HALIMAH BINTI MASDARI

Minggu, 13 Agustus 2017

CAHAYA DI PESANTREN

CAHAYA DI PESANTREN   

PP. Khozinatul Ulum Pusat, Blora

          Pesantren?. Mendengar kata pesantren, apa yang terbesit di benakmu?. Pesantren bukanlah istilah yang asing bagi khalayak umum. Pesantren adalah tempat untuk menimba ilmu, lebih tepatnya untuk memperdalam ilmu agama. Dari lorong pesantren, kutemukan cahaya kedamaian. Itulah sebabnya, aku (Halimah) memutuskan untuk resign (mengundurkan diri) dari pekerjaan-pekerjaan terdahulu di perusahaan, tak lain karena untuk menuntut ilmu agama. Sebab, ilmu agamalah yang akan menjadi bekalku di kehidupan akherat. Di pesantren, kutemukan cahaya kebahagiaan di atas kesederhanaan.
            Sungguh, kehidupan di pesantren mengajarkanku banyak hal tentang arti kehidupan seperti ketawadhu’an, kesederhanaan, tabaru’an, rasa syukur, kesabaran, kebersamaan, dan pengetahuan. Aku tak dapat melukiskan isi hatiku, melainkan melalui sebuah goresan yang tertuang dalam kata demi kata yang menyatu menjadi sebuah tulisan ini. Tiada yang dapat kukatakan selain mengucapkan syukur, tiada Rabb semesta alam melainkan Allah SWT. Sungguh, tiada kekuatan melainkan datangnya dari Allah, Dialah dzat yang Maha Kuat lagi yang menguatkan makhluknya. Bahkan, gerakan jemari tanganku hingga dapat merangkai kata demi kata ini pun terjadi tak lain atas izinNya.
            Perjalanan menuju pesantren bukanlah hal yang mulus bagiku, penuh gelombang berliku, ada yang pro dan ada yang kontra. Menurutku, itu adalah hal yang biasa. Bagi yang pro, mereka mengatakan, “Semoga dengan kau di pesantren, akan kau dapatkan keberkahan, kau dapatkan ilmu yang bermanfaat serta akhlak yang semakin baik”. Bagi yang kontra, mereka mengatakan, “Sekolah tinggi-tinggi, lulusan sarjana kog ujung-ujungnya mondok di pesantren. Apa gunanya sarjana, mubadzir ilmunya”. Well….keputusan tetaplah di tanganku, maka kupilih merenung dan istikhoroh adalah jawabannya. Terhadap yang pro kukatakan, “Aamiin ya rabb, semoga doamu untukku diijabah oleh Allah SWT, dan kebaikan pun kembali padamu, semoga Allah merohmatiku dan merohmatimu. Aamiin”. Terhadap yang kontra, yang menyayangkan keputusanku untuk memilih mondok di pesantren, kukatakan, “Tiada ilmu yang tak berguna. Selama ilmu itu dimanfaatkan untuk kebaikan. Terimakasih atas masukannya. Bagiku, sains perlu dilengkapi dengan ilmu agama. Sains dan ilmu agama itu sepaket, tidak bisa dipisahkan. Sehingga alangkah indahnya bila ulama dan inovator itu saling melengkapi untuk bersinergi dalam memajukan teknologi dan mengembangkan ilmu pengetahuan”. 
