HALIMAH BINTI MASDARI

Minggu, 28 Oktober 2018

MENGENAL LEBIH DEKAT KH. MUHARROR ALI


MENGENAL LEBIH DEKAT KH. MUHARROR ALI, PENGASUH PONPES TERBESAR DI TANAH BLORA (PP. KHOZINATUL ULUM BLORA).  
*****  
Oleh: Dewi Nur Halimah, S.Si    
*****


Gambar 1. KH. Muharror Ali

Siapakah sosok KH. Muharror Ali?       
`           KH. Muharror Ali merupakan putra kedua dari pasangan Moh. Ali dengan Hj. Zuhriyah. Beliau lahir di Jepara pada 11 Januari 1951. Beliau adalah anak kedua dari 9 (sembilan) bersaudara. Adapun nama-nama putra putri dari pasangan Moh. Ali dengan Hj. Zuhriyah yaittu Abdul  Malik (alm), KH. Muharror Ali, Ummu Rohim (alm), Hj. Hariroh Ali (alm), KH. Wazir Ali, Prof. Dr. H. Nizar Ali, Hj. Nur Izzati, Nur Hikmawati (alm), dan Ummu Zakiroh. Muharror Ali kecil tumbuh hingga dewasa di desa Robayan, Kec. Kalinyamatan, Kab. Jepara, Jawa Tengah. Di bawah asuhan Moh. Ali dan Hj. Zuhriyah, KH. Muharror Ali tumbuh menjadi sosok pribadi yang taat, rendah hati, dan bersahaja.
Ketika dewasa, KH. Muharror Ali dijodohkan oleh kiahinya dengan gadis Blora yang bernama Hj. Umi Hanik. Kemudian setelah pernikahannya dengan Hj. Umi Hanik, Bapak Moch. Djaiz (mertua KH. Muharror Ali) mendirikan pesantren dan beliau ditunjuk sebagai pengasuh pondok pesantren yang selanjutnya diberi nama Pondok Pesantren (PP) Khozinatul Ulum Blora. Dari pernikahan dengan Ibu Nyai Hj. Umi Hanik ini, beliau dikaruniai 8 anak yakni Gus H. Ahmad Zaki Fuad, S.Th.I; Gus H. Ahmad Labib Hilmi; Gus H. Fahim Mulabby; Neng Hj. Nur Hilwa Layyina, S.Th.I; Neng Hj. Mil’ul Hana, S.Hum; Neng Hj. Muhim Nailul Ulya, Lc, M.Ag; Neng Malih Muayyada, dan Neng Mazid Ilma Rofida.        

Bagaimanakah awal mula berdirinya Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora?
Sejarah berdirinya PP. Khozinatul Ulum Blora berawal dari keprihatinan yang sangat besar serta kepedulian sosial dari seorang pengusaha yang bernama H.Moch. Djaiz. Beliau mengamati lingkungan sekitar kota Blora, ternyata belum ada satupun lembaga pendidikan pondok pesantren yang berdiri di tengah kota yang dikelilingi hutan jati itu. Padahal masyarakat di kota Blora dan sekitarnya kala itu sangat perlu mendapatkan penyuluhan, petunjuk dan bimbingan tentang ajaran Islam.
Keprihatinan dan kepedulian Bapak H. Moch. Djaiz tersebut seiring dengan keinginan seorang anak putrinya bernama Umi Hani yang baru saja menyelesaikan studinya menghafalkan al Qur’an 30 juz di pondok pesantren al Muayyad Surakarta yang diasuh oleh KH. Umar bin Abdul Manan, untuk dibuatkan sebuah pesantren walaupun sangat sederhana. Kemudian Bapak Moch. Djaiz dengan penuh semangat berusaha mencarikan calon suami yang sesuai dengan cita-cita putrinya tersebut, agar kelak dapat mengelola serta memanage suatu pondok pesantren yang dicita-citakan. 
Alhamdulillah berkat pertolongan dan izin Allah SWT serta doa restu tiga orang ulama, yaitu KH. Muhammad Arwani dari Kudus, KH. Abdullah Salam dari Pati dan KH. Muhammad Sahal Mahfud dari Kajen Pati, keinginan tersebut terpenuhi dengan mendapatkan seorang menantu dari Jepara, yang bernama Muharror Ali, dan kebetulan juga ia baru menamatkan studi non formalnya dari pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus di bawah asuhan KH. Muhammad Arwani. Setelah itu, beliau berniat untuk membangun dan mendirikan pesantren dengan memilih Khozinatul Ulum sebagai nama dari pesantrennya. Nama tersebut dipiih berdasarkan pemberian dari seorang ulama ahlul al Qur’an KH. Muhammad Arwani dari Kudus. Kata ‘khozinah’ berarti tempat penyimpanan, sedangkan ‘ulum’ berarti beberapa ilmu. Dengan nama tersebut diharapkan agar pesantren menjadi gudang atau tempat penyimpanan ilmu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat.

