HALIMAH BINTI MASDARI

Kamis, 22 Desember 2016

ASH-HAABUL UKHDUUD

ASH-HAABUL UKHDUUD
*****

            Di sebuah istana kerajaan, hiduplah seorang raja yang dzalim lagi kafir yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Sang raja melakukan tipu daya agar rakyatnya menyembahnya dengan bantuan sihir si penyihir kerajaan. Suatu hari, terjadilah diskusi antara sang raja dan penyihir tua kerajaan. Penyihir kerajaan merasa usianya telah tua, dan tibalah ia menanti hari kematiannya dari waktu ke waktu.
            “Usiaku telah tua, dan aku sudah dekat akan kematian,” kata penyihir tua kerajaan.
            “Lalu apa yang harus aku lakukan, wahai penyihir? Aku tak bisa melakukan tipu daya tanpamu. Sesungguhnya di negeri ini para manusia itu menyembahku karena jasa sihirmu,” tanya Sang Raja.
            “Paduka, sesungguhnya aku telah menginjak akhir usia dan kesehatanku melemah. Menurut pendapatku, engkau harus memilihkan seorang anak kecil untukku, dan aku akan  mengajarkan sihir kepadanya, sehingga dia bisa menjadi penyihirmu. Jika aku mati, sihirku tidak akan mati dan orang-orang tetap akan menjadi budakmu,” jawab penyihir kerajaan.
            Raja menyetujui itu, kemudian memerintah para kaki tangannya untuk memilihkan anak terpintar di kerajaannya untuk menjadi penyihir barunya. Merekapun memilih “Abdullah bin Tamir”, seorang anak yang paling cerdas di kota itu.
            Abdullah berangkat ke rumah sang penyihir pada hari pertama dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, karena dia telah mendapatkan karunia itu. Sekarang pakaiannya baru dan hartanyapun banyak. Dia akan menjadi penyihir raja, Tuhan yang ditakuti oleh manusia, dan diapun akan menjadi orang yang paling terkenal di kerajaan itu setelah raja, bahkan orang yang terkaya setelah raja. Dia akan dapat mewujudkan semua yang dia inginkan. Pelajaran sihir pun kemudian dimulai.  
*****
            Perjalanan dari rumah Abdullah ke rumah penyihir cukup jauh dan memakan waktu lama, sehingga terkadang dia duduk untuk beristirahat karena kelelahan menempuh perjalanan. Setiap kali perjalanan menuju rumah penyihir, Abdullah selalu melewati sebuah gua kecil di perjalanan. Setiap kali pula, ia mendengar suara syaikh tua yang menyeru: “Wahai Dzat Yang Hidup Kekal, wahai dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, wahai Dzat yang menciptakan langit dan bumi.”
            Abdullah kecil tak berani masuk ke dalam gua karena takut kepada penghuninya, yaitu syeikh tua. Namun demikian, gema dari ucapan itu terus terngiang di telingannya, “Wahai Dzat yang hidup kekal, wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhlukNya”.
            Abdullah kemudian sampai di rumah penyihir, dan penyihir  pun mulai memberikan pelajaran sihir kepadanya. Namun penyihir mengetahui bahwa anak itu tersibukkan oleh sesuatu.
            “Apa yang terjadi padamu, wahai penyihir kecil?,” tanya penyihir tua kerajaan.
            “Tuan, sesungguhnya hari ini aku mendengar beberapa kalimat yang menyibukkan aku dari segala sesuatu,” jawab Abdullah bin Tamir.
`           “Kalimat apa itu,” tanya penyihir tua.
         “Siapakah Dzat yang kekal dan terus menerus mengurusi makhluk-Nya? Siapa Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi?,” tanya Abdullah.
