HALIMAH BINTI MASDARI

Selasa, 07 Agustus 2018

POWER WEEDER UNTUK ATASI GULMA PADI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN DIVERSIFIKASI PANGAN INDONESIA


POWER WEEDER UNTUK ATASI GULMA PADI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN DIVERSIFIKASI PANGAN DI INDONESIA     
*****
Oleh: Dewi Nur Halimah, S.Si 
Email: halimahundip@gmail.com, HP. 085725784395 

 
Gambar 1. Power Weeder di Lahan (Sumber; bbpadi.litbang.pertanian.go.id).
Negara Indonesia adalah negara agraris yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Berdasarkan data dari BPS menyebutkan bahwa jumlah penduduk dari warga negara Indonesia yang bekerja di sektor pertanian adalah 31.705.337 jiwa yang terdiri dari petani berjenis kelamin laki-laki sebanyak 24.362.157 jiwa dan petani berjenis kelamin perempuan sebanyak 7.343.180 jiwa. Adapun produk pertanian unggulan yang dibudidayakan oleh hampir seluruh petani di Indonesia adalah komoditas padi. Padi merupakan tanaman pangan sebagai bahan baku makanan pokok masyarakat Indonesia. Menteri pertanian melaporkan bahwa produksi gabah kering giling pada tahun 2017 mencapai 82,3 juta ton.           

Gambar 2. Jumlah Petani di Indonesia (Sumber: berandainovasi.com).

Gambar 3. Perkembangan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai menurut Subround (Sumber: BPS).

Salah satu kendala yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas pertanian padi adalah gulma padi. Kerugian yang diakibatkan oleh gulma ini sekitar 28% dan apabila pengendalian gulma diabaikan sama sekali, maka kemungkinan besar dapat menyebabkan usaha penurunan produktivitas hasil panen secara besar. Pengendalian gulma yang tidak cukup pada awal dilakukan sejak awal pertumbuhan tanaman padi akan memperlambat pertumbuhan dan masa sebelum panen. Bahkan beberapa gulma (misalnya; Imperata cyndrica) lebih mampu berkompetisi untuk memperoleh nutrisi tanah dibandingkan tanaman padi yang dibudidayakan, sehingga menyebabkan tanaman padi tumbuh kurus yang berdampak pada penurunan hasil  panen.
Persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah serta penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Chapmen (1975) menyebutkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman dalah sebagai berikut : padi 10,8 %; sorgum 17,8 %; jagung 13 %; tebu 15,7 %; coklat 11,9 %; kedelai 13,5 % dan kacang tanah 11,8 %.  Selain itu, gulma juga dapat mengeluarkan senyawa kimia beracun (allelopaty) yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman budidaya. Bukan hanya itu, gulma juga dapat menyebabkan kerugian lain yang lebih serius seperti sebagai perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandradan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi dan mengurangi efisiensi irigasi.
Mengingatkan begitu pentingnya produktivitas pertanian, terlebih sebagai upaya untuk meningkatkan diversifikasi pangan maka perlu adanya upaya pemberantasan gulma untuk meningkatkan hasil pertanian padi di Indonesia. Menurut Harsono (2017), kerugian hasil panen padi oleh gulma dapat mencapai 36%, dan pengendalian gulma yang efektif dapat meningkatkan produksi gabah sampai 1,8 ton/ha. Pengendalian gulma tanaman padi sawah dengan tangan membutuhkan waktu 172 jam/ha dan penyiangan dengan landak membujur melintang 132 jam/ha. Penggunaan alat penyiang system manual seperti landak membujur dan tangan mempunyai banyak sekali kekurangan, baik dilihat dari segi kinerja dan efisiensi alat karena itu perlu dibuat suatu terobosan teknologi yang dapat membantu memecahakan permasalahan penyiangan dan dapat diterima oleh petani. Power Weeder adalah solusi tepat yang efisien dan efektif untuk memberantas gulma padi di sawah.   
Apakah power weeder itu? 
Power Weeder adalah alat yang berfungsi untuk menyiangi rumput (gulma) yang tumbuh di antara alur tanaman padi tanpa merusak tanaman. Cara kerja power weeder menyiangi rumput dengan mencakar-cakar tanah sehingga tanah menjadi gembur dan rumput yang berada di antara sela-sela padi akan terbawa kemudian terbenamkan di dalam tanah oleh putaran roda pencakar. Power weeder ini sangat membantu mempermudah proses penyiangan gulma di sawah. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa penyiangan padi merupakan salah satu kegiatan dalam budidaya tanaman padi sawah yang berpengaruh menentukan produksi hasil pertanian dan untuk mendukung swasembada pangan. Power weeder atau mesin penyiang gulma bermotor merupakan salah satu alternatif cara penyiangan gulma padi sawah menggunakan mesin bermotor. Power weeder merupakan prototipe yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu digunakan untuk kegiatan penyiangan padi sawah sampai dengan umur 40 hari.
Ada berapa jenis power weeder?
Berdasarkan jenis lahan power weeder padi dapat dibedakan menjadi dua:
1.      Power Weeder Roda Satu (Power weeder untuk padi lahan basah atau berlumpur).
Mesin penyiang ini hanya dapat  dioperasikan untuk penyiangan gulma pada lahan yang tergenang air sekitar 5 cm dan berlumpur dengan kedalaman lapisan maksimum 25 cm (diukur dengan cara orang berdiri di lumpur). untuk jarak  tanam 20–25 cm dengan baris yang lurus dengan kedalaman air sekitar 5-10 cm sehingga mesin dapat berjalan tanpa didorong.

