HALIMAH BINTI MASDARI

Rabu, 20 September 2017

KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI PART IV

KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI
*****
PART IV
*****
Diambil dari Kajian Kitab Khozinatul Asror Hal 128-129
*****



Ø  Keutamaan ayat kursi yang nomor 9 adalah ayat kursi merupakan ayat yang disucikan.
Diriwayatkan oleh Rosulullah SAW bahwasannya Rosulullah SAW bersabda: “Demi dzat yang menciptakan diriku dengan kekuasaanNya (kekuasaan Allah), sesungguhnya orang yang membaca ayat kursi dengan satu lisannya dan kedua bibirnya. Maka Allah akan mensucikannya seperti mensucikan tulang betis seorang raja sebagaimana termaktub dalam hadits at tirmidzi dan hadits-hadits lainnya”.
Dan barangsiapa menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi sebanyak jumlah fasilah ayat kursi atau sebanyak jumlah kalimat dalam ayat kursi (50 kalimat) atau sebanyak jumlah huruf di dalam ayat kursi (170 huruf, maka dipantulkanlah sifat Allah SWT yang suci pada orang yang membaca ayat kursi tersebut. Dan Allah SWT akan mengampuni segala dosa orang yang menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi serta memberikan keberkahan pada orang yang membaca ayat kursi yang suci (secara istiqomah) sebagaimana tertera di dalam kitab Al Kudtsi”.

Ø  Keutamaan ayat kursi yang ke 10 adalah di dalam ayat kursi terdapat kalimat yang berisi (menerangkan) tentang sifat-sifat Allah SWT.
Allah SWT menceritakan suatu hal pada Rosulullah SAW (dengan memperlihatkan beberapa peristiwa) di malam mi’raj, maka Rosulullah SAW pun berkata: “Aku melihat di lauh mahfudz ada 3 tempat bercahaya”. Maka aku (Nabi Muhammad SAW) pun bertanya (pada Allah SWT) : “Duhai Rabbku, mengapa 3 tempat itu bercahaya?”. Lantas Allah SWT menjawab: “3 tempat iu adalah tempat (untuk para pembaca) ayat kursi, yasin, dan surat al ikhlas”. Maka aku (Nabi Muhammad SAW) pun bertanya (kembali) : “Ya Rabbi, bagaimanakah pahalanya orang yang membaca ayat kursi?”. Allah punmenjawab: “Sesungguhnya (di dalam) ayat kursi (terdapat) sifatku. Dan barangsiapa membaca ayat kursi (secara istiqomah) dengan beberapa ambalan (sebanyak fasilah ayat kursi atau sebanyak kalimat dalam ayat kursi atau sebanyak huruf di dalam ayat kursi), maka ia akan dapat melihat dzat-Ku (dzat Allah SWT) di hari kiamat”.
Allah SWT berfirman: “Adapun wajah orang yang menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi akan terlihat bercahaya di hari kiamat dan ia (jua) akan dapat melihat dzat-Ku (dzat Allah SWT) kelak di hari kiamat sebagaimana termaktub dalam kitab tafsir Imam Hnafi”.
Diceritakan oleh saudara laki-laki yang dimuliakan Allah SWT bahwasannya Allah SWT akan memuliakan orang-orang yang menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi di hari kiamat dan Allah SWT akan memberikan pertolonganNya pada orang-orang yang menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi di malam hari dan di siang hari dengan beberapa ambalan (sebanyak fasilah ayat kursi atau sebanyak jumlah kalimat dalam ayat kursi atau sebanyak jumlah huruf di dalam ayat kursi). Maka orang yang menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi (tersebut) akan dapat melihat Dzat Allah SWT di hari kiamat. Adapun orang yang menjaga keistiqomahan dalam membaca ayat kursi di malam hari dan di siang hari, maka sesungguhnya ia berada pada puncak derajat orang agung, lebih awal dan memiliki kedekatan yang sempurna dengan Allah SWT.

Ø  Keutamaan ayat kursi yang ke 11 adalah ayat kursi berisi kalimat tauhid
Sesungguhnya ayat kursi mengandung kalimat tauhid. Ibnu Arobi berkata: “Semoga Allah SWT mensucikan sifat Allah SWT di dalam ayat kursi yang agung. Karena sesungguhnya ayat kursi adalah lebih agung-agungnya ayat yang menjadi gantungan (tempat bergantungnya) segala sesuatu (atas izin Allah SWT). Karena mulianya Dzat Allah, maka bergantunglah beberapa hal pada Dzat Yang Maha Mulia (Dzat Allah SWT). Ayat kursi adalah ayat yang paling mulia di dalam Al Qur’an sebagaimana paling mulianya surat Al Ikhlas diantara surat-surat di dalam Al Qur’an”.    
