?", begitu jargonnya… Wuih..., betapa arogannya, seakan-akan fihak lain tidak ada yg bisa! Hanya dia sendiri yang mampu! Kemudian yg ada adalah menjadi sakit mentalnya. "Aku menang.....aku menang....!" begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota... Entah permainan apa yang mereka menangkan?  Entah kapan dia sadar, bahwa hidup bukan melulu soal menang atau kalah!
(Bakersfield USA*) The magic words is *"How can I help you...”*
(Dikirim David Mafazi: dikirim 7.59 AM, 22 November 2016).
**********************************

Dari kata-kata tersebut, Halimah tersentuh dan Halimah belajar mencintai kerjasama sebagaimana Halimah membangun komunitas kegiatan sosial DCS (Disability Children Support), CCM (Coastal Cleaning Movement), dan SCE (Street Children Empowerment). Disana kami bekerjasama, saling bahu membahu dan saling membantu. Hidup bukan melulu soal kompetisi, persaingan, jegal-jegalan, menang-kalah, TETAPI bagaimana kita bekerjasama, saling menolong (how can I help you), peduli dan saling mencintai…yups tolong menolong. What am I waiting for?...i am waiting to be useful person who loves, cares, and helps each other. Love my parent, my sister, my family, orphan, dhuafa, and whoever whom I can help. Jadi, misalkan berwirausahapun, goalnya adalah membantu sesama dalam mengurangi pengangguran, membantu oranglain dalam mencari pekerjaan, serta mensejahterakan keluarga dan orang-orang yang Halimah cintai. Jadi golden goalnya adalah helping each other.
WISATA DI SELECTA (AGROWISATA) DI MALANG

WISATA DI SELECTA (AGROWISATA) DI MALANG.


Selasa, 15 November 2016

KADO DAN CINTA HALIMAH

KADO DAN CINTA HALIMAH                 

  
Setiap orang tentu memiliki rasa cinta terhadap orang-orang yang dicintainya. Demikian halnya dengan Halimah. Sebagaimana layaknya manusia, Halimahpun memiliki rasa cinta. Siapakah orang yang paling Halimah cintai?. Well…let me tell you about everyone whom I love. Orang-orang yang Halimah cintai adalah:
1.      Rosulullah SAW
Halimah memang tak pernah bertemu Rosulullah, tapi nggak tahu mengapa mendengar kata Rosulullah, hati Halimahpun bergetar. Ada cinta, ada rindu yang sangat besar untuk berjumpa beliau. Halimah mengenal kata “Rosulullah” sejak kecil, sejak Bapak sering mendongeng tentang sosok Rosulullah SAW. Halimah sangat kagum dan sangat mencintai Rosulullah SAW. Rosulullah SAW adalah sosok yang lemah lembut, santun, jujur, dapat, dipercaya, dan penyayang terhadap wanita. Beliau adalah aktivis dakwah dunia nomor satu, yang tak hanya memikirkan diri sendiri bahkan seluruh ummatnya di dunia. Halimah tak bisa membayangkan begitu baiknya Rosulullah. Mungkin bila Halimah hidup di zaman Rosulullah SAW, Halimahpun langsung jatuh hati padanya melihat kemuliaan akhlaknya dan kesantunannya.
“Ya Rosulullah…
Halimah kadang penasaran, juga nggak bisa membayangkan, Halimah benar-benar kagum denganmu ya Rosulullah. Engkau sungguh lelaki yang soleh, panutan seluruh ummat islam di dunia. Ada yang melempari wajahmu dengan kotoran unta, tapi engkau tidak membalasnya. Bahkan ketika orang tersebut sakit, engkau adalah orang pertama yang menjenguknya dan membawakannya makanan hingga orang tersebut tersentuh hatinya, terharu hingga masuk islam. Sungguh akhlakmu begitu mulia ya Rosulullah. Ya Rosulullah, Halimah rindu, akankah kelak di akherat engkau mau mengakui Halimah sebagai ummatmu ya Rosulullah?? Halimah banyak dosa ya Rosulullah, Halimah juga tak sebaik Rosulullah, tapi Halimah sangat mencintai Rosulullah dan selalu berusaha memperbaiki diri walaupun tak sehebat para mukminin dan mukminah.
