HALIMAH BINTI MASDARI

Sabtu, 25 Mei 2019

HAKEKAT JANJI

HAKEKAT JANJI
*****
Oleh: Dewi Nur Halimah, S. Si


DEFINISI JANJI

Janji adalah kesepakatan antara 2 orang/ lebih, antara 2 kelompok/ lebih mengenai suatu hal yang akan dilakukan kemudian hari dalam jangka waktu tertentu. Janji merupakan suatu hal yang wajib ditepati mengingat menyangkut hak orang lain. Secara dzahir janji boleh tidak dilakukan, tapi secara batin harus dilakukan sebab bila tidak dilakukan akan mendzalimi orang lain (membuatnya kecewa, hilang kepercayaan, hingga depresi dan lain sebagainya). Atas dasar analisa dampak secara batin inilah, melanggar janji HARAM. 

HUKUM MENEPATI JANJI

Hukum menepati janji adalah wajib. Ingkar janji dosa (haram). Mengapa melanggar janji haram? Karena ingkar janji adalah perbuatan dzalim yang merugikan orang lain. Bahkan saking urgennya suatu janji, janji adalah hutang yang wajib ditepati. Bila tidak ditepati di dunia, maka wajib dibayar di akherat di hadapan Allah. 


Untuk seorang muslim yang beriman dan bertakwa tentu ia akan sangat takut ingkar janji. Mengapa?. Sebab ingkar janji sesuai sabda Rosulullah saw adalah ciri orang munafik. Sedang orang munafik dalam kalam qur'an dijelaskan bila tidak segera taubatan nasuha, maka ia kekal di neraka. Dosa sesama manusia tidak akan hilang sebelum kedzaliman itu dimaafkan dan ada pertanggungjawaban atas kedzaliman yang dilakukan. 

Pernahkah engkau berjanji atau mengadakan perjanjian baik perjanjian dengan lawan jenis, perjanjian dalam dunia kerja, maupun perjajian dalam dunia pendidikan?. Jika pernah, pernahkah kamu tidak menepatinya? Sudahkah kamu menggantinya di lain hari.


Allah SWT berfirman:

وَ اَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَا نَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

"Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." (QS. An-Nahl 16: Ayat 91)

Kawanku, janji adalah hutang yang wajib dipenuhi. Bukan saja engkau wajib menepati di hadapan manusia yang engkau berjanji, tapi juga engkau pertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Bila tidak engkau penuhi di dunia, maka wajib kamu bayar di akherat di hadapan Allah. Allah akan mengambil pahalamu dan memberikannya pada orang yang engkau dzalimi atas janjimu. Dan bila pahalamu telah habis, maka Allah ambil pahala orang yang engkau dzalimi dengan janjimu dan di limpahkan dosanya padamu. Yakin, masih tidak takut dengan ingkar janji? Yakin, masih mau dzalim yang siksanya teramat pedih?

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوْا مَا لَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗ ۖ وَاَوْفُوْا بِا لْعَهْدِ ۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَا نَ مَسْــئُوْلًا

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 34)

Coba pikirkan dengan hati tenang. Pertanggungjawaban di hadapan manusia lebih baik daripada dituntut dihadapan Allah. Coba renungkan, iya kalau kita pahalanya banyak bisa menghibahkan pahala kita pada orang yang kita dzalimi atas janji kita. Kalau pahala kita sedikit, dosa kita banyak. Ketambah dosa orang yang kita dzalimi atas dosa kita, betapa sangat berat siksa yang akan kita terima.

Pernahkah tersengat api? Api 🔥 dunia saja yang sudah dicuci 70 kali dari api neraka, bila membakar tubuh bisa gosong, perih, lecet hingga kulit mengelupas. Bagaimana bila dibakar dengan api neraka selamanya atas kedzaliman kita? Negeri akherat itu abadi. Pernah kena setrika saat lagi nyetrika baju, panas kan, lecet?. Nah setrika dunia aja panas dan sakit. Gimana kalau disetrika Allah di neraka?. Pernah digigit kalajengking, ular atau hewan buas lainnya?. Sakitnya astagfirullah luar biasa, itu binatang buas dunia, gimana kalau binatang buas neraka. Oleh karena itu jangan meremehkan janji. Janji itu adalah hutang yang wajib ditepati.

Janji wajib dipenuhi kecuali janji yang mengajak pada kemaksiatan, janji yang mengajak pada kedzaliman (kesepakatan melakukan kejahatan) maka boleh dibatalkan. Contoh janji yang boleh dibatalkan perjanjian para oknum pegawai negara untuk melakukan korupsi, perjanjian para komplotan perampok untuk merampok, dan segala perjanjian yang bermuara pada kejahatan/Maksiyat atau merampas hak fakir miskin. Selain berkaitan dengan kejahatan, maka janji WAJIB ditepati. Janji tentang kebaikan yang tidak ditepati, akan tetap menjadi hutang yang perlu dibayar hingga janji itu terpenuhi.

BAGAIMANA BILA DORUROT KARENA SAKIT ATAU BENCANA ALAM

Bila mau menepati janji, tapi tubuh sakit yang tidak memungkinkan untuk berjalan. Dan apabila digunakan untuk berjalan, sakitnya tambah parah. Maka boleh menunda janji, dengan tetap menggantinya di lain hari yakni dengan tetap mengabari melalui sms, inbox, chat, atau mengirim utusan agar janji ditunda pemenuhannya.

Demikian juga dengan bencana alam seperti gunung meletus, gempa, banjir, tanah longsor, dll. Dalam kondisi ini boleh meminta keringanan pemenuhan janji, yakni pemenuhannya saat kondisi aman. Meskipun demikian, janji tetaplah hutang yang wajib dibayar.

Oleh karena itu, jangan mudah mengumbar janji. Hal yang ditakutkan Sayyidina umar bin Abdul Aziz adalah ketika ia tidak memenuhi janjinya, mendzalimi rakyat. Sehingga ia sangat takut dan menangis tatkala diangkat menjadi pejabat. Mengapa? Sekali ingkar janji, dzalim maka pertanggungjawaban dihadapan Allah itu berat.


Jangan sesekali menggunakan kata "In syaAllah" Bila dalam hatimu terbesit untuk tidak menepati janji. Kata In syaAllah memiliki arti "jika Allah menghendaki". Allah tidak pernah mengajak pada penghianatan, segala keburukan termasuk ingkar janji bukan dari Allah tapi dari nafsumu. Jangan berbuat Maksiyat dengan menggunakan nama ALLAH sebagai ahlibi maksiyatmu. Hakekat in syaAllah adalah ada upaya maksimal untuk memenuhi. Masalah hasil Allah. Bila pasrah tanpa usaha maksimal, maka berarti engkau telah menggunakan nama ALLAH sebagai tameng dalam kedustaanmu.

