HALIMAH BINTI MASDARI

Senin, 19 Desember 2016

PERNIKAHAN IDAMAN BERBASIS AJARAN ROSUL

PERNIKAHAN IDAMAN BERBASIS AJARAN ROSUL            
*****
Membangun Keluarga Qur’ani
(Sakinah, Mawaddah, Warrohmah)  
*****

          Pernikahan, siapa sih yang tidak menginginkan pernikahan?. Terutama bagi remaja yang berusia 20-30 an, pernikahan adalah hal yang diimpi-impikan. Setiap orang memiliki konsep tentang bagaimana pesta/ perayaan pernikahannya. Sebagaimana, normalnya manusia, Halimahpun sama. Bahkan aku sudah memikirkan itu sejak kelas V (lima) SD. Bila Sandra Dewi menginginkan pernikahannya di Disneyland, bila Chelsie Olivia mengonsep pernikahannya bak cinderella, bila Oki Setiana Dewi mengonsep pernikahannya bak Barbie muslimah, dan lain sebagainya.
            Hal ini berbeda dengan Halimah, mungkin pemikiran ini akan terdengar asing bahkan aneh. Halimah memang tak ingin tergesa-gesa menikah, in syaallah menikah di usia 24 tahun atau 25 tahun adalah impianku. Usia tepat matang organ reproduksi dan kesiapan mental. Terlebih tepat di usia 25 tahun adalah usia matang dimana Rosulullah SAW menikah. Bahkan ini adalah bagian nadzarku sejak kelas V (lima) SD. Sebelum aku memutuskan pemikiran itu, aku telah melakukan berbagai pengamatan atau survey terkait konsep pernikahan. Berdasarkan survey hasil pengamatan:
1.      Pesta pernikahan tak lebih dari ajang bisnis
Banyak pesta pernikahan dengan tujuan untuk memperoleh laba, tak ubah dari sebuah bisnis. Tak heran, tamu yang di undang dari kalangan middle class ke atas, dengan harapan uang sumbangan yang diberikan berjumlah besar, dengan demikian si pemilik hajat memperoleh untung yang lebih besar. Banyak yang mengadakan pesta besar-besaran melebihi kemampuannya, walaupun bon hutang (karena biaya pesta pernikahan yang mahal) menumpuk. Tak jarang, hasil sumbangan tak sesuai yang diharapkan (uang hasil pesta lebih kecil dari modal yang dikeluarkan untuk mengadakan perayaan pesta pernikahan) setelah menikah malah dibebani bon hutang. Sebagian dari mereka tak jarang merantau hingga ke luar pulau (Misal dari Jawa merantau ke Sumatra  dengan tujuan kerja merantau untuk melunasi hutang), kan sangat miris.
Solusi yang saya tawarkan adalah:
Jadikan pesta pernikahan sederhana saja sesuaikan kemampuan kita, tak usah ngoyo hanya karena mengharap pujian manusia. Kan sangat miris, usai nikah yang harusnya memulai membangun qur’ani justru dibebani bon hutang pesta pernikahan…hehe. Mengadakan pesta sesuai kemampuan saja, kalau memang kaya dan mampu mewah, ya monggo silahkan mewah. In syaallah sesuatu akan menjadi nikmat apabila sederhana, apa adanya, dan tidak ngoyo. Pesta pernikahan sederhana saja, lebih baik uang yang untuk foya-foya digunakan untuk modal bisnis atau disedekahkan yatim piyatu atau fakir miskin, kan lebih bermanfaat..:)
2.      Pesta pernikahan tak lebih dari ajang pamer
Mohon maaf sebelumnya, sungguh ironis bila pernikahan sebagai ajang pamer kecantikan. Pamer keindahan dan kemegahan pesta, sang pengantin dipajang didepan bak manekin yang dipertontonkan banyak orang. Antara tamu laki-laki dan perempuan tiada hijab pemisah, laki-laki dan perempuan dengan bebas berkumpul. Kemewahan yang disuguhkan seolah ajang pameran. Ingatlah bahwa pamer adalah bagian dari syirik kecil, riya atau pamer tidak disukai Allah.

Rasulullah` bersabdah: yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai rasulullah, apakah syirik kecil itu ? ‘beliau menjawab,’yaitu riya’.”(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Baghawi dalam syarhus-sunnah).