            Sudah kuputuskan bahwasannya mondok adalah pilihan. Aku memutuskan untuk mondok karena aku merasa kurang ilmu agama, sehingga masih perlu menimba ilmu agama lebih dalam lagi. Amal tanpa ilmu adalah suatu kebodohan, ilmu tanpa guru dapat menimbulkan kesalahpahaman penafsiran ataupun pemahaman. Maka dari itu, aku menimba ilmu (berguru di pesantren) untuk perlahan-lahan diamalkan sebagai bekal di kehidupan yang abadi. Sejak kecil aku bermimpi supaya aku bisa menjadi wanita yang mandiri, tidak membebani orangtua, serta menjadi wanita yang cerdas jua tawadhuk meneladani sang idola, Robi’ah Al Adawiyah dan Sayyidah Khodijah RA. Alhamdulillah, apa yang aku impikan Allah wujudkan. Sedari SD hingga kuliah bahkan hingga di pesantren, aku tak membebani biaya pendidikan pada orangtua. Sejak SD penulis mendapatkan bantuan dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah), bantuan siswa prestasi dan bantuan siswa kurang mampu. Ketika SMP, Allah berikan nikmat beasiswa prestasi dan beasiswa tidak mampu (dua beasiswa karena pada saat itu, double beasiswa masih diperbolehkan). Saat SMA mendapatkan beasiswa prestasi dari kejuaraan paralel, kelas dan lomba serta beasiswa tidak mampu. Selama kuliah di Universitas Diponegoro (UNDIP) di Semarang, aku mendapatkan beasiswa bidikmisi dan dapat mandiri biaya kuliah dengan bekerja part time sebagai guru les, penerjemah, serta ghost writter.
            Alhamdulillah, masalah biaya pendidikan Allah berikan solusi mandiri melalui beasiswa dan kerja. Selanjutnya, saat mondokpun aku tidak mau membebani orangtua. Aku mondok dari uang bisaroh ngajar di MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah). Terimakasih ya Rabb, Kau permudah jalanku menuntut ilmu tanpa harus membebani biaya kepada kedua orangtuaku. Sungguh aku tak mau membebani orangtuaku, biar orangtuaku cukup membiayai adekku dan aku dapat mengenyam pendidikan melalui keringatku sendiri. Semua itu tak kan terjadi tanpa qudrot dan irodahMu ya Allah, segala puji syukur bagiMu, Rabb Semesta Alam. Di pesantren inilah, aku melukis kenangan perjalanan hidup baru untuk menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Di pesantren inilah (PP. Khozinatul Ulum, Blora), aku mendapatkan banyak pelajaran berharga untuk aku gunakan sebagai bahan dalam mengevaluasi diri (memperbaiki akhlak) dan memperdalam pengetahuan agama untuk aku amalkan yang menjadi bekalku nanti di alam barzah, bekalku nanti di kehidupan akherat, bekalku nanti di kehidupan setelah kematian.
            Di sini terkadang aku merasa malu, aku menjumpai banyak anak yang usianya jauh di bawah usiaku namun sudah hafal Al-Qur’an (Khafidzhoh). Tetapi aku jua bersyukur, di sini masih banyak remaja seusiku yang mondok di pesantren ini bahkan yang usia di atasku pun masih ada (sekitar usia 24-27 tahun). Sehingga, akupun tak malu bila harus mondok, sebab teman seusiaku banyak. Jadi bukan aku yang paling gedhe di sini. Alhamdulillah, Allah berikan kemudahan untuk mendekatkan diri padanya. Sejak di pesantren, aku berkomitmen untuk bersungguh-sungguh belajar ilmu agama. Bila pagi hingga sore hari kumanfaatkan untuk mengajar di MA  dan MTs, maka saat malam hari kumanfaatkan untuk mengaji Al-Qur’an dan ikut memaknai kitab kuning, lalu aku ringkas kembali, aku berikan tafsir/ penjabaran sendiri dari penjelasan guru yang sudah aku catat.
