HALIMAH BINTI MASDARI

Kamis, 17 Agustus 2017

KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI PART II

KEUTAMAAN MEMBACA AYAT KURSI
*****
PART II
*****
Dikutip dari Kitab Khozinatul Asror page 126-127
  


            Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di artikel “Khasiyat Ayat Kursi”, ayat kursi memiliki beberapa keutamaan. Melanjutkan halaman kemarin, yakni kajian dari kitab Khozinatul Asror halaman 126-127. Ayat kursi merupakan pimpinan ayat dalam ayat suci Al-Qur’an. Pada Bab ini akan dijelaskan bahwasanya keutaman membaca ayat kursi adalah memperoleh kewibawaan.
            Duhai muslimin muslimat yang dirahmati oleh Allah SWT, sesungguhnya tiada kemuliaan yang lebih mulia daripada kemuliaan di sisi Allah SWT. Mulia di hadapan manusia belum tentu mulia di hadapan Allah. Dan yang paling mulia adalah mulia di sisi Allah SWT jua mulia di mata manusia. Keagungan yang sesungguhnya adalah keagungan menurut Allah SWT dan utusan-Nya (Rosulullah SAW). Keagungan yang sejati adalah keagungan menurut Dzat yang Maha Berkehendak atas semua makhluknya.
            Terkadang manusia mulia di hadapan manusia lainnya, namun hina di hadapan Allah. Sebagaimana contohnya seorang publik figur wanita yang suka mengumbar aurotnya (padahal haram mengumbar aurot selain pada yang halal memandangnya), ia memiliki banyak fans dari lelaki mata keranjang namun ia hina di hadapan Allah SWT kecuali ia bertaubatan nasuha sebelum ajal tiba sampai di tenggorokannya. Keagungan menurut para ummat adalah milik para Nabi, Keagungan menurut para murid adalah syeh. Sebagaimana contohnya, keagungan seorang syeh Toriqoh di mata jama’ahnya. Keagungan menurut para murid adalah kepunyaan gurunya. Hal ini tiada lain karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang murid dibandingkan pengetahuan yang dimiliki gurunya, sehingga sudah sepantasnya ia memuliakan gurunya.  
            Dan apabila kecerdasan seorang murid menyamai kecerdasan seorang guru atau bahkan melebihinya, maka hilanglah keagungan yang dimiliki oleh seorang guru. Namun etika seorang murid yang mulia, kendatipun seumpama ia memiliki kecerdasan di atas gurunya, ia senantiasa tetap tawadhu’ dan memuliakan gurunya sebab ia sadar betul bahwa ia cerdas pun lantaran guru yang mengajarnya. Ia sadar bahwasannya pada hakekatnya kecerdasan yang ia miliki itu anugerah yang Allah berikan lantaran ilmu yang diajarkan oleh gurunya.
            Sebagaimana telah kusebutkan di atas bahwasanya salah satu khasiyat membaca ayat kursi adalah memberikan kewibawaan pada seseorang. Keutamaan membaca ayat kursi diantaranya memperoleh pahala dan memperoleh kedudukan di hadapan orang yang dipimpinnya. Ayat kursi adalah lebih agung-agungnya ayat di dalam Al-Qur’an. Ayat kursi terdiri dari 50 kalimat dan 170 huruf. Hal ini dicontohkan pada zaman perang Thalut dan perang Badar, para kaum muslimin yang mengikuti perang membaca ayat kursi sebanyak 313 kali, sehingga karena berkahnya membaca ayat kursi kaum muslimin yang jumlahnya 313 orang dapat mengalahkan musuhnya yang jumlahnya lebih banyak. Sesungguhnya Allah SWT memberikan keberkahan pada orang yang membaca ayat kursi sebanyak 313 kali dengan mengabulkan permintaan orang yang membaca ayat kursi sebanyak 313 kali tersebut (termaktub dalam kitab Khozinatul Asror halaman 126).    


