HALIMAH BINTI MASDARI

Sabtu, 22 April 2017

HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
(Jodoh Pasti Bertemu dan Bertamu)


God had created you in pair since you weren’t born. And it was written in Lauh Mahfuds”
Jodoh di tangan Tuhan?. Percayakah?. Iya, jodoh adalah kuasa Allah SWT. Bisa jadi jodoh kita adalah kekasih kita (orang yang kita cintai dan mencintai kita), kawan kita, atau bahkan orang yang baru kita kenal namun ia sudah berani mengkhitbah dan menikahi kita. Well…meskipun jodoh di tangan Tuhan, manusia dianjurkan untuk berikhtiar dalam menjemput datangnya jodoh karena jodoh tidak turun dari langit seperti: menjemput jodoh dengan memantaskan diri menjadi lebih baik, meminta biro jodoh untuk membantu menemukan jodoh kita, meminta kiahi untuk membantu menemukan jodoh kita, dan lain sebagainya terpenting menggunakan jalur HALAL dan TOYYIB.
Berbicara tentang jodoh (suami idaman/ istri idaman), tentu tiap orang memiliki kriterianya masing-masing. Sebagaimana yang disampaikan oleh baginda Rosulullah SAW bahwasannya ada 4 faktor yang menjadi penyebab seseorang jatuh cinta dan menjalin suatu hubungan pernikahan diantaranya: 1) faktor ketampanan/ kecantikan fisik, 2) faktor kekayaan harta, 3) faktor agama, dan 4) faktor keturunan/ nasab. Dan yang paling bagus adalah apabila kamu menikah atas dasar agama. Awalnya Halimah bersikukuh untuk nikah di usia 25, namun seiring berjalannya waktu justru Halimah menyadari bahwa menikah itu penting untuk menjaga kehormatan wanita dari godaan lelaki tak beretika. Saat ini usia Halimah tepat 23 tahun, semoga atas izin Allah…jodoh Halimah segera Allah pertemukan. Seperti halnya orang pada umumnya, Halimahpun memiliki kriteria dalam mencintai seseorang (bisa menerimanya sebagai pasangan hidup/ suami): 
1.      Beragama islam dan beraliran ahlusunah wal jama’ah (lebih tepatnya Nahdlatul Ulama)
Mengapa halimah memilih demikian? Karena seorang muslimah menikah dengan yang berbeda agama sama halnya berzina (Di dalam islam, pernikahan beda agama itu tidak ada, kalau menikah sama halnya berzina. Jadi harus ada salah satu yang mengalah, masuk islam semua lalu menikah atau sebaliknya). Mengapa Halimah memilih Aswaja NU? Karena orangtua Halimah hanya meridhoi bila Halimah menikah dengan yang semadzab atau sepemikiran. Guru Bapak Halimah (KH. Maemun Zubair) sangat menganjurkan atau mewanti-wanti agar muslimah NU dapat muslim NU, bukan wahabi. Karena ridho Allah bersama ridho orangtua maka Halimah taat.. Bukan karena apa melainkan karena ingin menggapai ridhoNya melalui ridho orangtua.
2.      Lelaki yang berakhlak mulia (kalem, lemah lembut, penyayang).
Mengapa halimah memprioritaskan akhlak setelah agama? Karena lelaki yang kalem, lemah lembut dan penyayang in syaallah ia akan memperlakukan Halimah dengan mulia. Bahkan Halimah tidak peduli, sekalipun yang menikahi Halimah lulusan SMK/SMA bila akhlaknya bagus dan ia bisa membimbing Halimah (membimbing dengan kalem, lemah lembut dan penuh kasih sayang) in syaallah Halimah menerimanya selama dia bisa membuat Halimah merasa nyaman. Halimah menginginkan pernikahan hanya sekali dalam seumur hidup Halimah, dan Halimah ingin mengabdikan hidup Halimah pada suami Halimah untuk mencari ridho Allah SWT.
Di samping itu, alasan lain mengapa Halimah memilih lelaki yang kalem, lemah lembut lagi penyayang karena Halimah sering menjumpai kasus kekerasan dalam rumah tangga bahkan ada yang berujung pada perceraian. Menengok dari kasus kawan Halimah, menikah seumur jagung harus berakhir cerai karena suaminya tiap malam bermain wanita (selingkuh), suka menampar dll. Halimah tidak mau dengan lelaki yang kasar (suka berkata kasar/ misuh), lelaki yang keras (suka menyakiti fisik seperti: menampar, memukul, dll) serta lelaki yang suka main wanita (penyelingkuh). Biar dia sederhana asal akhlak mulia (kalem, lemah lembut, penyayang pada pasangan) in syaallah bahagia. Terlebih kebahagiaan adalah puncak keindahan, sebab kebahagiaan tidak ternilai dengan uang, sebab kebahagiaan tidak bisa dibeli melainkan kebahagiaan hanya bisa diciptakan.   