Bagaimana perjuangan KH. Muharror Ali mengembangkan pesantren di tengah masyarakat abangan tahun 80-an?
Memulai dan merintis bukanlah hal yang mudah bagi KH. Muharror Ali dalam membangun Ponpes Khozinatul Ulum Blora di tengah masyarakat abangan yang kala itu tidak mengenal pengetahuan agama. Perlu perjuangan ekstra dan kegigihan dalam menghadapi hambatan-hambatan kala itu. Bagimana tidak?. Tahun 80-an, kota Blora masih sangat awam mendengar nama pesantren, begitu ada pesantren yang didirikan tentu bukan dengan mudah untuk diterima masyarakat sekitar.
Penolakan masyarakat sekitar pesantren yang membenci keberadaan Pondok Pesantren Khozinatul Ulum  pun sangat keras. Dimulai dari masjid pesantren yang dipakai buat sepedahan anak-anak warga sehingga harus dipel ulang oleh santri ketika akan digunakan solat. Lalu saat hendak berwudhu untuk menunaikan solat subuh ketika fajar, santri disuguhi kotoran manusia yang tergeletak berceceran di tempat wudhu sehingga harus dibersihkan dulu dan berbagai penolakan lainnya. Kendati demikian, KH. Muharor Ali tidaklah membalas keburukan warga yang membencinya dengan keburukan yang serupa melainkan segala keburukan sikap itu dibalasnya dengan kebaikan.
KH. Muharor Ali menunjukkan bahwa kejahatan yang dibalas dengan kebaikan akan mampu meluluhkan hati orang yang awalnya benci untuk menjadi baik dan terketuk hatinya. Sebagaimana akhlak mulia yang telah ditauladankan oleh baginda Nabi Muhammad saw dengan membalas kejahatan dengan kebaikan pada orang yang mendzaliminya. Rosulullah saw ketika dilempari kotoran onta, membalas orang yang melemparinya dengan menjenguknya ketika sakit. Demikian pula yang dilakukan KH. Muharror Ali, beliau tidak lantas memarahi dan mengumpat warga yang membuang kotoran di masjid pondok pesantren tetapi mendoakannya agar hatinya dibukakan pintu hidayah sehingga menjadi mencintai Islam dan menerima keberadaan pesantren. Alhamdulillah, berkat kesabaran dan kegigihan KH. Muharror Ali membuahkan hasil, pondok pesantren Khozinatul Ulum menjadi satu-satunya pondok terbesar di tanah Blora dengan jumlah santri ribuan seperti sekarang ini. Tiadalah penjuangan itu sia-sia bila diiringi dengan keteguhan hati, keuletan, kegigihan, dan kerja keras yang diimbangi dengan doa yang dilakukan secara terus menerus.