Ya Rosulullah…
Ya Rosulullah, Halimah kawatir kelak di akherat engkau memalingkan wajahmu dan tak mau mengakui Halimah sebagai ummatmu. Ya Rosulullah…Halimah tak sebaik engkau yang memiliki keberuntungan dan langsung dimasukkan surga. Halimah tak tahu, akankah matiku nanti khusnul khotimah ataukah su’ul khotimah. Halimah khawatir bila matiku su’ul Khotimah. Itulah alasan Halimah kenapa Halimah tak mau taqlid ataupun ikut campur pada urusan orang lain kecuali membantu dalam kebaikan. Karena Halimah sadar, dosa Halimah sudah banyak, entah dosa terhadap orang-orang ataupun dosa terhadap binatang dan tumbuhan. Ya Rosulullah, Halimah tak mengharap surga karena Halimah sadar…Halimah tak pantas mendapatkan surga juga tak kuat bila tinggal di neraka. Namun demi cintaku ya Rosulullah, bertemu denganmu sudah Alhamdulillah…bertemu pada yang dicintainya adalah puncak dari puncak kerinduanku ya Rosulullah.
Ya Rosulullah…
Halimah sangat mencintai dan mengagumimu, ya Rosulullah. Engkau adalah teladan yang luar biasa. Engkau adalah yatim piyatu sedari kecil. Ayahandamu meninggal saat Engkau dalam kandungan. Ibundamu meninggal saat engkau berusia 6 tahun, dan kakek yang mengasuhmupun meninggal saat engkau berusia 8 tahun. Engkau hidup diatas kemandirian tanpa perhatian orangtua kandungmu, tapi engkau begitu tegar ya Rosulullah. Sedari kecil engkau sudah yatim piyatu, namun engkau adalah sosok yang luar biasa penyayang, penolong dan lemah lembut. Ya Rosulullah, aku sangat-sangat mencintaimu sedari kecil sejak dongeng tentang engkau merasuk di telingaku…Aku mencintaimu ya Rosulullah SAW. Itulah mengapa sedari dulu aku sangat mencintai yatim piyatu, karena Engkau (orang yang sangat aku cintai) juga yatim piyatu.
Ya Rosulullah, Halimah sangat sayang dengan yatim piyatu sebagaimana Halimah mencintaimu Ya Rosulullah. Halimah selalu menyisihkan uang menang lomba, uang kerja untuk Halimah bagikan pada yatim piyatu secara rutin diam-diam ya Rosulullah. Halimahpun tak tahu, ini kekuatan apa. Ketika bertemu yatim piyatu, rasa syukur Halimah bertambah dan rasa cinta Halimah terhadap mereka kian bertambah. Tak jarang Halimah terharu bahkan air mata berjatuhan. Halimah kagum dengan yatim piyatu ya Rosulullah, mereka bisa tegar walau tanpa kasih sayang orangtua, walau tanpa belaian manja dan perhatian orangtua…meskipun sejujurnya merekapun ingin merasakan indahnya diperhatikan, dimanja, dibelai orantua ya Rosulullah. Halimah pernah berdiri, lalu mendongeng dihadapan anak-anak yatim piyatu ya Rosulullah, mereka tersenyum, ngikutin Halimah, dan kita nyanyi solawatan bersama-sama. Dan mereka begitu riang seolah tanpa beban saaat begitu antusiasnya mendengarkan kisah yang Halimah ceritakan. Halimah bahagia melihat mereka tersenyum ya Rosulullah.
Ya Rosulullah…
Halimah didongengin Bapak, tentang kisahmu yang luar biasa. Ya Rosulullah, Halimah yakin apapun yang engkau pinta, pasti Allah kabulkan. Engkau tak pernah makan hingga kenyang, engkau pernah tidur di atas pelepah kurma, engkau pernah makan daun-daunan saat diboikot kaum quraisy, engkau pernah kesulitan dan hidup dalam kemiskinan. Halimah mencintaimu ya Rosulullah, saat Halimah tidur di kasur, kadang Halimah bertanya:
“Ya Rosul, dulu engkau pernah tidur di atas pelepah kurma, sedangkan Halimah ini tidur di kasur, maafkan aku ya Rosulullah. Maafkan atas kelancanganku yang melebihimu, padahal aku begitu mencintaimu”.