            “Berhati-hatilah mengucapkan perkataan itu, sebab kita semua adalah hamba bagi sang raja. Sesungguhnya kamu adalah seorang penyihir raja, maka pelajarilah sihir yang dapat membuat semua manusia menjadi pembantumu dan kamu akan menjadi orang terkaya di kerajaan ini, bahkan di seluruh dunia,” kata Penyihir tua kerajaan.
            Abdullah terdiam dan kembali mempelajari sihir lagi. Namun kali ini dia mencermati bahwa sihir yang dia pelajari tak lain hanyalah sulap dan tipuan mata, hanya sebuah tipuan yang mengelabui pandangan mata tanpa ada kenyataannya. Bahkan apa yang diterimanya hanyalah halusinasi dan ilusi belaka.
            Sementara itu, suara syeikh tua masih terus terngiang di telinganya: “Wahai Dzat yang hidup kekal, wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya”.
                                                                         *****                                            
       Telur yang ia sembunyikan di balik salah satu lengan baju atau saku “Abdullah”, dia keluarkan dari lengan baju atau saku lainnya, lalu ia menyemburkan api dari mulut, kemudian memadamkannya kembali: dan ada pula yang berupa mantera-mantera yang tidak mengandung hal yang bermanfaat sama sekali.
            Itulah yang diajarkan sang penyihir raja kepada “Abdullah”, sehingga dia merasa dirinya tak lebih dari seorang pelayan raja, sedang raja itu sendiri tak lebih dari manusia lemah yang tidak memiliki kemanfaatan atau kemudharatan apa pun terhadap siapapun. Bahkan dia adalah orang yang selalu memerlukan makanan ketika lapar, memerlukan air ketika haus, dan memerlukan obat ketika sakit. Oh, alangkah besar ketertipuan yang telah dijalani penduduk kerajaan tersebut.
            Ketika Abdullah dalam perjalanan menuju rumah sang penyihir, tiba-tiba dia mendengar suara itu lagi: “Wahai Dzat yang hidup kekal, wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya”.
         Abdullah kecil kemudian memaksakan diri masuk ke dalam gua, hingga dia berada di dalamnya dan menemukan seorang kakek tua yang sedang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya seraya mengatakan: “Wahai Tuhanku, Dzat yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya….Tuhan langit dan bumi. Engkaulah yang patut disembah, tidak ada Tuhan selain-Mu, Engkaulah Tuhan pemilik alam semesta, tidak ada tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau dan Engkau Mahatinggi. Arsy-Mu di atas langit, wahai Dzat yang Maha Penyayang. Maka ampunilah aku dan kasihanilah aku”.  
            Abdullah tidak menyadari dirinya, kecuali saat air matanya menetes di kedua pipinya bak mutiara yang berjatuhan. Tiba-tiba tanpa sadar, lidahnya mengatakan: “Aku beriman kepada Dzat yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya”. 
            Ketika itulah syeikh tua itu tersadar seraya bertanya: “Siapa kamu, wahai anak kecil?”
            “Aku Abdullah bin Tamir, penyihir kecil Raja”.
            “Bagaimana engkau bisa masuk ke sini?”.
        “Aku mendengarmu memanggil Tuhanmu yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan ucapanmu itu mengejutkanku”.
            “Duhai anakkku, sesungguhnya Allah adalah penciptaku, penciptamu, dan pencipta raja yang mengklaim dan mengaku secara bohong bahwa dirinya adalah tuhan selain Allah.”
            “Allah?. Oh, itu Tuhan yang Agung. Aku pernah mendengar kata-katamu itu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana cara agar aku dapat menyembah Allah?,” kata Abdullah.
            Syeikh tua itu kemudian mengajari Abdullah bagaimana cara menyembah Allah dan bertasbih kepad Tuhannya. Maka menangislah mata si Abdullah kecil karena keimanannya, yang mengungguli keimanan orang-orang dewasa yang kafir terhadap Allah.