            Pelajaran yang kudapatkan tiap malam diantaranya dari belajar kitab (maknai dan memahami) apa yang disampaikan ustadz dan Pak Yahi seperti pelajaran kitab Fathul Mu’in, kitab Majalisus Saniyyah, kitab Ibnu Aqil, kitab Uqudillujen, kitab Tafsir Al Qur’an, kitab Bidayatil Hidayah, kitab Khozinatul Asror, kitab Tajridu Soreh. Saat diterangkan, aku benar-benar memperhatikan, pokok-pokok materi yang disampaikan pak ustads aku catat, dan saat memaknai aku berusaha cepat agar tak ketinggalan. Alhamdulillah dulu pernah sekolah di madrasah dinniyah, jadi saat memaknai tidak menemukan kesulitan yang sangat signifikan. Terimakasih saya haturkan kepada seluruh para guru madrasah diniyyah sore saya dulu, dari madrasah diniyyah itulah yang menjadi bekal saya untuk menimba ilmu di pesantren. Saat tengah malam, biasanya aku bangun, meringkas kembali yang disampaikan Pak Kiahi dan Pak ustads, dan aku ketik ulang untuk aku jabarkan dalam sebuah artikel yang aku publikasikan di blog pribadiku agar ilmu itu dapat dipelajari sepanjang waktu. Tulisan tak kan pernah hilang dimakan waktu, karena tulisan akan abadi sepanjang masa bahkan saat sang penulispun telah tiada. Aku berfikir, dengan mempublikasikan tulisanku, semoga tulisanku dapat dipelajari orang lain dan dapat menjadi amal ibadah guruku karena beliaulah yang pertama menjadi sumber inspirasiku untuk menulis.                              
           Terkadang beberapa hal hadir menguasai pikiranku, hingga aku menangis ketakutan saat mengingat itu. Beberapa hal yang membuatku sedih, karena bayangan itu terus hadir dan terpatri di otakku. Sering pertanyaan itu muncul dan  menguasai benakku, seolah bertahta bersemayam di otakku. Sungguh beberapa pertanyaan yang selalu hadir itu diantaranya:
1.      Sungguh, demi Rabb Semesta Alam. Saat aku bersanding dengan Khafidhah yang sedang menghafal ayat-ayat al qur’an, hatiku sangat terharu. Bagaimana tidak, mereka in syaallah adalah calon ahli surga. Tiap kali mendengar para santriwati mengaji dengan suara yang merdu, faseh, mahroj jelas, sungguh hatiku rasanya bergetar. Dalam benakku sering muncul merenung seperti ini:
“Sungguh, mereka beruntung karena hafal dengan kalam Allah. Bisa jadi para khafidhoh ini adalah calon ahli surga, bagaimana dengan nasibku ini ya Allah, aku bukan khafidhoh, bagaimanakah nasibku nanti di akherat?. Bila engkau tak memberikan kasih dan sayangMu padaku, bila engkau tak mencurahkan hidayahMu untukku, maka aku termasuk golongan orang yang merugi. Duhai Rabb Semesta Alam…ampunilah dosaku karena kebodohanku, ampunilah dosaku karena kelalaianku, ampunilah dosaku karena kekhilafanku, ampunilah dosaku karena kepandaianku yang belum kuamalkan, ampunilah dosa lisan yang terkadang terpeleset, ampunilah dosa pendengaranku, ampunilah dosa tanganku, ampunilah dosa kakiku, dan ampunilah dosa penglihatanku. Masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa engkau cintai dan engkau rahmati. Sesungguhnya Engkaulah dzat yang berkuasa untuk menyesatkan dan menyelamatkan seorang hamba”.
Terkadang tanpa sadar saat merenungkan itu, air mata berjatuhan. Terlebih saat ingat pesan Imam Ghozali dalam kitab bidayatil hidayah, pesan Rabi’ah Al Adawiyah (terlebih ia adalah tokoh idolaku sejak kecil). Sungguh, hal yang mendasariku kenapa aku belajar sungguh-sungguh di pesantren, kenapa aku rajin ikut mengaji, rajin ikut majlis karena aku merasa masih bodoh dan sangat memerlukannya sebagai bekalku nanti dalam membangun keluarga sehingga semangatku belajar kian membara. Pesan bapakku dalam wejangannya yang senantiasa teringan dalam benakku:
Nduk sampean neg pengen khasil, mongko sekolaho seng tenanan. Neg pengen anakmu sok manut ambi sampean, sak iki manuto. Neg pengen jodohmu ngalim, sekolaho seng tenanan, ngaji o seng tenanan, dadi o wong ngalim. Jodoh iku cerminan songko awakmu. Neg sampean ngalim, in syaallah jodohmu yo ngalim”.