Bismillah semoga jodoh Halimah nanti adalah sosok yang kalem, lemah lembut, penyayang layaknya sifat penyayangnya Rosul pada Sayyidah Khodijah RA. In syallah pada suami, Halimah akan mengabdi layaknya sayyidah Muti’ah RA (yang disebut Nabi sebagai penghuni surga/ bidadari surga karena ketaatannya pada suaminya). Hal yang bakal Halimah lakukan pada suami Halimah nanti sebagaimana yang dicontohkan sayyidah Muti’ah RA diantaranya:                     
a.       Halimah akan berhias saat di hadapan suami/ menyambut kedatangan suami saat pulang kerja. Sehingga dengan pemandangan istri yang cantik dan indah akan membuatnya semakin cinta dan bersyukur.
b.      Halimah akan memasak untuknya, menyiapkan hidangan untuknya, melayaninya dengan kelembutan dan kasih sayang sebagaimana yang dicontohkan ummahatul mu’minin.
c.       Halimah akan menyiapkan handuk dan air untuk suami mandi.
d.      Halimah akan mencintainya setulus hati sebagaimana pengabdian Halimah pada suami layaknya yang dicontohkan para ummahatul mu’minin.
e.       Halimah akan menjadi Ibu yang baik untuk putra putrinya, mendidik putra putrinya akhlak (in syaallah duniawi dan ukhrawi diusahakan seimbang).
f.       Dll.
3.      Lelaki yang cerdas.
Lelaki yang cerdas di sini bukan berarti lelaki yang selalu ranking satu (juara kelas) semasa sekolahnya, bukan pula lelaki yang penuh dengan prestasi semasa pendidikannya. Kalau kog ternyata jodoh Halimah adalah orang yang berprestasi ya Alhamdulillah, berarti itu adalah bonus dari Allah SWT. Yang dimaksud cerdas di sini adalah lelaki yang pengetahuan agamanya lebih luas dari Halimah. Halimah sangat berharap dan bordoa semoga jodoh Halimah adalah alumni santri atau alumni santri mahasiswa. Semoga saja jodoh Halimah adalah alumni santri mahasiswa (umum dapet, agama dapet). Tapi yang semasa pendidikannya serius menuntut ilmu. Dengan demikian dia bisa membimbing dan menjadi imam yang baik untuk hidup Halimah. Biar biasa, sederhana asal penyabar, kalem, penuh syukur dan mengerti agama in syaallah bahagia.
Nah mengapa semasa sekolah Halimah selalu berusaha menjadi bintang kelas dan berprestasi? Demi Rabb, itu bukanlah untuk menyaingi suamiku nanti melainkan sebagai persiapanku untuk mendidik putra-putriku. Aku ingin memiliki putra-putri yang soleh solekhah lagi cerdas. Siti Aisyah RA (istri Rosulullah SAW) adalah wanita yang cerdas, Siti Maryam RA (ibunda Nabi Isa AS) adalah wanita yang cerdas, Siti Fatimah RA (istri Sayyidina Ali RA) adalah wanita yang cerdas, dan Siti Khodijah RA (istri Rosulullah SAW) adalah pemimpin wanita surga yang jua sangat cerdas semasa hidupnya. Karena Halimah sangat mencintai dan mengidolakan para ummatul mu’minin, maka Halimah ingin meniru jejaknya untuk menjadi wanita yang cerdas. Sebagaimana hasil penemuan ilmiah, bahwa kecerdasan anak diwariskan/ diturunkan dari kecerdasan Ibu. 70-80% kecerdasan anak didominasi oleh Ibu. Jadi kalau menginginkan anak yang cerdas, jadilah Ibu yang cerdas. Karena Halimah menginginkan suatu saat nanti ketika berkeluarga memiliki anak yang cerdas, maka Halimah akan berusaha menjadi wanita yang cerdas namun tetap tawadhu’ (rendah hati/ humble).
