HALIMAH BINTI MASDARI

Selasa, 15 November 2016

KADO DAN CINTA HALIMAH

KADO DAN CINTA HALIMAH                 

  
Setiap orang tentu memiliki rasa cinta terhadap orang-orang yang dicintainya. Demikian halnya dengan Halimah. Sebagaimana layaknya manusia, Halimahpun memiliki rasa cinta. Siapakah orang yang paling Halimah cintai?. Well…let me tell you about everyone whom I love. Orang-orang yang Halimah cintai adalah:
1.      Rosulullah SAW
Halimah memang tak pernah bertemu Rosulullah, tapi nggak tahu mengapa mendengar kata Rosulullah, hati Halimahpun bergetar. Ada cinta, ada rindu yang sangat besar untuk berjumpa beliau. Halimah mengenal kata “Rosulullah” sejak kecil, sejak Bapak sering mendongeng tentang sosok Rosulullah SAW. Halimah sangat kagum dan sangat mencintai Rosulullah SAW. Rosulullah SAW adalah sosok yang lemah lembut, santun, jujur, dapat, dipercaya, dan penyayang terhadap wanita. Beliau adalah aktivis dakwah dunia nomor satu, yang tak hanya memikirkan diri sendiri bahkan seluruh ummatnya di dunia. Halimah tak bisa membayangkan begitu baiknya Rosulullah. Mungkin bila Halimah hidup di zaman Rosulullah SAW, Halimahpun langsung jatuh hati padanya melihat kemuliaan akhlaknya dan kesantunannya.
“Ya Rosulullah…
Halimah kadang penasaran, juga nggak bisa membayangkan, Halimah benar-benar kagum denganmu ya Rosulullah. Engkau sungguh lelaki yang soleh, panutan seluruh ummat islam di dunia. Ada yang melempari wajahmu dengan kotoran unta, tapi engkau tidak membalasnya. Bahkan ketika orang tersebut sakit, engkau adalah orang pertama yang menjenguknya dan membawakannya makanan hingga orang tersebut tersentuh hatinya, terharu hingga masuk islam. Sungguh akhlakmu begitu mulia ya Rosulullah. Ya Rosulullah, Halimah rindu, akankah kelak di akherat engkau mau mengakui Halimah sebagai ummatmu ya Rosulullah?? Halimah banyak dosa ya Rosulullah, Halimah juga tak sebaik Rosulullah, tapi Halimah sangat mencintai Rosulullah dan selalu berusaha memperbaiki diri walaupun tak sehebat para mukminin dan mukminah.
Ya Rosulullah…
Ya Rosulullah, Halimah kawatir kelak di akherat engkau memalingkan wajahmu dan tak mau mengakui Halimah sebagai ummatmu. Ya Rosulullah…Halimah tak sebaik engkau yang memiliki keberuntungan dan langsung dimasukkan surga. Halimah tak tahu, akankah matiku nanti khusnul khotimah ataukah su’ul khotimah. Halimah khawatir bila matiku su’ul Khotimah. Itulah alasan Halimah kenapa Halimah tak mau taqlid ataupun ikut campur pada urusan orang lain kecuali membantu dalam kebaikan. Karena Halimah sadar, dosa Halimah sudah banyak, entah dosa terhadap orang-orang ataupun dosa terhadap binatang dan tumbuhan. Ya Rosulullah, Halimah tak mengharap surga karena Halimah sadar…Halimah tak pantas mendapatkan surga juga tak kuat bila tinggal di neraka. Namun demi cintaku ya Rosulullah, bertemu denganmu sudah Alhamdulillah…bertemu pada yang dicintainya adalah puncak dari puncak kerinduanku ya Rosulullah.
Ya Rosulullah…
Halimah sangat mencintai dan mengagumimu, ya Rosulullah. Engkau adalah teladan yang luar biasa. Engkau adalah yatim piyatu sedari kecil. Ayahandamu meninggal saat Engkau dalam kandungan. Ibundamu meninggal saat engkau berusia 6 tahun, dan kakek yang mengasuhmupun meninggal saat engkau berusia 8 tahun. Engkau hidup diatas kemandirian tanpa perhatian orangtua kandungmu, tapi engkau begitu tegar ya Rosulullah. Sedari kecil engkau sudah yatim piyatu, namun engkau adalah sosok yang luar biasa penyayang, penolong dan lemah lembut. Ya Rosulullah, aku sangat-sangat mencintaimu sedari kecil sejak dongeng tentang engkau merasuk di telingaku…Aku mencintaimu ya Rosulullah SAW. Itulah mengapa sedari dulu aku sangat mencintai yatim piyatu, karena Engkau (orang yang sangat aku cintai) juga yatim piyatu.