Metode Pembelajaran di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora       
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Pendidik dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar peserta didik bersemangat untuk belajar. Dengan seperangkat teori dan pengalamannya, pendidik mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah pendidik tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berfikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata dan memang betul dipikirkan oleh seorang pendidik. Dalam penggunaan metode terkadang pendidik harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengaruhi penggunaan metode. Tujuan instruksional adalah pedoman yang mutlak dalam pemilihan metode. Dalam perumusan tujuan, pendidik perlu merumuskan dan menentukan metode yang mana yang hendak dipilih guna menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan tersebut.     
Adapun metode pengajaran yang diterapkan di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum secara umum meliputi 4 metode, yaitu :
  1. Metode Ceramah
Metode ceramah ini adalah salah satu metode yang digunakan di pondok pesantren tersebut. Penggunaan metode ini adalah dengan penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini akan menarik bila penggunaanya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya.
  1. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara pendidik dan peserta didik. Pendidik bertanya dan peserta didik menjawab atau peserta didik bertanya dan pendidik menjawab.
  1. Metode Resitasi (tugas belajar)
Tugas atau resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, dan di tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang peserta didik untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok.
d. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (sub-sub kelompok).
Selain metode umum di atas, pembelajaran yang digunakan di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini adalah sebagaimana pembelajaran yang ada di pondok pesantren lain, yaitu:
  1. Metode Wetonan
Metode ini dilakukan dengan cara seorang ustadz/ ustadzah duduk dilingkari santri-santri, kemudian ustadz/ ustadzah tersebut membaca dan kemudian santri mendengar dan menyimak bacaan ustadz/ ustadzah tersebut. 
  1. Metode Sorogan
Pelaksanaan metode sorogan juga hampir sama dengan metode wetonan, yaitu dikombinasikan dengan motode-metode lain seperti metode tanya jawab dan resitasi. Dalam pelaksanaan metode ini santri mengajukan sebuah kitab kepada ustadz/ ustadzah untuk dibaca dihadapan ustadz/ ustadzah. Dan kalau dalam membaca kitab tersebut terdapat kesalahan, maka santri akan langsung ditegur dan dibenarkan oleh ustadz/ ustadzah.
Seluruh sistem pengajaran yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum ini tidak lepas dari Tri Darma yang ada di pensantren tersebut. Adapun Tri Darma tersebut adalah :
1).  Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
2).  Pengembangan keilmuan yang bermanfaat.
3).  Pengabdian terhadap agama, masyarakat dan negara.
Dengan memperhatikan fungsi dan peranan pondok pesantren yang sangat penting dalam pembangunan, maka pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam akan lebih mampu berperan apabila sistem dan metode pembelajarannya dapat dikaitkan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan/ teknologi modern serta tuntutan dinamika masyarakat. Untuk itu perlu diintrodusir sistem dan metode yang efektif dan efisien diukur menurut lamanya waktu tempat atau lingkungan, pengembangan sikap dan kemampuan kreativitas serta budi luhur dengan ajaran agama dan sesuai aspirasi nasional.

Perkembangan Lembaga Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum
Bila dilihat dari awal berdirinya hingga perkembangannya sampai saat ini, Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora telah melengkapinya dengan berbagai macam lembaga pendidikan formal maupun nonformal yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan agama, masyarakat dan sekaligus sesuai dengan tuntutan zaman. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut adalah:
a. Pendidikan Al-Qur’an yang meliputi:
1) BTA (Yanbu’a)
2) Hafalan Juz Amma (wajib)
3) Pengajian Al-Qur’an bin Nadzro (wajib)
4) Tahfidzul Qur’an
5) Qiro’ah Sab’ah
b. Pendidikan Non Formal yang meliputi:
1) TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) metode Yanbu’a
2) Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA);
3) Madrasah Diniyyah Wustho (MDW);
4) Madrasah Diniyyah Ulya (MDU);
c. Pendidikan Formal yang meliputi:
1) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Khozinatul Ulum Blora berdiri sejak tahun 2016.
2) Madrasah Ibtida’iyah (MI) Plus Khozinatul Ulum Blora berdiri sejak tahun 2009.
3) Madrasah Tsanawiyah (MTs) Khozinatul Ulum Blora berdiri sejak tahun 1984.
4) Madrasah Aliyah (MA) Khozinatul Ulum Blora  berdiri sejak tahun 1986.
5) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Khozinatul Ulum Blora berdiri sejak tahun 2008.
Dilihat dari lembaga pendidikan yang telah didirikan oleh pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini dapat dikatakan lengkap, karena pondok pesantren tersebut telah mendirikan lembaga pendidikan mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi (STAI).  Terkait dengan perkembangan lembaga pendidikan agama Islam yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini dapat dianalisis bahwa perkembangan yang sudah ada mengarah pada pola perkembangan profil lembaga pendidikan agama yang ideal sebagaimana yang disampaikan oleh Zamakhsari Dhofir dalam menggambarkan profil pondok pesantren ideal yang sesuai dengan tuntutan kekinian. Profil pondok pesantren ideal bisa dilihat dari profil pondok pesantren Sunan Drajat yang berupaya memberdayakan dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan di pesantrennya dengan mendirikan berbagai sekolah, madrasah dan perguruan tinggi pada semua jenjang dan jenis (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK dan PTAI/PTS) dalam lingkungan pondok pesantren.