Saat Halimah makan enak, Halimahpun sering bertanya dalam benak Halimah.
“Ya Rosulullah, engkau pernah menderita saat diboikot kaum kafir hingga engkau makan daun-daunan. Maafkan aku yang lancang makan enak ya Rosulullah, Ya Rabb limpahkan rasa syukur padaku atas nikmat dan rahmad yang engkau berikan ya Rabb, ya Tuhanku”.
Ya Rosulullah…
Aku (Halimah) sangat mencintaimu. Engkau pernah hidup dalam kemiskinan. Halimah sangat mencintaimu, sebagai wujud cintaku padamu. Sejak kecil Halimah menyayangi fakir miskin dan dhuafa. Sejak kecil emak mengajarkan Halimah untuk mencintai dhuafa dan fakir miskin. Halimah tahu, orangtua Halimahpun dari keluarga tak mampu tapi kami selalu bersyukur atas rahmadmu. Dari kami yang tak memiliki rumah, berteduh-teduh di emperan rumah orang selepas kelahiran Halimah, lalu hingga usia 5 tahun engkau karuniakan gubug pada keluarga Halimah (dengan tanah numpang milik tetangga), lalu saat usia 5 tahun engkau karuniakan gubug tua di kampung milik Bapak Halimah sendiri. Walaupun rumah keluarga Halimah buruk, tapi Halimah sangat bersyukur ya Rabb, dari yang dulunya tak memiliki rumah engkau karuniakan kami rumah. Namun, di atas kemiskinan kami tidak pernah pelit. Aku belajar dari Emak, saat ada pengemis yang datang ke rumah, Emak selalu memberikan uang ataupun beras segelas bahkan tanpa rasa risih, Emak mengajak pengemis itu makan di rumah sembari disuguhkan segala makanan yang Emak punya sama seperti sayur dan lauk yang aku makan. Halimah sayang Emak ya Rabb, Halimah sayang Fakir miskin sebab Halimah pernah merasakan kemiskinan, Halimah mencintai Rosulullah dan Rosulullahpun pernah hidup dalam kemiskinan. Ya Rabb jadikan Halimah insan yang senantiasa bersyukur dan memiliki kepedulian terhadap keluarga dan kaum dhuafa, fakir miskin, serta yatim piyatu.
Ya Rosulullah…
Halimah pernah didongengin Bapak, bahwa engkau pernah menjabat sebagai kepala negara. Halimah ingin meneruskan jejakmu ya Rosulullah, Halimah ingin menjadi pejabat negara yang mementingkan hajad orang kecil, yang menumpas KKN, yang pro terhadap rakyat meneruskan jejakmu ya Rosulullah. Karena aku mencintaimu dan aku prihatin apabila ada pejabat yang kurang peduli terhadap orang kecil, apalagi orangtua Halimahpun orang kecil.
2.      Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Khodijah RA
Sayyidah Khodijah adalah sosok yang Halimah cintai dan Halimah idolakan sejak Halimah kecil. Halimah mengagumi beliau, Halimah mencintai beliau. Beliau wanita suci yang disebut sebagai At-Thahiriyah, beliau taat rosulullah, beliau penyayang dan penyabar. Beliau mendukung jejak Rosulullah dalam berdakwah. Beliau kaya raya namun dermawan. Beliau rela mengorbankan harta, pikiran dan jiwanya untuk Tuhannya dan suami tercinta. Beliau menemani Rosulullah dalam suka dan duka. Beliau istri yang solekhah dan setia. Ya Sayyidah Khodijah, Halimah ingin meneladani kesantunan akhlakmu saat nanti Halimah berkeluarga, Halimah ingin taat pada suami dan menemaninya dalam suka dan duka.
