HALIMAH BINTI MASDARI

Selasa, 12 Juli 2016

HINDARI FITNAH DENGAN MEMFILTER SETIAP INFORMASI

HINDARI FITNAH DENGAN MEMFILTER SETIAP INFORMASI

Khutbah Pertama
Assalamualaikum. Wr. Wb.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala … 
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan karunia, rahmat, hidayah, dan inayahNya sehingga kita dapat berkumpul di sini dalam menjalankan sholat jum’at dan mengikuti khutbah jum’at.  Marilah kita senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai wujud bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sesungguhnya taqwa adalah awal mula untuk mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sholawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad  Shollollahu Alaihi Wassalam, yang kita tunggu-tunggu syafa’atnya besok di yaumul qiyamah. Beliaulah yang membawa dari zaman jahiliah menuju zaman yang cemerlang, dari kegelapan menuju kebahagiaan hakiki. Baginda Rosulullah SAW adalah sosok yang memperjuangkan islam hingga dikenal ke seluruh penjuru dunia. Beliau yang rela berkorban harta, jiwa, dan pikiran demi mendakwahkan agama islam baik dalam lapang maupun sempit, baik dakwah secara sembunyi-bunyi maupun secara terang-terangan. Beliau adalah uswatun khasanah yang mengajarkan tentang akhlakul karimah. Beliau telah menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya. 
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala …
 Telah kita ketahui bahwasannya di era digital ini, informasi begitu mudah untuk kita ketahui. Baik melalui berita di televisi, radio, internet, whatsapp, line, facebook, twitter, maupun melalui media yang lain. Namun demikian, tidak semua informasi yang kita terima lantas kita cerna begitu saja, akan tetapi kita perlu untuk memfilter informasi tersebut dengan mencari kebenaran informasi tersebut. Sehingga kita terhindar dari fitnah sejak dimulai dari fitnah dalam pikiran.  
Kaum muslimin, sidang Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala...
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujuraat:12)
Dalam ayat tersebut terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563].
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, "Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik"
Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.
Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata: "Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu".
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala …
Dewasa kini telah banyak kita jumpai berita yang disampaikan media dengan framing yang mampu menggiring opini masyarakat. Terlebih, banyak pula netizen yang mudah tergiring oleh framing media, sehingga tanpa mereka sadari merekapun turut serta menghujat salah satu pihak yang dianggapnya salah berdasarkan framing media, tanpa menyelidiki kebenaran berita yang disampaikan media. Perlu diketahui bahwasannya berprasangka buruk sangat dilarang agama, terlebih tanpa menyelidiki kebenarannya. Jika menghujat sesuatu yang benar adanya (ghibah) adalah dosa, apalagi menghujat sesuatu yang tanpa adanya bukti kebenarannya, maka hal itu merupakan fitnah. Sehingga sebagai ummat muslim kita dianjurkan untuk selektif dalam memilah informasi dan perlu untuk tabbayun terlebih dahulu terhadap keberadaan informasi atau berita yang diterima.
Bermula dari prasangka buruk, lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, berakhir dengan ghibah, ditutup dengan hujatan, cercaan dan makian. Allahu Al-musta’an, berapa banyak terminal-terminal dosa yang diciptakan oleh prasangka buruk. Hasil yang dipetik dari prasangka buruk berupa pola komunikasi yang terbangun di atas pondasi kedustaan, serang menyerang tudingan, redupnya rasa saling percaya antar sesama, kebencian, permusuhan dan saling memboikot menjadi hal yang lumrah dan biasa.
Sebagai contohnya adalah informasi yang diframing media sedemikian rupa tentang “Penggerebekan Warung Bu Saeni di Serang Banten yang Buka Warung Saat Siang Hari di Bulan Ramadhan”. Penyuguhan berita yang menampilkan framing saat Bu Saeni menangis ketika digrebek oleh Satpol PP ini menggiring opini masyarakat terutama netizen untuk menghujat Satpol PP yang tak memiliki toleransi. Tak hanya itu, netizen juga beranggapan bahwasannya Satpol PP tak berperikemanusiaan serta opini masyarakat terutama netizen yang memojokkan umat muslim yang seolah-olah haus akan penghormatan. Tak hanya menghujat Satpol PP, netizen juga menghujat Pemerintah Kota Serang yang dianggapnya otoriter, tak berperikemanusiaan dan haus akan penghormatan bahkan menutup pintu rizkinya orang lain. Selain itu, tak jarang sebagian netizen juga menyalahkan ulama’ Serang yang turut serta andil dalam pembuatan kebijakan “Penutupan Warung pada Siang Hari Saat Bulan Ramadhan”.  
Tangisan Bu Saeni ini tak hanya menuai protes dan memojokkan umat muslim yang dinilai haus akan penghormatan, layaknya “Saya sedang berpuasa, hormatilah saya”. Tak hanya itu, tangisan Bu Saeni ini juga mampu mengundang emphaty netizen untuk bersedekah padanya. Padahal, tanpa netizen ketahui dibalik kebijakan tersebut, kebijakan itu sudah ditegakkan di Serang bertahun-tahun. Pedagang makanan dilarang jualan pada siang hari, namun diizinkan jualan mulai pukul 16.00 (pukul 04.00 sore) hingga sahur. Bu Saeni ternyata tak bisa baca tulis dan beliau bukanlah orang miskin melainkan pemilik 3 warteg (pengusaha warteg) yang suaminya adalah pemain judi. Dan makanan yang disita Satpol PP, boleh diambil Bu Saeni kembali saat waktu yang diizinkan. Pada hakekatnya bantuan dana ke Bu Saeni adalah amal soleh, tetapi kearifan lokal untuk menghormati bulan Ramadhan janganlah dihilangkan dan harus tetap ditegakkan. Dengan kejadian ini, diharapkan umat islam tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan kejadian tersebut. Sehingga, untuk ummat muslim sangat dianjurkan (dihimbau) untuk tetap tenang dan waspada terhadap berita yang disampaikan media, perlu diteliti kebenarannya.            
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala …
Oleh karena itu, sepatutnyalah setiap pribadi hendaknya senantiasa melakukan muhasabah ( intospeksi ) dan mawas diri terhadap setiap kata yang diucapkan atau setiap hukum yang ditetapkan bagi orang lain. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا}
“ dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.( Al Israa’ : 36 )
Sekali lagi bahwa berprasangka buruk atau su’udzan tidaklah membawa manfaat melainkan membawa mudharat. Bahkan sebaliknya yakni su’udzan memicu adanya pikiran buruk, ghibah, perselisihan, permusuhan hingga memutus tali persaudaraan. Oleh karena itu, pada setiap muslim dihimbau untuk selektif dalam menerima informasi agar terhindar dari fitnah.