Betapa banyak orangtua kehilangan kepercayaan anaknya, karena banyak berjanji tidak dipenuhi. Misalnya:
"Nak nanti kalau puasanya penuh papah kasih hadiah sepeda"
Sang anak pun puasa penuh, lalu janji itu ditagih dan sang ayah tak bisa memberikannya.
Contoh kembali:
"Mah kalau aku juara satu, belikan HP ya"
"In syaAllah iya sayang"
Ternyata sang anak juara satu dan tidak mendapatkan apa yang menjadi kesepakatan maka sang anak pun akan kecewa dan kehilangan kepercayaan pada orangtuanya. Tidak usah berjanji bila tidak bisa menepati. Jangan membuat sumur dosa atas nafsu ego janjimu.


Untukmu lelaki, jangan mudah mengumbar janji dengan perempuan. Jika mencintai, halalkan jangan janji tak kau tepati. Ingat janji adalah hutang yang wajib engkau tunaikan.
Untukmu pejabat, jangan mudah mengumbar janji untuk sebuah pangkat. Tuntutan rakyatmu di negeri akherat itu berat. Kamu bisa lari dari tanggung jawab pada manusia, tapi tidak bisa lari dari tanggung jawab pada Allah swt.
Untukmu setiap insan, tepatilah janji kecuali janji Maksiyat. Sebab janji adalah suatu lambang bahwa engkau bisa dipercaya atau munafik. Jangan sesekali mempermainkan sebuah janji karena bukan saja balasan dunia yang engkau dapatkan dengan kehilangan kepercayaan tapi juga pertanggungjawaban di akherat.




Rabu, 22 Mei 2019

ARTI SYUKUR DAN MENGHARGAI

ARTI SYUKUR DAN MENGHARGAI
*****
Oleh: Dewi Nur Halimah, S. Si


Hakikat syukur maqomnya di atas sabar. Bisakah kita bersyukur bukan saja saat diberikan nikmat tapi juga saat diberikan musibah. Syukur hanya mampu dicapai dan diaplikasikan bila kita mampu menghargai sebuah proses atau perjuangan dan merasa berterima kasih pada Allah atas segala yang kita capai. 

"Tengoklah ke bawah untuk urusan harta. Sehingga engkau tidak tomak (rakus) dan diperbudak dunia. Dengan melihat ke bawah (melihat fakir miskin, dhuafa, orang yang ekonominya lemah) akan menjadikanmu bersyukur atas apa yang kamu raih. Terlebih harta dunia yang kamu kejar mati matian tidak dibawa di alam barzah kecuali harta yang kamu sedekahkan dan kamu wakafkan. Berbalik dengan itu, bila urusan ilmu maka tengoklah ke atas. Dengan kamu melihat orang yang ilmunya lebih banyak (orang ngalim, orang cerdas) akan mendorongmu semangat belajar. Sesungguhnya semangat belajar ilmu yang bermanfaat adalah jihad melawan kebodohan dan jalan untuk memajukan islam dengan pengetahuan dan teknologi" (Halimah bintu Masdari, 2019).

Kawanku, coba kita renungkan atas segala nikmat yang kita peroleh. Kita bisa makan, kita bisa berpakaian, kita bisa bertempat tinggal, kita bisa bernafas semua tiada lain karena sifat pemurahnya Allah swt. Bayangkan jika sifat Allah tidak sebaik itu, tentu untuk bernafas kita bayar oksigen seperti saat di rumah sakit, iya kan? Hehe.


Kawanku...
Pernahkah terbesit di hatimu, saat engkau memakai baju?. Apa yang ada di benakmu?. Cara bersyukur saat memakai baju adalah dengan mengucap basmallah dan doa saat memakai baju. Di pikiran Halimah, ketika memakai baju, Halimah banyak bersyukur. Halimah niatkan:

"Bismillah, niat ingsun memakai baju kangge aktivitas lan ibadah supaya aurat tertutup (sesuai syariat agama) lilahi Ta'ala"

Halimah suka merenung, coba bayangkan kawanku. Untuk memakai baju, kita harusnya bersyukur. Berapa banyak kita bersyukur pada Allah swt dan juga berterima kasih pada semua orang yang terlibat. Untuk menjadi sebuah baju, pertama adalah jasa petani kapas. Tanpa adanya petani kapas, tak akan ada benang. Lalu dari kapas, ada jasa pemintal benang. Dari benang, akan diolah menjadi kain. Dari kain menjadi baju selanjutnya dijahit oleh penjahit. Jadi, untuk memakai sebuah baju, kita itu tidak bisa membuatnya sendiri. Artinya kita tergantung orang lain (Mumatsalatul Lil hawadisi). Lalu jika kita sombong, betapa tak tahu malunya kita. Kita makhluk yang sifatnya fana (rusak), tergantung, lalu apa yang kita sombongkan. Oleh karena itu, taatlah syariat agama.

Coba kita renungkan lagi...
Kita makan nasi, sudahkah kita doa istiqomah sebelum makan nasi. Jika iya alhamdulillah, jika belum mulai besok sebelum makan, doa dulu ya 😊. Untuk menjadi sebuah nasi, melibatkan banyak pihak. Dimulai dari gabah, ada jasa para petani yang menanam padi. Mereka bermandikan keringat, dijemur terik matahari, dibawah kuyup hujan. Lalu untuk menjadi beras, ada jasa tukang selep, untuk menjadi beras, lalu dimasak hingga menjadi nasi ada jasa tukang masak. Masikah kita membuang-buang nasi?. Berarti kalau kita membuang-buang nasi, betapa kita tak bisa menghargai jasa petani, tukang selep, tukang masak. Apakah karena uang lalu engkau menyepelekan itu hingga hilang sifat makhlukmu?. Sesungguhnya sombong itu pakaian Tuhan, Dialah Allah, Dzat Yang Maha Segalanya. Makhluk sangat tidak pantas sombong. Marilah menghambakan diri, sebab kita adalah makhluk.


Coba kita renungkan kembali kawan...
Kita bernafas tiap hari itu menghirup berapa banyak oksigen? Lalu pernahkah Allah meminta kita membayar atas oksigen yang kita hirup?. TIDAK. Rata-rata manusia dewasa membutuhkan 7 sampai 8 liter setiap menitnya. Sehingga setiap harinya manusia membutuhkan sekitar 10.080 sampai 11.520 liter. Sedangkan harga 1 meter kubik atau 1000 liter oksigen adalah Rp 850.000,00 rupiah.

Bayangkan berapa yang harus kita bayar bila Allah meminta kita membayar oksigen yang kita hirup?. Kita harus bayar Rp 8.568.000, 00/ hari sampai Rp 9.792.000, 00/ hari. Bila dikalkulasikan kita harus membayar sekitar 3.050.208.000, 00/ tahun (3 milyar 50 juta 208 ribu) hingga 3.485.952.000, 00/ tahun (3 milyar 485 juta 952 ribu). Tapi apakah kita diminta Allah membayar oksigen seperti di rumah sakit? Tidak, Allah menggratiskan kita menghirup oksigen tiap harinya. Bila kita bernafas pun, oksigen dari Allah gratis. Lalu kita bermaksiat pada Allah menggunakan oksigen yang diberikan Allah swt, betapa dzalim dan tak tahu dirinya kita. Semoga Allah melimpahpahkan hidayah pada kita.