           Seolah pesta pernikahan adalah ajang pameran yang dipertontonkan dengan tujuan lomba mengharap pujian orang. Bila pesta mengharapkan pujian maka yang didapatkan jua pujian, bukan keberkahan pernikahan. Oleh-oleh yang didapatkanpun “Wow pengantinnya cantik”, “Wow perancangan pestanya indah”, dan sederet pujian lainnya. Dear salikhah…keindahan keluarga bukanlah apa yang orang puji akan dirimu, namun keindahan keluarga adalah apabila keluarga itu dapat hidup rukun, harmonis, dan saling bahu membahu layaknya sayyidah Khodijah RA dengan Rosulullah SAW.
Solusi yang saya tawarkan:
Pesta pernikahan sederhana saja, kecantikan mempelai wanita tidak dipertontonkan ke khalayak publik. Tamu/ undangan dipisah antara tamu laki-laki dan perempuan, diberikan tempat khusus untuk laki-laki dan perempuan, misalkan dikasih hijab tirai kain yang besar sehingga antara tamu laki-laki dan perempuan tidak campur aduk. Sekaligus sebagai upaya untuk menjaga pandangan karena perkumpulan antara laki-laki dan perempuan kemungkinan mengundang fitnahnya lebih besar.
3.      Keberkahan pesta yang terlalaikan
Dear muslim dan muslimah, terkadang karena kemegahan atau kemewahan dunia, manusia lupa akan perintah atau anjuran Tuhannya. Demi menggapai pujian orang, banyak orang berlomba-lomba menyuguhkan pesta perkawinan. Bahkan mengesampingkan ridho Tuhan. Bahkan pula ada yang rela resepsi mewah berhari-hari, bermalam-malam hingga jutaan, ratusan juta, milyaran hingga triliun-an digelontorkan hanya untuk pesta pernikahan. Tamu yang diundangpun dari kalangan menengah ke atas. Padahal, keberkahan suatu pesta manakala yang diundang dan dijamu adalah dari kaum fakir-miskin, yatim-piyatu, dan dhuafa.
Pernahkah anda berfikir, bahwa kaum borjuis, kaum menengah ke atas sudah terbiasa dihormati dan dijamu makanan enak. Tidak inginkah engkau menghormati dan menjamu para dhuafa, fakir, miskin, yatim piyatu, dan yang terlunta-lunta untuk mendapatkan ridho Tuhanmu. Bersedekah dan berbagi dimomen bahagiamu akan membawa keberkahan untuk kebahagiaan hidupmu. Bukankah engkau akan lebih bahagia, manakala di hari bahagiamu (di hari pernikahanmu), kau jua melihat banyak kaum dhuafa, fakir miskin, yatim-piyatu tersenyum bahagia menikmati pestamu, menikmati hidangan pernikahanmu dan mendoakan pernikahanmu agar penuh berkah, langgeng, harmonis hingga akhir hayat. Perlu engkau ketahui wahai muslim dan muslimah yang taat, doa yatim piyatu, doa dhuafa, doa fakir miskin in syallah tiada penghalang.
Solusi yang saya tawarkan:
Buatlah resepsi pesta pernikahanmu sederhana saja, carilah ridho Tuhanmu dengan mengundang yatim piyatu, fakir miskin, dan dhuafa di acara pernikahanmu. Kendati gelandanganpun, in syallah mereka bisa ditata. Tak perlu kuatir bahwa mereka akan mengacaukan pestamu, karena merekapun punya hati dan mereka punya otak yang bisa diatur. Sebagaimana engkau tak pernah kawatir bahwa esok akan makan apa, maka janganlah engkau kawatir bahwa dengan mengundang mereka (yatim piyatu, fakir miskin, dhuafa) diacara pernikahanmu, maka akan kacau. Yakinlah, luruskan niatmu…bahwa menjadikan momen bahagiamu dengan berbagi kebahagiaan pada yatim piyatu, fakir miskin dan dhuafa akan mendatangkan keberkahan di hidupmu.
Rasululoh bersabda: “Sejelek-jeleknya makanan adalah hidangan walimah yang orang kaya di undang menghadirinya, tetapi orang orang miskin tidak diundang. Barang siapa tidak memenuhi undangan walimahan sungguh dia telah menduharkai Allah dan Rasul-Nya,” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Huroiroh).
4.      Pesta Pernikahan tak Lebih dari Ajang Foya-Foya atau Pemborosan
Sebagaimana umumnya, dengan kebutaan duniawi yang mengatasnamakan “Pernikahan hanya sekali”, lalu orang-orang terkecoh untuk merayakan pesta pernikahan dengan berlomba dengan menunjukkan kemewahan dan kemegahannya, bahkan pesta pernikahan dirayakan besar-besaran, berhari-hari, bermalam-malam. Tak peduli menggelontorkan ratusan juta, milyaran bahkan hingga triliunan.
Kita lupa bahwa pemborosan (foya-foya) merupakan hal yang tidak disukai Allah. Boros adalah saudara syetan, maukah engkau bersaudarakan syetan? Maukah engkau dimasukkan neraka bersama syetan? Berhati-hatilah…syetan itu teramat pandai untuk menggelincirkan manusia ke dalam jurang kemaksiyatan.
وَءَاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Solusi yang saya tawarkan:
Rayakan pesta pernikahan sederhana saja, undang yatim piyatu dan fakir miskin untuk mendapatkan keberkahan pernikahan. Niatkan pernikahanmu lillah, maka penuhilah sunnah Rosul yang dianjurkan dan hindari pemborosan dan riya’…J