            Apabila seseorang menginginkan kewibawaan ada pada dirinya, memiliki keberanian (ketegasan) dan disegani (disungkani) oleh pengikut atau bawahannya serta bawahannya yang dipimpin mau taat pada perintahnya, maka bacalah ayat kursi sebanyak 313 kali, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir Al Qudsi. Berdasarkan keterangan dari Abu Hurairah RA, Rosulullah SAW berkata: “Sesungguhnya puncaknya ayat di dalam Al Qur’an adalah QS. Al Baqoroh, dan pimpinannya ayat (sayyidul ayat) di dalam Al Qur’an adalah ayat kursi sebagaimana termaktub dalam kitab Duril Mansur”.
            Diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur, Imam Hakim dan Imam Baihaqi dari Abi Hurairah RA, Rosulullah SAW berkata “Di dalam QS. Al Baqoroh terdapat pimpinannya ayat-ayat di dalam Al Qur’an yakni ayat kursi. Apabila ayat kursi dibacakan di dalam rumah, maka syetan yang ada dalam rumah tersebut akan pergi meninggalkan rumah tersebut sebagaimana tertera dalam kitab Duril Mansur”.
            Rosulullah SAW pernah berkata pada para sohabat, “Apakah lebih utama-utamanya ayat di dalam Al Qur;an?”. Ali bin Abi Tholib menjawab, “Lebih utama-utamanya ayat di dalam al qur’an adalah ayat kursi”. Lantas Rosulullah SAW berkata: “Hai Ali, sesungguhnya pemimpin ummat manusia adalah Nabi Adam AS, pemimpin bangsa Arab adalah Muhammad (aku), pemimpin bangsa Persia adalah Salman, Pemimpin bangsa Roma adalah Suhaib, Pemimpin bangsa Habasah (Ethiopia Eropa) adalah Bilal, dan pemimpin gunung adalah bukit Sinai, dan pemimpin pepohonan adalah pohon Sidoro, dan pemimpin bulan adalah bulan Muharam, dan pimpinan hari (sayyidul ayam) adalah hari Jum’at, dan pimpinan nasehat (kalam) adalah Al Qur’an, dan pimpinannya ayat di dalam Al Qur’an adalah ayat kursi. Barangsiapa membaca ayat kursi sebanyak 50 kali (sebagaimana jumlah kalimat dalam ayat kursi itu sendiri yakni 50 kalimat), maka akan mendapatkan 50 keberkahan sebagaimana dijelaskan dalam kitab Jami’us Shogir”.    
            Barangsiapa membaca ayat kursi maka ia akan memimpin baik tatkala di dunia maupun nanti di akherat. Barangsiapa menginginkan kemuliaan baik di hadapan Allah SWT maupun di hadapan manusia, maka bacalah ayat kursi setiap hari sebanyak 50 kali (sebagaimana jumlah kalimat yang terdapat pada ayat kursi itu sendiri yakni 50 kalimat) atau sebanyak 170 kali (sebagaimana jumlah huruf dalam ayat kursi itu sendiri yakni 170 huruf), maka engkau dapat memimpin nafsumu (mengendalikan nafsumu) dari sifat-sifat tercela yang tidak kau inginkan sebagaimana termaktub dalam kitab Khowas.
            Rosulullah SAW bersabda bahwa “Lebih utama-utamanya surat di dalam Al Qur’an adalah surat Al Baqoroh, dan lebih uatma-utamanya ayat di dalam Al Qur’an adalah ayat kursi. Sebab turunnya ayat kursi, diturunkanlah surat Al Baqoroh dari bawah Arsy”.
            Diriwayatkan oleh Wake’ dan Abu Daril Harwi dari Taisir RA, Rsoulullah SAW berkata: “Ibnu Abbas minta diberitahu  bahwasannya lebih utama-utamanya surat di dalam Al Qur’an adalah QS. Al Baqoroh dan lebih utama-utamanya ayat di dalam Al Qur’an adalah ayat kursi”. Suatu yang sangat disayangkan, terkadang orang yang tidak mengerti khasiyat ayat kursi mengamalkan membaca ayat kursi, namun justru orang yang mengerti khasiyat membaca ayat kursi tidak mengamalkan ilmunya yakni tidak membaca ayat kursi.
            Syeh Muhammad Haqi An Nadzili (pengarang kitab Khozinatul Asror) menyebut dirinya sebagai Al fakir dengan kerendahan hati. Ia berkata “Semoga Dzat yang Maha Berkuasa memberikan kebagusan padaku dari membaca ayat kursi yang kuhadiahkan/ kutujukan kepada Nabi Muhammad SAW”. Maka Syeh Muhammad Haqi An Nadzili pun bermimpi bertemu dengan Rosulullah SAW di dalam roudhoh yang suci, lantas Rosulullah SAW berkata “Lebih utama-utamanya ayat di dalam Al Qur’an adalah ayat kursi”.
            Sungguh berdasarkan pemaparan di atas yang diambil dari kitab Khozinatul Asror, sungguh begitu mulia keutamaan dari membaca Ayat Kursi. Maka hendaklah bagi kaum muslimin terlebih yang sudah mengetahui keutamaan membaca ayat kursi, untuk senantiasa mengamalkan membaca ayat kursi dengan niatan yang lurus bahwasannya segala sesuatu terjadi atas kehendak Alllah SWT melalui perantara salah satunya dengan membaca ayat kursi sebanyak 50 kali atau 170 kali atau sebanyak 313 kali. Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Tulisan ini ditulis oleh penulis sebagai bentuk takdim seorang murid kepada gurunya, wabil khusus kepada Abah KH. Muharor Ali selaku pengasuh sekaligus guru yang mengajarkan kitab Khozinatul Asror pada para santri. Mohon doanya semoga penulis senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya, dapat bermanfaat di sepanjang hayatnya, dan dapat memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.
   Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, silahkan dishare. Semoga dengan membagikan tulisan ini dapat menjadi amal jariyah penulis jua guru penulis serta orang yang membagikan tulisan ini. Mohon doanya semoga penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan senantiasa bermanfaat, serta menjadi santri yang berhasil dalam menimba ilmu serta tawadhu’. Tulisan ini tidaklah sempurna, sebab penulispun jua manusia yang tak luput dari dosa. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulis pertimbangkan pada penulisan selanjutnya. Saran dan kritik: WA 085725784395/ email. halimahundip@gmail.com. Semoga bermanfaat.  
Tiada yang lebih utama dari sebuah ilmu yakni ilmu yang diamalkan dan dibagikan pada kaum muslimin lainnya. Maka atas setiap ilmu yang kau dapatkan, ajarkan pula pada yang lainnya sebagai jalan dakwahmu akan kebaikan sembari engkau amalkan.    

REFERENSI: 
Syeh Muhammad Haqi An Nadzili. Kitab Khozinatul Asror. Bab Sebab Turunnya Ayat Kursi. Halaman 126-127.             


Tidak ada komentar :