Kata-kata Bapak itu selalu terpatri di benakku, tatkala nanti aku menginginkan jodoh yang cerdas ilmu dunianya jua ilmu akheratnya atau minimal cerdas ilmu akheratnya serta bagus akhlaknya, maka terlebih dahulu aku jua harus baik akhlakku jua harus cerdas pengetahuanku akan ilmu agama dan ilmu duniawi. “Jangan menuntut jodohmu wow, tetapi tengokkah pada kemampuanmu. Sebab jodoh biasanya adalah cerminan dari pribadimu”. Ya, sekalilagi aku tak banyak menuntut, aku pasrahkan semua pada Rabb Semesta Alam, selama ia bisa membuatku merasakan kedamaian, kenyamanan, mengingatkanku akan kematian, mengingatkanku akan akherat, mampu dan mau dengan sabar membimbingku, berarti itulah jodoh yang Allah SWT takdirkan untukku.
2.      Sungguh, saat solat berjamaah atau saat mengajar anak-anak di MTs atau MA, fikiranku selalu terbayang akan hal ini:
“Anak-anak ini bisa jadi menjadi ahli surga, sedangkan diriku, akupun tak tahu nasibku nanti di akherat, akankah menjadi ahli surga ataukah ahli neraka?. Semoga Allah berikan pertolongan untukku. Anak-anak masih kecil, lembaran catatan amalnya belum banyak tercoret-coret oleh tinta dosa, sedangkan diriku sudah besar, secara otomatis tinta dosanya lebih banyak. Semoga Allah SWT senantiasa mengampuniku dan memberikan petunjuknya untukku sehingga aku jua termasuk golongan orang yang beruntung”.
Aku sering merenung seperti ini tiap kali aku usai membaca kitab karangan imam Ghozali, sungguh wejangan-wejangan imam ghozali mengenai ketawadhu’an terpatri di otakku, hingga tak jarang air mataku terjatuh ketika sendirian dan saat dihadapan orang banyak, aku tahan air mata itu supaya tidak terjatuh. Sebab aku sangat menghawatirkan akan nasibku nanti di akherat. Aku tak mau merasa menjadi orang yang beruntung, aku tak mau merasa menjadi orang yang pintar, aku tak mau merasa menjadi orang yang selamat (ahli surga) dan sebagainya, aku lebih nyaman ketika aku merasa orang yang bodoh sehingga mendorongku untuk rajin belajar, aku lebih nyaman merasa sebagai ahli dosa sehingga membuatku lebih banyak intropeksi diri, aku lebih nyaman merasa sebagai ahli neraka sehingga amal ibadah dan taubatku kutambah agar senantiasa semakin dekat kepada Allah SWT. Aku belajar hal ini dari kisah-kisah idolaku, lebih tepatnya Imam Ghozali, Imam Simbabweh, dan Rabi’ah Al Adawiyah sebagai contohnya. Sebagaimana dhawuhnya Imam Ghozali dalam kitab Bidayatil Hidayah:
Sungguh merugi orang yang merasa dirinya baik sehingga ia terlarut dalam membanggakan diri, riya’, takabbur yang membawanya terjerumus dalam kesesatan yang tiada terasa. Sebodoh-bodohnya orang adalah orang yang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain”
Membaca wejangan Imam Ghozali, aku selalu merenung, aku selalu berusaha mengamalkan apa yang beliau ajarkan terlebih beliau adalah sosok yang ngalim, begitu luas pengetahuannya akan agama. Maka dalam tulisan ini aku persembahkan padanya hadiah solawat untuknya. Semoga Allah SWT senantiasa memuliakannya karena ilmu yang ia ajarkan melatihku untuk zuhud, melatihku untuk selalu intropeksi diri, melatihku untuk selalu merenung dan melatihku untuk senantiasa ingat akherat.    