       Ketika itulah syeikh tua itu berkata: “Wahai Abdullah, janganlah kamu menunjukkan keberadaanku kepada orang lain dan sembunyikanlah keimananmu dari mereka, sebab jika raja mengetahui keadaanmu, niscaya dia akan membunuhku dan membunuhmu. Sehingga keimanan di muka bumi ini akan lenyap”.
            “Aku mematuhimu Syeikh, engkau telah menunjukkanku pada Allah, Dzat yang Maha Esa lagi Tunggal,” kata Abdullah kemudian pergi.
*****
            Abdullah tidak lagi peduli terhadap pelajaran sihir yang dia pelajari dari sang penyihir, sebab dia tahu bahwa penyihir itu adalah orang yang banyak berdusta, sedangkan segala sesuatu yang dusta akan segera terbuka di hadapan orang lain, sekalipun pelakunya seorang anak kecil atau orang fakir seperti dirinya.
            Sejak Abdullah beriman kepada Allah, yang terpenting dalam kehidupannya adalah pergi ke gua tempat syeikh tua itu, untuk mendengarkan tasbih dan alunan suara pujiannya, juga belajar kepadanya tentang bagaimana dia mendendangkan tasbih di waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itulah, Abdullah sering terlambat datang ke rumah penyihir.
            Jika Abdullah pergi ke rumah sang penyihir, maka penyihir itu memukulnya karena terlambat, dan jika ia kembali ke rumahnya, maka keluarganya memukulnya karena terlambat. Dengan demikian, si kecil itu berada di antara dua hal, dimana yang paling manis di antara keduanya adalah yang paling pahit akibatnya.
       Abdullah kemudian menceritakan persoalannya, syeikh berkata memberinya nasehat: “Apabila penyihir bertanya kepadamu mengapa kamu terlambat, jawablah bahwa keluargaku menahanku. Jika keluargamu bertanya, jawablah bahwa penyihir menahanku.” 
            Karena jarak antara rumah penyihir dan rumah Abdullah jauh. Sang penyihirpun percaya atas apa yang abdullah katakan dan tidak menanyakan kepada keluarganya. Keluarga Abdullah juga percaya atas apa yang Abdullah katakan dan tidak menanyakan kepada sang penyihir. Dengan demikian, Abdullah terlepas dari kekejaman sang penyihir, juga siksaan keluarganya.
            Ketika Abdullah sedang menyusuri perjalanannya pada suatu hari, tiba-tiba dia melihat desak-desakan manusia. Dia kemudian mendekat, ternyata dia melihat monster menutupi jalan, sehingga tidak ada seorangpun  yang bisa melompat atau melewatinya. Abdullahpun memungut sebutir kerikil dari tanah, lantas berkata: “Sekarang aku dapat mengetahui, apakah syeikh tua yang lebih Allah cintai ataukah penyihir raja”. Dia kemudian berkata: “Ya Allah, jika syeikh tua yang lebih engkau cintai daripada penyihir, maka jauhkanlah hewan ini dari jalan”.  
        Abdullah kemudian melemparkan kerikil itu, dan ternyata monster itu pergi dan tidak lagi menutupi jalan. Abdullah kemudian meneruskan perjalanannya menuju syeikh tua, sedang keimanan telah memenuhi relung hatinya. Dia kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya kepada sang syeikh tua.
            Syeikh tua berkata: “Duhai anakku, sekarang kamu lebih baik daripada aku dan sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepadamu. Jika kamu mendapat cobaan, janganlah engkau tunjukkan tentang keberadaanku kepada pihak yang menyiksamu.”
            Kedua orang itu kemudian larut dalam shalat yang panjang dan do’a kepada Allah.
*****
            Raja memiliki saudara sepupu yang buta sejak kecil. Oleh karena itulah, dia sangat sedih atas nasib yang dialaminya. Dia selalu mencari dokter yang bisa mengembalikan penglihatan yang telah hilang itu, agar sepupunya dapat melihat seperti manusia yang lain.