Surat Al Ikhlas memiliki 2 sisi keunggulan yaitu: 1). Di dalam surat Al Ikhlas berisi kalimat-kalimat tauhid sebagaimana ayat kursi yang jua berisikan kalimat tauhid, 2). Turunnya surat Al Ikhlas dilatarbelakangi oleh adanya tantangan dari orang-orang kafir. Sedangkan turunnya ayat kursi tidak harus dilatarbelakangi dengan adanya tantangan dari orang-orang kafir.
Sesungguhnya Surat Al Ikhlas mengukuhkan kalimat tauhid di dalam 15 huruf, sedangkan ayat kursi mengukuhkan kalimat tauhid di dalam 50 huruf. Maka lihatlah kekuasaan Allah SWT di dalam memuliakan sifat-sifat-Nya (sifat-sifat Allah SWT) dengan meminjamkan makna yang dijabarkan dari 50 huruf (di dalam ayat kursi) dan dikatakan bahwa makna 15 huruf (di dalam surat Al Ilkhlas) menerangkan keagungan kekuasaan Allah SWT dan mengukuhkan sifat wahdaniyah Allah SWT sebagaimana tertera di dalam kitab Al Itqon.
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA bahwa Rosulullah SAW berkata: “Tidaklah ada ahli (membaca) la illa ha illallah yang merasa gelisah terhadap kematian dan hari kebangkitan dari alam kubur, karena pada waktu shoikhah (waktu ditiupnya terompet oleh malaikat isrofil), para ahli (membaca) La illa ha illallah mengipat-ngipatkan rambutnya dari debu seraya berkata: “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menyelamatkan kita dari rasa susah”.
Diriwayatkan oleh Nisaburi RA dari ayahnya. Ayah Nisaburi dari kakeknya. Kakeknya dari Rosulullah SAW. Rosulullah SAW dari malaikat Jibril AS. Malaikat Jibril AS dari Allah SWT. Dan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kalimat La illa ha Illallah adalah bentengku (benteng Allah SWT). Barangsiapa masuk ke dalam bentengku (benteng Allah SWT), maka ia selamatdari siksaku (siksa Allah SWT)”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA dari Rosulullah SAW bahwasannya Allah SWT membuka pintu surga dan sesungguhnya surga mengundang (para ahli La illa ha illallah) dari bawah Arsy. Dan sesungguhnya surga adalah tempat berbagai kenikmatan. Lantas surga ditanya: “Sesungguhnya engkau (surga) itu milik siapa?”. Dan surga pun menjawab: “Sesungguhnya aku (surga) adalah tempat bagi para ahli La illa ha illallah dan aku (surga) rindu pada ahli dzikir La illa ha illallah. Dan tidaklah aku (surga) mencari melainkan pada ahli dzikir La illa ha illallah. Dan tidaklah masuk padaku (pada surga) kecuali ahli dzikir La illa ha illallah. Dan aku (surga) tertutup bagi orang yang tidak mau mengucapkan dzikir La illa ha illallah dan orang yang tidak beriman dengan kalimat La illa ha illallah. Dan neraka pun berkata: “Aku (neraka) adalah tempat segala siksa. Tidaklah masuk padaku (pada neraka) kecuali orang yang ingkar pada kalimat La illa ha illallah. Dan tidaklah aku (neraka) mencari melainkan pada orang yang mengingkari kalimat La illa ha illallah. Dan aku (neraka) haram untuk orang yang mengucapkan La illa ha illallah (ahli La illa ha illallah).  Dan tidaklah aku (neraka) mengikat kecuali pada orang yang sombong terhadap kalimat La illa ha illallah. Dan tidaklah aku (neraka) marah kecuali pada orang yang mengingkari kalimat La illa ha illallah.
Dikatakan oleh seorang perawi bahwasannya rohmat dan magfiroh (ampunan) Allah untuk orang yang ahli La illa ha illallah. Rohmat dan magfiroh (ampunan) Allah memberi pertolongan pada orang yang mengucapkan La illa ha illallah. Rohmat dan magfiroh (ampunan) Allah  mencintai orang yang mengucapkan La illa ha illallah. Rohmat dan magfiroh (ampunan) Allah dapat mengunggulkan pada orang yang mengucapkan La illa ha illallah. Dan tidaklah terhalang rohmat dan magfiroh (ampunan) Allah atas orang yang mengucapkan La illa ha illallah. Dan tidaklah diperintahkan aku (rohmat dan magfiroh Allah) kecuali pada ahli La illa ha illallah. Maka janganlah engkau mencampurkan kalimat La illa ha illallah kecuali dengan iman yang mengukuhkan (iman yang istiqomah) sebagaimana tertera dalam kitab tafsir asrori tanzil.