Ya Rosulullah, Halimah sangat sayang dengan yatim piyatu sebagaimana Halimah mencintaimu Ya Rosulullah. Halimah selalu menyisihkan uang menang lomba, uang kerja untuk Halimah bagikan pada yatim piyatu secara rutin diam-diam ya Rosulullah. Halimahpun tak tahu, ini kekuatan apa. Ketika bertemu yatim piyatu, rasa syukur Halimah bertambah dan rasa cinta Halimah terhadap mereka kian bertambah. Tak jarang Halimah terharu bahkan air mata berjatuhan. Halimah kagum dengan yatim piyatu ya Rosulullah, mereka bisa tegar walau tanpa kasih sayang orangtua, walau tanpa belaian manja dan perhatian orangtua…meskipun sejujurnya merekapun ingin merasakan indahnya diperhatikan, dimanja, dibelai orantua ya Rosulullah. Halimah pernah berdiri, lalu mendongeng dihadapan anak-anak yatim piyatu ya Rosulullah, mereka tersenyum, ngikutin Halimah, dan kita nyanyi solawatan bersama-sama. Dan mereka begitu riang seolah tanpa beban saaat begitu antusiasnya mendengarkan kisah yang Halimah ceritakan. Halimah bahagia melihat mereka tersenyum ya Rosulullah.
Ya Rosulullah…
Halimah didongengin Bapak, tentang kisahmu yang luar biasa. Ya Rosulullah, Halimah yakin apapun yang engkau pinta, pasti Allah kabulkan. Engkau tak pernah makan hingga kenyang, engkau pernah tidur di atas pelepah kurma, engkau pernah makan daun-daunan saat diboikot kaum quraisy, engkau pernah kesulitan dan hidup dalam kemiskinan. Halimah mencintaimu ya Rosulullah, saat Halimah tidur di kasur, kadang Halimah bertanya:
“Ya Rosul, dulu engkau pernah tidur di atas pelepah kurma, sedangkan Halimah ini tidur di kasur, maafkan aku ya Rosulullah. Maafkan atas kelancanganku yang melebihimu, padahal aku begitu mencintaimu”.
Saat Halimah makan enak, Halimahpun sering bertanya dalam benak Halimah.
“Ya Rosulullah, engkau pernah menderita saat diboikot kaum kafir hingga engkau makan daun-daunan. Maafkan aku yang lancang makan enak ya Rosulullah, Ya Rabb limpahkan rasa syukur padaku atas nikmat dan rahmad yang engkau berikan ya Rabb, ya Tuhanku”.
Ya Rosulullah…
Aku (Halimah) sangat mencintaimu. Engkau pernah hidup dalam kemiskinan. Halimah sangat mencintaimu, sebagai wujud cintaku padamu. Sejak kecil Halimah menyayangi fakir miskin dan dhuafa. Sejak kecil emak mengajarkan Halimah untuk mencintai dhuafa dan fakir miskin. Halimah tahu, orangtua Halimahpun dari keluarga tak mampu tapi kami selalu bersyukur atas rahmadmu. Dari kami yang tak memiliki rumah, berteduh-teduh di emperan rumah orang selepas kelahiran Halimah, lalu hingga usia 5 tahun engkau karuniakan gubug pada keluarga Halimah (dengan tanah numpang milik tetangga), lalu saat usia 5 tahun engkau karuniakan gubug tua di kampung milik Bapak Halimah sendiri. Walaupun rumah keluarga Halimah buruk, tapi Halimah sangat bersyukur ya Rabb, dari yang dulunya tak memiliki rumah engkau karuniakan kami rumah. Namun, di atas kemiskinan kami tidak pernah pelit. Aku belajar dari Emak, saat ada pengemis yang datang ke rumah, Emak selalu memberikan uang ataupun beras segelas bahkan tanpa rasa risih, Emak mengajak pengemis itu makan di rumah sembari disuguhkan segala makanan yang Emak punya sama seperti sayur dan lauk yang aku makan. Halimah sayang Emak ya Rabb, Halimah sayang Fakir miskin sebab Halimah pernah merasakan kemiskinan, Halimah mencintai Rosulullah dan Rosulullahpun pernah hidup dalam kemiskinan. Ya Rabb jadikan Halimah insan yang senantiasa bersyukur dan memiliki kepedulian terhadap keluarga dan kaum dhuafa, fakir miskin, serta yatim piyatu.