Khutbah Kedua

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala …
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan karunia, rahmat, hidayah, dan inayahNya sehingga kita dapat berkumpul di sini dalam menjalankan sholat jum’at dan mengikuti khutbah jum’at.  Marilah kita senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai wujud bukti cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sesungguhnya taqwa adalah awal mula untuk mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sholawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad  Shollollahu Alaihi Wassalam, yang kita tunggu-tunggu syafa’atnya besok di yaumul qiyamah. Beliaulah yang membawa dari zaman jahiliah menuju zaman yang cemerlang, dari kegelapan menuju kebahagiaan hakiki. Baginda Rosulullah SAW adalah sosok yang memperjuangkan islam hingga dikenal ke seluruh penjuru dunia. Beliau yang rela berkorban harta, jiwa, dan pikiran demi mendakwahkan agama islam baik dalam lapang maupun sempit, baik dakwah secara sembunyi-bunyi maupun secara terang-terangan. Beliau adalah uswatun khasanah yang mengajarkan tentang akhlakul karimah. Beliau telah menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya. 
Pada hakekatnya, munculnya prasangka buruk akan memicu terjadinya dzalim sejak dalam pikiran, lalu timbulah rasa benci, menuduh hingga mencari-cari kesalahan orang lain, ghibah hingga cercaan dan hinaan. Prasangka buruk ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:
1.     Berita yang diframing media sedemikian rupa shingga menimbulkan beberapa opini masyarakat termasuk menumbulkan su’udzan. Terlebih, banyak media yang mengungkap fakta hanya sebagian dan menutup sebagian lagi fakta yang lainnya. Sehingga tak jarang adanya framing oleh media ini menyebabkan su’udzan, ghibah dan perpecahan antar ummat mulim.
2.     Diri yang mudah terpengaruh dan mudah percaya terhadap informasi tanpa diselidiki kebenarannya. Sikap yang mudah percaya ini seringkali dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang menginginkan adanya perpecahan atar umat muslim dengan mengadu domba umat muslim.
3.     Pengaruh lingkungan yang buruk yakni pengaruh keluarga, teman yang menjadi pendorong timbulnya hawa nafsu terhadap keburukan.
Bilamana prasangka buruk dapat menimbulkan fitnah, maka solusinya adalah selektif dalam menerima informasi agar terhindar dari fitnah. Bilamana prasangka buruk dapat disebabkan oleh beberapa faktor pemicu, maka prasangka burukpun ada obatnya. Tips-tips untuk menghindari prasangka buruk agar terhindar dari fitnah yaitu:
1.      Selektif terhadap informasi yang diterima, tidak langsung percaya melaikan diteliti dan diselidiki terlebih dahulu akan kebenaran informasi yang diterima. Hal ini karena setiap informasi yang diterima belum tentu benar adanya, sehingga perlu untuk memfilter setiap informasi yang diterima.  Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat: 6) ”.
2.     Mendahulukan prasangka baik. Umar Ibnu Al-Khattab berkata, “jangan engkau berprasangka buruk terhadap setiap kata yang diucapkan oleh saudaramu, selama masih memungkinkan untuk memahaminya dengan positif.”
3.     Senantiasa berhusnudzan kepada siapapun. Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, "Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik".
4.     Fokus untuk memperbaiki diri dengan mengubah sikap buruk kita menjadi sikap yang baik. Dengan menyibukkan diri untuk intropeksi diri akan membuat waktu bermanfaat dan tiada waktu untuk mencari celah kesalahan orang lain. Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-'Uqala (hal.131), "Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya".
Demikianlah khotbah yang saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat. Marilah kita tutup khotbah ini dengan doa bersama-sama;
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mohon maaf
atas segala kehilafan dan kekurangan.
Assalamualaikum. Wr. Wb
         


Tidak ada komentar :