Bagi Halimah, menikah dengan siapapun itu tidak masalah selama dia bisa bikin Halimah merasa nyaman. Dan kenyamanan itu in syaallah terdapat pada laki-laki yang beragama islam dan beraklak mulia (kalem, penyabar, lemah lembut, dan penyayang). Kekayaan, kegantengan itu urusan belakang terpenting agama dan akhlak karena agama dan akhlak adalah prioritas.
4.      Lelaki yang bertanggungjawab
Yang dimaksud lelaki yang bertanggungjawab adalah lelaki yang sudah memiliki pekerjaan. Pekerjaan disini bukan berarti harus pekerjaan tetap seperti PNS, pekerjaan swastapun tak masalah terpenting pekerjaan itu HALAL dan TOYYIB. Mengapa harus lelaki yang sudah memiliki pekerjaan? Karena lelaki berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Masak iaya, menikah dengan pengangguran, mau dikasih makan apa anak orang hehe. Bukan seberapa besar gajinya atau seberapa hebat gajinya, terpenting memiliki pekerjaan yang HALAL lagi TOYYIB dan pekerjaan itu istiqomah.
In syallah Halimah akan memanage keuangan dengan baik. Halimah akan mensyukuri berapapun yang diberikan suami. Uang gaji suami yang diberikan Halimah akan Halimah gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga, kebutuhan pendidikan anak, dan ditabung serta sebagian disedekahkan pada yang membutuhkan ketika mendapatkan rizki lebih. Sebagaimana waktu kuliah, waktu kuliah Halimah mandiri (kuliah dengan beasiswa dan bekerja part time). Halimah membagi keuangan Halimah menjadi beberapa bagian: 1) untuk mencukupi kebutuhan primer Halimah sendiri, 2) untuk dikirim keluarga (semampunya saat ada rizki berlebih misal saat Halimah menang lomba ataupun saat Halimah gajian kerja, 3) untuk disodaqohkan pada yang membutuhkan (yatim piyatu, dhuafa, gelandangan) dan 4) untuk di tabung. Alhamdulillah kebutuhan halimah terhandle dengan baik dan semua tercukupi tanpa Halimah hutang. Selain itu di masa perkuliahan Halimah juga harus bisa membagi waktu: 1) prioritas utama belajar (kuliah), 2) bekerja (part time), 3) lomba, dan 4) berorganisasi. Alhamdulillah semua berjalan lancar…J
Ketika nanti Halimah berkeluarga, Halimah akan memprioritaskan keluarga (suami dan anak) di atas pekerjaan Halimah. Hal yang in syaallah bakal Halimah lakukan:
a.       Selama anak Halimah balita (bawah lima tahun), Halimah tidak mau menitipkan anak Halimah pada baby sister. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibu Ainun (istri Bapak BJ. Habibi), Halimah akan mendidik anak Halimah sendiri sebagai ibunya karena Halimah ingin memiliki kedekatan dan ikatan batin yang kuat dengan anak. Terlebih usia dini adalah golden period untuk mendidik anak.
b.      Bila suami Halimah meminta Halimah lebih baik di rumah saja mengurus suami, anak dan rumahtangga maka Halimahpun akan berhenti bekerja karena Halimah ingin mengabdi pada suami sebab ridho Allah bersamaan pada ridho suami bagi seorang istri. Sebagai gantinya, Halimah akan melakukan bisnis home made yang bisa dilakukan di rumah. Kan berkarya (bekerja) nggak harus di luar rumah, di rumahpun bisa sambil mengurus rumah tangga. Justru di rumah lebih aman, tidak sebahaya ketika di luar rumah. In syaallah selama kreativ, dimanapun bisa jadi solusi.
     
Mengapa Halimah pengen menikah dan segera dipertemukan jodohnya?