Ya Rosulullah…
Halimah pernah didongengin Bapak, bahwa engkau pernah menjabat sebagai kepala negara. Halimah ingin meneruskan jejakmu ya Rosulullah, Halimah ingin menjadi pejabat negara yang mementingkan hajad orang kecil, yang menumpas KKN, yang pro terhadap rakyat meneruskan jejakmu ya Rosulullah. Karena aku mencintaimu dan aku prihatin apabila ada pejabat yang kurang peduli terhadap orang kecil, apalagi orangtua Halimahpun orang kecil.
2.      Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Khodijah RA
Sayyidah Khodijah adalah sosok yang Halimah cintai dan Halimah idolakan sejak Halimah kecil. Halimah mengagumi beliau, Halimah mencintai beliau. Beliau wanita suci yang disebut sebagai At-Thahiriyah, beliau taat rosulullah, beliau penyayang dan penyabar. Beliau mendukung jejak Rosulullah dalam berdakwah. Beliau kaya raya namun dermawan. Beliau rela mengorbankan harta, pikiran dan jiwanya untuk Tuhannya dan suami tercinta. Beliau menemani Rosulullah dalam suka dan duka. Beliau istri yang solekhah dan setia. Ya Sayyidah Khodijah, Halimah ingin meneladani kesantunan akhlakmu saat nanti Halimah berkeluarga, Halimah ingin taat pada suami dan menemaninya dalam suka dan duka.
Halimah sejak kecil didongengin Bapak tentang keanggunan Akhlakmu, ya sayyidah Khodijah RA. Tak hanya itu, beliau (Sayyidah Khodijah RA), juga sosok wanita karir yang mandiri, kaya raya dan membantu perjuangan Rosulullah. Beliau pengusaha wanita yang kaya raya. Halimah ingin meneladani beliau, menjadi pengusaha wanita sukses yang kaya raya. Dengan memiliki industri, maka halimah akan membantu orang-orang dalam mencari pekerjaan karena dengan membuka lapangan pekerjaan berarti Halimah mengurangi angka pengangguran. Halimah sadar, Halimah dari keluarga tak mampu…maka untuk mendapatkan modal usaha, Halimah harus bekerja terlebih dahulu. Setelah modal terkumpul dan cukup barulah mendirikan usaha yang besar. Halimah yakin ya Rabb, segalanya mungkin bagimu. Maka mungkinkanlah Halimah untuk menjadi pengusaha kaya raya. Aamiin.
Sayyidah Aisyah RA adalah istri kesayangan Rosulullah SAW setelah wafadnya sayyidah Khodijah RA. Sayyidah Aisyah memiliki jiwa leadership tinggi, terbukti ia sebagai panglima perang. Sayyidah Aisyah adalah sosok yang lemah lembut, cerdas dan cantik jelita. Bahkan karena kecantikannya, engkau memanggilnya Khumairah. Bahkan karena kecerdasannya, beliau meriwayatkan banyak hadismu ya Rosulullah. Ya Rosulullah, Halimah ingin menjadi multitalenta layaknya istrimu tercinta, baginda sayyidah Aisyah RA. Mengapa daridulu Halimah ingin menjadi wanita yang cerdas dan multitalenta sejak Halimah SD kelas 1? Karena Halimah sadar untuk memajukan islam butuh ilmu. Halimah ingin menjadi wanita berilmu dan mengamalkan ilmunya. Halimah ingin menjadi wanita yang berilmu dan berakhak layaknya istrimu sayyidah Aisyah RA yang cerdas dan berakhlak.
3.      Emak dan Bapak dan Adek Halimah
Orang yang paling Halimah cintai sejak kecil adalah Emak dan Bapak Halimah. Karena mereka adalah orang pertama yang ingin Halimah muliakan dan Halimah bahagiakan. Itulah mengapa sejak kecil, Halimah selalu rajin membantu Emak dan Bapak. Sedari SD, Halimah rajin membantu Emak ngarit di sawah sepulang sekolah di Madrasah. Sejak SD, aku selalu merenung untuk mengubah nasib keluargaku melalui ilmu. Itulah alasan, mengapa aku ingin menjadi bintang kelas. Karena satu cara yang bisa kulakukan untuk melukis senyum dan kebahagiaan untuk Bapak dan Emak adalah berprestasi.