          Para tabib telah didatangkan, namun tidak seorangpun mampu mengembalikan penglihatannya. Meskipun si buta ini memiliki kekayaan, namun harta itu tidak dapat membahagiakannya dan tidak pula dapat mengembalikan penglihatannya.
            Selanjutnya sepupu raja kedatangan seseorang yang menyampaikan kabar baik kepadanya, bahwa ada seorang tabib di suatu kota yang telah dikunjungi banyak orang, kemudian setiap orang yang berpenyakit itu sembuh, sehingga semua orang mengira bahwa sang tabib memiliki kemampuan untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Si buta kemudian menyiapkan berbagai hadiah dan harta, lalu berangkatlah ia menemui sang tabib yang mujarab itu, yang mampu membuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan tabib-tabib yang lain.
        Sampailah si buta dan orang-orang yang bersamanya di rumah sang tabib, dan mereka mendapati antrean pasien yang cukup panjang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Mereka kemudian meminta izin untuk menemui sang tabib, ternyata mereka dikejutkan dengan sebuah kejutan. Ternyata tabib tersebut adalah Abdullah bin Tamir sendiri, penyihir raja yang kini telah menjadi sosok yang lebih terkenal daripada semua orang, bahkan dari raja itu sendiri.
            Si buta kemudian menawarkan harta dan hadiah kepada Abdullah bin Tamir agar dia mau mengembalikan penglihatannya. Namun Abdullah berkata: “Aku tidak mengambil upah dan aku tidak memerlukan harta. Aku hanya perlu kamu beriman kepada Allah semata.”
             Si buta bertanya: “Siapa itu Allah?”.
            Abdullah menjawab: “Allah adalah Dzat yang akan menyembuhkanmu dari penyakitmu jika aku berdoa kepada-Nya untukmu.”
            “Bagaimana dengan raja, bukankah raja itu Tuhan?.”
          “Apakah raja dapat menyembuhkanmu? Dia adalah hamba, aku adalah hamba, kamu adalah hamba, dan kita semua adalah hamba.”
     Abdullah kemudian mengusap mata si buta dengan kedua tangannya, kemudian Allah menyembuhkannya dan mengembalikan penglihatannya.
            Si buta pun berkata: “Aku beriman kepada Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah.”
         Abdullah kecil yang tumbuh dewasa dan telah menjadi tabib itu pun berkata: “Janganlah kamu memberitahukan perihalku kepada sang raja, karena dia pasti akan membunuhku dan juga kamu.”
            Si buta kemudian keluar dalam keadaaan sehat, dapat melihat, dan dapat berjalan tanpa perlu orang lain untuk menuntunnya. Dia telah beriman kepada Allah setelah kafir kepada-Nya. Dia menyembunyikan keimanannya, meskipun terhadap anak-anak dan istrinya.
*****
            Salah seorang pengawal datang menemui sepupu sang raja. Pengawal itu kemudian berkata: “Raja ingin bertemu denganmu!”
      Dia kemudian berangkat bersama sang pengawal, tanpa memerlukan seorangpun yang menuntunnya membimbingnya berjalan. Ketika dia telah menemui raja, raja sangat terkejut melihat keadaaanya dan dia berkata: “Selamat buat sepupuku yang sudah dapat melihat kembali.”
            Keponakan raja pun menjawab: “Segala puji bagi Allah atas segala hal itu.” 
         Raja langsung marah dan berkata: “Allah, apakah kamu memuji Allah di kerajaan dan istanaku? Apakah kamu percaya kepada Allah?.”
       “Ya, aku percaya kepada Allah yang telah menyembuhkanku dan mengembalikan penglihatanku, wahai raja.”
            “Apakah ada Tuhan selain diriku yang disembah di kerajaanku ini, selain diriku?.”
            “Bahkan semua orang adalah hamba di kerajaan Allah, wahai Raja.’