Oke, coba kita renungkan lagi...
Allah memberikan matahari yang setiap hari menyinari bumi sebagai energi terbesar dalam tata surya GRATIS. Allah memberi bintang dan bulan untuk menyinari malam GRATIS. Coba kita bayangkan andai sinar matahari itu diminta membayar sama Allah. Berapa banyak yang harus kita bayar, berapa juta bahkan ratusan hingga milyaran juta yang perlu kita bayar. Biaya rata rata listrik saja 1.467/kWh. Coba tengok rekening listrik kalian per bulan, berapa?. Itu saja penggunaannya tidak non stop. ALLAH memberikan cahaya matahari NON STOP dari pagi sampai sore, bintang dari malam sampai fajar GRATIS. Masih kah kita durhaka di bumi Allah? Bayangkan jika tidak ada cahaya matahari, tumbuhan untuk fotosintesis dan menghasilkan oksigen harus dibantu sinar listrik. Itupun hasilnya tidak sempurna, biayanya milyaran hingga triliunan bila tiap hari. Allah ngasih kita energi terbesar di dunia dengan GRATIS. Masih tak malukah kita melanggar syariat agama Islam, menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk bermaksiat pada Allah misalnya mendukung Maksiyat, makan hasil riba, makan hasil MLM/ Ghoror, ghibah, mendzalimi orang lain, zina, merampas hak orang lain dsb? Sungguh bila tak segera taubat betapa tak tahu dirinya kita. Betapa angkuhnya kita. Sesungguhnya nikmat dunia yang diperoleh dengan cara HARAM/ DZALIM hanyalah permainan dunia yakni kesenangan sesaat yang harus dibayar dengan ahzab atau siksa Allah yang amat pedih di negeri akherat.


Coba kita renungkan kembali...
Kita diberikan Allah hati untuk mengingat Allah supaya digunakan untuk niatan baik, husnudzan, dan memperbanyak kebaikan melalui hati. Lalu bila hati kita yang sejatinya nikmat Allah swt, lantas kita gunakan sebagai sarang penyakit hati (iri, takabur, ujub, riya, dll) tanpa taubat, tidakkah kita malu sama Allah, menggunakan pemberiannya untuk bermaksiat yang notabennya larangan Allah? Allah berikan hati kita sehat supaya kita banyak bersyukur dan menjaga hati dari penyakit hati. Seandainya Allah murka, lantas memberikan penyakit hati seperti kanker hati, liver, berapa banyak uang yang perlu kita keluarkan untuk berobat?. Dikasih hati yang sehat, masihkah kita tak malu bermaksiat pada Allah. Mari bermuhasabah diri. Sudah kita gunakan untuk apa saja hati kita, apakah hati kita sering berburuk sangka ataukah hati kita sering menyakiti orang lain dari iri hingga mendzalimi?. Semoga kita, Allah sadarkan dengan hidayah sebelum akhirnya kita wafat. Agar kita tidak wafat dalam kondisi mengidap penyakit hati.

Kita diberikan Allah mata untuk memandang manusia dengan kebaikan, tidak merendahkan, melihat keagungan nikmat Allah, bersyukur dengan menggunakan mata untuk membaca dan menulis (belajar). Betapa seharusnya kita bersyukur atas mata yang sehat yang Allah anugerahkan. Bayangkan saja bila mata itu diuji Allah dengan katarak, tumor, kanker mata. Betapa banyak harga yang perlu kita bayar untuk mengobatkan mata yang sakit. Masihkah kita tak malu menggunakan mata kita untuk maksiyat dan durhaka dengan Allah (seperti memendang lawan jenis bukan makhram dengan syahwat, memandang makhluk Allah dengan rendah, memandang film porno, memandang kemaksiatan)?. Sungguh setiap organ kita kelak akan dihisab dan semua terdata oleh malaikat rokib dan atit, tak ada yang terlewatkan tercatat. Maka Berhati-hatilah menggunakan mata. Jangan kau gunakan untuk memandang rendah makhluk Allah hanya karena ia miskin, jangan memandang rendah seseorang hanya karena ia buruk rupa, jangan memandang film porno, jangan memandang lelaki/ perempuan ajnabi dengan syahwat. Jangan memandang yang diharamkan, sesungguhnya hisab Allah itu adil, takut lah sama Allah. Bila engkau ingin maksiyat dengan mata, jangan engkau gunakan mata yang Allah berikan untuk maksiyat tapi maksiyatlah dengan mata yang bukan dari Allah Swt, sanggupkah?. Sanggupkah engkau membuat atau membeli mata sendiri? Sekali-kali TIDAK. Maka jangan gunakan matamu untuk bermaksiat.

Coba kita tengok telinga kita, sudah kita gunakan apa saja telinga kita? Apakah untuk mendengarkan majelis ilmu, ceramah kebaikan ulama, dan kebaikan lainnya? Ataukah telinga kita, kita gunakan untuk mendengarkan ghibah, mendengarkan fitnah, mendengarkan hoaks, mendengarkan hal-hal yang mendukung maksiyat atau kedzaliman pada kaum lemah, pada perempuan, pada siapapun? Bila kita gunakan telinga yang pemberian dari Allah untuk bermaksiat pada Allah swt, seharusnya kita malu. Kita menggunakan nikmat dari Allah untuk maksiyat pada Allah, semoga hidayah untuk kita dan insyaf. Allah anugerahkan telinga yang sehat untuk mendengarkan kebaikan dan ilmu bukan untuk maksiyat. Coba kalau telinga kita diuji Allah dengan kanker telinga, infeksi telinga, gendang telinga pecah, tetanus telinga, dll yang berbahaya? Betapa banyak yang harus kita bayar untuk sebuah telinga sehat. Lalu masihkah kita gunakan telinga kita untuk durhaka pada Allah dengan melakukan maksiyat telinga?. Wahai hamba Allah, bertaubatlah sebelum terlambat, sesungguhnya ahzab Allah itu teramat pedih, janganlah sesekali engkau melawan hukum Allah swt.

Coba kita tengok tangan dan kaki kita, apakah kita gunakan untuk berjalan ke majelis ilmu? Apakah kita gunakan untuk menulis ilmu yang bermanfaat? Apakah untuk bekerja yang halal? Ataukah kaki dan tangan kita gunakan untuk ke tempat maksiyat (tempat karaoke, tempat tempat maksiat lainnya)? Ataukah kita gunakan tangan kita untuk mengurangi takaran timbangan dalam berjualan? Ataukah tangan kita gunakan untuk memanipulasi data sehingga merugikan atau mendzalimi orang lain?. Ataukah tangan dan kaki kita gunakan untuk merampas hak fakir miskin, yatim piyatu, dhuafa? Ataukah tangan dan kaki kita gunakan untuk korupsi? TIDAKKAH KITA Malu menggunakan tangan dan kaki dari Allah untuk maksiyat kepada Allah dan melanggar syari'at Allah? Apakah Allah tidur sehingga kita berani bermaksiat kepada Allah? TIDAK. Sekali kali tidak, Allah tidak tidur, Allah melihat semua yang kamu lakukan dan semua dicatat malaikat rokib dan atit. Wahai hamba Allah, janganlah menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ahzab Allah teramat pedih. Tanganmu saja bila kesetrika gosong, perih, lecet, sakitnya minta ampun. Bagaimana bila disetrika di neraka? Panasnya bagaimana? Takutlah akan siksa neraka. Janganlah berlaku dzalim dengan telingamu.