Halimah sejak kecil didongengin Bapak tentang keanggunan Akhlakmu, ya sayyidah Khodijah RA. Tak hanya itu, beliau (Sayyidah Khodijah RA), juga sosok wanita karir yang mandiri, kaya raya dan membantu perjuangan Rosulullah. Beliau pengusaha wanita yang kaya raya. Halimah ingin meneladani beliau, menjadi pengusaha wanita sukses yang kaya raya. Dengan memiliki industri, maka halimah akan membantu orang-orang dalam mencari pekerjaan karena dengan membuka lapangan pekerjaan berarti Halimah mengurangi angka pengangguran. Halimah sadar, Halimah dari keluarga tak mampu…maka untuk mendapatkan modal usaha, Halimah harus bekerja terlebih dahulu. Setelah modal terkumpul dan cukup barulah mendirikan usaha yang besar. Halimah yakin ya Rabb, segalanya mungkin bagimu. Maka mungkinkanlah Halimah untuk menjadi pengusaha kaya raya. Aamiin.
Sayyidah Aisyah RA adalah istri kesayangan Rosulullah SAW setelah wafadnya sayyidah Khodijah RA. Sayyidah Aisyah memiliki jiwa leadership tinggi, terbukti ia sebagai panglima perang. Sayyidah Aisyah adalah sosok yang lemah lembut, cerdas dan cantik jelita. Bahkan karena kecantikannya, engkau memanggilnya Khumairah. Bahkan karena kecerdasannya, beliau meriwayatkan banyak hadismu ya Rosulullah. Ya Rosulullah, Halimah ingin menjadi multitalenta layaknya istrimu tercinta, baginda sayyidah Aisyah RA. Mengapa daridulu Halimah ingin menjadi wanita yang cerdas dan multitalenta sejak Halimah SD kelas 1? Karena Halimah sadar untuk memajukan islam butuh ilmu. Halimah ingin menjadi wanita berilmu dan mengamalkan ilmunya. Halimah ingin menjadi wanita yang berilmu dan berakhak layaknya istrimu sayyidah Aisyah RA yang cerdas dan berakhlak.
3.      Emak dan Bapak dan Adek Halimah
Orang yang paling Halimah cintai sejak kecil adalah Emak dan Bapak Halimah. Karena mereka adalah orang pertama yang ingin Halimah muliakan dan Halimah bahagiakan. Itulah mengapa sejak kecil, Halimah selalu rajin membantu Emak dan Bapak. Sedari SD, Halimah rajin membantu Emak ngarit di sawah sepulang sekolah di Madrasah. Sejak SD, aku selalu merenung untuk mengubah nasib keluargaku melalui ilmu. Itulah alasan, mengapa aku ingin menjadi bintang kelas. Karena satu cara yang bisa kulakukan untuk melukis senyum dan kebahagiaan untuk Bapak dan Emak adalah berprestasi.
Dari kecil, Halimah sudah terbiasa hidup keras. Tiap pagi bangun pukul 04.00, mengaji sebentar, lalu belajar sebentar dan membantu Emak memasak seperti mencuci piring, memetik sayuran, memotong bumbu-bumbu, memarut kelapa, dll. Lalu setelahnya menyapu, mandi, sarapan barulah berangkat sekolah. Hingga SMA, Halimah dan Afida (adek Halimah) tumbuh di atas keprihatinan dan jiwa yang sangat mencintai orangtua, membantunya, dan memuliakannya. Alhamdulillah tiap pagi- siang Halimah bisa menikmati sekolah SD, lalu sorenya bisa menikmati sekolah sore di madrasah. Halimah selalu berprinsip antara umum dan agama harus seimbang. Itulah alasannya mengapa Halimah kecil selalu berusaha, bila di SD selalu juara satu, maka di madrasahpun Halimah menjadi juara satu.