3.      Sungguh, tatkala aku bersanding dengan orang yang usianya lebih tua denganku, aku selalu merenung seperti ini:
Orang-orang ini usianya lebih tua dariku, sudah barang tentu amal ibadahnya lebih banyak dari aku, sehingga besar peluangnya sebagai ahli ibadah. Sedangkan diriku, aku tak tahu nasibku di akherat nanti, akankah aku sebagai ahli surga dan kekasih Allah SWT ataukah justru sebagai ahli neraka ayng senantiasa disiksa?. Wallahu a’lam, sungguh itu di luar pengetahuanku sebab aku hanyalah makhluk yang pengetahuannyapun sangat terbatas. Duhai Rabb Semesta Alam yang menciptakan langit tanpa tiang, menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan rembulan, bintang dan matahari dengan terang cahayanya, maka tiada pertolongan melainkan pertolongan dariMu. Ya Rabb, ampunilah aku, terimalah taubatku, ajarkan aku tentang cara mencintaiMu di atas mencintai makhlukku, selamatkanlah aku dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang engkau kasihi dan kau masukkan ke dalam jannah serta engkau temui sebagai kekasih karena kataatannya padaMu”.
4.      Sungguh, tatkala aku melihat orang gila, hatiku tergugah. Terkadang air mataku berjatuhan, kasihan, terlebih saat melihatnya mengaisi nasi di sampah-sampah. Terkadang aku dekati, jika orang gila itu tak terkesan menyeramkan/ menakutkan, masih bisa dihandle (bisa diluluhkan), kuberikan makanan, atau aku dekatinya sekedar menemaninya. Pada hakekatnya yang dibutuhkan orang gila agar sembuh itu, mereka butuh perhatian yakni perhatian lahir (berupa makanan, minumam, tempat tinggal, pakaian), perhatian batin (kasih sayang, kepedulian dan ilmu agama seperti ajaran dzikir, wirid) sebab gila dapat sembut tatkala seorang hamba yang gila kembali ingat pada Tuhannya. Sehingga akupun menanamkan untuk berhusnudzan padanya:
Orang ini gila, sehingga selama masa gilanya tidak dihisab amalnya sebab karena kegilaannya. Barangkali sebelum ia gila, ia adalah ahli ibadah, maka sungguh kemungkinan besar peluangnya ia termasuk orang yang beruntung sehingga bisa mendapatkan rahmad Tuhannya. Aku ditakdirkan waras, apakah warasku aku manfaatkan sepenuhnya untuk ketaatanku pada Allah SWT? Apakah aku mensyukuri nikmat waras yang senantiasa Allah berikan untukku? Apakah aku senantiasa memanfaatkan kewarasanku untuk menuntut ilmu? Ataukah aku justru menggunakan kewarasanku untuk kemaksiyatan. Syngguh, aku tak tahu nasibku di akherat nanti, maka selamatkanlah aku ya Rabb. Tunjukkan jalan hidayahmu untukku agar aku senantiasa termasuk golongan orang-orang yang beruntung sebagai kekasihMu yang engkau cintai dan jua senantiasa menegakkan apa saja yang engkau perintahkan tanpa rasa malas”.
5.      Dan beberapa pertanyaan yang sering muncul di benakku, hingga aku menangis bila teringat adalah:
  1. Bagaimanakah nasibku nanti di akherat, akankah aku termasuk ahli jannah ataukah ahlun nar?
  2. Akankah aku menerima catatan amal dengan menggunakan tangan kanan atau justru menggunkan tangan kiri?
  3. Akankah aku bisa lolos selamat saat melewati jembatan sirotol mustaqim atau justru terpeleset terjatuh saat menyeberangi jembatan sirotol mustaqim yang tebalnya  dengan rambut saja, masih kecil jembatan sirotol mustaqim, akankah aku selamat ya Rabb?