Coba kita tengok lisan/ mulut kita. Sudahkah kita berlaku jujur ataukah kita sering menipu dan berdusta dengan lisan kita? Sudahkah kita menepati janji yang keluar dari mulut kita ataukah kita ingkar janji dengan lisan kita? Sudahkah kita gunakan lisan kita untuk tolabul ilmi dan dakwah ataukah kita gunakan lisan kita untuk mendukung kemaksiatan? Sudahkah kita gunakan lisan kita untuk berdzikir dan doa ataukah kita gunakan lisan kita untuk ghibah dan menebar fitnah?. Marilah kita berkaca dan menengok lisan kita sendiri-sendiri. Lebih banyak kita gunakan untuk kebaikan ataukah kemaksiatan. Apakah kita berpegang pada amar makruf nahi munkar ataukah amar munkar nahi makruf? Apakah kita lebih sering berdusta ataukah jujur?. Kawanku, Allah anugerahkan lisan (mulut) yang sehat itu untuk melakukan kebaikan pada Allah. Bukankah hakikat Allah menciptakan manusia dan jin di muka bumi untuk beribadah? Lalu mengapa kau gunakan nikmat dari Allah untuk membela kemungkaran? Kamu bisa lari dari tanggung jawab pada manusia atas kebohonganmu, tapi kamu tidak bisa lari dari Allah di hari pembalasan. Berhati Hati lah berlaku dzalim, balasan Allah di yaumil qiyamah teramat pedih. Mulut yang sehat, perbanyaklah untuk berbuat kebaikan, kejujuran, keadilan. Jangan sekali kali kau gunakan mulut dari Allah untuk bermaksiat pada Allah. Bayangkan api dunia saja bila membakar tubuhmu bisa gosong dan sangat perih, bagaimana dengan api neraka?

Kawanku...
Manusia yang beruntung BUKANLAH manusia yang kaya, bisa beli apa saja, bisa pergi kemana saja.
Manusia yang beruntung BUKANLAH manusia yang cantik/ tampan tapi ahli maksiyat dan dzalim.
Manusia yang beruntung BUKANLAH manusia yang punya kekuasaan atau jabatan sehingga dihormati orang.
MELAINKAN....
Manusia yang beruntung ADALAH manusia yang wafatnya tetap iman, tetap islam, dan khusnul khotimah menjadi kekasih Allah.

Adakah yang bisa tahu bahwa matinya kelak khusnul khotimah, pasti masuk surga? TIDAK ADA YANG TAHU kecuali Allah. Oleh karena engkau tidak tahu, janganlah memperbanyak berlaku dzalim dan maksiyat, sesungguhnya kehidupan dunia itu sementara, sementara kehidupan akherat itu kekal abadi. Coba pikir baik baik, yang kamu lakukan itu mengejar harta/ nikmat dunia (hubbud dunya hingga lupa bekal akherat) ataukah memperbanyak ibadah dan kebaikan sebagai bekal akherat? Jawabannya yang lebih tahu adalah engkau, bukan orang lain. Mari bermuhasabah diri, jangan menggunakan nikmat Allah untuk berlaku dzalim dan membangkang pada Allah. Teruslah belajar dan diamalkan, tegakkan keadilan dan tebarkan kebaikan sebagai bekal amal soleh di alam barzah. Jangan berlaku dzalim, sesungguhnya dituntut di hadapan Allah itu berat hisabnya.


Untuk melatih syukur...
Cobalah silaturahmi ke yatim piyatu, di sana engkau akan banyak bersyukur karena engkau masih memiliki bapak dan ibu. Sehingga engkau akan lebih menyayangi dan memuliakan bapak ibumu, engkau akan dermawan pada mereka.
Cobalah silaturahmi ke rumah sakit, tengoklah para penderita penyakit bahaya seperti penderita kanker, tumor. Disana engkau akan banyak bersyukur karena Allah telah menganugerahi kesehatan.
Cobalah silaturahmi ke panti jompo, di sana engkau akan banyak melihat para orang tua yang wajah dan kulitnya telah berubah keriput. Itulah gambaran engkau ketika tua nanti. Lalu apakah engkau akan tega menyombongkan kecantikan atau ketampananmu bila kelak engkau akan keriput juga? Tidakkah engkau siapkan bekal untuk kematian sebab makhluk pasti mati?.
Cobalah silaturahmi ke rumah sakit jiwa. Di sana engkau akan banyak menjumpai orang yang gangguan jiwa (orang gila). Dengan demikian engkau akan bersyukur karena dianugerahi akal sehat (tidak gila).  Lalu betapa malunya kita bila Allah telah menganugerahkan otak dan akal yang sehat, ALLAH tidak gunakan akal pemberiannya untuk kebaikan dan justru untuk berpikir negatif. Naudzubillah. Marilah bersyukur, telah Allah anugerahkan akal yang sehat.
Cobalah silaturahmi ke para fakir miskin, dhuafa dan gelandangan. Maka engkau akan memperbanyak bersyukur atas harta yang engkau miliki dan melatihmu memiliki kepekaan sosial dan peduli, tidak pelit dan banyak bersyukur.
Cobalah silaturahmi dengan anak jalanan. Di sana engkau akan banyak menjumpai anak yang putus sekolah demi mencari nafkah, mereka putus sekolah karena pergaulan bebas, karena kurang perhatian orangtua. Dengan demikian engkau akan bersyukur, orangtuamu telah mendidik agama dan akhlak.
Cobalah silaturahmi dengan anak anak penyandang cacat baik tuna daksa, tuna grahita, ataupun autis. Kamu akan banyak bersyukur dianugerahi tubuh normal, dianugerahi otak normal. Bayangkan bila kamu seperti mereka. Maka apakah lantas kenormalan tubuh dan otakmu itu engkau gunakan untuk maksiyat kepada Allah swt?

Sungguh betapa dzalimnya kita bila kita menggunakan organ dari Allah untuk maksiyat kepada Allah.
Sungguh betapa durhakanya kita bila kita hidup di bumi Allah swt, lantas kita durhaka di bumi Allah.
Sungguh betapa dzalimnya kita bila kita menghirup udara pemberian dari Allah tapi kita maksiyat dengan oksigen yang Allah berikan.
Sungguh betapa dzalimnya kita bila kita bisa hidup dari rizki yang Allah berikan sementara kita bermaksiat, mendzalimi makhluk Allah dengan rizki dari Allah.
Sungguh betapa tak tahu dirinya kita, kita bisa lancar aktivitas karena adanya energi cahaya matahari yang menyinari bumi, lantas kita gunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Allah swt.


Semoga rahmat dan hidayah Allah tercurah untuk kita semua sehingga kita selamat dari dunia dan akherat. Semoga bila kita maksiyat, Allah tegur kita. Allah ingatkan kita dengan lembut melalui nasehat dan teguran kawan kita. Betapa meruginya kita bila Maksiyat tiada yang mengingatkan. Teguran di dunia yang membawa kita pada taubat lebih baik daripada ahzab Allah di negeri akherat.