*****
Lalu bagaimanakah pesta pernikahan impian Halimah?
Sebagaimana yang sudah kusebutkan diatas, bahwa konsep pernikahanku sudah kupikirkan sejak kelas V SD. Bahwa aku sangat menghendaki pesta pernikahanku sederhana saja, terpenting syarat wajibnya pernikahan terpenuhi yakni::
a.       Ada pengantin pria
b.      Ada pengantin wanita
c.       Ada 2 orang saksi laki-laki
d.      Ada wali nikah
e.       Ijab dan kabul (akad nikah).
Menurutku pernikahan itu tak perlu mewah, sederhana saja yang penting syarat wajibnya terpenuhi. Tak usah dipersulit, harus ini dan itu, justru itu yang akan mempersulit diri. Bagiku sesuatu yang sederhana itu lebih indah, bahkan lebih indah dari kemewahan dunia dan seisinya. Yang kuundangpun cukup keluarga dan kerabat, pesta sederhana kecil-kecilan jauh lebih menyenangkan bagiku.
Ketika resepsi, mungkin konsepku berbeda dari normalnya orang. Semoga nanti pasanganku dapat menerimanya dengan baik. Aaamiin. Aku menginginkan saat resepsi yang diundang adalah yatim piyatu dan fakir miskin, misal mengundang 30 yatim-piyatu dan mengundang 30 fakir miskin, lalu mereka kujamu, diberikan sodaqoh, dan diminta mendengarkan prosesi resepsi dari awal hingga doa. Doa dipimpin oleh kiahi dan anak yatim agar nanti keluarga yang kubangun  in syallah berkah, sakinah, mawaddah, dan warrohmah serta langgeng hingga maut memisahkan kita. Aku pribadi, aku tak mencintai keramaian, hingar-bingar dan hiruk-pikuk dunia, itulah sebabnya dari dulu aku sangat betah di rumah. Berkarya dan membantu Ibu sebisaku di rumah. Keluar rumah kecuali ats izin Ibu Bapak, biasanya saat sekolah atau mengerjakan tugas sekolah. Terlebih aku seorang wanita, harus jelas keluar rumah tujuanku apa?, untuk kemaslahatan atau untuk ngrumpi?, untuk sesuatu yang bermanfaat atau sekedar untuk hedonisme?, Untuk foya-foya ataukah untuk mencari ridho Tuhan?.
Bedakan antara sosialisasi dan ngerumpi, banyak orang salah kaprah mengatakan bahwa bergaul sambil ngrumpi adalah bentuk bersosialisasi. Bersosialisasi menurutku adalah berkumpul sesama manusia untuk bersilaturahmi (No ngrumpi), dan melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Jadi jika kalian berkumpul dan membawa manfaat, itulah sosialisasi yang baik. Namun bila berkumpul justru membuat masalah atau mendatangkan mudharat, menambah maksiyat maka itu bukanlah bersosialisasi kebaikan melainkan tolong-menolong akan kemunkaran. Hal yang paling tidak aku suka ketika kumpul tanpa maksud dan tujuan pasti adalah ghibah. Kita tak pernah tahu, bahwa Ghibah termasuk dosa besar. Bila kau tak doyan makan bangkai, lalu mengapa engkau tega memakan bangkai saudaramu dengan ghibahmu?. Perlu kita ketahui bahwa kelak nanti di akherat, di langit (ada tujuh lapis langit), tiap langit dijaga oleh malaikat Khafadhoh. Dan langit yang pertama adalah langit yang dijaga oleh malaikat khafadhoh agar orang yang ghibah tidak bisa melewatinya. Jika ghibah, maka akan ditolak amalannya dan dilemparkan kembali ke muka bumi, maukah engkau?. Tentu tidak, oleh karena itu marilah berkumpul tetapi berkumpul untuk yang bermanfaat, bukan ghibah.
Bagiku surga wanita ketika belum berumah tangga adalah taat Ibu dan Bapak, dan rumah adalah sebaik-baik surga bagi wanita. Ridho Tuhan bersamaan dengan ridho kedua orangtua. Sementara bila seorang wanita sudah menikah, maka surganya adalah taat suami, karena ridho Tuhan beserta ridho sang suami. Aku selalu berdoa, agar Tuhan senantiasa mengampuni dosaku baik dimasa lalu, saat ini, maupun di masa yang akan datang. Agar Tuhan senantiasa berkenan memberikan hidayahNya untukku, membimbingku ke kehidupan yang lurus meneladani para ummahatul mukminin…
Ridho Allah bersamaan dengan ridho orangtua:
 “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (Hasan. at-Tirmidzi : 1899,  HR. al-Hakim : 7249, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir : 14368, al-Bazzar : 2394).
Ridho Allah bersamaan dengan ridho suami:

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

Bagaimanakah sosok wanita dalam rumah tangga yang diharapkan Halimah?
Wanita adalah pondasi utama yang menentukan baik tidaknya suatu rumah tangga. Karena wanita adalah madrosah utama bagi putra-putrinya. Bagaimana bila wanita itu meninggalkan urusan rumah tangga dan semuanya diserahkan pada pembantu dan baby sister-nya, sementara ia sibuk menjadi wanita karir. Maka rusaklah generasi masa depan. Hingga ada yang mengatakan bahwa “Hancur tidaknya suatu negara terletak pada wanitanya”. Mengapa demikian?, karena wanita memiliki peran sentral yang mencetak generasi pemuda di masa depan. Sedangkan hancur tidaknya suatu negara terletak ditangan pemuda. Oleh karena itu, bila menginginkan kemajuan Indonesia, maka didiklah wanitanya (calon Ibu dan para Ibu) untuk mennjadi wanita yang cerdas dan berkhlak mulia. Dibalik lelaki yang hebat ada sosok wanita hebat di belakangnya. Bila lelaki itu belum menikah, maka dibalik kehebatan dia ada sosok ibu luar biasa yang senantiasa mendoakannya, mendidiknya dan merawatnya. Bila ia sudah menikah, maka dibalik hebatnya seorang lelaki ada sosok istri dan Ibu yang senantiasa mendukungnya, mendoakannya, dan menemaninya dalam perjuangannya.
“Bolehkan menjadi wanita karir?”, jawabannya adalah boleh dengan cacatan tugas utamamu sebagai seorang Ibu yang menjadi madrosah untuk putra-putrimu tidak terbengkelai dan tidak terabaikan serta tugasmu sebagai seorang istri yang melayani suami tidak terabaikan. Alangkah baiknya, menjadi wanita karir itu dilakukan ketika anak usia 8 tahun ke atas, jadi ketika usia kecil, anak dipegang-dididik Ibu sendiri dengan baik. Itupun atas izin suamimu, bila suamimu mengizinkanmu menjadi wanita karir, maka silahkan tetapi tugasmu sebagi seorang ibu dan seorang istri jangan dilalaikan. Bila suamimu melarangmu menjadi wanita karir, dengan ia menyatakan bahwa ialah yang akan mencukupi kebutuhanmu. Maka janganlah engkau menjadi wanita karir, sebab ridho Tuhanmu bersama ridho suamimu. Syukuri nafkah yang diberikan suami, gunakan sebaik-baiknya dengan managemen keuangan yang baik. Sesuaikan antara pendapatan dan pengeluaran, sehingga dengan demikian keluarga akan damai dan bahagia.
Bagaimanakah agar keluarga madani yang sakinah, mawaddah, warrohmah dan penuh kedamaian terbentuk:
Sebagaimana umumnya wanita, kunci kebahagiaan adalah kasih sayang, saling mengasihi, saling menyayangi dengan kelembutan. Halimah bermimpi suatu saat nanti menikah dengan seorang yang berilmu dan ilmunya diamalkan, sederhana, lembut, penyayang. Aku tak memiliki persyaratan ini-itu, tak mesyaratkan ia harus prestatif, tak mesyaratkan harus kaya, tak mesyaratkan harus tampan. Bagiku yang penting ia bisa mengarahkanku, ia bisa memimpinku dengan ilmunya, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang itu lebih dari cukup. Rumah tangga yang damai sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sayyidah Muthi’ah RA yang siceritakan Rosulullah SAW sebagai ahli surga, maka ketika menikah Halimah menginginkan hal ini:
Peran seorang istri:
1.      Memasakkan suami, melayaninya dengan baik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sayyidah Fatimah RA, menumbuk gandum dan memasaknya untuk dihidangkan ke suaminya.
