HALIMAH BINTI MASDARI

Tampilkan postingan dengan label Krisis Air Bersih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis Air Bersih. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2020

KONSERVASI AIR, SOLUSI EFEKTIF ATASI KRISIS AIR

KONSERVASI AIR, SOLUSI EFEKTIF 
ATASI KRISIS AIR 
*****
Oleh Dewi Nur Halimah

Gambar 1. Menjernihkan Air Menjernihkan Kehidupan (Picture available at: https://www.nanosmartfilter.com). 

Air adalah kebutuhan primer bagi seluruh makhluk hidup. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan semua memerlukan air. Tanpa adanya air, maka tak akan ada kehidupan di permukaan bumi ini. Air memiliki fungsi krusial sebagai sumber kehidupan. Ketersediaan air menjadi faktor penentu keberlangsungan hidup makhluk hidup di permukaan bumi.

Gambar 2. Save Water Save Our Life (Picture available at: https://www.duniaperikanan.com). 

Sebagai contohnya manusia. Komponen terbesar penyusun tubuh manusia adalah air dengan prosentase sekitar 60% – 70% dari berat tubuh. Air sangat penting bagi organ-organ dalam tubuh untuk dapat bekerja dengan baik menjalankan fungsinya. Apabila tubuh kekurangan cairan, agar tetap dapat menyeimbangkan kadar air, maka tubuh secara otomatis akan mencari jalan mengambil sumber air dari komponen tubuh sendiri antara lain dari darah, akibatnya kadar air dalam darah akan berkurang dan darah menjadi kental. Pada akhirnya, perjalanan darah sebagai alat transportasi oksigen dan zat – zat makanan akan terganggu. Saat melewati otak, perjalanan darah akan terhambat, sel-sel otak yang seharusnya menerima asupan zat-zat makanan dan oksigen tidak dapat berjalan optimal dan lebih cepat mati. Keadaan seperti ini yang menyebabkan timbulnya penyakit stroke. Ini adalah pentingnya air bagi tubuh manusia.

Selain itu, manusia juga membutuhkan air untuk menjalankan aktivitas di kehidupan sehari-hari seperti air untuk memasak, air untuk mencuci pakaian, air untuk mencuci peralatan rumah tangga, air untuk mencuci kendaraan, air untuk irigasi pertanian, air untuk mandi, dan lain sebagainya. Ya, tak dapat dipungkiri bahwa manusia tak dapat hidup tanpa air. Tak berbeda jauh dengan manusia, tumbuhan dan hewan pun dapat hidup tergantung pada ketersediaan air. Tumbuhan memerlukan air untuk tumbuh dan berkembang serta produksi secara normal. Bila tumbuhan hidup dengan kekurangan air, maka tanaman akan tumbuh kerdil, layu, bahkan bisa terancam mati.

Air memiliki peran utama bagi kehidupan tumbuhan. Pada sebagian tumbuhan, air memiliki fungsi sebagai habitat hidup tumbuhan. Misalnya saja enceng gondok, teratai, pandan air, bunga maskumambang, dan lain sebagainya. Air juga berperan sebagai pelarut bagi zat hara yang diperlukan tumbuhan. Zat hara yang ada di dalam tumbuhan, dilarutkan oleh air dan kemudian diedarkan ke seluruh bagian tumbuhan. Selain itu, air juga sangat penting bagi tanaman sebagai alat transportasi untuk mengedarkan zat hara. Bahan yang diangkat dapat berupa bahan mineral dari dalam tanah, bahan-bahan organik hasil fotosintesa, dan olahan sel lainnya. Fungsi air yang paling utama bagi tumbuhan adalah sebagai bahan dasar pada fotosintesis. Tanpa adanya air, maka proses fotosintesis akan terhambat dan kehidupan tanaman pun bisa terancam punah.