Segala kebenaran datangnya dari Allah Swt. Segala kesalahan dari al fakir penulis. Semoga tulisan ini menjadi lantaran hidayah dan amal jariyah penulis beserta para guru penulis. Persembahan pertama untuk al mukarom ibu penulis, Emak Mahzunah Bintu Makhsun yang mendidik akhlak dan ilmu pada penulis sejak usia dini dan juga pada Bapak Masdari bin Ja'far Sodiq selaku bapak juga guru penulis yang pertama kali. Wabil khusus untuk yang penulis takdhimkan KH. Muharror Ali beserta para guru madrasah, para guru ngaji penulis dan tak lupa adek kesayangan penulis adinda Afidatul Mafrucha.

Penulis sangat welcome akan saran dan kritik yang membangun. Penulis pun sedang proses lebih baik dan memperbaiki akhlak, menegakkan keadilan, berpegang syari'at. Mohon doanya agar penulis bisa menjadi Al Mar'atus Solekhah, walad solekhah, dan kelak menjadi umi solekhah. Semoga bisa meneladani idola penulis Sayyidah Robi'ah Al Adawiyyah dan para ummahatul mukminin wabil khusus terutama Sayyidatuna Fatimah ra dan Sayyidatuna Khodijah ra. Sekali lagi mohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini. Tulisan ini ditulis semata-mata untuk berdakwah. Tulisan ini penulis hadiahkan pada bapak, emak, adek, dan kiahi serta guru-guru ngaji penulis. Aamiin 😊

Sabtu, 04 Mei 2019

BERTELADANKAN PADA IMAM NAWAWI DAN PARA IMAM

BERTELADANKAN PADA IMAM NAWAWI DAN PARA IMAM
*****
Oleh: Dewi Nur Halimah

"Berbagilah inspirasi dengan menulis. Menulis dapat menjadi ladang pahala bila niatmu lilahi Ta'ala bukan duniawi. In syaAllah dengan menjadi penulis, gagasanmu dan pemikiranmu akan tetap hidup sepanjang masa sekalipun engkau telah wafat. Tulisanmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyahmu kelak di alam barzah"
(Dewi Nur Halimah)

Berbicara tentang menulis. Menulis adalah salah satu hobiku. Aku suka menulis sedari kecil. Inspirasiku menulis adalah dongeng dari Bapak waktu saya kecil.

"Nduk mau tak ceritakan Imam Nawawi?" kata Bapak waktu itu.
"Mau-mau Pak," jawabku penuh antusias waktu kecil dulu.
"Imam Nawawi itu cinta ilmu, nduk. Beliau usianya 40 tahun, tapi buku karangan beliau ada sekitar 50 an. Bayangkan, beliau hebat ya subhanallah," kata Bapak.

Dari cerita itu saya termotivasi untuk menjadi penulis. Terlebih begitu saya membaca sejarah para imam, hampir semua para imam adalah penulis kitab. Jadi saya mikir, para ulama berkarya dan menyebarkan gagasannya lewat kitab yang dikarangnya, aku menyebarkan gagasanku lewat apa?. Dari sinilah pertanyaan demi pertanyaan muncul, lalu saya bertekad akan menjadi penulis. Alhamdulillah dimana ada niat, di situ ada jalan.

Maka saya pun mulai menulis dan menjadikan keahlian menulis saya sebagai media dakwah dan berbagi inspirasi. Saya berfikir, saya hidup di dunia hanya sekali. Lalu karya apa yang saya tinggalkan untuk dikenang?. Lalu manfaat apa yang saya tebarkan untuk umat? Sederet pertanyaan pun mengepul di otakku hingga tercetuslah ide awal yakni menjadikan blog sebagai sarana dakwah dan sosial media sebagai media dakwah Islam. Kalau sosmed tidak diisi dengan hal-hal positif terkait ilmu pengetahuan, maka sosial media akan dipenuhi dengan hal hal negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, pornografi, dll. Maka saya pilih sosial media sebagai sarana dakwah.

Menulis dan berbagi ilmu di sosmed pun sudah saya lakukan, tapi saya merasa ada yang perlu saya lakukan kembali. Maka saya pun memutuskan untuk menulis buku. Tujuan saya menulis buku bukanlah untuk komersial yakni untuk menyebarkan gagasan agar dikenang sepanjang masa. Royalti penulis (saya), in syaAllah untuk yatim piyatu.

Alhamdulillah la haula wala quwwata ila billah, atas izin Allah saya pun telah menulis dan menerbitkan 5 buku karya saya sendiri dan 2 buku karya anak bimbing saya. Buku-buku tersebut yaitu:

1. BUKU SIKABA (SEMARAK INOVASI KARYA ANAK BANGSA)


2. BUKU KUMPULAN CERPEN (KUMCER) TOUCHER LE COUER



3. BUKU SAINS FIQIH DARAH WANITA (MEMAHAMI RAHASIA WANITA)



4. BUKU MOTIVASI ANAK (MENGENAL JEJAL ANAK EMAS INDONESIA)


5. BUKU SAINS AL QUR'AN 


6. BUKU POZZIE COLLECTION (ANTOLOGI PUISI ANAK MTs KELAS VIII DIBAWAH BIMBINGAN SAYA)


7. BUKU GORESAN TINTA RINDU PENUNTAS SENJA (ANTOLOGI PUISI SANTRI PP. KHOZINATUL ULUM DIBAWAH BIMBINGAN SAYA)


8. SALAH SATU PENULIS BUKU 25 STORIES OF A TEA BAG (JUARA 2 WRITING CONTEST DALAM NATIONAL INSPIRING WOMEN OLEH JMF UNIVERSITAS GAJAH MADA 2018)


Jumat, 03 Mei 2019

PERJALANAN HIJRAH DZAHIRIYAH, BATINIYAH, NAFSIYAH DAN AMALIAH MENUJU RIDHO ILAHI

PERJALANAN HIJRAH DZAHIRIYAH, BATINIYAH, NAFSIYAH DAN AMALIAH MENUJU  RIDHO ILAHI

Oleh: Dewi Nur Halimah, S. Si



Hidup adalah sebuah perjalanan sampai aku benar-benar paham apa sebenarnya hakekat hidup itu. Hidup tiada lain untuk mengabdi, beribadah kepada Allah swt. Berbagai cobaan yang sangat berat telah aku lewati, semua memberikan pelajaran berharga padaku.

Mulai dari penghinaan, penghianatan, kedzaliman, bullying, fitnah dan lain sebagainya. Aku menyikapinya dengan tenang. Mengapa? Karena aku sadar bahwa Allah Maha Baik. Bagiku, apapun yang Allah berikan adalah yang terbaik. Berbaik sangka adalah cara bersyukur terhadap musibah yang Allah swt berikan. Bukankah bukti cinta adalah lolos dari Ujian yang Allah swt berikan. Jauh sebelum diriku ada, ujian para Nabi jauh lebih berat dibandingkan ujianku. Ujianku tak ada apa apanya dibandingkan beliau, tidak sepantasnya aku mengeluh. Ujian tanda cinta. 