Pengembangan Pesantren dengan Meningkatkan Kualitas SDM Santri melalui Pengembangan Bakat dalam Wadah Ekstrakurikuler
Sejak berdirinya hingga saat ini, Pondok Pesantren Khozinatul Ulum terus melakukan inovasi dan pengembangan untuk kemajuan yayasan pondok pesantren. Bukan tanggung-tanggung, pengembangan dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidik, mengembangkan lembaga pendidikan ke ranah pendidikan formal dari PAUD hingga perguruan tinggi, mengembangkan metode kurikukulum, bahkan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki santri. Hal itu senada dengan visi pondok pesantren yaitu mencetak insan yang bertaqwa, berilmu, berakhlak, berprestasi, dan terampil.
Beberapa pelatihan yang diberikan pada santri sebagai pendidikan ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat yang dimiliki santri diantaranya:
a) Seni baca Al-Qur’an, ada pada tahun 2001;
b) Menjahid/Bordir, ada pada tahun 2005;
c) Tataboga ada pada tahun 2005;
d) Kursus Elektronik, ada pada 2008;
e) Kursus Bahasa Arab, ada pada tahun 2008;
f) Kursus Bahasa Inggris ada pada tahun 2008.
g) Computer dan Internet, ada pada tahun 2009;
h) Pelatihan Kepemimpinan, Jurnalistik dan Pelatihan-pelatihan lain, ada pada tahun 2010.      
Tak hanya itu, di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum juga dilengkapi dengan seni hadroh dan drama. Bahkan ada hari khusus untuk pertunjungan drama santri yakni setiap hari Sabtu (Malam Ahad) yang dikemas sedemikian rupa dalam rangkaian acara khitobah. Acara ini bertujuan sebagai wadah pengembangan keterampilan yang dimiliki santri. Rangkaian acara khitobah meliputi pembukaan diisi dengan tilawatil qur’an oleh santri serta ceramah pendahuluan yang juga diperagakan oleh santri yang seolah-olah mubaligh; kemudian acara inti yang diisi dengan tausiyah yang juga diisi oleh santri dengan memperagakan sosok mubaligh ternama; lalu acara hiburan yang diisi dengan beragam seni seperti seni drama religi, seni hadroh, musikalisasi puisi; dan sebagai penutupan ditutup dengan acara doa yang juga dipimpin oleh santri. Hal ini tiada lain untuk melatih mental santri tampil di muka umum (kemampuan public speaking) ketika kelak terjun di masyarakat paska boyong dari pesantren dan hidup berbaur dengan masyarakat.        