Gambar 4. Power Weeder Roda Satu (Sumber; transfer-ilmuku.blogspot.com)

2.      Power Weeder Roda Dua (Power weeder padi untuk lahan kering).
Mesin jenis ini dapat dioperasikan untuk pencabut rumput liar. pada tanah kering dengan menggunakan mesin diesel 8.38 Hp kekuatan mesin diteruskan ke roda tanah melalui v puli pita-mesin. Mesin pencabut rumput liar berputar terdiri dari tiga baris piringan berjajar dengan 6 jumlah pisau yang lentur berlawanan arah sebagai alternatif pada setiap piringan. Pisau ini bila berputar mengaktifkan pemotong dan menggemburkan tanah. 
Gambar 5. Power Weeder Roda Dua (Sumber: transfer-ilmuku.blogspot.com).

Apa saja bagian-bagian (komponen) dari power weeder?
 Bagian-bagian (komponen) dari power weeder (mesin penyiang gulma bermotor) beserta fungsi kerjanya yaitu:
a.       Stang kemudi berfungsi untuk mengatur arah jalannya mesin penyiang hubungan kerjanya dengan tuas gas yang mengatur tingginya gas.
b.      Tuas gas berfungsi untuk mengatur gas hubungan kerjanya dengan stang kemudi untuk mengatur jalan mesin penyiang.
c.       Tangki bahan bakar berfungsi untuk menyimpan bahan bakar agar selalu tersedia kalau dalam pemakaiannya. Hubungan kerjanya dengan komponen yang di transper agar menjadi bahan bakar agar mesin dapat di fungsikan.
d.      Mesin pengerak berfungsi untuk menberi daya kepada komponen-komponen yang ada agar menpermudah pengerjaan dalam penyiangan gulma.
e.       Pelindung weeder berfungsi untuk melingdungi petani agar terhindar dari resiko bahaya.
f.       Rangka berfungsi untuk tempat untuk memasang dari suatu system.
g.      Ekor peluncur berfungsi untuk menahan saat mesin penyiang selesai di gunakan.
h.      Cakar  penyiang  merupakan eksekutor dalam mesin ini. Cakar terdiri dari roda yang terbuat dari plat besi, dan cakar sendiri dibuat dari bahan paku baja yang dibengkokkan di ujungnya. Untuk membuat roda diperlukan plat besi yang dibentuk menggunakan pahat.   
Bagaimanakah cara menghidupkan dan mematikan mesin power weeder?
1.      Cara menghidupkan mesin power weeder:
v  Tuangkan bahan bakar ke dalam tangki
v  Gunakan bensin campur dengan perbandingan bensin dan oli samping (2T) = 25 : 1
v  Putar tuas/ kran bahan bakar pada posisi open
v  Tarik tuas gas sedikit sebelum melakukan start ( menarik tali start)
v  Tarik tali starter, jangan lakukan tarikan sampai maksimum/penuh, apabila sekali tarikan belum hidup lakukan tarikan lagi.
v  Apabila engine masih sulit hidup putar tuas choke ke posisi close
v  Setelah engine hidup kembalikan lagi tuas gas ke posisi netral.
2.      Cara mematikan mesin power weeder:
v  Kembalikan tuas gas pada posisi netral atau idel
v  Tekan tombol “STOP” sampai engine mati
v  Putar tuas/ kran bahan bakar pada posisi “close”

