HALIMAH BINTI MASDARI

Minggu, 11 Juli 2021

IKHLASKAN YANG PERGI, IN SYAALLAH DIGANTI ALLAH YANG LEBIH BAIK LAGI

IKHLASKAN YANG PERGI, IN SYAALLAH DIGANTI ALLAH YANG LEBIH BAIK LAGI

*****

Oleh: Dewi Nur Halimah

 



Pernahkah kita jatuh cinta pada seseorang dengan cinta yang luar biasa?. Pernahkah kita tersadar bahwasanya cinta kita terhadap seseorang barangkali lebih besar dari cinta kita pada Allah swt sehingga Allah swt cemburu dan mengambil seseorang yang kita cintai?. Jika belum pernah, semoga engkau tidak mengalami demikian. Jika sudah pernah, semoga engkau bisa belajar mengikhlaskan.

Ukhti fillah...

Mari menelisik sejenak, mengingat kisah Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS sangat mencintai putra lelakinya yakni Nabi Ismail AS. Karena cintanya ke Nabi Ismail AS sangat besar, maka Allah swt pun cemburu. Allah swt menguji cinta Nabi Ibrahim AS dengan memintanya untuk menyembelih Nabi Ismail AS. Jika Nabi Ibrahim AS lebih cinta putranya, maka ia tidak melaksanakan perintah Tuhannya. Jika Nabi Ibrahim AS lebih mencintai Allah swt, maka mengorbankan putranya untuk Allah swt.

Bayangkan, lagi cinta-cintanya memiliki anak lelaki. Karena selama bertahun-tahun menikah dengan Sayyidah Sarah ra belum jua dikaruniai anak. Lalu menikah dengan Sayyidah Hajar dan dikaruniai anak lelaki yakni Nabi Ismail AS. Diminta Allah untuk disembelih. Hati ayah mana yang tega menyembelih anaknya. Tapi bagaimana lagi, ini permintaan Rabb Alam Semesta. Nabi Ismail AS secara nasab aliran darah memang putra Nabi Ibrahim AS, tapi hakekatnya Nabi Ismail AS adalah milik Allah. Maka sudah seyogyanya, sesuatu yang dipinjamkan diminta kembali yang memiliki harus dikembalikan. Dengan hati berat dan penuh air mata, Nabi Ibrahim AS pun ikhlas mengembalikan Nabi Ismail AS pada Dzat Yang Menciptakannya sebab cintanya ke Allah swt lebih besar dari cintanya pada putranya.

Ujian cinta pun terlaksana, ketika di bukit dan Nabi Ibrahim AS hendak memenggal leher Nabi Ismail AS. Allah swt menggantikan Nabi Ismail AS dengan domba, sehingga Nabi Ismail AS tetap hidup. Hakekatnya Allah swt menguji cinta Nabi Ibrahim AS lebih besar mana, cinta pada Tuhannya atau cinta pada putranya. Sebab cinta pada Allah swt lebih besar, maka Allah swt berikan dua-duanya yakni cinta Allah swt dan Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS mendapatkan cinta Allah swt dan Nabi Ismail AS tidak jadi disembelih. Jadilah ini asal muasal idul adha yaitu hari pengorbanan. Karena cinta butuh pengorbanan sebagai pembuktian.

Ukhti fillah...

Salah satu ujian cinta adalah ditinggalkan disaat sayang-sayangnya. Lalu bagaimana sikap kita saat ditinggalkan orang yang paling kita cintai?. Sabar dan selalu husnudzan, seseorang yang Allah swt ridhoi pasti Allah swt persatukan, dan kedua hati akan mudah untuk bersama dan saling melengkapi. Namun jika saling cinta tak direstui Allah swt, barangkali jika dipaksa bersatu maka mudhorot yang akan terjadi. Ingatlah ukhtiku sayang, lebih baik diselamatkan Allah dengan gagalnya rencana yang kita buat sendiri daripada kita dihancurkan rencana yang kita buat sendiri.

Ingatlah ukhtiku sayang, sebelum kita diuji. Terlebih dahulu para ummahatul mukminin dan para wanita solekhah terdahulu pun jua diuji. Kita dapat meneladani kesabaran dan keteguhan hati mereka menerima ujian Allah swt.