       Raja kemudian marah dan memanggil para pengawal. Mereka (raja dan para pengawal) kemudian menyiksa sepupu raja hingga dia menunjukkan kepada mereka keberadaan Abdullah. Mereka pun mendatangkan Abdullah dan menyiksanya hingga Abdullah menunjukkan keberadaan syeikh tua. Ketiga orang itu kemudian dihadapkan kepada raja yang lalim itu. Raja kemudian mengikat ketiga orang itu dengan rantai besi.
            Raja berkata: “Ingkarilah Allah!, jika tidak, aku akan membunuh kalian.”
           Sepupu raja yang pernah buta itu menjawab: “Aku tidak akan pernah menyembah selain Allah, dan aku tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
        Para prajurit kemudian membunuh sepupu raja, yaitu dengan cara menggergajinya dengan sebuah gergaji hingga tubuhnya menjadi dua bagian. Mereka kemudian berkata kepada syeikh tua: “Ingkarilah Allah. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang telah kami lakukan kepada si buta itu.’
            Namun steikh tua itu tetap teguh atas keimanannya sehingga mereka membelah tubuhnya dengan gergaji sampai menjadi dua bagian.
            Sekarang tiba giliran “Abdullah”. Mereka berkata kepadanya: “Ingkarilah Allah! Jika tidak, kamu akan jadi seperti mereka.”
            Abdullah menjawab: “Allah adalah Tuhanku, dan aku tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun”.
            Mereka kemudian meletakkan gergaji di atas kepala Abdullah dan hendak membunuhnya. Merekapun mencoba membunuhnya dengan pedang, namun Abdullah tak jua dapat dibunuh, kemudian mereka mencoba membunuhnya dengan panah, anak panah, dan pisau, namun mereka tetap tidak berhasil. Raja tertegun bingung di hadapan Abdullah. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
*****
“Ya Allah, hindarkanlah mereka dariku dengan sesuatu yang Engkau kehendaki.”
            Demikianlah do’a si anak kecil itu saat dia berada di puncak bukit yang tinggi bersama kedua orang pengawal yang akan melemparkannya dari atas bukit supaya dia mati, setelah semua cara dan upaya untuk membunuhnya gagal.
            Allah kemudian mengabulkan do’a Abdullah itu, lalu mendadak  bukit itu berguncang dan para pengawal itu terjatuh dari ketinggiannya dan mati seketika itu juga, sedang Abdullah masih tetap hidup.
            Selanjutnya ia (Abdullah) kembali kepada raja untuk menyerunya kepada Allah, sehingga raja pun menjadi semakin berang. Raja memerintahkan para tentaranya untuk meletakkan Abdullah di sampan dan membawanya ke laut, kemudian dilemparkan di sana agar mati tenggelam. Di tengah gelombang yang dahsyat, suara Abdullah melengking memanggil Tuhannya.  
              “Ya Allah, hindarkanlah mereka dariku dengan sesuatu yang Engkau kehendaki”.
            Sampan itu kemudian terbalik dan Abdullah selamat dari tenggelam, kemudian dia kembali kepada raja dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah dapat membunuhku, kecuali jika kamu melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.’
              Raja berkata: “Apa yang kamu perintahkan kepadaku?.”
            Abdullah menjawab: “Kumpulkanlah semua orang di lapangan yang luas, kemudian ikatlah aku di atas batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tabung anak panahku dan letakkanlah ia di busurnya, kemudian katakanlah: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini. Jika kamu melepaskan anak panah itu, niscaya kamu dapat membunuhku”.
            Raja pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah agar dia dapat menghabisinya.
            Tak lama penduduk kerajaan itu pun berkumpul di sebuah dataran tinggi, kemudian mereka melihat Abdullah terikat di sebuah pohon. Ternyata raja memegang tabung anak panah Abdullah, kemudian mengeluarkan satu anak panah darinya. Semua orang terdiam dan suara raja terdengar keras mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini”.