*****
PESAN PENULIS
Dalam mengamalkan segala sesuatu, langkah pertama yang kita lakukan adalah menata niat. Alangkah baiknya niat kita lurus yakni semata-mata mencari ridho Allah SWT dan kita mengukuhkan (memantabkan) keyakinan tauhid kita bahwa segala kekuatan itu datangnya dari Allah SWT. Mengamalkan membaca ayat kursi adalah perantara sedangkan pemberi kekuatan, kedudukan, kemuliaan, keberkahan, keselamatan, dan kenikmatan adalah Allah SWT. Sebagaimana suatu perumpamaan engkau makan, yang memberimu rasa kenyang pada hakekatnya adalah Allah SWT sedangkan nasi adalah perantaranya. Sekalipun engkau makan 5 piring, kalau Allah SWT tidak memberimu kenyang, maka engkau tidaklah merasa kenyang.  Sekalipun engkau hanya makan sedikit, namun jika Allah SWT menghendaki engkau kenyang maka engkaupun merasa kenyang. Maka dari itu, marilah kita luruskan keyakinan bahwasannya tiada kekuatan melainkan dari Allah SWT (La haula wala quwwata illa billah). Sesungguhlah Dialah Allah, Dzat yang Maha Kuat, dialah yang berhak memberikah krkuatan ataupun melemahkan makhluk. Sesungguhnya tiada sesuatu yang terjadi melainkan atas izin Allah SWT. Bahkan daun jatuhpun tidaklah kebetulan melainkan Allah sudah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga daun jatuhpun atas izin Allah SWT.
*****
UCAPAN TERIMAKASIH
Sebagai rasa takdim penulis, penulis ucapkan terimakasih pada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh PP. Khozinatul Ulum Blora sekaligus guru yang mengampu dalam kajian kitab Khozinatul Asror. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmadNya kepada beliau, memberikan nikmat panjang umur, melimpahkan rizkinya, dan memuliakannya sebagai golongan orang-orang beruntung. Semoga Allah swt senantiasa memuliakan para guru penulis, memberikan rahmad dan kasihNya sebab melalui perantara gurulah seorang murid dapat memahami suatu ilmu hingga dapat mengamalkannya. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email. halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.   

REFERENSI:    
Syeh Muhammad Haqi An Nadzili. Kitab Khozinatul Asror. Bab Sebab Turunnya Ayat Kursi. Halaman 128-129.          


       

Selasa, 19 September 2017

KEUTAMAAN MENJAGA SHALAT

KEUTAMAAN MENJAGA SHALAT
*****
Kajian Kitab Majalisus Shaniyyah
Halaman 80
*****       

Kebaikan seseorang terletak pada bagaimana ia menjaga shalatnya. Orang yang bisa menjaga shalatnya dengan baik  dan menunaikannya tepat waktu, in syaallah akhlaknya juga baik. Shalat adalah amalan yang pertama kali di hisab kelak di hari kiamat. Sungguh betapa pentingnya menjaga shalat. Menunaikan shalat tepat waktu  berarti mentaati perintah Allah SWT dengan baik. Menyia-nyiakan sholat berarti membangkang atas perintah Allah SWT. Bukan hanya itu, melalaikan shalat bagi seorang yang beragama islam termasuk dzalim yakni: 1) Dzalim kepada Allah/ durhaka kepada Allah. Sebab tugas seorang hamba adalah taat pada Tuhannnya, bila melalaikan perintahNya berarti durhaka padaNya, 2). Dzalim pada diri sendiri. Sesungguhnya di dalam shalat terdapat beberapa doa untuk memohon keselamatan diri baik di kehidupan dunia maupun di akherat. Apabila seseorang melalaikan solat berarti ia tidak memohon keselamatan untuk dirinya sendiri 3). Dzalim pada orang lain sebab di dalam doa ada hak orang lain (kaum muslimin dan muslimat) untuk didoakan.    