Tahukah engkau solihatku sayang, kedua putri rosulullah saw pun pernah bersedih sangat dalam karena ditinggalkan (diceraikan). Sayyidah Ruqayyah binti Muhammad dinikahi oleh Utbah bin Abu Jahal. Sedangkan Sayyidah Ummu Kultsum menikah dengan Utaibah bin Abi Lahab. Namun saat Islam datang, mereka para suami kedua putri rosulullah saw yakni Utbah dan Utaibah tetap kafir dan tidak mau memeluk Islam, sehingga mereka memutuskan cerai. Abu Jahal dan Abu Lahab bermaksud hendak mempermalukan rosulullah saw dengan perceraian kedua putrinya yang gagal dalam pernikahan. Harapan mereka, dengan sibuk mengurus kesedihan kedua putrinya, maka dakwah rosulullah saw akan terhambat. Alhamdulillah ekspektasi Abu Lahab dan Abu Jahal salah, berkat ketegaran kedua putri rosulullah saw yang sabar menghadapi perpisahan. Allah swt gantikan luka Sayyidah Ruqoyyah ra dan Sayyidah Ummu Kultsum ra dengan jodoh dunia akherat yang baik yakni Sayyidina Utsman bin Affan. Sesungguhnya perceraian dua putri Rasulullah dengan putra Abu Lahab dan Abu Jahal justru berdampak baik untuk keturunan Rasulullah SAW. Allah swt justru memberikan suami baru yang jauh lebih baik dari putra Abu Lahab dan Abu Jahal.

Coba kita tilik kisah Sayyidah Ramlah ra binti Abu Sufyan. Sayyidah Ramlah ra memiliki sosok ayah yang bernama Abu Sufyan, seorang pemimpin Quraisy. Saat agama Islam yang dibawa Rosulullah saw disampaikan, Sayyidah Ramlah menerima Islam dengan lapang dada dan mengikuti ajakan Rosulullah saw. Demikian juga suaminya (Ubaidullah bin Jahsy) juga menjadi mualaf. Namun sayangnya sang ayah (Abu Sufyan) bersikukuh tetap memeluk agama leluhur, kafir Quraisy.  

Abu Sufyan tidak terima putrinya dan menantunya memeluk agama Islam. Maka segala upaya untuk mempersulit keduanya (Sayyidah Ramlah ra dan Ubaidullah bin Jahsy) pun dilakukan agar mereka berdua kembali memeluk agama leluhur (Agama Nasrani) serta meninggalkan agama Islam. Perlakuan kaum musyrikin dan sang ayah (Abu Sufyan) pun keterlaluan terhadap kaum muslimin, termasuk pada putri dan menantunya. Kaum musyrikin memutuskan bahwa mereka akan menyakiti siapapun yang memeluk Islam dan menimpakan berbagai siksaan pada kaum muslimin untuk melemahkan imannya supaya meninggalkan Islam. Bahkan kaum musyrikin tanpa segan juga melakukan perang pelecehan untuk menghinakan kaum muslimin serta melemahkan iman dan taqwa mereka.   

Setelah hijrah ke Habasyah, ummat Islam hidup tentram dan nyaman. Sayyidah Romlah ra mengira bahwa kebahagiaan dan kenyamanan akan dimulai sejak saat itu. Beliau tidak tahu bahwa disinilah justru awal mula beliau diuji Allah swt. Bila dulu ayahnya adalah seorang kafir Quraisy, maka sekarang suaminya (Ubaidullah bin Jahsy) menjadi murtad dan meninggalkan agama Islam untuk kembali ke agama sebelumnya (agama Nasrani). Maka beliau pun berpisah (bercerai) dengan sang suami karena perbedaan agama. Di saat inilah puncak kenanaran beliau, dimana kembali ke Makkah tidak mungkin sebab sang ayah adalah kaum musyrikin, sedangkan bertahan di Habasyah seorang diri pun juga tidak mungkin. Dilanda kerisauan yang luar biasa, tanpa Sayyidah Ramlah ra duga Allah swt memberikan jalan keluar dimana setelah masa idah beliau telah habis, beliau dipinang Rosulullah saw dan dinikah beliau untuk dijadikan istri beliau. Siapa yang menyangka bahwa Sayyidah Ramlah akan menjadi salah satu ummul mukminin yang memimpin kaum wanita sepanjang zaman.   