Strategi KH. Muharor Ali bersama Putranya dalam Membangun Kemandirian Perekonomian Pondok Pesantren Khozinatul Ulum  
Semakin tahun, Ponpes Khozinatul Ulum Blora terus mengalami kemajuan. Santri selalu bertambah, sehingga butuh perluasan lahan dan penambahan infrastruktur. Sementara, tidak mungkin jika ponpes hanya menarik biaya dari santri atau mengandalkan infak dan sedekah. Untuk itu, pihak pondok terus berusaha untuk memiliki sumber pendapatan sendiri demi mencapai kesejahteraan pesantren. Sebagai upaya untuk memajukan pesantren, maka Ponpes Khozinatul Ulum Blora mendirikan BUMP (Badan Usaha Milik Pesantren) seperti BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) Al Barokah, Khozin Shop yang bekerjasama dengan Indomaret, koperasi pesantren, dan toko Menara, dan pelayanan air mineral isi ulang.    
BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) atau badan usaha mandiri terpadu adalah lembaga keuangan mikro yang bersifat informal yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil untuk menumbuh kembangkan usaha mikro dan kecil agar dapat mengangkat derajat martabat serta membela kepentingan umum marjinal. BMT Al Barokah adalah BMT yang dikelola oleh yayasan Khozinatul Ulum untuk mensejahterakan anggota yang tergabung dalam anggota BMT. Kegiatan utama BMT Al Barokah adalah mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang kegiatan ekonominya. Selain itu BMT Al Barokah juga menerima titipan BAZIS dari dana zakat, infaq dan sadaqah dan menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Adapun visi mulia BMT Al Barokah adalah untuk mewujudkan masyarakat di sekitar lingkup BMT selamat, damai, sejahtera dengan usaha yang maju berkembang, terpercaya, aman, nyaman, transparan, dan kehati-hatian bersama BMT. Dengan adanya BMT Al Barokah ini sangat membantu usaha pesantren termasuk koperasi pesantren dan membantu menumbuh kembangkan usaha mikro dan kecil masyarakat sekitar pesantren.
Khozin Shop merupakan salah satu contoh minimarket yang pendiriannya dikerjasamakan oleh Rabithan Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dengan menggandeng perusahaan lain.  Khozin Shop adalah bentuk format baru kerjasama ekonomi Pondok Pesantren dengan perusahaan Indomaret. Dari kemitraan ini, pihak pesantren mendapat pinjaman modal 75% dan yang 25% disediakan oleh pesantren. Modal tersebut baru mulai dibayar secara berangsur-angsur, setelah  berjalan tujuh bulan. Setelah modal terbayar, maka toko tersebut akan menjadi milik pesantren sepenuhnya. Bisnis kemitraan Khozin Shop ini sangat membantu kemandirian ekonomi usaha pesantren. Kemandirian ekonomi ini bertujuan untuk menunjang operasional Pesantren yakni Pondok Pesantren mempunyai pusat ekonomi sebagai tempat pemenuhan kebutuhan santri dan pesantren secara mandiri. Selain itu, keberadaan Khozin Shop juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar karena produk lokal juga diberikan kesempatan masuk toko.     
Koperasi pesantren merupakan koperasi yang terletak di lokasi pesantren dengan menyediakan segala perlengkapan yang dibutuhkan santri mulai dari makanan, minuman, buku, dan barang-barang lainnya yang diperlukan santri. Koperasi pesantren dibuka dengan menyesuaikan keaktifan pondok. Tiap hari, koperasi pesantren ini buka dari jam 06.30 hingga pukul 12.00, kemudian dibuka kembali pada sore hari 16.30-17.20 dan pada malam hari 20.00-21.00. Koperasi pesantren ini dijaga oleh 2 orang santri yang ikut ndalem (membantu pengasuh). Tujuan pengasuh memberikan tugas kepada santri ndalem adalah karena selain untuk melatih jiwa wirausaha mereka, juga untuk melatih keteguhan dan ketaatan para santri terhadap ajaran agama yang selama ini mereka dapatkan. Pendanaan dari koperasi pesantren ini ialah dengan pesantren bekerja sama dengan BMT Al-Barokah. Koperasi pesantren ini dikelola  langsung oleh pengasuh yaitu KH. Muharor Ali dan Hj. Umi Hanik.    
Toko Menara terdiri dari Menara Alat Tulis, Menara Busana, Menara Plastik, Menara Aksesoris serta Menara Putra Komputer (MPC). Menara Alat Tulis dikelola oleh KH. Muharor Ali dan Ibu Nyai Hj. Umi Hanik. Barang yang dijual di Menara Alat Tulis meliputi alat-alat perlengkapan sekolah, buku-buku religi, dan buku-buku sekolah. Menara busana dikelola oleh Neng Hj. Mil’ul Hana, S. Hum. Menara busana menyediakan segala macam busana untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa. Menara Plastik dikelola oleh Gus H. Ahmad Zaki Fuad, S.Th.I. Menara plastik menyediakan segala peralatan rumah tangga dan perabotan dapur. Menara aksesoris dikelola oleh Neng Hj. Nur Hilwa Layyina, S.Th.I. Menara aksesoris menjual segala macam aksesoris yang diperlukan pria dan wanita, aksesoris untuk memperindah ruangan rumah beserta kado-kado. Sedangkan Menara Putra Komputer (MPC) dikelola oleh Gus H. Ahmad Labib Hilmi. Menara Putra Komputer menjual segala macam alat elektronik dan perlengkapannya. Toko menara ini memberikan pelayanan pada pelanggannya setiap hari kecuali hari-hari besar seperti idul Fitri dan Idul Adha. Dalam pelayanannya, toko ini dijaga oleh puluhan santri yang ikut pengasuh (ndalem).
Pelayanan air mineral isi ulang merupakan usaha milik pesantren yang disediakan untuk para santri dan juga masyarakat sekitar pesantren. Perubahan gaya hidup dari minum air rebus ke air mineral menjadi pemicu cepat berkembangnya penjualan air isi ulang ini. Semua pelayan usaha pelayanan air mineral isi ulang ini  adalah santri putra, sehingga pelayanan air mineral isi ulang untuk santri putri dikoordinir oleh pengurus. Pengelola dari usaha ini yaitu KH. Muharor Ali dan bekerja sama dengan para santri yang ikut ndalem (ikut pengasuh). Pelayanan air mineral isi ulang ini dibuka setiap hari kecuali hari-hari besar islam. Semua keuntungan dari usaha ini untuk memajukan kesejahteraan pesantren termasuk untuk memperluas lahan pesantren dengan pembelian lahan baru dan penambahan infrakstruktur pesantren.           
  
 






2 komentar :

Unknown mengatakan...

Alhamdulillah...saya warga sekitar pondok. Baru tau sejarah khozinatul ulum baru kali ini. Semoga diberi kesehatan selalu, pak yai dan bu nyai...aamiin...

Kang lukman mengatakan...

Semoga mendapatkan keberkahan dari beliau untuk semuanya amiinn....