        Seketika dia melepaskan anak panah itu hingga mengenai kening “Abdullah”, maka Abdullahpun mati secara Syahid. Penduduk kerajaan kemudian sadar bahwa raja mereka tidak dapat membunuh anak itu, kecuali setelah dia mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini”. Mereka semua kemudian berteriak: “Kami beriman kepada Allah, Tuhan anak itu.”
            Tubuh Abdullah memang telah mati, namun do’a dan keimanannya tetap kekal. Rajapun menjadi bingung, sebab semua orang di kerajaannya telah menjadi penyembah Allah, bukan penyembah dirinya seperti dahulu. Dia (raja) kemudian memerintahkan untuk menggali parit yang besar. Setelah itu, dia (raja) memerintahkan para pengawal untuk menyalakan api, maka api yang besarpun dinyalakan. Satu demi satu, kemudian mereka membawa orang-orang mukmin itu. Para tentara pun menyeru: “Apakah kamu akan mengingkari Allah ataukah kami akan melemparkanmu ke dalam parit berapi?”.  
            Tidak ada seorangpun dari orang-orang mukmin itu, kecuali mereka dibakarnya di dalam parit tersebut, hingga yang tersisa hanyalah seorang wanita yang menggendong bayi di kedua tangannya. Mereka mengambil bayi itu dan berkata: “Apakah kamu memilih untuk mengingkari dari beriman kepada Allah? Jika tidak, kami akan membakar bayi kecilmu ini.” 
            Sang Ibu kemudian menatap bayinya dan ingin mengatakan perkataan kafir, namun Allah menghendaki dia tidak menjadi kafir sehingga bayi itu dapat berkata: “Ibu bersabarlah, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran yang nyata.”
            Sang ibu pun menolak kekafiran dan hanya meridhoi keimanan. Maka bayi itu dilemparkan ke parit berapi, setelah itu sang ibu dari bayi tersebut pun dilemparkan ke dalam parit berapi itu. Setelah itu, araja dan para tentaranya akan mendapatkan siksaan yang amat pedih di hari kiamat nanti.   
            “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka ahdzab Jahannam dan bagi mereka ahdzab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj (85): 4-10).

Hikmah yang dapat dipetik:
  1. Berimanlah kepada Allah SWT kapanpun dan  dimanapun kau berada, baik dalam kondisi lapang maupun susah. Sesungguhnya iman kepada Allah itu lebih kuat dari segala sesuatu. Allah akan senantiasa menolong hamba yang mencintaiNya, beriman padaNya, dan rela berkorban demi agamaNya.
  2. Sihir atau sulap adalah salah satu tipu muslihat yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemudharatan melainkan hanyalah tipu belaka.
  3. Penyihir adalah manusia yang mempersekutukan Allah dan patuh terhadap syetan. Maka jangan sekali-kali engkau persekutukan Allah dengan sesuatu apapun, sebab tiada Tuhan kecuali Allah. Dialah Allah, Dzat Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya, Dzat yang bisa menyembuhkanmu ketika sakit, Dzat yang menghidupkan lagi mematikan.
  4. Allah akan senantiasa memelihara hamba-hambaNya yang beriman.  

TUJUAN PENULISAN KISAH ASH-HABUL UKHDUD
Kisah ini ditulis agar menginspirasi para pembaca untuk senantiasa beriman, tetap menjaga imannya baik dalam kondisi susah maupun lapang. Semoga kisah ini bermanfaat dan semakin memperteguh iman dan keyakinan kita kepada Allah SWT. Tiada kekuatan kecuali dari Allah, tiada Tuhan kecuali Allah. Dialah Tuhan seluruh alam yang menciptakan langit dan bumi, yang terus menerus mengurusi makhluk-makhlukNya.    

REFERENSI:
Ath-Thahir, Hamid A. 2006. Kisah-Kisah dalam Al Qur’an untuk Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam.               
           
           
           



Tidak ada komentar :