Dari kecil, Halimah sudah terbiasa hidup keras. Tiap pagi bangun pukul 04.00, mengaji sebentar, lalu belajar sebentar dan membantu Emak memasak seperti mencuci piring, memetik sayuran, memotong bumbu-bumbu, memarut kelapa, dll. Lalu setelahnya menyapu, mandi, sarapan barulah berangkat sekolah. Hingga SMA, Halimah dan Afida (adek Halimah) tumbuh di atas keprihatinan dan jiwa yang sangat mencintai orangtua, membantunya, dan memuliakannya. Alhamdulillah tiap pagi- siang Halimah bisa menikmati sekolah SD, lalu sorenya bisa menikmati sekolah sore di madrasah. Halimah selalu berprinsip antara umum dan agama harus seimbang. Itulah alasannya mengapa Halimah kecil selalu berusaha, bila di SD selalu juara satu, maka di madrasahpun Halimah menjadi juara satu.
Alhamdulillah, sejak SD Halimah sering mendapatkan hadiah lomba baik dari madrasah, dari sekolah, maupun dari pemerintah. Bila hadiah itu berupa barang, maka hadiah itu Halimah bagi dua, sebagian untuk Halimah dan sebagian untuk Adek. Bila hadiah itu berupa uang, uang itu Halimah bagi 4, untuk Halimah, Adek, Emak dan Bapak. Hal itu berlanjut hingga SMP dan SMA. Alhamdulillah dari prestasi itulah, Halimah sering mendapatkan hadiah baik berupa uang maupun barang, setidaknya rizki itu bisa Halimah bagi-bagi pada orang-orang yang Halimah cintai. Karena Halimah kecil belum bisa kerja, bisa menghasilkan uang hanya melalui prestasi, maka Halimah berusaha untuk berprestasi agar bisa berbagi dan bisa melukis senyuman di hati orang-orang yang Halimah cinta.
Ketika mendapatkan hadiah lomba berupa uang dari prestasi, biasanya Halimah membelikan perabot dapur untuk Ibu seperti toples, panci, dll. Terkadang halimah belikan bibit padi bila musim hujan. Halimah survey terlebih dahulu, halimah amati kebutuhan Emak apa saja yang Emak tak mampu membelinya, itu Halimah lakukan sejak SD. Seperti saat musim hujan, Emak mau membeli bibit padi namun tak ada uang, daripada hutang maka Halimah belikan bibit padi. Emak butuh layar untuk menjemur gabah, sedangkan emak tak punya uang maka Halimah dan Afida membelikannya (dari uang nabung kami dan uang hadiah) ketika hari Ibu. Halimah sangat mencintai Emak, maka sebisa mungkin Halimah meringankan Emak sejak kecil.
Meringankan emak dengan membantu emak, tiap pagi, siang, sore dan saat bersama Emak rupanya sudah menjadi kultur (budaya) yang mendarah daging bagiku dan bagi Afida (adekku). Kami bahu membahu untuk membantu Emak. Halimah akui, sejak SD Halimah bisa sekolah karena Beasiswa, SD mendapatkan beasiswa tak mampu dan hadiah prestasi dari pemerintah. Waktu itu yang dipanggil di kecamatan hanya beberapa orang, alhamdulillah Halimah terpilih. Saat SMP, Halimah jua mendapatkan beasiswa prestasi dan beasiswa tak mampu. SMA pun sama. Berprestasi adalah alat bagiku untuk menyenangkan hati orangtua sekaligus bisa membantu meringankan beban orangtua.
Kebiasaan yang seringkali kulakukan adalah memberikan kejutan kado-kado sesuai kebutuhan Emak itu berlanjut dari SD, SMP, SMA hingga kuliah. Emak, adek, dan Bapak adalah orang pertama yang ingin kubahagiakan. Sebagaimana ketika SD hingga SMA, saat kuliahpun sama, aku berkomitmen untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Dari uang juara lomba-lomba itulah aku berbagi. Aku belajar managemen waktu dengan baik agar aku tak keteteran karena aku harus kuliah, bekerja, berorganisasi, dan lomba sejak semester 1 di perkuliahan hingga lulus. Alhamdulillah hampir setiap menang lomba, uang itu bisa kugunakan untuk berbagi. Managemen keuangan itu penting agar antara pengeluaran dan pemasukan seimbang. Nah, uang juara itu aku bagi menjadi 4 bagian, bagian pertama untuk diriku (untuk kebutuhanku), bagian kedua untuk kutabung, bagian ketiga untuk sodaqoh yatim piyatu atau dhuafa, bagian ke empat untuk aku berikan ke Emak, Bapak dan Adek. Sehingga Halimah, keluarga, dan juga kaum yang membutuhkan (yatim piyatu dan dhuafa) pun jua turut merasakan kebahagiaan Halimah. Meskipun Halimah berbagi, Halimah tak pernah merasakan kekurangan, justru selalu mendapatkan nikmat dari Allah.  