Hampir di setiap waktu dan seusai shalat Halimah selalu memohon agar Halimah segera dipertemukan dengan jodoh Halimah sesuai yang Halimah butuhkan. Halimah sadar, menikah itu sangat penting untuk menjaga kehormatan wanita. Setelah usia 23 tahun, Halimah berdoa agar Halimah segera dipertemukan jodohnya dan menikah. Awalnya Halimah pengen nikah di usia 25 tahun, tetapi setelah dipikir-pikir dengan matang. Menikah lebih cepat lebih baik terlebih usiaku sudah 23 tahun. Ada beberapa hal yang melandasiku mengapa aku selalu berdoa segera dipertemukan jodohku, terutama dipicu oleh beberapa hal:
1.      Seseorang berinisial R
Aku nggak tahu, seseorang berinisial R itu sangat mencintaiku, namun sayangnya ia agak saiko. R mencintaiku adalah haknya, tapi ia tidak bisa memaksakan cintanya padaku. Hal itu terjadi pada semester 2 kuliah. Entah dia tahu aku darimana, yang jelas aku kurang tahu dia. Semua social media aku dikepoin, ya nggak papa itu hak dia. Fine-fine aja…J. Tapi yang bikin aku risih dan illfeel, dia itu nelfon aku 6-10 kali dalam sehari, sangat menyebalkan. Bilang sayang sehari nggak keitung, aku nggak suka laki-laki tipikal kayak gini. Halal belum sudah main sayang-sayangan. Yang lebih menjengkelkan, tiap dia nelfon aku matikan, ditelfon lagi. Parahnya, dia nekad mau melamarku. Karena aku fokus pada pendidikanku, aku cuekin dia. Eh ternyata dicuekin nggak mempan, tiap hari ganggu terus, telfon terus, dimatikan eh nyala lagi dan begitu seterusnya. Nomor diblokir, dia ganti nomor dan balik nerror. Pokoknya mau nggak mau aku harus jadi miliknya.
Karena orangnya agak saiko dan nyeremin, aku nangis sesenggukan. Aku takut, jujur takut banget, mana ada cinta memaksa. Akhirnya ada sahabat aku yang nolong aku. Itu laki-laki (si R) yang nggak beretika di telfon temanku, dia (si R) dimarahin habis-habisan dan temanku mengaku sebagai pacarku untuk melindungiku. Just pura-pura hanya untuk membantuku. Alhamdulillah semenjak ia  (si R) di marahin temanku, dia nggak ganggu aku lagi…alhamdulillah lega…J. Ternyata pendidikan dan akhlak mempengaruhi cara seseorang mendekati wanita. Lelaki yang berpendidikan dan beretika pasti cara mendekati wanita yang dicintainya sopan, modusnyapun elegant. Aku lebih suka lelaki yang kalau cinta itu seperti di KCB (Ketika Cinta Bertasbih), hehe romantis, religius. Aku tuh pengennya seperti kisah Ali dan Fatimah. Jadi kalau cinta ya dijaga, nggak banyakan telfon nggak mutu. Kirimin surat cinta…terus suratnya puitis, romantis, apalagi kalau pakai bahasa inggris hehe. Lebih romantis. Aku suka tipikal yang romantis religius tapi beretika, kesannya unik hehe
2.      Si G
Si G ini adalah pengagum rahasiaku. Jadi dia selalu mencari tahu apapun tentangku baik prestasi, kepribadian dan tingkah lakuku. Seiring berjalannya waktu, kekagumannya itu berubah menjadi cinta. Ya nggak papa itu hak dia, silahkan-silahkan aja atuh selama tidak menggangguku it’s fine. Sampai suatu ketika, si G menyatakan perasaannya ke aku pada saat aku semester 6.
“Halimah, I love you so much, want you be my girlfriend?”, tanya si G.
“I am sorry, I can’t. I don’t do dating. Dating is forbidden in my religion (islam),” jawabku karena dia pakai bahasa inggris.
“Okay, if you don’t do dating. Can I marry you?,” balik si G nanya.
“I am sorry, I still continue my study and I focus on my study,” jawabku.
“Okay, I will wait you until you have graduated then I marry you,” kata si G yang membuat aku jantungan. Iki wong mekso banget sih…
“I am sorry, I can’t marry with someone whom I don’t love,” jawabku.
“Halimah, please accept my love. I love you so much. Don’t you take a pity to me. I am an orphan, I don’t have family and the one whom I love is only you. Please accept me. I promise that I will do whatever which you wanna ask for. I am a christiant and I will be a moeslem (mu’alaf), if you wanna be mine and you wanna accept my love. Please!,” pinta si G.
“You can be my friend but I am sorry that I can not be yours, I don’t love you. I can’t marry with someone whom I don’t love,” kataku lembut tapi tegas.