Alhamdulillah, sejak SD Halimah sering mendapatkan hadiah lomba baik dari madrasah, dari sekolah, maupun dari pemerintah. Bila hadiah itu berupa barang, maka hadiah itu Halimah bagi dua, sebagian untuk Halimah dan sebagian untuk Adek. Bila hadiah itu berupa uang, uang itu Halimah bagi 4, untuk Halimah, Adek, Emak dan Bapak. Hal itu berlanjut hingga SMP dan SMA. Alhamdulillah dari prestasi itulah, Halimah sering mendapatkan hadiah baik berupa uang maupun barang, setidaknya rizki itu bisa Halimah bagi-bagi pada orang-orang yang Halimah cintai. Karena Halimah kecil belum bisa kerja, bisa menghasilkan uang hanya melalui prestasi, maka Halimah berusaha untuk berprestasi agar bisa berbagi dan bisa melukis senyuman di hati orang-orang yang Halimah cinta.
Ketika mendapatkan hadiah lomba berupa uang dari prestasi, biasanya Halimah membelikan perabot dapur untuk Ibu seperti toples, panci, dll. Terkadang halimah belikan bibit padi bila musim hujan. Halimah survey terlebih dahulu, halimah amati kebutuhan Emak apa saja yang Emak tak mampu membelinya, itu Halimah lakukan sejak SD. Seperti saat musim hujan, Emak mau membeli bibit padi namun tak ada uang, daripada hutang maka Halimah belikan bibit padi. Emak butuh layar untuk menjemur gabah, sedangkan emak tak punya uang maka Halimah dan Afida membelikannya (dari uang nabung kami dan uang hadiah) ketika hari Ibu. Halimah sangat mencintai Emak, maka sebisa mungkin Halimah meringankan Emak sejak kecil.
Meringankan emak dengan membantu emak, tiap pagi, siang, sore dan saat bersama Emak rupanya sudah menjadi kultur (budaya) yang mendarah daging bagiku dan bagi Afida (adekku). Kami bahu membahu untuk membantu Emak. Halimah akui, sejak SD Halimah bisa sekolah karena Beasiswa, SD mendapatkan beasiswa tak mampu dan hadiah prestasi dari pemerintah. Waktu itu yang dipanggil di kecamatan hanya beberapa orang, alhamdulillah Halimah terpilih. Saat SMP, Halimah jua mendapatkan beasiswa prestasi dan beasiswa tak mampu. SMA pun sama. Berprestasi adalah alat bagiku untuk menyenangkan hati orangtua sekaligus bisa membantu meringankan beban orangtua.
Kebiasaan yang seringkali kulakukan adalah memberikan kejutan kado-kado sesuai kebutuhan Emak itu berlanjut dari SD, SMP, SMA hingga kuliah. Emak, adek, dan Bapak adalah orang pertama yang ingin kubahagiakan. Sebagaimana ketika SD hingga SMA, saat kuliahpun sama, aku berkomitmen untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Dari uang juara lomba-lomba itulah aku berbagi. Aku belajar managemen waktu dengan baik agar aku tak keteteran karena aku harus kuliah, bekerja, berorganisasi, dan lomba sejak semester 1 di perkuliahan hingga lulus. Alhamdulillah hampir setiap menang lomba, uang itu bisa kugunakan untuk berbagi. Managemen keuangan itu penting agar antara pengeluaran dan pemasukan seimbang. Nah, uang juara itu aku bagi menjadi 4 bagian, bagian pertama untuk diriku (untuk kebutuhanku), bagian kedua untuk kutabung, bagian ketiga untuk sodaqoh yatim piyatu atau dhuafa, bagian ke empat untuk aku berikan ke Emak, Bapak dan Adek. Sehingga Halimah, keluarga, dan juga kaum yang membutuhkan (yatim piyatu dan dhuafa) pun jua turut merasakan kebahagiaan Halimah. Meskipun Halimah berbagi, Halimah tak pernah merasakan kekurangan, justru selalu mendapatkan nikmat dari Allah.  