Halimah sukanya diam-diam, survey dan langsung memberikan hadiah biasanya. Ada kejadian konyol yang pernah terjadi. Suatu ketika tepat semester 5 kalau nggak salah, Halimah memberikan kado untuk Emak, Bapak, Adek, dan sodaqoh yatim. Di toko baju, Halimah melihat batik bagus, kainnya halus, warnanya unik dan baju yang kulirik itu terlihat paling bagus. Terbesitlah untuk membelinya, kukira itu cocok untuk aku kasih ke Emak. Emak aku belikan baju, Adek aku belikan sarung dan jilbab, Bapak aku belikan sarung, dan guruku aku belikan sarung sebagai hadiah dan rasa cintaku dari hasil kerja kerasku sendiri. Semua kado sudah kubungkus rapi, kudistribusikan sesuai orangnya. Kau tahu apa…semuanya senang baik Bapak, adek, maupun guru. Yang Emak ketawa ngakak….karena baju yang bagus yang aku berikan Emak ternyata kekecilan…haha. Maklum, aku nggak tahu ukuran baju Emak, hanya mengira-ngira saja, ternyata presiksiku salah. Akhirnya baju itu diberikan nenek.
Halimah jua melihat Emak tak memiliki HP, maka Halimah belikan HP untuk Emak, Halimah titipkan teman. Hal yang paling terkesan, kalau memberikan Hadiah yang umum jadi nggak pakai size…nanti kekecilan atau kebesaran lagi…hoho. Ketika wisuda kemarin, Halimahpun berusaha menyenangkan hati kedua orangtua Halimah. Halimah berusaha lulus tepat 4 tahun sesuai permintaan Emak, Halimah belikan adek Halimah jilbab-jilbab, dan apa yang diinginkan, Halimah belikan Bapak sarung, Halimah berikan uang 200 ribu untuk Emak tandur, Halimah sewakan taksi untuk berangkat wisuda. Uang itu sengaja Halimah sisihkan dari kerja Halimah tiap hari baik uang ngelesin, uang jadi translator, uang dari usaha, dll. Biar gaji Halimah tak gedhe kalau berbagi in syaallah berkah. Halimah belikan buku religi untuk Bapak. Tepat 12 November 2016, rasanya prihatin melihat kitab-kitab dan buku-buku yang jumlahnya sangat banyak sekali dimakan rayap, terlebih kitab-kitab. Dari rasa prihatin itu, akhirnya uang yang kusisihkan kubelikan almari dan kuberikan Bapak dan adek agar mereka bisa menyimpan kitab dengan aman. Apalagi kitab kan sumber ilmu. Rasanya pas melihat mereka senyum, hati Halimah senang. Emak, Bapak dan Adek adalah orang yang Halimah cintai, ketika melihat mereka bahagia, Halimah turut Bahagia. Dan yang membuat Halimah senang, pas menyambangi yayasan, pengelola yayasan menyambut Halimah dengan welcome dan senyum. Sekali lagi aku katakan, anak-anak yatim piyatu adalah anak-anak hebat yang pernah Halimah temui, mereka tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ataupun perhatian dari orangtua. Semoga kelak menjadi orang-orang yang hebat ya dek. Aamiin.
Halimah mencintai memberikan hadiah atau kejutan diam-diam dengan tiba-tiba langsung memberi pada orang yang halimah cintai karena sesungguhnya hadiah mendekatkan rasa cinta dan hadiah menghindarkan kebencian. Seperti kata Nabi Muhammad SAW:

تَهَادُوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تَُذْهِبُ بِالسَّخِيمَةِ

“Saling menghadiahilah kalian karena sesungguhnya hadiah itu akan mencabut/menghilangkan kedengkian.” (HR. Ibnu Mandah, lihat pembahasannya dalam Irwa`ul Ghalil, 6/45, 46)
تَهَادُوْا تَحَابُّوْا
“Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

“Siapapun yang memuliakan emak dan Bapakku maka akupun akan memuliakannya. Karena Emakku adalah surgaku, di telapak kakinyalah surgaku berada. Karena ridho hatinya maka ridho Tuhanku jua. Siapapun yang menyakiti hati kedua orangtuaku, maka ia menyakiti hatiku jua sebagaimana Rosulullah SAW dan Sayyidah Fatimah RA. Siapa yang membahagiakan Sayyidah Fatimah RA, maka ia jua membahagiakan Rosulullah SAW. Dan siapa yang menyakiti Sayyidah Fatimah RA, maka ia jua menyakiti Rosulullah”.                 