Rosulullah SAW bersabda: “Tiap-tiap langkah kaki yang digunakan untuk menunaikan solat adalah sedekah”.  Sesungguhnya mengukuhkan di dalam menghadiri beberapa sholat jama’ah (solat berjama’ah) dan meramaikan masjid itu dapat menambah pahala daripada solat di dalam rumah. Sholat berjama’ah mendapatkan pahala 27 derajad, sementara sholat munfarid mendapatkan 1 pahala. Bila selisih 26, maka engkau pilih yang mana?. Tentu bagi orang yang beriman, lebih memilih sholat berjama’ah daripada sholat munfarid. Ketika di hari kiamat nanti, akan hadir suatu kaum yang berdiri di atas siraj (jalan), maka dikatakan kepada suatu kaum yang melewati jalan supaya takut akan (siksa) neraka.
Malaikat Jibril berkata: “Bagaimanakah caramu ketika engkau melewati lautan/ samudra?”. Lalu dijawab: “Dengan menggunakan perahu.”. Maka diumpamakan bahwa orang yang sholat berjama’ah dimasjid ketika melewati jembatan sirad seperti orang yang naik perahu menyeberangi samudra.
Diriwayatkan oleh Anas RA bahwasannya Rosulullah SAW berkata: “Akan dikumpulkan masjid-masjid di dunia. Sesungguhnya masjid-masjid di dunia itu seperti unta besar yang berwarna putih yang kakinya berbau minyak anbar (sejenis minyak dari surga), dan lehernya berbau minyak ja’far (jenis minyak dari surga), dan kepalanya berbau minyak misik.”. Adapun para muadzin (orang yang bertugas mengumandangkan adzan) akan menuntun unta (tersebut) dan para imam (sholat berjama’ah) akan menggiring unta (tersebut). Adapun orang yang menjaga sholat, akan turut serta berjalan menuju halaman kiamat. Dikatakan oleh penduduk akherat, malaikat, dan para utusan bahwasannya orang yang menjaga keistiqomahan sholat berjama’ah dengan tepat waktu, maka ia akan diakui sebagai ummat Muhammad SAW.  Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA bahwasannya Rosulullah SAW bersabda: “Semakin banyak langkah berjalan menuju masjid di waktu malam (untuk sholat), maka sesungguhnya orang tersebut menyelam ke dalam rohmat Allah SWT.
Ketika di hari kiamat nanti, akan diperintahkan orang yang menjaga shalatnya untuk masuk surga. Beberapa golongan yang masuk surga adalah:
1.      Golongan orang yang seperti matahari, maka ditanya oleh malaikat: “Siapakah engkau?”. Lalu mereka menjawab: ”Sesungguhnya kita adalah orang yang menjaga sholat”. Lantas malaikat bertanya: “Seperti apa engkau menjaga sholat?”. Mereka menjawab: “Ketika mendengarkan adzan, kita sudah berada di dalam masjid (maksudnya mereka mendengarkan adzan di dalam masjid)”.
2.      Golongan orang yang seperti bulan di malam lailatul qodar, maka ditanya oleh malaikat: “Siapakah engkau?”. Lalu mereka menjawab: “Kita adalah orang yang menjaga sholat”. Lantas malaikat bertanya kembali: “Seperti apa engkau menjaga sholat?”. Mereka menjawab: “Kita berwudhu sebelum waktu sholat tiba (waktu sebelum adzan tiba, maksudnya wudhu mendekati waktu adzan tiba). Misalnya; a). Waktu adzan sholat dzuhur pukul 12.00, maka golongan ini sudah wudhu sejak pukul 11.30, b). Waktu adzan sholat asar pukul 15.00, maka golongan ini sudah wudhu sejak 14.45, c). Waktu adzan sholat magrib pukul 17.50, maka golongan ini sudah wudhu pukul 17.30, d). Waktu sholat isya pukul 19.00, maka golongan ini sudah wudhu pukul 18.30, dan e). Waktu sholat subuh pukul 04.20, maka golongan ini sudah wudhu pukul 04.00.
3.      Golongan orang yang seperti bintang, maka ditanya oleh malaikat: “Siapakah engkau?”. Lalu mereka menjawab: “Kita adalah orang yang menjaga sholat”. Lantas malaikat bertanya kembali: “Seperti apa engkau menjaga sholat?”. Mereka menjawab: “Kita berwudhu sebelum adzan dikumandangkan”.
Allah SWT berfirman bahwasannya ada 3 (tiga) golongan:
1.      Golongan yang mendzalimi diri sendiri yakni mereka yang sholat setelah waktu sholat selesai. Contohnya: datang ke masjid untuk sholat berjama’ah ketika imam sudah hampir salam, sholat mendekati waktu sholat telah habis.
2.      Golongan tengah adalah mereka yang masuk masjid (untuk sholat berjama’ah) setelah mendengarkan adzan.
3.      Golongan awal (golongan paling mulia) adalah golongan yang masuk masjid ( untuk sholat berjama’ah) sebelum adzan dikumandangkan.
Umar bin Abdul Aziz berkata dalam firman Allah SWT bahwasannya golongan yang menyia-nyiakan sholat adalah orang-orang yang menyia-nyiakan waktu sholat. Sebagaimana contohnya orang yang menunaikan sholat menjelang waktu sholat habis. Misalnya; 1). Sholat isya’ pukul 04.00 mendekati waktu sholat subuh, 2). Sholat subuh pukul 05.50 mendekati waktu sholat dhuha, 3). Sholat dhuhur pukul 14.30 mendekati waktu sholat asar, 4). Sholat asar pukul 17.30 mendekati waktu sholat magrib, 5). Sholat magrib pukul 18.30 mendekati waktu sholat isyak dan mendekati waktu sholat magrib telah habis. Selain itu yang dimaksud orang yang menyia-nyiakan sholat adalah orang yang mendengar adzan, namun tidak segera menunaikan sholat berjama’ah.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya kita menjaga keistiqomahan sholat tepat waktu terlebih solat berjama’ah. Sebuah perumpamaan, bila engkau diperintah gurumu taat, maka gurumu akan senang padamu. Demikian pula bila engkau taat pada perintah Allah SWT seperti rajin menunaikan sholat jama’ah tepat waktu, maka Allahpun akan mencintaimu sebagaimana engkau jua mencintaiNya. Bila menunaikan sholat jama’ah tepat waktu diberikan pahala berupa surga, apakah engkau tidak mau masuk surga? Haruskan masuk surga diperintah-perintah dulu?. Terkadang manusia itu unik, bagaimana tidak? Coba kita renungkan. Tak usah jauh-jauh melihat orang lain, mari merenungkan diri sendiri untuk kita perbaiki menjadi lebih baik. Kita dengan mudah menyatakan kita takut akan siksa neraka, namun apa yang kita lakukan terkadang justru durhaka pada Allah yang menjurus pada pilihan siksa neraka. Memang kesenangan dunia dan kemaksiyatan itu terasa nikmat sehingga menggiurkan manusia, namun dampaknya berupa ahdzab atau bahkan siksa neraka. Ataukah engkau memilih mengekang nafsu dan mentaati perintah Allah walaupun sulit karena banyak godaannya, namun kita ikhlas semata-mata untuk mencari ridho Allah?. Sesungguhnya surga dan neraka adalah pilihan, tidak ada paksaan untuk memilih ke surga atau ke neraka. Mau ke surga, cukup dengan mentaati segala perintah Allah SWT, mau ke neraka cukup dengan durhaka dan membangkang pada perintah Allah SWT dan menjalankan larangan Allah SWT.
Namun pada hakekatnya, bila cintamu tulus ikhlas lilahi ta’ala yakni semata-mata mencari ridho Allah SWT. Maka sholatmu, ibadahmu engkau lakukan dengan tulus sekalipun tidak diberi hadiah berupa surga. Sebab puncak tertinggi yang engkau cari bukan surga melainkan ridho Allah SWT. Golongan yang beribadah tanpa mengharap apapun kecuali ridho Allah SWT dan mendapatkan rohmat Allah SWT adalah golongan yang beruntung. Sungguh cinta sejati adalah ketaatan dan pengorbanan, termasuk mentaati segala yang Allah perintahkan demi menggapai cinta illahi serta berkorban untk menjauhi segala larangan Allah sekalipun itu menggiurkan dan menyenangkan hati (nikmat duniawi). Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang mendapatkan hidayah Allah SWT, selalu dalam perlindungannya dan mendapatkan rohmat Allah SWT sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin.    
*****
UCAPAN TERIMAKASIH
Sebagai rasa takdim penulis, penulis ucapkan terimakasih pada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh PP. Khozinatul Ulum. Tak lupa penulis sampaikan terimakasih pada Pak Khobir selaku guru yang mengampu dalam kajian kitab Majalisus Saniyyah. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmadNya kepada beliau, memberikan nikmat panjang umur, melimpahkan rizkinya, dan memuliakannya sebagai golongan orang-orang beruntung. Semoga Allah swt senantiasa memuliakan para guru penulis, memberikan rahmad dan kasihNya sebab melalui perantara gurulah seorang murid dapat memahami suatu ilmu hingga dapat mengamalkannya. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email. halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.   