Halimah sukanya diam-diam, survey dan langsung memberikan hadiah biasanya. Ada kejadian konyol yang pernah terjadi. Suatu ketika tepat semester 5 kalau nggak salah, Halimah memberikan kado untuk Emak, Bapak, Adek, dan sodaqoh yatim. Di toko baju, Halimah melihat batik bagus, kainnya halus, warnanya unik dan baju yang kulirik itu terlihat paling bagus. Terbesitlah untuk membelinya, kukira itu cocok untuk aku kasih ke Emak. Emak aku belikan baju, Adek aku belikan sarung dan jilbab, Bapak aku belikan sarung, dan guruku aku belikan sarung sebagai hadiah dan rasa cintaku dari hasil kerja kerasku sendiri. Semua kado sudah kubungkus rapi, kudistribusikan sesuai orangnya. Kau tahu apa…semuanya senang baik Bapak, adek, maupun guru. Yang Emak ketawa ngakak….karena baju yang bagus yang aku berikan Emak ternyata kekecilan…haha. Maklum, aku nggak tahu ukuran baju Emak, hanya mengira-ngira saja, ternyata presiksiku salah. Akhirnya baju itu diberikan nenek.
Halimah jua melihat Emak tak memiliki HP, maka Halimah belikan HP untuk Emak, Halimah titipkan teman. Hal yang paling terkesan, kalau memberikan Hadiah yang umum jadi nggak pakai size…nanti kekecilan atau kebesaran lagi…hoho. Ketika wisuda kemarin, Halimahpun berusaha menyenangkan hati kedua orangtua Halimah. Halimah berusaha lulus tepat 4 tahun sesuai permintaan Emak, Halimah belikan adek Halimah jilbab-jilbab, dan apa yang diinginkan, Halimah belikan Bapak sarung, Halimah berikan uang 200 ribu untuk Emak tandur, Halimah sewakan taksi untuk berangkat wisuda. Uang itu sengaja Halimah sisihkan dari kerja Halimah tiap hari baik uang ngelesin, uang jadi translator, uang dari usaha, dll. Biar gaji Halimah tak gedhe kalau berbagi in syaallah berkah. Halimah belikan buku religi untuk Bapak. Tepat 12 November 2016, rasanya prihatin melihat kitab-kitab dan buku-buku yang jumlahnya sangat banyak sekali dimakan rayap, terlebih kitab-kitab. Dari rasa prihatin itu, akhirnya uang yang kusisihkan kubelikan almari dan kuberikan Bapak dan adek agar mereka bisa menyimpan kitab dengan aman. Apalagi kitab kan sumber ilmu. Rasanya pas melihat mereka senyum, hati Halimah senang. Emak, Bapak dan Adek adalah orang yang Halimah cintai, ketika melihat mereka bahagia, Halimah turut Bahagia. Dan yang membuat Halimah senang, pas menyambangi yayasan, pengelola yayasan menyambut Halimah dengan welcome dan senyum. Sekali lagi aku katakan, anak-anak yatim piyatu adalah anak-anak hebat yang pernah Halimah temui, mereka tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ataupun perhatian dari orangtua. Semoga kelak menjadi orang-orang yang hebat ya dek. Aamiin.
Halimah mencintai memberikan hadiah atau kejutan diam-diam dengan tiba-tiba langsung memberi pada orang yang halimah cintai karena sesungguhnya hadiah mendekatkan rasa cinta dan hadiah menghindarkan kebencian. Seperti kata Nabi Muhammad SAW:

تَهَادُوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تَُذْهِبُ بِالسَّخِيمَةِ

“Saling menghadiahilah kalian karena sesungguhnya hadiah itu akan mencabut/menghilangkan kedengkian.” (HR. Ibnu Mandah, lihat pembahasannya dalam Irwa`ul Ghalil, 6/45, 46)
تَهَادُوْا تَحَابُّوْا
“Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

“Siapapun yang memuliakan emak dan Bapakku maka akupun akan memuliakannya. Karena Emakku adalah surgaku, di telapak kakinyalah surgaku berada. Karena ridho hatinya maka ridho Tuhanku jua. Siapapun yang menyakiti hati kedua orangtuaku, maka ia menyakiti hatiku jua sebagaimana Rosulullah SAW dan Sayyidah Fatimah RA. Siapa yang membahagiakan Sayyidah Fatimah RA, maka ia jua membahagiakan Rosulullah SAW. Dan siapa yang menyakiti Sayyidah Fatimah RA, maka ia jua menyakiti Rosulullah”.                 