Tujuanku satu, karena waktu itu aku masih kuliah aku ya fokus kuliah sampai lulus. Aku menerimanya sebagai seorang teman, tidak lebih. Tapi lama-kelamaan ini orang ternyata agak saiko kayak si R, suka maksa. Lama-lama akupun jengkel. Masak tiap hari bilang sayang dan cinta walaupun kamu bukan pacarku, risih banget akunya. Apalagi kata Abah kan ndak boleh gitu. Apalagi dia beda agama, sudah pasti aku tidak bisa dengannya. Dia mu’alaf kan karena kalau cintanya aku terima, kalau aku tolak nggak mau masuk islam. Berarti pindah agama ke islam bukan karena Tuhan (mencari Tuhan/ lillahi ta’ala) melainkan karena wanita. Ya, aku nggak bisa. Lagian kan aku masih semester 6, ya sudah aku fokus kuliah. Karena dia sering menggangguku, chat-chat nggak jelas bukan untuk diskusi yang  bermanfaat atau meminta solusi/ konsultasi masalahnya tapi lebih ke chat-chat “aku sayang kamu, aku cinta kamu”…lama-lama makin risih akunya, akhirnya, aku blokir semua socmednya dan no HP nya karena kehadirannya mengganggu kenyamanan dan privasiku. Alhamdulillah lega…J. Si G ini anak Teknik Geodesi, tapi suka maksa. Temanku saja yang tahu aku dipaksa risih, apalagi aku yang dipaksa…jengkel.
Sekali lagi, cara lelaki beretika menyatakan cinta itu elegant seperti kisah Sayyidina Ali dan sayyidah Fatimah. Wanita ditanya cinta apa  kagak?, kalau juga mencintainya langsung dikhitbah (lamar) dan berlanjut menikah. Bukan maksa orang buat jadi pacarnya, bukan pula maksa buat dinikahinya. Emangnya barang dipaksa-paksa. Barang aja kalau dipaksa-paksa bisa pecah, apalagi hati manusia hehe.
3.      Si T
Si T ini adalah TNI. T menyatakan cinta ke aku, namun aku meminta waktu untuk menjawabnya. Aku memikirkan jangka panjang, kalau sama si T yang berprofesi sebagai TNI, kemungkinan besar kalau dia ditugaskan berperang atau menjaga keamanan negara maka aku akan ditinggalkannya. Terlebih banyak berita di TV yang memberitakan kematian TNI karena jatuh dari pesawat, karena perang, dll. Karena aku nggak mau jadi janda setelah nikah akhirnya kuputuskan untuk menolaknya. Menolakpun aku memilih bahasa yang lembut dan kalem agar dia bisa menerimanya dengan baik. Sebagaimana mimpiku yang telah kuungkapkan bahwa aku sangat ingin membangun keluarga madani yang berdasarkan qur’ani bersama suamiku. Biarpun dia sederhana, terpenting ia bisa membimbingku agama (mengajariku mengaji di malam hari) , lemah lembut, penyabar, penyayang, sehingga kami bisa hidup bahagia.
4.      Si A
Mas A ini adalah seorang dokter bedah lulusan dari UGM. Ia sudah berprofesi menjadi dokter dan dia serius mencari calon istri. Awalnya ketika dia menyatakan cinta dan menyampaikan keseriusannya akan menjadikanku sebagai istri, rasanya subhanallah senang sekali. Dipikirku, “waaah ya Allah ini cocok sekali profesinya, dia bisa kuajak pengabdian mengobati orang sakit yang berasal dari golongan ekonomi lemah dan tidak mampu berobat”. Akupun tertarik karena sevisi dan semisi dengannya. Namun Allah bukakan segalanya sebelum keseriusan menikah itu terjadi.
Kita sempat jujur-jujuran tentang masa lalu. Hal yang membuatku terkejut, mas A pernah nenen sama pacarnya dan memainkan payudara pacarnya. Akhirnya aku konsultasi ke dosenku, Bu E. Kata Bu E “Lelaki yang berani nenen dan memainkan payudara pacarnya, kemungkinan besar pernah ML. Lebih baik tidak usah dengannya”. Akirnya setelah pertimbangan matang dan saran dari dosenku, aku memohon maaf dan memutuskan hanya bisa menerimanya sebagai sahabat tidak bisa melanjutkan keseriusannya yang ingin menikahiku (menjadikanku seorang istri). Aku tak mau memiliki suami yang beriwayat ML atau yang porno, karena aku mau mengabdi totalitas ke suami dan aku tak menginginkan suami yang penyelingkuh. Sebagaimana yang diajarkan oleh guruku, menolak lebih terhormat daripada PHP (pemberi harapan palsu), tetapi tolaklah dengan ketegasan, kelembutan.