Pun demikian dengan Sayyidah Hindun binti Abu Umaiyah atau Ummu Salamah. Sayyidah Hindun ra pernah mengalami penderitaan luar biasa tatkala hendak berhijrah bersama suami pertamanya (Abu Salamah) ke Madinah Al Mukarromah. Dalam perjalanan hijrah, ummu Salamah ke Madinah, beliau dipisahkan dengan suami (Abu Salamah) dan Anaknya (Salamah binti Abu Salamah) oleh Bani Mughirah. Akhirnya Abu Salamah hijrah seorang diri, sementara anaknya direbut secara paksa dan Ummu Salamah pun terpisah dengan anak dan suaminya. Setiap pagi, beliau pergi lalu duduk di tengah padang pasir, dan hanya bisa meratapi diri menangis dari pagi hingga sore hari. Begitulah yang terus Ummu Salamah lakukan  setiap hari selama setahun. Hingga akhirnya seorang kerabat dari Ummu Mughirah merasa iba dan membujuk Bani Mughirah untuk melepaskan Ummu Salamah. Ummu Salamah dan anaknya pun dipertemukan lalu dengan mengendarai unta berdua, beliau menyusul suaminya di Madinah. Akhirnya, perjuangan yang penuh kesabaran, membuahkan hasil, beliau disatukan dengan anak dan suaminya. Ummu Salamah berjiwa patriotisme tinggi. Beliau selalu mendorong suaminya untuk bergabung bersama barisan para mujahid di jalan Allah di bawah panji Rosulullah saw. Abu Salamah terjun dalam kancah peperangan dan memberikan pengorbanan terbaik.

Satu tahun berlalu, kaum musyrikin bersiap untuk memerangi kaum muslimin. Kaum muslimin pergi menuju perang Uhud, dan di sanalah mereka bertemu dengan kaum musyrikin. Abu Salamah termasuk salah satu prajurit loyal dalam barisan pasukan Nabi Muhammad saw. Dalam perang ini, Abu Salamah dipanah Abu Usamah Al Jusyami di bagian lengan. Saat kaum muslimin kembali ke Mekah, Abu Salamah mengobati luka yang ia alami selama sebulan bersama istri tercinta. Ummu Salamah yang merawat dan melayaninya hingga lukanya sembuh. 

Dikisahkan jua saking cintanya, tatkala Abu Salamah hendak wafat, Ummu Salamah siap berjanji untuk tidak menikah lagi demi kesetiaannya. Namun, demi cinta sejatinya juga, Abu Salamah meminta Ummu Salamah agar menikah lagi supaya tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan yang menyakiti istri tercintanya. Karena cinta tak akan tega melihat yang dicintainya menderita tersiksa sebab karenanya. Qodarullah, setelah wafatnya sang suami dan selesainya masa idah, janganlah bersedih Hindun ra dipinang dan dinikah Rosulullah saw. Sungguh, ditinggal Abu Salamah yang wafat syahit, Allah swt gantikan dengan kehadiran rosulullah saw sang pemimpin ummat hingga Sayyidah Hindun ra menjadi bagian dari keluarga nubuwah yang membawanya menjadi ummahatul mukminin. 

Oleh karena itu janganlah bersedih dan berlarut dalam kesedihan tatkala engkau ditinggalkan orang yang paling kamu cintai saat ini. Percayalah, Allah swt mengambil sesuatu yang kita cintai untuk diganti dengan yang lebih baik. Sebagaimana daun-daun tua berguguran saat musim gugur, lalu Allah ganti dengan daun muda yang indah saat musim semi. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana hadirnya pelangi setelah hujan deras. Percayalah, Allah memberikan yang kita butuhkan. Semua akan indah pada waktunya.


اَلَّـذِي  لِغَيـْـــــرِكْ *  لَـنْ يَصِـلْ إِلَـيــكْ

Apa yang ditaqdirkan untuk selainmu,

Pasti tak akan sampai kepadamu.

وَالَّـذِي قُسِـمْ لَــكْ *  حَاصِـلٌ لَدَيـــــكْ

Dan apa yang ditaqdirkan untukmu,

Pasti akan menjadi milikmu.


Selalu husnudzan sama Allah swt. In syaAllah, Allah swt memberikan yang terbaik dunia akherat. Percayalah, engkau hanya butuh bersabar. Ikhlaskan takdir Allah, selalu rajin ibadah, perbanyak amal kebaikan, dan ridhokan kepergiannya tanpa perlu diminta kembali. In syaAllah rizki sudah pasti tertakar, jodoh tak akan tertukar. Mantablah dengan sesuatu yang sudah dijamin Allah swt. Hidup, mati, dan jodoh sudah diatur Allah. Yang perlu kita persiapkan hanyalah bekal menjalani hidup, bekal menjemput jodoh dan membangun rumah tangga, dan bekal menghadapi kematian. Barokallahfiikum.

Tidak ada komentar :