Bahkan untuk urusan apapun, aku berusaha mencari ridho Emak, karena ridho Emakku adalah ridho Tuhanku. Siapakah orang yang ingin aku muliakan dan aku bahagiakan di dunia ini sebelum dhuafa dan yatim piyatu? Mereka adalah orang yang ingin kubahagiakan pertama kali adalah Emak, Bapak, dan Adekku. Golden dreamku adalah memuliakan keduaorangtuaku, adekku, dan yatim piyatu beserta dhuafa.     
Bahkan untuk menerima seorang yang kelak menjadi imam hidupku selamanya (suami). Halimah meminta pertimbangan Emak, seandainya kog dia bisa memuliakan keluargaku dan menerima keluargaku apa adanya dan membahagiakannya maka aku terima cintanya. Namun bila sebaliknya,, ia tak bisa menerima dan membahagiakan keluargaku (hanya mencintaiku saja namun tak mencintai keluargaku), maka aku akan menolaknya. Aku sangat mencintai, memuliakan, dan sangat ingin membahagiakan keluargaku. Kebahagiaan Emak adalah kebahagiaanku jua.
Emakku adalah madrosah pertamaku. Emakku adalah wanita hebat pencetak prestasiku atas izin Allah. Emak yang mengandungku selama 9 bulan, Emak rela gendut demi hamil aku, rela gendong beban di perutnya kemana-mana demi Halimah. Emak menyusui Halimah hingga usia 2 tahun. Emak memandikan Halimah, nyuapin Halimah, ngajarin Halimah berdiri, dan sebagainya. Emak juga guru pertama Halimah. Emak yang ngedidik Halimah ngaji Al Qur’an, berjanjen, solawatan, dll. Emak yang ngajarin Halimah berhitung dan membaca. Ketika Halimah kritis selama empat bulan, Emak yang merawat Halimah, menyuapi, menuntun, melakukan apapun demi Halimah. Lalu apa balasan Halimah kalau bukan berbhakti dan membahagiakannya. Kalaupun kebaikan Emak dihitung, Halimah tak mampu menghitungnya saking banyaknya. Terimakasih Emak, jasa Emak sangat begitu besar. Halimah nulis ini, air mata Halimah tanpa sadar berjatuhan. Ya Rabb muliakanlah keduaorangtuaku sebagaimana ia mengasihiku. Limpahkanlah rizki yang berkah dan halal untuknya. Panjangkanlah umurnya hingga cucu-cucunya kelak dewasa. Jadikanlah kedua orangtuaku sebagai golongan orang-orang yang beruntung, orang yang engkau cintai dan engkau tempatkan di jannahMu.
Golden dream yang pengen Halimah capai dalam waktu dekat 2-3 tahun sebelum Halimah menikah adalah Halimah ingin membangunkan rumah yang layak untuk Emak dan Bapak. Itulah alasan kenapa Halimah pengen sukses berkarir karena Halimah ingin memuliakan dan membahagiakan Emak dan Bapak. Halimah tak ingin, di masa tua Emak dan Bapak banting tulang kerja kasar angkat beban berat. Halimah pengen di usia tua, kedua orangtua Halimah, mereka bisa hidup santai menikmati Hari tuanya, sedangkan kebutuhan ekonomi Halimah yang mencukupinya. Sudah saatnya Halimah memberi kebutuhan primer Emak dan Bapak, dari kecil kan mereka sudah memberikan kebutuhan primer Halimah. Halimah pengen, di usia tua Emak dan Bapak, Emak kubikinkan toko, rumah yang layak, dan bisa menikmati hari tuanya dengan nyaman (ngaji dan ibadah serta santai di hari tuanya). Bismillah semoga menjadi kenyataan. Aamiin ya Rabb.

Man Jadda wa Jada
Yakin in syaallah berhasil, karena Allah Maha memungkinkan segala sesuatu dan Allah membagi sesuatu berdasarkan kadar usaha hambanya.
Yakinlah bahwa di balik kesulitan ada kemudahaan.
Everything is possible with Allah through Ikhtiar…J