  4. Akankah aku mati dalam kondisi muslim ataukah kafir? Akankah aku mati dalam keadaan su’ul khotimah ataukah khusnul khotimah?
  5. Akankah ketika timbangan hisab amalku diperlihatkan, catatan amalku yang baik lebih berat ataukah catatan amal burukku yang lebih berat?
  6. Akankah Nabi Muhammad SAW berkenan mengakui sebagai ummatnya ataukah tidak?
  7. Akankah Allah berkenan menemuiku saat di akherat ataukah tidak?
  8. Akankah aku termasuk sebagai golongan orang yang beruntung ataukah tidak?
  9. Bisakah aku berkumpul dengan ayah, ibu, adek, serta keluargaku saat nanti di akherat di jannah ataukah justru berkumpul di neraka atau justru terpisah ada yang di neraka dan ada yang di surga?
Sungguh, hatiku bergetar saat aku memikirkan itu. Terkadang terbawa mimpi, terkadang air matapun terjatuh saat merenung sendirian. Sungguh, aku sangat menghawatirkan nasibku di akherat. Sungguh, aku sangat merinduhkan para idolaku yang lebih dahulu bertemu Allah dan sudah di nash sebagai ahli jannah dan dinash sebagai kekasih Allah SWT layaknya sang baginda rosul, layaknya para ummahatul mukminin, layaknya para khulafa’ur rosyidin, layaknya Siti Maryam, layaknya Siti Asiyah (istri Fir’aun). Duhai Rabb semesta alam, tunjukkanlah aku jalan lurusMu, masukkanlah aku sebagai golongan orang yang beruntung. Sungguh, tanpa pertolonganmu maka aku termasuk orang yang merugi. Sesungguhnya, tiada dzat yang dapat menyelamatkanku melainkan darimu. Engkaulah Rabb Yang berkuasa untuk menyesatkan jua menyelamtkan, maka selamatkanlah aku. Kumpulkanlah aku bersama orang-orang yang engkau cintai.     
Saat ini aku berkomitmen untuk memperdalam ilmu agama semaksimal yang aku bisa, sehingga setiap ada kesempatan untuk belajar aku berupaya untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya. Banyak hal yang perlu aku  persiapkan sebelum aku terjun ke dalam rumah tangga menjadi seorang istri dan seorang Ibu. Aku ingin meniru jejaknya Sayyidah Muthi’ah RA yang dinobatkan sebagai bidadari surga karena ketaatannya pada sang suami. Sebab ridho Allah SWT bersamaan dengan ridho sang suami bagi seorang wanita yang sudah menikah. Hal inipun dijelaskan dalam kitab Uqudillujen dan Majalisus Saniyyah. Aku jua ingin  menjadi layaknya Siti Fatimah RA yang mendidik anaknya (Hasan dan Husain) dengan kasih sayang, kelembutan sehingga menjadi putra yang cerdas dan berakhlak.  
Sebagaimana kata guruku:
Kecerdasan seorang anak itu 80% diturunkan dan kecerdasan seorang Ibu. Bila engkau menginginkan anakmu cerdas, maka jadilah Ibu yang cerdas”.
Sungguh, aku sangat ingin menjadi wanita yang cerdas baik pengetahuan duniawi maupun pengetahuan ukhrawi bukan untuk menyaingi suamiku melainkan sebagai bekalku untuk mendidik putra-putriku nanti ketika berkeluarga, sebab seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi putra putrinya. Ibu adalah teladan pertama bagi seorang anak, maka Ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas. Caranya bagaimana, rajin belajar. Para imam (imam syafi’I, imam hanafi, imam ghozali, dll) itu sangat rajin dalam belajar. Bahkan tiada waktu tanpa belajar, sungguh teramat malu bagiku bila aku yang masih bodoh tak ada apa-apanya dengan mereka, lantas malas belajar, maka pada diriku kutekankan aku harus rajin belajar.    