Aku berhusnudzanlah, bahwa dibalik ujian yang bertubi-tubi:
  1. Ujian menjadi lantaran penggugur dosa-dosa ku yang telah lalu.
  2. Ujian menjadi jalan Allah mengangkat derajat di sisi Allah.
  3. Lolos ujian menjadi bukti cintaku pada Allah swt. 
  4. Ujian adalah jalan bagi Allah untuk menguji cintaku pada Allah dan melihat seberapa sabar aku menjalaninya. 
  5. Aku yakin bahwa Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan termasuk musibah dengan penawarnya, kesulitan bersama kemudahan, musibah bersama solusinya. 
Alhamdulillah keluarga sangat mendukungku untuk selalu introspeksi diri menjadi insan yang lebih baik tiap harinya. Terimakasih ibuku, terimakasih guruku, tanpa bimbinganmu maka siapalah aku. Dari suatu peristiwa aku mendapatkan hikmah yang luar biasa. 

Akan kujaga marwahku, kupegang teguh syariat, dan semakin kuperbaiki tutur kataku, akhlakku, dan hatiku. Semoga perjalanan hijrah dzahiriyah, batiniyah, ruhiyah, nafsiyah dan amaliyah menjadi lantaran menjadi manusia yang lebih baik.

Perlahan akan kutelani sayyidah Fatimah ra, kuperbaiki kesalahan-kesalahanku dimasa lalu, dan aku bertekad pelan-pelan in syaAllah akan:
  1. Aku bergantung dan bersandar 100% pada Allah swt. Apapun kondisiku, aku akan mencoba untuk selalu bersyukur dan berdamai dengan takdir. Bukankah cinta Allah adalah menerima apapun yang Allah berikan.
  2. Aku tidak akan berharap pada makhluk melainkan berharap sepenuhnya pada Allah swt. Sebab berharap pada makhluk seringkali berbuah kekecewaan, ingkar janji. Jadi semua kupasrahkan Allah setelah aku berusaha maksimal. Aku memiliki rencana, Tuhan juga memiliki rencana tetapi rencana Tuhan adalah yang terbaik untukku. 
  3. Aku bertekad pelan-pelan meneladani sayyidah Fatimah ra. Bicara seperlunya kecuali masalah ilmu dan akhlak. Selebihnya diam, kalau pun bicara bila menuntut ilmu, dengan guru, dengan keluarga atau orang yang sangat aku percaya. Selebihnya diam, sebab aku khawatir bila lisan ini menjerumuskanku pada kemaksiatan. Jadi lebih baik selain bicara soal ilmu, diam. Aku akan belajar puasa curhat sama manusia kecuali sama keluarga dan akan kucurahkan segala keluh kesahku in syaAllah semata sama Allah swt. Dialah Allah swt, Dzat Yang Maha Baik lagi Maha Penolong yang tak pernah bosan mendengarkan keluhan hambaNya.
  4. Jangan bicara atau menceritakan aib orang lain. In syaAllah ketika menjaga aib orang lain, akan dijaga Allah swt aibmu.
  5. Tidak dendam pada orang yang dzalim. Pasrahkan semua pada Allah swt, sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Adil pembalasannya dan tak ada yang dirugikan. 
Alhamdulillah dengan selalu husnudzan dan bersyukur, hati menjadi tenang. Mendapatkan nikmat, alhamdulillah. Mendapatkan musibah, alhamdulillah semoga menjadi lantaran menggapai ridho Allah swt. 

Aku belajar dari kisah Nabi Muhammad saw yang selalu bersabar dan bersyukur. Bayangkan saja, ujian hidup beliau luar biasa. Bagaimana tidak?. Ketika dalam kandungan, ayahnya sudah wafat sehingga tatkala lahir sudah dalam kondisi yatim. Lalu diasuh seorang Ibu sendirian yang berperan sebagai ibu sekaligus sebagai seorang ayah. MasyaAllah betapa tegarnya rosulullah saw.

Lalu pada usia 6 tahun, beliau ditinggal wafat sang ibu (Sayyidah Aminah ra) sehingga menjadi yatim piyatu. Bagaimana rasanya menjadi yatim piyatu, tentu sangat sedih tanpa ayah dan ibu. Kemudian beliau diasuh sang kakek yang bernama Abdul Mutholib. Saat usia 8 tahun, sang kakek wafat sehingga rosulullah diasuh sang paman, Abu Thalib.

Apakah musibah kesedihan berhenti sampai disini? TIDAK. Ketika rosulullah berdakwah Islam, rosulullah saw menghadapi banyak rintangan. Rosulullah pernah dicaci sebagai tukang sihir, rosulullah saw pernah dicaci orang kafir quraish sebagai Muhammad gila. Bukan hanya itu bahkan rosulullah saw pernah diludahi, dilempar batu sampai gigi serinya rompal, dan dilempar kotoran unta. Masa Allah betapa sabarnya rosulullah saw.

Apakah berhenti sampai di sini siksaan kaum kafir quraish?. TIDAK. Rosulullah saw saat berdakwah pernah diboikot selama 3 tahun dalam kelaparan, keharusan, akses ekonomi diblokade dan lain sebagainya. Itu bukan apa apanya, kisah cinta pun rosulullah saw juga pernah ditolak sebagaimana ketika rosulullah saw mengutarakan maksud hendak meminang Sayyidah Fakhitah ra.

Dengan membayangkan ujian rosulullah saw dalam menegakkan keadilan, menegakkan kebenaran, mengajak memeluk Islam, dll. Rosulullah saw mengalami berbagai rintangan namun beliau tetap dalam sabar. Dari sinilah aku berlatih. Alhamdulillah ala kulli hal wa astagfirullah min kulli dzanbi. 

"Hidup adalah sebuah perjalanan sampai aku benar-benar tahu bahwa puncak cinta tertinggi adalah cinta pada Allah swt. Dan tempat berharap tertinggi adalah pada Allah swt. Serta tempat bersandar yang baik adalah bersandar pada Allah swt. Setiap hari membawa hikmah, setiap peristiwa ada hikmahnya. Semoga kelak wafat dalam keadaan tetap iman, islam, dan khusnul khotimah."
(Dewi Nur Halimah) 

Kamis, 02 Mei 2019

CAHAYA HATI BERNAMA IMAN

CAHAYA HATI BERNAMA IMAN
*****

Terkadang banyak orang ramai menilai tanpa tabayyun. Mereka menjustis dari sesuatu yang tampak dzahirnya tanpa tahu nilai batinnya. Esensi dari menilai seharusnya setelah memahami, sebab bila salah menebar fitnah dan dosanya jariyah. 
(Dewi Nur Halimah)


KH. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gusdur, siapa yang tak kenal? Ya. Beliau adalah presiden RI yang ke 4 yakni setelah Presiden BJ. Habibie. Mengapa yang dibahas Gusdur? Kali ini saya mengupas tentang sosok Gusdur karena beliau adalah salah satu tokoh idola saya.