REFERENSI:    
Syeh Ahmad bin Syeh Hajazi Al Fasani. Majalisus Saniyyah. Halaman 80. Surabaya: Maktabatil Hidayah.                          


Sabtu, 16 September 2017

ANJURAN MEMERANGI BANGSA YAHUDI (KAFIR)

ANJURAN MEMERANGI BANGSA YAHUDI (KAFIR)
*****
KAJIAN KITAB TAJRIDUS SHOREH
*****
Diampu oleh Gus Dr. H.A, Muhammad Nur Ihsan, Lc. MA



Segala puji bagi Rabb Semesta alam. Tiada Tuhan melainkan Dia. Sesungguhnya agama yang mulia disisi Allah SWT adalah islam. Islam adalah agama yang hak, agama yang rahmatan lil alamin. Agama yang mengajarkan tentang yang haq dan melarang yang batil. Islam hadir untuk memuliakan kehormatan manusia dari jaman kebodohan (jahiliah) yang penuh dengan kemaksiyatan dan tindakan amoral atau tindakan asusila menuju pada kedamaian yang dihiasi dengan tindakan beretika (susila). Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan mengandung banyak manfaat bagi hambanya, baik manfaat untuk dirinya dari segi kesehatan, agama, maupun kemaslahatan ataupun keselamatan. Demikian jua sebaliknya, atas segala yang dilarang oleh Allah SWT mengandung kemadharatan yang buruk untuk kesehatan manusia maupun untuk diri manusia itu sendiri.
Kaum muslimin muslimat yang dirahmati Allah SWT…J
Bangsa yahudi adalah musuh kaum muslimin sejak zaman Rosulullah SAW. Bangsa yahudi membenci islam dan membenci dakwah Rosulullah serta memusuhi kaum muslimin. Itulah sebabnya, dalam sebuah sejarah dikatakan bahwasannya tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi bangsa yahudi dan menaklukkan bangsa yahudi. Diceritakan pula bahwasannya di akhir zaman nanti, bangsa Yahudi akan mati dibawah taklukan kaum muslimin.  Rosulullah SAW bersabda: “Awal mula pasukanku (pasukan Nabi Muhammad SAW) perang di lautan. Tetapi sebagian pula ada yang berawal dari perang di Kota Kaisar”.   
Diriwayatkan oleh Abdillah dari Umar RA bahwa Rosulullah SAW berkata: “Hai ummatku (ummat Nabi Muhammad SAW) semua, perangilah bangsa Yahudi hingga mereka bersembunyi di bawah batu.” Lantas Rosulullah SAW berkata: “Hai Abdilah, bangsa Yahudi berada di belakangku, maka bunuhlah. Di dalam sejarah, tidak terjadi kiamat hingga engkau membunuh bangsa yahudi sebagaimana itu tertera dalam hadits-haditsku”.
Diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA, Rosulullah SAW berkata: “ Tidak terjadi kiamat hingga kalian memerangi bangsa Turki (yang dimaksud bangsa Turki yang kafir/ bangsa yahudi) dengan tanda-tanda matanya sipit, wajahnya merah, hidungnya pesek, dan sandalnya terbuat dari bulu”.
Berdasarkan hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa adanya anjuran bagi kaum muslimin untuk senantiasa memerangi hingga menaklukkan kaum yahudi kafir, sebab kaum yahudi membenci islam dan memusuhi islam. Adapun ciri bangsa yahudi diantaranya; matanya sipit, wajahnya merah, hidungnya pesek dan suka mengenakan sandal yang terbuat dari bulu (sandal berbulu). Sungguh begitu utamanya memerangi bangsa yahudi hingga termaktub dalam hadits bahwasannya tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimim membunuh dan memerangi bangsa yahudi. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan kaum muslimin untuk memerangi dan menaklukan bangsa yahudi yang menandakan kemenangan kaum muslimin atas bangsa yahudi. Dengan kemenangan kaum muslimin atas bangsa yahudi menunjukkan kebesaran Allah SWT dan kejayaan islam.
Pada perang Khoibar, semua pasukan perang berharap diberikan bendera oleh Rosulullah SAW. Ketika semua kaum muslimin sudah kumpul semua, tidak ada yang dicari Rosulullah SAW, melainkan Rosulullah SAW justru mencari Sayyidina Ali. Tetapi Sayyidina Ali sakit mata dan tidak bisa hadir. Lantas Sayyidina Ali diludahi kedua matanya oleh Rosulullah SAW, lalu kedua matanya sembuh seperti sedia kala.
Diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad RA bahwasannya Rosulullah SAW berkata: “Aku (Nabi Muhammad SAW) akan memberikan bendera pada seorang laki-laki di dalam perang Khoibar yang berhasil membuka kemenangan perang (atas izin Allah) melalui tangannya”. Lantas para kaum laki-laki berharap agar menerima bendera dari Rosulullah SAW. Maka dari itu, mereka (kaum laki-laki) datang lebih awal agar mendapatkan bendera dari Rosulullah SAW. Begitu Rosulullah SAW sampai di medan perang, Rosulullah SAW mencari Sayyidina Ali RA. Rosulullah berkata: “Dimanakah Ali?”. Maka dijawab oleh seorang laki-laki bahwasannya Sayyidina Ali RA sedang menderita sakit pada kedua matanya. Rosulullah SAW pun memerintahkan agar Rosulullah SAW dipertemukan dengan Sayyidina Ali. Rosulullah SAW mengobati penyakit mata Sayyidina Ali dengan meludahi kedua matanya yang sakit, seketika itu juga kedua mata Sayyidina Ali sembuh seperti sedia kala.
Rosulullah SAW pun bersabda: “Berangkatlah ke medan perang hingga tiba di medan pertempuran perang Khoibar, lalu perangilah kaum kafir di perang Khoibar, taklukkanlah mereka dan ajaklah mereka memeluk agama islam. Sesungguhnya Allah SWT memberikan hidayah pada laki-laki (yang memeluk agama islam setelah ditaklukkan dalam perang khoibar) serta kemuliaan yang lebih daripada merahnya binatang ternak (rojo koyo)”. Diriwayatkan oleh Ka’ab bin Malik RA bahwasannya Rosulullah SAW bersabda: ”Tidaklah aku (Nabi Muhammad SAW) bepergian melainkan pada hari Kamis”.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwasannya Rosulullah SAW berkata kepada utusan para Nabi “Apabila engkau (para utusan Nabi/ kaum muslimin) bertemu dengan Fulan dan si Fulan kepada 2 lelaki kafir quraish, maka bakarlah kedua lelaki kafir quraish tersebut dengan api.”Demikianlah kata beliau (baginda Nabi Besar Muhammad SAW) ketika akan keluar berpisah dengan kaum muslimin.
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA bahwasannya Rosulullah SAW bersabda: “Dengarkanlah dan taatlah apabila engkau diperintah pada bukan kemaksiyatan dan apabila diperintahkan pada kemaksiyatan, maka janganlah engkau mendengarkan ((perintah maksiyat it) dan janganlah engkau mentaatinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasannya Rosulullah SAW berkata: “Barangsiapa taat padaku (Rosulullah SAW), maka ia jua taat Allah SWT. Barangsiapa membangkang padaku (Rosulullah), maka ia juga membangkang (maksiyat) pada Allah SWT. Barangsiapa taat pada pemimpinnya (selama pemimpinnya adil dan mengajak pada kebaikan), maka ia juga taat padaku (rosulullah). Barangsiapa membangkang (maksiyat) pada pemimpinnya, maka ia juga membangkang padaku”.
*****
UCAPAN TERIMAKASIH                
Sebagai rasa takdim penulis, penulis ucapkan terimakasih pada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh PP. Khozinatul Ulum. Tak lupa penulis sampaikan terimakasih pada Gus Ihsan (Gus Dr. H. A, Muhammad Nur Ihsan, Lc. MA) selaku guru yang mengampu dalam kajian kitab Tajridus Soreh. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmadNya kepada beliau, memberikan nikmat panjang umur, melimpahkan rizkinya, dan memuliakannya sebagai golongan orang-orang beruntung. Semoga Allah swt senantiasa memuliakan para guru penulis, memberikan rahmad dan kasihNya sebab melalui perantara gurulah seorang murid dapat memahami suatu ilmu hingga dapat mengamalkannya. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email. halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.   

REFERENSI:    
Abi Al Abas Zainudin Ahmad bin Abdul Latif. Tajridus Soreh. Surabaya: Darul Ilmi. Halaman 30-31.       


Sabtu, 09 September 2017

KEUTAMAAN BERBUAT KEBAJIKAN

KEUTAMAAN BERBUAT KEBAJIKAN
*****
Ringkasan Kajian Kitab Majalisus Saniyyah   
(Halaman 79-80)
*****