Hal yang membuatku semangat belajar dan mengaji adalah aku selalu teringat pesan Ibu dan bapak untuk senantiasa belajar bersungguh-sungguh. Terhadap orang yang aku cintai, ayah dan ibuku, adekku, ahlul bait aku hadiahkan doa, sholawat, agar pahalanya senantiasa tercurah padanya. Terkadang aku merenung, inilah renunganku:
Duhai Rabbku, cinta adalah anugerah rasa yang kau limpahkan padaku. Bila aku mencintai manusia sebegini dalamnya, lalu bagaimana pantasnya cintaku padamu. Anugerahkanlah rasa cinta yang suci padaku, ajarkan aku untuk mencintaiMu di atas mencintai makhlukmu. Dari cimta ke manusia, aku mengerti hakekat cinta dan bagaimana seyogyanya cintaku padaMu ya Rabb. Aku ingin mencintaimu layaknya Rabi’ah Al Adawiyah mencintaimu”.
Dari lorong pesantren kutemukan cahaya kedamaian. Beberapa hal banyak kutemui, salah satunya budaya tabaru’an. Di sana aku menjumpai santri putra ketika hendak sowan ke kiahi, datang duduk ndepe-ndepe (duduk dengan penuh kerendahan hati/ ketawadhu’an untuk memulikan gurunya). Lalu begitu sang Kiahi masuk rumah, santri berebut merapikan sandal Pak Kiahi. Sebagaimana konsep tabaru’an. Sungguh, hatiku sangat tersentuh. Bagimana tidak/ aku tidak pernah menjumpai ini saat aku di dunia kampus/ dunia perkuliahan. Mahasiswa mau salaman dan mengucapkan salam ke gurunya saja sudah bagus, apalagi tabaru’an (ngalap berkah). Lalu ada tabaruk terhadap waktu seperti memuliakan hari jum’at, dan lain sebagainya.
Hukum tabaruk adalah boleh sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para sahabat terdahulu terhadap Rosulullah SAW. Sahabat Anas r.a. menceritakan bagaimana para sahabat bertabarruk dengan rambut Rasulullah SAW: “Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.” (H.R Muslim, Ahmad dan Baihaqi).
Aun bin Abi juhaifah menceritakan dari ayahnya para sahabat yang bertabarruk dengan air sisa wudhu’ Rasulullah : “Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra’ dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu’ Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu’ itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa para sahabat bertabarruk dengan keringat Rasulullah SAW. Berkata Anas bin Malik : “Rasulullah SAW masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: “Apa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim”, tanyanya.” “Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami, jawab Umi Sulaim. Rasulullah berkata: “Engkau benar” (H.R. Muslim dan Ahmad).  
Demikianlah banyak hal yang aku pelajari di dunia pesantren, selain ilmu juga akhlak. Aku jua menjumpai dimana santri sering gotong royong membersihkan pesantren rutin setiap hari dan ro’an (gotong royong) setiap hari Jum’at. Bukan hanya itu, aku jua melihat kebersamaan santri-santri saat makan, sungguh nikmat saat makan bersama dalam satu wadah makanan. Di atas kesederhanaan, dibawah rasa ketawadhu’an, diantara ajaran tabarukan, aku belajar memperbaiki akhlak. Dan dengan penjelasan Pak Kiahi, ustadzah serta Pak ustadz saat belajar kitab, aku belajar ilmu agama. Mohon doanya, semoga saya bisa menjadi insan yang lebih baik, lebih baik segalanya termasuk lebih baik akhlaknya dan lebih bertambah ilmunya yang bermanfaat. Aamiin.  


Tidak ada komentar :