Saya mencintai Gusdur dengan pemikirannya yang pluralisme dan anti radikal. Menghargai perbedaan dan menyatukan perbedaan dengan kasih sayang. Pemikiran, gagasan dan sikap beliau sedikit banyak memberikan sumbang sih dalam sepak terjang saya.

Ada beberapa hal yang membuat saya terharu dari beberapa sikap Gusdur, diantaranya:
  1. Gusdur dianggap kafir karena ke gereja. Suatu ketika Gusdur ditemani supirnya datang ke Gereja. Ramai orang-orang islam yang mengetahui itu dan dangkal ilmunya tanpa tabbayun pun menghujat Gusdur. "Gusdur murtad, Gusdur kafir, Gusdur ke gereja". Apakah seorang muslim yang ke gereja lantas menjadi murtad? Tidak selama tidak ada aqad pindah agama dan dia yakin Tuhannya hanya satu yakni Allah swt, nabinya Nabi Muhammad saw, kitabnya Al Qur'an. Apakah Gusdur marah saat dibilang kafir?. Sama sekali TIDAK. Yang beliau lakukan adalah menyambangi  (menjenguk/ silaturahim) ke cleaning service gereja, tukang bersih bersih taman depan gereja, satpam gereja yang ternyata banyak dari pekerja di gereja adalah orang muslim. Mereka kepepet kerja di gereja untuk bertahan hidup. Nah setelah menyambangi mereka (orang muslim yang bekerja di gereja). Lalu Gusdur memberinya nasehat agar walaupun bekerja di gereja, iman mereka dan cinta mereka terhadap islam tidak goyah serta diberikan pesangon sama Gusdur. Subhanallah beliau berdakwah diam-diam. 
  2. Gusdur dianggap berzina karena mendatangi pelacur. Gusdur datang ke pelacur, ia masuk ke kamar pelacur berdua. Oleh orang yang hanya tahu dzahirnya langsung menjustis bahwa Gusdur doyan medon sama pelacur. Tapi apa yang dilakukan Gusdur di dalam kamar berdua dengan pelacur itu, apakah zina?. TIDAK. Gusdur menasihati perempuan itu tentang dosa zina, lalu Gusdur memberikan sejumlah uang kepada pelacur itu dan memintanya untuk berhenti melacur dan bertaubat. Alhamdulillah keesokannya pelacur itu tidak lagi melacur dan bertaubat. Subhanallah, inilah esensi dakwah. Dakwah bukan hanya mengajak orang baik menjadi lebih baik, tetapi juga mengajak yang belum baik menjadi baik. 
  3. Gusdur rajin sodaqoh. Beliau bahkan menyimpan harta khusus, yang diwasiyatkan ketika nanti beliau wafat agar dibagi bagikan pada janda miskin. Bukan hanya itu, Gusdur juga memiliki yayasan sosial Wahid Foundation yang dikelola oleh keluarga Gusdur. 
Banyak sikap Gusdur yang kontroversi. Bahkan tak sering dia dibilang kafir. Apakah lantas Gusdur marah? TIDAK. Beliau tidak marah, beliau bilang "Gitu aja kog repot, dibilang kafir tinggal syahadat lagi selesai".  Bicara beliau ceplas ceplos lucu, tapi benar adanya. 

Bersikap seperti Gusdur yang pro pluralisme juga membuahkan hujatan. Banyak pengalaman yang saya lalui selama ini. Saya mencintai berpakaian besar karena terasa nyaman, karena itu adalah ajaran sayyidah Fatimah ra. Sedang sayyidah Fatimah adalah idola saya. 

TAPI apa yang saya dapat? Saat saya berkunjung ke Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bogor, Malang dll ketika lomba, seminar, maupun speech orang-orang mengira saya bukan nahdiyin. Saya dicap wahabi gara-gara pakaian saya. Apa saya menjelaskan? TIDAK. Sama sekali tidak, tidak penting bagi saya menjelaskan. Biarlah yang tahu dengan sendirinya tahu  sebenarnya saya siapa. Bahkan saya sering menerima SMS ataupun inbox dari kakak angkatan. "Dek kamu kog kerudungan gedhe WAHABI ya dek?". Saya balas singkat "Saya NU mbak". 

Kawanku...
Jangan menilai dari pakaian saja, tapi lebih ke pola pikir, akhlak, gagasannya. Jilbab saya gedhe tapi pemikiran saya sangat cinta pancasila. Saya asli nahdiyin, bapak dan ibu saya NU, murid KH. Maemoen Zubair. Hampir semua keluarga saya alumni pesantren dan pemilik pesantren. Saya memakai jilbab besar karena menutup dada, menutup aurot, memberikan saya keteduhan sebagaimana prinsip saya. 

Bisa dinilai kog, wahabi atau ikhwanul muslimin dari pola pikirnya. Partai apa yang ia dukung, ulama siapa yang dia idolakan. Kamu bisa tahu itu, tanyakan saja saat diskusi, siapa ulama idolamu, misal terjun partai, partai apa yang kamu suka, organisasi kampus apa yang kamu pilih. Dari situ engkau bisa menilai. Saya mencintai NKRI, pancasila karena pencetus pancasila adalah ulama. Saya suka belajar sejarah Indonesia, sejarah wahabi, sejarah NU agar saya tahu dan tidak salah pilih serta tidak mudah taqlid. Organisasi kampus pun saya sangat tahu, KAMMI, HMI, PMII, HTI, GMNI, dll. Mana yang muaranya organisasi nahdlatul ulama, mana yang muaranya organisasi muhammadiyah, mana yang muaranya organisasi anak induk wahabi, mana organisasi yang nasionalis, dll. Demikian pula partai seperti PPP, PKB, PDI, GOLKAR, PKS, PSI, dll. Mana yang didirikan oleh ulama NU, oleh ulama wahabi, oleh nasionalis. In syaAllah saya tahu. Saya sangat cinta ilmu baik sejarah, politik, tareh, siroh, maupun budaya untuk mengetahui seluk beluk suatu organisasi. 

Demikian pula sikap saya yang lain. Bukan hanya saya pernah dianggap wahabi, meskipun saya NU tulen (ulama idola saya Mbah Maemoen dan Habib Luthfi). Saya juga pernah dihujat karena ke gereja. Saya pernah hampir ditemukan sama Romo juga. Bagi saya saling menghargai itu indah, toh Tuhan saya tetap Allah. Saya merangkul beda agama, karena saya ingin mengajak kawan saya mengenal indahnya Islam. Barangkali lantaran saya, pintu hidayah Allah buka dan kawan saya yang non islam menjadi mualaf dan memeluk agama islam. Saya tidak peduli dianggap kafir, di sinilah iman saya diuji. Saya senyumin, dianggap kafir tinggal syahadat lagi. Wong Tuhan saya masih Allah, nabi saya nabi Muhammad. 