Bagaimanakah cara pengoperasian power weeder di lahan?
Cara pengoperasian power weeder saat di lahan yaitu:
Ø  Tempatkanlah unit power weeder pada tengah-tengah alur tanaman padi (cakar kiri dan kanan berada pada ruang kosong diantara alur tanaman padi).
Ø  Engine distart dan setelah hidup kembalikan posisi tuas gas ke idel (gas posisi rendah), pada posisi ini putaran dari engine tidak diteruskan ke poros utama dan otomatis cakar penyiang tidak berputar, hal ini dikarenakan pada engine terdapat kopling dengan system sentrifugal, putaran dari engine akan diteruskan bila rpm engine cukup tinggi.
Ø  Dengan posisi operator di belakang mesin penyiang sambil memegang kedua stang, mulai atur posisi gas menjadi tinggi sampai cakar penyiang berputar.
Ø  Apabila kondisi lumpur cukup dalam dan piringan cakar penyiang terbenam naikkan posisi cakar penyiang, dengan cara menekan stang ke bawah (kaki pengapung sebagai bidang tumpu).
Ø  Dengan menekan stang ke bawah dan kaki pengapung sebagai bidang tumpu ada kalanya mengakibatkan cakar berputar di tempat, karena kaki pengapung terbenam kedalam lumpur, bila hal ini terjadi angkatlah stang sampai mesin penyiang dapat berjalan ke depan.
Ø  Mekanisme pengoperasian mesin penyiang padi sawah agar mesin dapat berjalan ke depan adalah terjadinya slip pada piringan cakar penyiang (slip berkisar 50 – 60 %), slip inilah yang mengakibatkan lumpur padi sawah teraduk dan diharapkan gulma yang tumbuh diantara alur tanaman akan tercabut dan tergulung.
Ø  Pada saat pengoperasian di lapang operator yang sudah terbiasa dan terlatih akan memeliki perkiraan (feeling) kapan saatnya stang harus diangkat dan ditekan sehingga mesin penyaing dapat melaju ke depan dengan kecepatan sesuai dengan kecepatan jalan operator di lahan ( 2 –2,5 km/jam).
Ø  Setelah sampai pada ujung lahan, gas dikecilkan sehingga engine tetap hidup tetapi cakar penyiang diam, untuk berpindah alur unit mesin penyiang dapat diangkat .
Ø  Untuk mengangkat mesin penyaing ini cukup dilakukan satu orang ( berat 19 kg), tangan sebelah memegang pipa rangka dan tangan
Ø  Sebelah memegang pegangan gear box.
Ø  Setelah mesin terpindahkan ke alur berikutnya ulangi lagi proses menjalankan mesin penyiang seperti diatas.