Segala puji bagi Rabb Semesta Alam yang menciptakan tiap-tiap persedian pada setiap hambanya. Dialah Rabb yang menjalankan planet-planet pada orbitnya (sehingga tidak saling bertabrakan) dengan sinarnya yang benderang. Dialah yang Maha Menghidupkan lagi Mematikan. Dialah Tuhan yang mematikan makhluk yang bernyawa dan Dialah Tuhan yang menghidupkan tulang belulang (dari alam kubur) setelah kematian di hari kebangkitan.
Solawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang mana dengan mukjizatnya memberikan syafaatnya (atas izin Allah memberikan syafaat) di hari kiamat nanti. Tak lupa jua, solawat dan salam semoga tercurahkan pada keluarga Nabi Muhammad SAW beserta para sohabatnya yang dimuliakan derajatnya oleh Allah SWT. Semoga di hari akhir nanti, kita dapat tergolong sebagai bagian dari orang-orang yang beruntung yakni orang beriman dan bertaqwa yang senantiasa dicintai oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Duhai insan yang mulia, selalulah engkau berbuat kebajikan. Baik itu kebajikan pada dirimu sendiri maupun kebajikan pada orang lain. Sesungguhnya baikmu akan kembali pada dirimu sendiri. Allah SWT memerintahkan engkau supaya berbuat kebajikan itu tiada lain kemanfaatannya untuk dirimu sendiri. Sesungguhnya apapun yang Allah perintahkan itu mengandung kemanfaatan yang besar dan apapun yang Allah larang mengandung kemudharatan yang besar hingga tak baik untuk kesehatanmu. Maka dari itu, sudah selayaknya sebagai seorang hamba kita taat pada Allah SWT.
Diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA bahwasannya Rosulullah SAW berkata “Tiap-tiap persendian manusia bisa menjadi sedekah setiap harinya sejak terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Sebagaimana ketika engkau mendamaikan 2 (dua) orang yang berselisih merupakan sedekah, sebagaimana seorang laki-laki yang menggunakan hartanya di jalan Allah (bersedekah) merupakan sedekah, dan sebagaimana perkataan yang bagus adalah sedekah. Dan tiap-tiap kaki yang digunakan untuk melangkah solat adalah sedekah serta menyingkirkan segala sesuatu yang berbahaya dari jalan jua merupakan sedekah” (tersirat dalam Kitab Majalisus Saniyyah halaman 79).
Hadist tersebut menunjukkan bahwasannya setiap kebaikan yang engkau lakukan itu bernilai sedekah dan mendapatkan pahala. Barang siapa berlaku baik, maka ia mendapatkan pahala sebanyak jumlah persendian dalam tubuhnya yakni 360 pahala (sebagaimana jumlah persendian tubuh ada 360 sendi). Maka dari itu, gunakanlah hatimu senantiasa untuk merenungkan hal-hal yang baik dan janganlah engkau membayangkan hal-hal yang dilarang/ yang diharamkan. Gunakanlah bibirmu untuk senantiasa mengingat Allah SWT (berdzikir) sehingga bernilai sedekah dan janganlah engkau gunakan bibirmu untuk hal sia-sia seperti ghibah (ngrumpi/ menggosip), adu domba, fitnah, dll. Hiasilah matamu dengan hanya memandang yang halal. Dengarkanlah olehmu segala perkataan dan pembicaraan yang baik lagi tidak maksiyat. Pergunakanlah kaki dan tanganmu untuk beramal kebaikan sehingga semua yang dilakukan tubuhmu bernilai ibadah layaknya sedekah.
Jumlah persendian pada manusia ada 360 sendi. Hal ini dijelaskan dalam kitab Majalisus Saniyyah halaman 79. Dan tatkala engkau berbuat kebaikan, maka engkau diumpakan telah bersedekah sebanyak 360 kali (sebagaimana jumlah sendi dalam tubuh). Betapa banyak cara untuk mendekatkan diri pada kebajikan. Sebagaimana contohnya; 1). Mencegah diri dari berbuat maksiyat merupakan sedekah, 2). Menjalankan hal-hal yang diperintahkan Allah SWT dengan penuh ketaatan merupakan sedekah, 3). Meninggalkan hal-hal yang dilarang/ diharamkan merupakan sedekah, 4). Berbohong untuk mendamaikan dua pihak yang berselisih agar berdamai dan rukun merupakan sedekah. Tetapi dalam hal ini bukan berarti menghalalkan segala yang haram dan mengharamkan segala yang halal melainkan berbohong karena dhorurot (tiada jalan lain yang bisa ditempuh untuk mendamaikan kedua pihak kecuali dengan berbohong). Artinya berbohong adalah jalan terakhir setelah jalan yang lain ditempuh untuk mendamaikan kedua pihak tidak berhasil.
Duhai muslim-muslimat yang dirahmati Allah SWT. Dalam kitab Majalisus Saniyyah halaman 79 jua dijelaskan bahwasannya apabila malaikat jibril diturunkan di muka bumi, malaikat Jibril berharap bisa mendamaikan perselisihan antara dua pihak kaum muslimin sebagaimana menyiramkan air pada tanaman yang layu. Perlu kita ketahui, begitu mulianya mendamaikan dua pihak yang berselisih bahkan sampai malaikat Jibril pun berharap seumpama diturunkan dimuka bumi bisa mendamaikan kedua pihak yang berselisih. Sudah seyogyanya, sebagai kaum muslimin, apabila melihat saudara kita yang lain berselisih alangkah baiknya kita membantunya melerainya, mendamaikannya sehingga mereka yang berselisih dapat berdamai. Bukan justru sebaliknya, tatkala ada yang berselisih lantas engkau mengomporinya dan mengadu domba. Sunggu adu domba adalah perbuatan yang tidak baik, maka dari itu hindarilah. Semua ummat muslim adalah saudara, sudah menjadi kewajiban kita apabila ada yang beselisih untuk mendamaikannya.
Contoh lain dari sedekah adalah; 1). Ketika engkau mengucapkan salam dan menjawab salam merupakan sedekah. Mengucapkan salam apabila bertemu sesama saudara muslim sangat dianjurkan sebagaimana termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sudah mencukupi untuk suatu rombongan jika melewati seseorang, salah satu darinya mengucapkan salam.” (HR. Ahmad dan Baihaqi). Hadits tersebut diperkuat kembali dengan sabda Rosulullah SAW: “Apabila di antara kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Apabila terhalang oleh pohon, dinding, atau batu (besar), kemudian dia berjumpa lagi, maka hendaklah dia mengucapkan salam (lagi).” (HR. Abu Dawud: 4200, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Misykat al-Mashobih: 4650, dan lihat Silsilah Shohihah: 186). Dan keutamaan menjawab salam juga sangat dianjurkan sebagaimana tertera dalam hadits yang berbunyi “Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86), 2). Akhlak yang mulia merupakan sedekah, 3). Bertemu orang dengan wajah tersenyum adalah sedekah sebagaimana termaktub dalam hadits yang berbunyi: “Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu (Sahih, H.R. Tirmidzi no 1956)” . Hadits tersebut diperkuat lagi dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu (H.R. al-Hakim (1/212)”  

*****
UCAPAN TERIMAKASIH
Sebagai rasa takdim penulis, penulis ucapkan terimakasih pada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh PP. Khozinatul Ulum. Tak lupa penulis sampaikan terimakasih pada Pak Khobir selaku guru yang mengampu dalam kajian kitab Majalisus Saniyyah. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmadNya kepada beliau, memberikan nikmat panjang umur, melimpahkan rizkinya, dan memuliakannya sebagai golongan orang-orang beruntung. Semoga Allah swt senantiasa memuliakan para guru penulis, memberikan rahmad dan kasihNya sebab melalui perantara gurulah seorang murid dapat memahami suatu ilmu hingga dapat mengamalkannya. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email. halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.   

REFERENSI:    

Syeh Ahmad bin Syeh Hajazi Al Fasani. Majalisus Saniyyah. Halaman 79-80. Surabaya: Maktabatil Hidayah.         