Bukan berhenti sampai di sini. Saat saya lomba, saya kan anaknya mudah bergaul dan ramah. Tim saya 4, perempuan ada 3 termasuk saya, laki-laki satu. Masya Allah, begitu lomba banyak teman dari kampus-kampus lain yang mendekat ke saya baik perempuan maupun laki-laki, karena ngobrol nyambung, suka ide saya. Bahkan saya dibelikan juga tiket game wisata saat bertemu pengusaha muda seluruh Indonesia. Saya dibelikan makanan dan diajak hang out selama karantina. Lalu saya diminta foto sama produk dia, endorse. Dua teman perempuan saya iri, karena saya dapat banyak dari endorse, dibelikan tiket, langsung mereka bikin gosib. "Halimah yo laris. Akeh cowk seng nraktir". Bicara seperti itu di depan para dosen dan wakil rektor. Saya senyum diam saja. Demi Allah, saya cuma temenan. Mereka memberi saya hadiah traktir, makanan, minuman, tiket karena saya supel, ramah, suka membantu, suka dimintai ide, kerjasama bagus. Kalau saya mencintai seorang, hati saya tetap satu, sebanyak apapun yang menggoda, cinta saya tetap untuk orang yang saya cintai. Karena ketika saya cinta, hati saya penuh untuk dia. Endingnya dia ngerasa bersalah, minta maaf juga. 

Saya tidak perlu membela diri. Toh endingnya mereka tahu sendiri. Bagi saya, bila saya baik, in syaAllah saat saya butuh bantuan. Allah kirimkan orang untuk menolong saya. Sesederhana itu pikiran saya 😊

Di dunia kerja pun sama, saya sering setelah ngajar ada janji. Tentu saya dandan, karena saya tidak mau tampil kucel, kumel. Bagaimana dandan natural, syar'i, tapi tetap cantik alami. Komen teman saya putri apa?. "Halimah dandan cantik pasti mau ketemuan sama laki-laki". Saya senyum saja tanpa menjelaskan, langsung salam dan pergi meninggalkan ruangan. Sebenarnya yang saya lakukan adalah bertemu kawan lama SMA yang butuh bantuan. Sudah hampir 7 tahun dia belum lulus, nah saya membantu skripsinya. Kasihan, biar cepat lulus. Kalau 7 tahun tidak lulus kan bisa di DO (Drop Out). Terkadang banyak perempuan yang menuduh saya ketika tampil cantik pasti lagi jalan berdua sama lelaki. Saya diam saja. Saya tidak melakukan itu, saya tidak suka itu. Kalau pun ketemu lelaki pasti ada hajat menolong, ilmu, atau apa yang disitu di tempat umum dan ada orang banyak. Biasanya saya di luar menggerakkan pemuda untuk peduli sosial, untuk peka, ngajar anak cacat, atau aksi sosial lainnya, membantu yang butuh pertolongan ataupun survey sosial.

Senyum saya seringkali diartikan berbeda. Senyum itu lambang sedekah. Tidak iyanya kegiatanku dan Keputusanku bukan dari senyumanku. Bahkan sering saya berkata TIDAK sambil senyum. Berkali-kali saya dihujat, saya diam. Mau dibilang apa terserah, yang tahu diri saya adalah saya, keluarga saya, dan sahabat saya. Bagaimana saya menjaga marwah, bagaimana saya menjaga prinsip, bagaimana saya keluar untuk membantu atau tolabul ilmi. Bagi saya, ketika orang lain su'udzan dan menilai buruk. Cukup ikuti Gusdur, senyumin. Seiring berjalannya waktu pun mereka akan tahu dengan sendirinya. Tanpa aku harus bilang. 

Lalu bukan hanya sampai di situ. Ketika saya menegakkan keadilan PKH. Betapa banyak orang yang memisuhi saya, terutama yang dzalim. Saya dibilang Halimah Asu lah, Halimah picek, Halimah modar. Saya dibilang gendeng aja EGP, malah alhamdulillah. Hitung hitung disodaqohi pahala, dosa berkurang. Toh anjing juga tidak hina, tidak memiliki dosa, tidak maksiat, belum tentu juga anjing lebih hina dari manusia. Anjing tidak maksiat. 

Bahkan di rumah, emak bapak saya ketika saya megang HP juga marah. Selalu berburuk sangka kalau saya mainan tidak penting. Saya diam saja cuek, tetap menggunakan HP. Seandainya mereka tahu, di HP saya ada aplikasi Al Qur'an yang saya baca, ada aplikasi tahsin dan tahlil, ada aplikasi wirdul lathif, saya mendirikan 2 grub dakwah yang saya isi tulisan-tulisan fiqih, kalam hikmah, tauhid. Barangkali saya wafat, tulisan itu jadi amal jariyah saya. Barangkali melalui artikel dan tulisan tulisan yang saya share menjadi lantaran hidayah buat orang sehingga ia bertaubat dan menjadi lebih baik. Wallahu a'lam. Di Hp, saya juga promosi les, promosi apa saja jualan saya untuk memperoleh rizki yang nantinya saya buat menuhin kebutuhan saya pribadi dan sodaqoh. Ketika orangtua marah, saya diam senyum. Saya suka baca buku dan kitab, kalau tidak dilihat orangtua.

Banyak sikap saya yang dinilai misterius. Banyak pula yang berburuk sangka. Saya senyumin, saya hadapi sebagaimana Gusdur dihujat. Dengan sendirinya in syaAllah mereka akan tahu. Meskipun tidak saya jelaskan. Entah nanti dari orang lain, ataupun dari jalan lain yang tidak terduga dari Allah Swt. Teruslah berbuat baik karena saat kamu wafat, pasanganmu tidak menemanimu di alam kubur. Anak, istri, suami, saudara, kawan tak ada yang menemanimu di kuburan, semua meninggalkanmu. Tapi amal baikmu, amal solehmu setia menemanimu sampai akherat. Barangkali hal kecil yang kamu lakukan menjadikan Allah ridho, sehingga kamu masuk surga. Orang masuk surga bukan karena amal ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah. Nah rahmat Allah diturunkan lewat mana kita tidak tahu, maka rajinlah beribadah dan berbuat baik tanpa peduli engkau dihujat ataupun dipuji. 

"Di hina tidak membuatmu rendah diri di hadapan Allah swt. Dipuji tidak membuat derajatmu tinggi di hadapan Allah. Tidak mulia oleh penduduk bumi tidak masalah, selama tujuanmu Allah in syaAllah engkau akan dimuliakan penduduk langit. Niatkan Lilahi Ta'ala (karena Allah Ta'ala) bukan Linnas (karena manusia). Bila selama perjuangan engkau menemui rintangan dan ingin menangis, menangislah tak perlu malu. Curahkan isi hatimu pada Allah. Dialah Allah, Rabb Yang Maha Penolong lagi penuh kasih sayang. Tidak masalah menangis, selama menangismu menjadikanmu semakin mendekatkan diri dengan Allah swt. Berhusnudzanlah, bersama musibah Allah swt titipkan cahaya hati yang bernama iman. Bersama musibah ada hikmah yang luar biasa, dihapuskannya dosa-dosa, diangkat derajat seorang hamba, hingga mulia di hadapan Allah swt. Percayalah bahwa Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan termasuk musibah dengan penawarnya sebagaimana hujan dan pelangi"