Bagaimanakah cara perawatan mesin power weeder?
Adapun cara perawatan dari mesin traktor power weeder adalah sebagai berikut :
1.      Perawatan harian
v  Lakukan pengecekan dan pengencangan masing-masing komponen.
v  Bersihkan saringan udara karburator, dengan cara mencuci memakai minyak tanah dan setelah itu celuplah saringan tersebut pada oli mesin.
v  Periksalah minyak pelumas pada gear box, apabila kurang tambahkan dengan minyak pelumas SAE 90/140 sebanyak 0,3 liter.
2.    Perawatan 50 jam
v  Pembersihan dan penyetelan busi.
v  Setelah pembersihan kotoran karbon pada gas elektroda, atur kerenggangan elektroda antara 0,6 sampai 0,7 mm.
v  Bersihkan filter bahan bakar , lepaskan filter bahan bakar dan cucilah dengan minyak tanah. Jika sudah terlalu kotor gantilah dengan yang baru dan juga bersihkan tangki bahan bakar.
Apa persyaratan kondisi lahan dan tanaman agar dapat diterapkannya penyiangan gulma menggunakan power weeder?
1.      Persyaratan lahan agar dapat diterapkannya penyiangan menggunakan power weeder
Ø  Lahan harus berupa lahan sawah dengan tanaman padi sawah
Ø  Lahan diusahakan tergenang air pada saat disiang (ketinggian genangan  ± 5 cm).
Ø  Lahan berlumpur dengan kedalaman maximum 20 cm ( kedalaman kaki operator   terbenam ke dalam lumpur)
2.      Persyaratan tanaman agar dapat diterapkannya penyiangan menggunakan power weeder
Ø  Tanaman padi sawah berumur antara 15 hari sampai dengan 40 hari
Ø  Tanaman ditanam dengan jarak yang teratur, jarak antara baris 20 cm (mesin penyiang bermotor tipe JP- 02/20 hanya dapat dipakai untuk menyiang tanaman dengan jarak tanam 20 cm)
Ø  Jarak tanaman didalam baris juga dibuat seragam 20 cm, apabila diinginkan dilakukan penyiangan dengan mesin penyiang pada arah memotong baris tanam.
Ø  Jarak tanaman didalam baris boleh dibuat tidak seragam atau dibuat lebih rapat, namun penyiangan dengan mesin pada pada arah memotong baris tanaman tidak dapat dilakukan.
Keunggulan penyiangan menggunakan mesin power weeder adalah cara pengoperasiannya cukup mudah dan ringan (berat alat termasuk mesin sekitar 21 kg) sehingga dapat dioperasikan oleh satu orang. Selain itu, penggunaan power weeder dapat meningkatkan kapasitas kerja penyiangan, dibandingkan dengan penyiangan cara manual 50 – 80 jam per hektar, mesin penyiang (power weeder) mempunyai kapasitas kerja 15 – 27 jam per hektar. Keunggulan lain yaitu dapat mengurangi kejerihan kerja, dan mampu menekan ongkos kerja penyiangan serta hasil penyiangan tiga kali lebih besar dibandingkan penyiang manual/gasrok. Namun demikian kondisi lahan dan tanaman yang mampu disiang oleh mesin penyiang bermotor ini adalah lahan sawah dengan kedalaman lumpur tidak boleh lebih 20 cm (kedalaman kaki orang di dalam Lumpur < 20 cm)  juga jarak antar baris tanaman harus benar-benar rata dan lurus sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan. Dengan demikian kehadiran penyiang bermotor ini sangat bermanfaat untuk menekan ongkos kerja penyiangan dan mempercepat kerja. Mesin penyiang ini dapat memberikan manfaat dan menjadi salah satu pemecahan solusi  penyiangan padi sawah secara mekanis.

Sumber referensi:
Badan Pusat Statistik. 2013. "Jumlah Petani menurut Sektor/ Subsektor dan Jenis Kelamin Tahun 2013". Available at: http://st2013.bps.go.id/dev/st2013/index.php/site/tabel?tid=23&wid. Diakses Tanggal 7 Agustus 2018. 
Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. 2008. Penyiang Gulma Padi Sawah Bermotor. Tangerang: Bank Pengetahuan Padi Indonesia.
Banten, Handaka. 2001. Inovasi Alat dan Mesin Pertanian.Prosiding Ekspose dan Seminar Inovasi Alat dan Mesin Pertanian untuk Agribisnis. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
BBPMP Serpong. 2004.  Riset dan Rekayasa untuk Mewujudkan Mesin Penyiang Padi Sawah Mekanis Bermotor. Lambaga Riset dibawah Badan Litbang Departemen Pertanian.
Chapman, V. J. 1975. Mangrove vegetation. German: Strauss and Cramer GmbH.
Damanik, Korelik. 2018. “2018, Pemerintah Targetkan Produksi Padi Meningkat 5 Persen”. Available at: https://regional.kompas.com/read/2018/01/24/15145971/2018-pemerintah-targetkan-produksi-padi-meningkat-5-persen. Diakses Tanggal 7 Agustus 2018.
Desrial, W.S. dan P. Bangun. 2009. Pengendalian Gulma pada Tanaman Kedelai. Dalam Soatmadja, S. Ismunadji, Yuswandi(Penyunting). 1985. Pusat Penelitian dan Pengembangna Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Harsono, Arief. 2017. “Pengenalan dan Pengelolaan Gulma pada Kedelai”. Available at; http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2018/03/bunga_rampai_2017_7_arief.pdf. Diakses Tanggal 7 Agustus 2018.
Pitoyo Joko. 2006. Mesin Penyiang Gulma Padi Sawah Bermotor. Banten: Sinar Tani.
Setyadi, S. 2004. Uji Kinerja Teknis dan Ekonomis Cultivator Roda Satu “YANMAR PSC 4B” pada Operasi Penyiangn Kedelai. Skripsi. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
Smit, H. P. and Wikes, L. H. 1979. Farm Machinery and Equipment.Agricultural Machinery. Farm Equipment. Tata Mc. Graw-Hill
Yulianti. 2004. Riset Mengenai Mekanisme Penyiangan Gulma Padi di Lahan Kering dan Basah. Jurusan Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

Tidak ada komentar :