Jumat, 01 September 2017

TAFSIR AL-QUR'AN QS.AL-ANBIYA 41-45 (BESERTA PENJELASANNYA)

TAFSIR QUR’AN
*****
QS. AL-ANBIYA 41-50
***** 
KETIKA KESOMBONGAN BERTASBIH, KEHANCURAN MENANTI                 
*****

Duhai kaum muslimin muslimat yang dirahmati Allah SWT…J                    
Salah satu penyakit hati adalah sombong. Duhai insan yang mulia, sebagai makhluk sudah selayaknya kita bersikap rendah hati (tawadhu’) dan janganlah engkau bersikap sombong, sebab sombong adalah pakaian Tuhan (hanya Allahlah yang berhak sombong). Janganlah engkau berlaku sombong dan mencaci maki makhluk Allah yang lain, sebab Allah tidaklah mencintai hamba yang sombong. Perlu engkau ketahui bahwasannya sombong akan mendatangkan kebencian dan perseteruan. Bahkan dengan adanya sikap sombong yang diiringi dengan sikap ujub (membanggakan diri), dapat menjadikan Allah murka sehingga menimpakan ahzab kehancuran/ malapetaka pada kaum yang sombong. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Anbiya ayat 41:
وَلَقَدِ ٱسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُوا۟ مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ
Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu, maka turunlah (kepada orang yang mencemohkan rasul-rasul itu) azab yang selalu mereka perolok-olokkan. (Al-Anbiya 21:41)
Berdasarkan ayat tersebut (QS. Al-Anbiya ayat 41) menunjukkan bahwasannya beberapa rosul sebelum Nabi Muhammad SAW telah diperolok-olokkan oleh kaumnya ketika berdakwah mengajak pada yang haq (kebenaran) dan meninggalkan yang batil (kemaksiyatan). Mereka menantang Nabi agar Allah segera mendatangkan ahzabnya karena mereka tidak percaya akan adanya ahzab Allah SWT yang disampaikan oleh para nabi. Karena kesombongan kaum yang durhaka pada nabi-nabi terdahulu, maka Allah timpakan ahzab atas mereka.                              
Sebagaimana kaum Madyan (kaum Nabi Syu’aib AS) yang mendapatkan ahzab karena tidak jujur dalam berniaga, mereka berasumsi bahwa mengurangi timbangan adalah bentuk kelihaian dan kepandaian dalam berdagang. Nabi Syu’aib AS mengingatkan mereka agar senantiasa jujur dan adil dalam melakukan timbangan, tetapi mereka menentang Nabi Syu’aib AS. Maka Allah SWT turunkan ahzab pada kaum Madyan berupa petir (suara) yang menggelegar dan merekapun (kaum Madyan) binasa dengan bergelimpangan dalam rumahnya. Contoh lain adalah kaum Nabi Nuh AS yang dibinasakan oleh Allah SWT karena kedurhakaannya pada Allah dan Nabi Nuh AS. Saat Nabi Nuh AS mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT dan tidak menyembah berhala, pemuda-pemuda kaum kafir menentang Nabi Nuh AS dan memperolok-olokkan Nabi Nuh AS. Maka Allah SWT turunkan Ahzab berupa banjir bandang yang melampaui gunung hingga kaum kafir nabi Nuh AS binasa semua termasuk Kan’an (putra Nabi Nuh) jua binasa karena kedurhakaannya pada Allah SWT dan ayahnya (Nabi Nuh AS).
Selain itu, jua bisa kita tengok pada kaum Saba’ yaitu kaumnya Nabi Sulaiman AS. Kaum Saba’ terkenal dengan kelihaiannya dalam bidang penghijauan termasuk mereka sudah menerapkan sistem irigasi untuk pertaniannya, kawasannya subur dan penduduknya makmur. Namun ada hal buruk dari mereka, kaum Saba’ menyembah matahari selain Allah, sebelum mengikuti Nabi Sulaiman AS. Pada kaum Saba’ yang dzalim (kafir), Allah timpakan bencana berupa banjir arim atau “Sail Al Arim” yang menghancurkan lahan pertanian kaum Saba’ (yang merupakan sumber pendapatan kaum Saba’) dan jua runtuhnya bendungan untuk irigasi mereka, sehingga lahan pertanian mereka menjadi gersang dan tandus sebab berupa padang pasir.
Di samping itu, Allah SWT jua menurunkan ahzab pada kaum Aad. Kaum Aad adalah kaum Nabi Hud AS. Kaum Aad tersohor dengan kemampuan mereka dalam berteknologi di bidang arsitektur dan teknik sipil. Mereka (kaum Aad) membangun gedung-gedung besar bertingkat yang menjulang tinggi sebagai pertanda kelihaian dan kecerdasan mereka dalam berteknologi. Sayangnya kecerdasan dan keistimewaan yang mereka (kaum Aad) miliki menjadikan mereka berlaku sombong, bengis, dan dzalim, sehingga mereka mengingkari seruan dakwah Nabi Hud AS. Karena kedurhakaannya pada Allah SWT dan Nabi Hud AS, Allah SWT turunkan ahzab (siksa) pada kaum Aad berupa angin kencang (angin putting beliung) yang dingin dan sangat dahsyat selama 7 (tujuh) malam dan 8 (delapan) hari sehingga memporak-porandakan kaum Aad yang ingkar hingga mereka binasa dengan terkubur dalam pasir setebal sekitar 12 meter dari tanah.
Selain itu, renungkanlah ahzab Allah SWT yang ditimpakan pada kaum Tsamut. Kaum Tsamut adalah kaum Nabi Shaleh AS. Kaum Tsamut mengingkari ajakan Nabi Shaleh AS yang mengajaknya untuk hanya menyembah Allah SWT dan meninggalkan maksiyat. Namun kaum Tsamut menentang Nabi Shaleh AS dan memperolok-olokkannya serta menganggapnya gila. Maka atas kedurhakaan mereka (kaum Tsamut itu), Allah binasakan semua kaum Tsamut hingga tak ada yang tersiksa kecuali Nabi Shaleh AS beserta orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Ahzab yang Allah SWT berikan pada kaum Tsamut berupa petir dan halilintar yang menyambar semua kaum Tsamut yang durhaka. Namun ada keanehan yang luar biasa yang menunjukkan “Kekuasaan Allah SWT” yakni Allah SWT membinasakan semua kaum Tsamut yang durhaka dengan bencana, namun Allah SWT membiarkan bangunan-bangunan yang mereka bangun tetap kokoh berdiri tidak hancur bersama kaum Tsamut. Maha Suci Allah, sungguh Dialah Allah yang Maha Menyelamatkan pada siapa saja yang Dia (Allah) kehendaki dan membinasakan pada siapa saja yang Dia (Allah) kehendaki.
Demikian pula dengan kaum kafir Makkah yang memperolok-olok Nabi Muhammad SAW, maka Allah timpakan ahzab pada mereka sebagaimana Allah menimpakan ahzab pada kaum nabi-nabi terdahulu yang durhaka (kaum Aad, kaum saba, kaum madyan, kaum Nabi Nuh, kaum nabi Luth, dan kaum nabi yang lain yang durhaka). Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mentaati segala yang Allah SWT perintahkan dan menjauhi larangan yang Allah SWT perintahkan. Sungguh, ahzab Allah SWT teramat pedih, semoga Allah memberikan hidayah dan pertolongannya pada kita sehingga kita termasuk golongan orang yang selamat. Aamiin.
قُلْ مَن يَكْلَؤُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ مِنَ ٱلرَّحْمَٰنِ ۗ بَلْ هُمْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِم مُّعْرِضُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka. (Al-Anbiya 21:42)
Ayat tersebut (QS. Al-Anbiya 42) menjelaskan bahwasannya tiada yang dapat menyelamatkan seorang makhluk dari ahzab yang Allah SWT turunkan kecuali hanya Allah. Sesungguhnya Allah SWT menurunkan ahzab pada orang-orang yang dzalim, sombong, lagi bertingkah maksiyat. Maka jangan sekali-kali engkau menyembah pada selain Allah SWT seperti menyembah berhala. Bahkan ketika ahzab Allah diturunkan, berhala yang disembah manusia yang inkar pun turut hancur pada bencana Allah. Hal ini membuktikan bahwa berhala tidak dapat menyelamatkan manusia. Terlebih berhala (seperti patung) yang diciptakan oleh manusia. Mana mungkin Tuhan diciptakan oleh manusia? Seorang yang berfikir (menggunakan akalnya) pasti akan merenung bahwasannya “Tuhan itu yang menciptakan bukan yang diciptakan”, sehingga ia tidak mau menyembah berhala yang notabennya dibuat oleh manusia (makhluk). Maha Suci Allah, Dialah Dzat yang Maha Menciptakan, Maha Menghidupkan lagi Maha Mematikan.                 

