HALIMAH BINTI MASDARI

Jumat, 20 Oktober 2017

TAFSIR QS. AL-ANBIYA 21: 78-82 (KISAH NABI DAUD AS DAN NABI SULAIMAN AS)

TAFSIR AL QUR’AN
*****
QS. AL ANBIYA 21: 78-82
*****
(KISAH TAULADAN NABI DAUD AS
& NABI SULAIMAN AS)  
*****   
  
Setiap insan yang hidup di dunia tentu tak lepas dari ujian hidup. Dalam menjalani ujian hidup, sudah seyogyanya kita bersabar dan ikhlas menerimanya. Ujian hidup yang bernama masalah inilah yang akan mendewasakan kita dalam bersikap. Hadirnya suatu masalah menuntut manusia untuk tumbuh dan bersikap solutif. Tak  jarang, dalam menghadapi suatu masalah, kita dihadapkan pada beberapa pilihan. Untuk memutuskan suatu pilihan bukanlah hal mudah, pasti ada pilihan lain yang perlu dikorbankan. Kisah Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS adalah kisah tauladan dalam mengambil keputusan yang bijak untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Kisah hidup Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS termaktub dalam QS. Al-Anbiya ayat 78-82.
Allah swt berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 78 yang artinya:
Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, (Al-Anbiya 21:78).”
Adapun penjelasan  QS. Al Anbiya 21: 78 dalam kitab Tafsir Al-Jalalain yaitu:
(Dan) ingatlah (Daud dan Sulaiman) yakni kisah keduanya, dijelaskan oleh ayat selanjutnya (di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman) berupa ladang atau pohon anggur (karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya) kambing-kambing itu memakannya dan merusaknya di waktu malam hari tanpa ada penggembalanya, karena kambing-kambing itu lepas dengan sendirinya dari kandangnya. (Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu) Dhamir jamak dalam ayat ini menunjukkan makna untuk dua orang, yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Lalu Nabi Daud berkata, "Pemilik ladang itu berhak untuk memiliki kambing-kambing yang telah merusak ladangnya". Akan tetapi Nabi Sulaiman memutuskan, "Pemilik kebun hanya diperbolehkan memanfaatkan air susu, anak-anak dan bulu-bulunya, sampai tanaman ladang kembali seperti semula, diperbaiki oleh pemilik kambing, setelah itu ia diharuskan mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya". (Tafsir Al-Jalalain, Al-Anbiya 21:78).
Berdasarkan penjelasan Tafsir Jalalain QS. Al-Anbiya 21: 78 dapat diketahui bahwasannya dalam kisah Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS terjadi konflik pada ummatnya. Pada malam hari, ada kambing dari suatu kaum yang lepas dari kandangnya, lantas memakan tanaman anggur di ladang tetangganya. Kambing itu lepas dari kandang tanpa sepengetahuan pengembalanya sehingga dalam hal ini pemilik kambing tidak mengetahui jikalau kambingnya lepas dan memakan tanaman tetangganya yang siap panen. Lalu si pemilik ladang menghadap pada Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS untuk memberikan solusi terkait permasalahan tersebut.
Terkait permasalahan tersebut, Nabi Daud AS memiliki perbedaan pendapat dengan putranya (Nabi Sulaiman AS). Dalam hal ini, menurut Nabi Daud AS, pemilik ladang berhak memiliki kambing-kambing yang merusak tanaman anggur yang siap panen sebagai ganti kerugian yang telah disebabkannya. Hal ini berbeda dengan pendapat Nabi Sulaiman AS (putra Nabi Daud AS), Nabi Sulaiman AS berpendapat bahwa sebagai ganti atas kerusakan yang disebabkan kambing tanpa sepengetahuan si pemilik kambing. Pemilik ladang berhak memanfaatkan air susu, anak-anak kambing dan bulu-bulu kambing sampai si pemilik kambing selesai memperbaiki tanaman yang dirusak hingga tumbuh seperti semula sedia kala.
Adapun kelanjutan dari kisah tersebut termaktub dalam QS. Al-Anbiya 21:: 79 yang artinya:
Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya. (Al-Anbiya 21:79).
Penjelasan QS. Al-Anbiya 21: 79 dalam kitab tafsir jalalain yaitu:
(Maka Kami telah memberikan pengertian tentang hukum) yakni keputusan yang adil dan tepat (kepada Sulaiman) keputusan yang dilakukan oleh keduanya itu berdasarkan ijtihad masing-masing, kemudian Nabi Daud mentarjihkan atau menguatkan keputusan yang diambil oleh Nabi Sulaiman. Menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa keputusan keduanya itu berdasarkan wahyu dari Allah dan keputusan yang kedua yaitu yang telah diambil oleh Nabi Sulaiman berfungsi memansukh hukum yang pertama, yakni hukum Nabi Daud (dan kepada masing-masing) daripada keduanya (Kami berikan) kepadanya (hikmah) kenabian (dan ilmu) tentang masalah-masalah agama (dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud) demikianlah gunung-gunung dan burung-burung itu ditundukkan untuk bertasbih bersama Nabi Daud. Nabi Daud memerintahkan gunung-gunung dan burung-burung untuk ikut bertasbih bersamanya bila ia mengalami kelesuan, hingga ia menjadi semangat lagi dalam bertasbih. (Dan Kamilah yang melakukannya) yakni Kamilah yang menundukkan keduanya dapat bertasbih bersama Daud, sekalipun hal ini menurut kalian merupakan hal yang ajaib dan aneh yaitu tunduk dan patuhnya gunung-gunung dan burung-burung kepada perintah Nabi Daud. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Anbiya 21:79).
Dari penjelasan tafsir jalalain QS. Al-Anbiya 21: 79 menunjukkan bahwa baik keputusan Nabi Daud AS maupun keputusan Nabi Sulaiman AS berasal dari wahyu Allah swt. Keputusan Nabi Daud AS ataupun  keputusan Nabi Sulaiman AS keduanya diambil dari ijtihad masing-masing, namun Nabi Daud AS akhirnya memilih keputusan putranya (Nabi Sulaiman AS) dan beliau menguatkannya bahwasannya keputusan putranya lebih tepat dan bijak untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga keputusan Nabi Sulaiman AS yang dilakukan. Keputusan Nabi Sulaiman AS berfungsi untuk menguatkan keputusan yang telah diberikan Nabi Daud AS.
Allah swt memberikan wahyu berupa kenabian dan ilmu untuk memecahkan persoalan persoalan agama pada Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS. Adapun wahyu yang Allah swt berikan pada Nabi Daud AS adalah gunung-gunung, burung-burung tunduk pada perintah Nabi Daud AS serta bertasbih bersama Nabi Daud AS untuk memuji keagungan Allah swt. Bagi pemikiran logika, mungkin hal ini aneh dan ajaib, binatang dan gunung yang notabennya benda mati dapat tunduk dengan manusia. Namun, itu tidaklah aneh menurut Allah swt. Sebab Allah swt dapat menghendaki apapun, sebab Dialah Allah…Dzat yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah, segalanya mungkin bagi Allah swt.
Kisah tersebut bersambung pada QS. Al-Anbiya 21: 80 yang artinya:
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (Al-Anbiya 21:80).
Penjelasan QS. Al-Anbiya 21: 80 dalam kitab tafsir jalalain yaitu:
(Dan Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi) yaitu baju yang terbuat dari besi, dialah orang pertama yang menciptakannya dan sebelumnya hanyalah berupa lempengan-lempengan besi saja (untuk kalian) yakni untuk segolongan manusia (guna melindungi diri kalian) jika dibaca Linuhshinakum, maka Dhamirnya kembali kepada Allah, maksudnya, supaya Kami melindungi kalian. Dan jika ia dibaca Lituhshinahum, maka Dhamirnya kembali kepada baju besi, maksudnya, supaya baju besi itu melindungi diri kalian. Jika dibaca Liyuhshinakum, maka Dhamirnya kembali kepada Nabi Daud, maksudnya, supaya dia melindungi kalian (dalam peperangan kalian) melawan musuh-musuh kalian. (Maka hendaklah kalian) hai penduduk Mekah (bersyukur) atas nikmat karunia-Ku itu, yaitu dengan percaya kepada Rasulullah. Maksudnya bersyukurlah kalian atas hal tersebut kepada-Ku. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Anbiya 21:80).
Tafsir Al-Jalalain QS. Al-Anbiya 21: 80 menjelaskan bahwasannya wahyu Nabi Daud AS adalah dapat membuat baju besi untuk perang. Atas izin Allah, baju besi ini berfungsi untuk melindungi diri dari serangan musuh (panah musuh) tatkala perang. Nabi Daud AS adalah orang pertama yang mengajarkan cara pembuatan baju dari besi, pada masa sebelumnya belum ada baju besi, besi hanya berupa lempengan-lempengan saja. Pembuatan baju besi dibuat dengan cara dipandai, dipanaskan di atas bara api hingga berwarna merah lantas dibentuk-bentuk sesuai bentuk yang dikehendaki. Ini adalah inspirasi pertama yang diterapkan hingga saat ini terutama oleh para TNI tatkala tank TNI perang. Pada hekekatnya, baju besi adalah perantara untuk mendapatkan keselamatan, sedangkan yang memberikan keselamatan dalam peperangan adalah Allah SWT.