2.      Mendidik anak-anaknya dengan baik dan kelembutan. Suatu saat nanti ketika berkeluarga, aku ingin menjadi guru bagi putra-putriku di rumah. Aku yang mendidiknya sehingga tak perlu guru les. Karena bagiku, mendidik anak alangkah baiknya dilakukan oleh seorang Ibu sendiri ketika di rumah, kecuali ketika di sekolah/ madrasah/ majlis taklim muta’alim. Itulah alasan mengapa seorang wanita harus cerdas. Wanita cerdas bukan untuk menyaingi suaminya, bukan untuk mengunggulinya melainkan sebagai bekal wanita untuk ia gunakan dalam menddidik putra-putrinya. Suatu saat nanti aku ingin menjadi Ibu yang tak memaksakan kehendakku pada anak, melainkah ibu yang mengarahkan bakat anak, lalu kurahkan dan kubimbing bagaimana mengembangkan bakat dan potensinya. Setiap anak memiliki bakat dan potensi masing-masing, sehingga ia tidak boleh dipaksa menuruti nafsu kedua orangtuanya melainkan orangtua memberikan ruang bagi anak untuk menggali potensi dan bakatnya, lalu dipupuk dan dikembangkan, diarahkan.
3.      Menyambut suami dengan senyuman ketika ia pulang kerja, dan senantiasa membuatnya bahagia atau tersenyum ketika di sampingnya sebagaimana yang dilakukkan para ummahatul mukminin.
4.      Menyiapkan handuk dan air hangat untuk suami mandi ketika ia usai pulang kerja, dan menyiapkan keperluannya. Bukan karena hal lain melainkan karena mencari ridho suami sebab ridho Allah bersama ridho suami.
5.      Tidak mengizinkan tamu laki-laki masuk ke dalam rumah tanpa izin dan sepemgetahuan suami.
6.      Selalu izin ketika hendak pergi.
7.      Senantiasa mendukungnya dalam kebajikan (kebaikan), menguatkannya ketika lemah, menghiburnya ketika sedih, memotivasinya ketika rapuh, dan selalu menemaninya dalam suka dan duka.
8.      Apabila suami marah, digenggam tangannya, ditenangkan, dimbilkan air atau minuman untuk melunakkan keras hatinya. Sebab kekerasan hanya bisa diluluhkan dengan kelembutan.
9.      Ketika dalam keluarga memiliki masalah, masalah itu diselesaikan bukan diumbar atau diceritakan orang lain. Tidak pengadu, sedikit-sedikit ngadu ke orangtua apabila ada masalah dengan suami. Hal ini bisa dilihat dari kisah Sayyidah Fatimah RA dengan Sayyidina Ali RA. 
Peran Suami:
1.      Memberikah nafkah istri baik nafkah materi maupun nafkah hati.
2.      Mengecup kening istri ketika akan berangkat kerja untuk membangun keluarga harmonis.
3.      Membimbing dan mendidik istri. Karena dosa istri, suami juga ikut menanggung sebab suami adalah imam bagi seorang istri yang wajib untuk membimbing, mengarahkan, dan mendidiknya.
4.      Tidak berlaku keras, kasar terhadap wanita. Bila istri salah diberikan pengarahan dengan lembut dan halus. Kecuali bila diperingatkan dengan halus tak bisa, masih membangkang barulah cara keras diperbolehkan. Tetapi alangkah baiknya menggunakan kelembutan.
5.      Ayah adalah sosok yang mendidik istri sekaligus mendidik anak.
6.      Mendidik istri, misalnya tiap malam ketika di rumah, istri diajar ngaji.
7.      Menyayangi istri dengan penuh kelembutan, kasih sayang layaknya keluarga yang dicontohkan Sayyidina Khodijah RA dengan Rosulullah SAW.
8.      Apabila istri marah, istri ditenangkan dengan digenggam tangannya, dipeluk. Sesungguhnya wanita bisa diluluhkan dengan kelembutan, kasih sayang, dan pelukan. (cacatan: memegang tangan, memeluk hanya boleh dilakukan oleh suami istri, atau makhram).
9.      Ketika ada masalah, masalah diselesaikan dengan lembut, tidak menggunakan kata-kata kasar ataupun menggunakan sikap keras. Masalah tidak diumbar, tetapi diselesaikan.

Kunci kebahagiaan adalah kasih sayang. Keluarga yang madani akan terbentuk manakala antara suami istri itu saling bahu membahu, saling mendukung dalam kebaikan, saling memotivasi dan menginspirasi untuk kebajikan, menemani dalam suka dan duka, serta saling menyayangi dan saling mencintai dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.



Tidak ada komentar :