Bahkan untuk urusan apapun, aku berusaha mencari ridho Emak, karena ridho Emakku adalah ridho Tuhanku. Siapakah orang yang ingin aku muliakan dan aku bahagiakan di dunia ini sebelum dhuafa dan yatim piyatu? Mereka adalah orang yang ingin kubahagiakan pertama kali adalah Emak, Bapak, dan Adekku. Golden dreamku adalah memuliakan keduaorangtuaku, adekku, dan yatim piyatu beserta dhuafa.     
Bahkan untuk menerima seorang yang kelak menjadi imam hidupku selamanya (suami). Halimah meminta pertimbangan Emak, seandainya kog dia bisa memuliakan keluargaku dan menerima keluargaku apa adanya dan membahagiakannya maka aku terima cintanya. Namun bila sebaliknya,, ia tak bisa menerima dan membahagiakan keluargaku (hanya mencintaiku saja namun tak mencintai keluargaku), maka aku akan menolaknya. Aku sangat mencintai, memuliakan, dan sangat ingin membahagiakan keluargaku. Kebahagiaan Emak adalah kebahagiaanku jua.
Emakku adalah madrosah pertamaku. Emakku adalah wanita hebat pencetak prestasiku atas izin Allah. Emak yang mengandungku selama 9 bulan, Emak rela gendut demi hamil aku, rela gendong beban di perutnya kemana-mana demi Halimah. Emak menyusui Halimah hingga usia 2 tahun. Emak memandikan Halimah, nyuapin Halimah, ngajarin Halimah berdiri, dan sebagainya. Emak juga guru pertama Halimah. Emak yang ngedidik Halimah ngaji Al Qur’an, berjanjen, solawatan, dll. Emak yang ngajarin Halimah berhitung dan membaca. Ketika Halimah kritis selama empat bulan, Emak yang merawat Halimah, menyuapi, menuntun, melakukan apapun demi Halimah. Lalu apa balasan Halimah kalau bukan berbhakti dan membahagiakannya. Kalaupun kebaikan Emak dihitung, Halimah tak mampu menghitungnya saking banyaknya. Terimakasih Emak, jasa Emak sangat begitu besar. Halimah nulis ini, air mata Halimah tanpa sadar berjatuhan. Ya Rabb muliakanlah keduaorangtuaku sebagaimana ia mengasihiku. Limpahkanlah rizki yang berkah dan halal untuknya. Panjangkanlah umurnya hingga cucu-cucunya kelak dewasa. Jadikanlah kedua orangtuaku sebagai golongan orang-orang yang beruntung, orang yang engkau cintai dan engkau tempatkan di jannahMu.
Golden dream yang pengen Halimah capai dalam waktu dekat 2-3 tahun sebelum Halimah menikah adalah Halimah ingin membangunkan rumah yang layak untuk Emak dan Bapak. Itulah alasan kenapa Halimah pengen sukses berkarir karena Halimah ingin memuliakan dan membahagiakan Emak dan Bapak. Halimah tak ingin, di masa tua Emak dan Bapak banting tulang kerja kasar angkat beban berat. Halimah pengen di usia tua, kedua orangtua Halimah, mereka bisa hidup santai menikmati Hari tuanya, sedangkan kebutuhan ekonomi Halimah yang mencukupinya. Sudah saatnya Halimah memberi kebutuhan primer Emak dan Bapak, dari kecil kan mereka sudah memberikan kebutuhan primer Halimah. Halimah pengen, di usia tua Emak dan Bapak, Emak kubikinkan toko, rumah yang layak, dan bisa menikmati hari tuanya dengan nyaman (ngaji dan ibadah serta santai di hari tuanya). Bismillah semoga menjadi kenyataan. Aamiin ya Rabb.

Man Jadda wa Jada
Yakin in syaallah berhasil, karena Allah Maha memungkinkan segala sesuatu dan Allah membagi sesuatu berdasarkan kadar usaha hambanya.
Yakinlah bahwa di balik kesulitan ada kemudahaan.
Everything is possible with Allah through Ikhtiar…J


Tidak ada komentar :