أَمْ لَهُمْ ءَالِهَةٌ تَمْنَعُهُم مِّن دُونِنَا ۚ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنفُسِهِمْ وَلَا هُم مِّنَّا يُصْحَبُونَ
Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu? (Al-Anbiya 21:43)
Berdasarkan QS. Al Anbiya ayat 43 menunjukkan bahwa Tuhan-Tuhan yang disembah selain Allah (seperti berhala, patung) itu tidak dapat menolong manusia yang menyembahnya dari ahzab (bencana) yang Allah SWT timpakan pada mereka atas kedurhakaannya. Duhai insan yang sempurna, diciptakan dengan akal. Gunakanlah akalmu untuk merenung, mana mungkin Tuhan jua hancur saat bencana ada? Bukankah Tuhan seharusnya yang bisa menyelamatkan hambanya dari bencana?. Sungguh suatu kebodohan yang teramat nyata bila engkau menyembah berhala. Sebab saat banjir bandang, patung pun turut hancur. Saat Angin topan, patung pun turut hancur. Saat malapetaka datang, tidak sedikitpun berhala dapat menyelamatkanmu. Maha Suci Allah, Dialah Rabb Semesta Alam. Tiada Tuhan kecuali Allah, Dialah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

بَلْ مَتَّعْنَا هَٰٓؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمْ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْعُمُرُ ۗ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِى ٱلْأَرْضَ نَنقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَآ ۚ أَفَهُمُ ٱلْغَٰلِبُونَ
Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang? (Al-Anbiya 21:44)
Ayat QS. Al Anbiya ayat 44 menunjukkan bahwasannya dengan kemurahanNya, Allah SWT memberikan anugerahnya berupa kenikmatan dunia dan umur panjang pada bapak-bapak mereka dan mereka, namun sayangnya mereka (yang dianugerahkan kenikmatan dunia) lalai akan kenikmatan yang Allah berikan dan mereka mengingkarinya serta durhaka pada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Negeri yang mayoritas pendudukkanya kafir itu dianugerahi tanah yang luas, namun karena kedurhakaannya, Allah kurangi luas negerinya melalui penaklukan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para Sohabat. Lalu apakah mereka mengira bahwa mereka akan menang?. Tidak, kemenangan Allah anugerahkan pada Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan kaum muslimin yang beriman. Demikianlah cara Allah SWT mengurangi luas tanah yang dimiliki kaum kafir, yakni melalui penaklukan atas orang-orang muslim.

قُلْ إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلْوَحْىِ ۚ وَلَا يَسْمَعُ ٱلصُّمُّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا مَا يُنذَرُونَ
Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan" (Al-Anbiya 21:45)  
Ayat tersebut (QS. Al Anbiya 45) mengkaji bahwasannya Nabi Muhammad SAW adalah seorang utusan yang tugasnya menyampaikan wahyu yang ia terima untuk disampaikan pada ummatnya. Wahyu itu dari Allah SWT, bukan dari diri Nabi Muhammad SAW. Dikarenakan kaum kafir Makah tidak mengindahkan seruan ajakan dari Nabi Muhammad SAW, maka mereka disamakan dengan orang-orang yang tuli (orang yang tidak mendengarkan peringatan-peringatan yang Rosulullah SAW sampaikan).
*****
Kaum muslimin-muslimat yang dirahmati Allah SWT…J
Berdasarkan penjelasan tafsir QS. Al Anbiya ayat 41-45 di atas memberikan hikmah pada kita agar kita senantiasa bersikap rendah hati, tidak menyombongkan diri dan senantiasa taat pada perintah Allah SAW serta menjauhi segala larangan Allah SWT. Janganlah kita mendurhakai peringatan yang disampaikan oleh utusan Allah (Nabi Muhammad SAW) sehingga mendatangkan murkanya Allah SWT yang mengakibatkan Allah SWT menurunkan ahzabnya (siksanya) pada kaum yang durhaka. Begitu banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah-kisah ummat terdahulu yang binasa karena mendurhakai para utusan Allah SWT seperti kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Luth, kaum Madyan, dan kaum nabi lainnya yang mendurhakai Nabi. Sungguh, janganlah kita berlaku sombong, sebab tatkala kesombongan bertasbih maka kehancuranpun menanti. Allah tidak menyukai hamba yang sombong. Dan janganlah kita berpura-pura tuli (tidak mengindahkan ajakan/ seruan para Rosul).  
*****
UCAPAN TERIMAKASIH
Sebagai rasa takdim penulis, penulis ucapkan terimakasih pada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh PP. Khozinatul Ulum sekaligus guru yang mengampu dalam kajian kitab Tafsir Qur’an. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmadNya kepada beliau, memberikan nikmat panjang umur, melimpahkan rizkinya, dan memuliakannya sebagai golongan orang-orang beruntung. Semoga Allah swt senantiasa memuliakan para guru penulis, memberikan rahmad dan kasihNya sebab melalui perantara gurulah seorang murid dapat memahami suatu ilmu hingga dapat mengamalkannya. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.                  
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email. halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.   

REFERENSI:   
Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al Mahali. Tafsir Qur’anul Adhim. Bab 2. Lil Imam Abi Abdullah bin Hazem. Surat Al Anbiya ayat 41-45. Halaman 31.