QS. Al-Anbiya 21: 81 merupakan kelanjutan dari kisah Nabi Sulaiman AS yang artinya:
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Anbiya 21:81).
Adapun penjelasan dari QS. Al-Anbiya 21: 81 dari tafsir Al-Jalalain yaitu:
(Dan) telah Kami tundukkan (untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya) dan pada ayat yang lain disebutkan Rukha-an, artinya angin yang sangat kencang dan pelan tiupannya, kesemuanya itu sesuai dengan kehendak Nabi Sulaiman (yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya) yakni negeri Syam. (Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain ilmu Allah yang telah diberikan kepada Sulaiman itu akan mendorongnya tunduk patuh kepada Rabbnya. Allah melakukan hal itu sesuai dengan ilmu-Nya yang maha mengetahui segala sesuatu. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Anbiya 21:81).
Berdasarkan penjelasan dari Tafsir Al Jalalain pada QS. Al-Anbiya 21: 81 tersebut menunjukkan bahwa Allah swt memberikan wahyu pada Nabi Sulaiman AS berupa Nabi Sulaiman AS dapat menundukkan tiupan angin sesuai perintahnya, baik angin yang berhembus kencang maupun angin yang berhembus pelan. Sesungguhnya, Dialah Allah…Dzat yang Maha Berkehendak dengan ilmuNya. Wahyu Nabi Sulaiman AS merupakan bukti kekuasaan Allah atas segala sesuatu termasuk memerintahkan angin untuk tunduk pada perintah Nabi Sulaiman AS.
Kelanjutan dari kisah Nabi Sulaiman AS terdapat pada QS. Al-Anbiya 21: 82 yang artinya:
Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu, (Al-Anbiya 21:82).
Penjelasan QS. Al-Anbiya 21: 82 dalam tafsir Al-Jalalain adalah:
(Dan) telah Kami tundukkan pula kepadanya (segolongan setan-setan yang menyelam untuknya) mereka menyelam ke dalam laut, lalu mereka mengeluarkan batu-batu permata dari dalamnya untuk Nabi Sulaiman (dan mereka mengerjakan pekerjaan selain daripada itu) selain menyelam, yaitu seperti membangun bangunan dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya (dan adalah Kami memelihara mereka) supaya mereka jangan merusak lagi pekerjaan-pekerjaan yang telah mereka perbuat. Karena watak setan itu bilamana selesai dari suatu pekerjaan sebelum malam tiba, mereka merusaknya kembali, jika mereka tidak disuruh mengerjakan pekerjaan yang lain. (Tafsir Al-Jalalain, Al-Anbiya 21:82).
Dari penjelasan tafsir Al-Jalalain QS. Al-Anbiya 21: 82 memaparkan bahwa wahyu Nabi Sulaiman AS diantaranya:
1.      Syetan-syetan tunduk pada perintah Nabi Sulaiman AS untuk menyelam ke dasar lautan dan mengambilkan batu-batu permata dan mutiara untuk diberikan dan dipersembahkan pada Nabi Sulaiman AS.
2.      Syetan-syetan memngerjakan pembuatan bangunan dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya namun tidak merusak lagi pekerjaan yang telah mereka (syetan-syetan lakukan). Sebab watak syetan adalah apabila pekerjaan syetan telah sebesai sebelum malam tiba, lantas syetan tidak memiliki pekerjaan yang lain maka ia merusak kembali pekerjaan yang telah selesai dilakukannya. Namun ajaibnya dari wahyu Nabi Sulaiman AS adalah Nabi Sulaiman AS dapat menyuruh syetan membuat bangunan namun bangunan itu kokoh dan tidak dirusak kembali oleh syetan.
*****
UCAPAN TERIMAKASIH
Sebagai rasa takdim penulis, penulis ucapkan terimakasih pada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh PP. Khozinatul Ulum (Blora) sekaligus guru yang mengampu dalam kajian kitab Tafsir Qur’an. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmadNya kepada beliau, memberikan nikmat panjang umur, melimpahkan rizkinya, dan memuliakannya sebagai golongan orang-orang yang beruntung. Semoga Allah swt senantiasa memuliakan para guru penulis, memberikan rahmad dan kasihNya sebab melalui perantara gurulah seorang murid dapat memahami suatu ilmu hingga dapat mengamalkannya. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.                 
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email: halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.   

REFERENSI:  
Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahali. Tafsir Qur’anul Adhim. Bab 2. Lil Imam Abi Abdullah bin Hazem. Surat Al Anbiya ayat 78-82. Halaman 33.