5.      Si H    
Si H adalah kawan sesama karyawan di perusahaan dimana aku bekerja. Kita hanya berbeda department. Aku dari R and D (Research and Development), sementara dia dari tim produksi. Aku tak tahu alasan dia mencintaiku, baru pertama kali kerja di situ dia melihatku terus. Setelah 3 hari kerja, aku ditembak dia. Jujur shock…kenal belum sudah ditembak. Kata dia, cintanya ke aku itu cinta pada pandangan pertama. Entah kenapa, ketika aku ditembak, hatiku bukan berbunga-bunga justru sedih dan dilanda ketakutan yang luar biasa. Aku tidur tidak nyenyak semalaman dan aku ketakutan. Akhirnya aku memutuskan memohon maaf dan menolak cintanya secara halus.
Aku tak bisa menerima cinta seseorang tanpa tahu akhlaknya dulu. Terlebih setelah kucaritahu ternyata dia jelalatan dan suka menggoda perempuan sebelum-sebelumnya. Aku tak mencintai lelaki yang jelalatan, genit ke wanita. Aku mencintai sosok yang pintar agama (syukur-syukur santri pondok pesantren atau santri mahasiswa), kalem, penyanyang ke wanita. Begitu aku tolak, aku tetap menjalin pertemanan dengan dia, toh menolakkku dengan cara baik-baik. Namun sayang, sikap dia tidak beretika. Tiap hari chat bilang “Aku sayang kamu walau kamu bukan pacarmu”, dengan bahasa yang disingkat-singkat alay. Aku risih…halal aja nggak, suami bukan…dengan mudahnya bilang sayang, mana itu  tiap hari. Kalau makhram sih okay…nah ini, sahabat perempuan bukan, makhram juga bukan. Akunya risih…akhirnya tiap dia chat tidak kubalas dan langsung ku delete.
Ditambah lagi dia yang cerita ke banyak karyawan di kantor kalau dia sangat mencintaiku bla-bla bla. Aku sangat malu. Bukankah dia bilang, jangan cerita siapapun ya kalau aku mencintaimu…preeet lah kog dia sendiri ember, sampai Pak HRD pun tahu kalau dia mencintaiku. Karena siapa? Karena dia cerita ke karyawati dan karyawati itu cerita ke Pak HRD. Malu lah saya. Ya sudah bodoh amat. Aku tidak suka dengan lelaki yang super alay, suka maksa, agresive, otoriter. Karena aku nolak dia, bahkan aku jadi bahan ironi terlebih aku karyawati baru, benar-benar ujian mental. Jadi teringat kisah film “Cinta Suci Zahrana”. Sabaaar Halimah, in syaallah nanti dipertemukan jodoh yang soleh, penyayang, berilmu dan berakhlak mulia. Aamiin.
*****
Berdasarkan hal tersebut (gangguan cinta dari lelaki agresive) sering membuatku ketakutan, kebingungan, bahkan menangis karena keagresifannya juga sifat suka maksa dan ngejar-ngejarnya. Oleh karena itu, sejak kejadian-kejadian itu, terlebih usiaku sudah 23 tahun. Aku memohon kepada Allah agar aku segera dipertemukan jodohku yang baik untuk duniaku juga akheratku agar semakin bertambah bersyukurlah aku. Pernikahan in syallah lebih baik bagiku untuk menjaga kehormatanku.
Ya Rabb…
Di atas rasa rojak
Kabulkanlah asa dan harapanku
Petemukanlah aku dengan lelaki yang soleh
Lelaki yang berilmu lagi berakhlak mulia
Lelaki yang membimbing duniaku lagi akheratku
Ya Allah ya rabb…
Pertemukanlah aku dengan jodohku..
Pertemukanlah kami dalam ikatan tali yang halal (pernikahan)
Hanya dengan menikahlah yang dapat menolongku dari zina
Entah itu maksiyat mata karena memandang lawan jenis
Maksiyat hati yang tiada tenang karena ketakutan…
Tolonglah hambaMu dan jagalah kehormatanku ya Rabb…
Sebab tiada yang dapat menjagaku kecuali Engkau
Lindungilah aku ya Rabb…
Sebab tiada pelindung selain Engkau ya Rabb…
Duhai Rabb semesta alam..
Tiada Tuhan kecuali Engkau ya Allah…
Selamatkanlah aku dari fitnah dunia, jagalah kehormatan dan kesucianku
Bimbinglah aku menuju ridhoMu
Pertemukanlah dan satukanlah aku dengan seseorang yang membawaku semakin dekat denganMu                                    


    

Tidak ada komentar :