Sama halnya dengan manusia dan tumbuhan, kehidupan hewan juga tergantung pada ketersediaan air. Hewan memerlukan air untuk minum agar proses metabolisme dalam tubuh hewan lancar. Beberapa hewan mamalia membutuhkan air untuk produksi susu. Sebagian hewan air, membutuhkan air sebagai tempat habitat hidup. Misalnya saja ikan, udang, cumi-cumi, dll. Selain itu hewan juga memerlukan air untuk membersihkan diri (mandi), sebagai contohnya adalah kerbau. Setelah berkubang di lumpur, kerbau biasanya membersihkan diri di sungai. Bahkan pada hewan-hewan tertentu membutuhkan air untuk berlindung. Seperti halnya kuda nil yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam air agar bisa menghindari panas terik di siang hari.

Berdasarkan uraian di atas dapat kita ketahui bahwa semua makhluk hidup membutuhkan air untuk keberlangsungan hidupnya. Akan tetapi sayangnya, ketersediaan air semakin hari semakin langka. Menurut World Resources Institute (WRI), penduduk di 400 wilayah di dunia hidup dalam kondisi "kekurangan air yang ekstrem". Nyaris sepertiga penduduk dunia - 2,6 miliar jiwa - hidup di negara dengan keadaan "tekanan ketersediaan air tinggi", dan dari jumlah ini 1,7 miliar orang di 17 negara digolongkan hidup dalam "tekanan air ekstrem".

Gambar 3. Krisis Air Bersih (Picture available at: https://lipi.go.id).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan capaian akses air bersih yang layak saat ini di Indonesia mencapai 72,55 persen. Angka ini masih di bawah target Sustainable Development Goals (SDGs) yakni sebesar 100 persen. Sebanyak 33,4 juta penduduk kekurangan air bersih dan 99,7 juta jiwa kekurangan akses untuk ke fasilitas sanitasi yang baik.

Gambar 4. Gerakan 100-0-100 (Picture available at: https://www.akurat.co). 

Mengonsumsi air bersih dan fasilitas sanitasi yang baik penting untuk kesehatan tubuh. Menurut laporan dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, satu dari tiga orang di seluruh dunia atau 2,4 miliar jiwa masih hidup tanpa fasilitas sanitasi. Itu pun termasuk 946 juta jiwa yang buang air besar di tempat terbuka, hal ini bisa meningkatkan risiko waduk dan sumur akan terkontaminasi.

Gambar 5. Daerah Rawan Krisis Air Bersih
(Picture available at: https://www.validnews. Id). 

Laporan WHO dan UNICEF mencatat bahwa akses air minum bersih telah membaik dalam beberapa tahun terakhir disusul oleh tingkat kelangsungan hidup anak-anak yang kian membaik juga. Kurang dari 1.000 anak berusia 5 tahun meninggal dunia setiap harinya karena diare. Hal tersebut terjadi karena kebersihan air yang tidak memadai, sanitasi buruk bahkan kebiasaan buang air besar di tempat terbuka.

Menurut penelitian WHO, penyakit yang timbul akibat krisis air antara lain kolera, hepatitis, polymearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.

Gambar 6. Ketahanan Air Kuat, Stunting Menurun (Picture available at: https://www.akurat.co).

Di Indonesia, 423 per 1.000 penduduk semua usia kena diare, dan setahun dua kali diare menyerang anak di bawah 5 tahun. Diare yang disertai muntah sering disebut muntah-berak (muntaber), gejalanya biasanya buang air terus-menerus, muntah, dan kejang perut. Jika tak bisa diatasi dengan gaya hidup sehat dan lingkungan yang bersih, bisa lebih jauh terkena tifus dan kanker usus, yang tak jarang menyebabkan kematian.

Telah kita ketahui bahwa akses air bersih dan sanitasi yang baik adalah standar untuk mendapatkan kehidupan yang sehat dari gangguan penyakit. Namun sayangnya belum bisa dicapai oleh seluruh masyarakat Indonesia, kelangkaan air bersih masih sering terjadi, kekeringan sering melanda, dan perubahan iklim tidak pasti. Beberapa faktor penyebab kelangkaan air diantaranya:

1. Politisasi Kebijakan
Dimana pemerintah pro pada pengusaha tanpa mengindahkan kelestarian alam, hanya demi mendapatkan input (dari pajak) industri yang besar untuk negara. Dilegalkannya pertambangan mineral dan logam telah banyak menyumbang kelangkaan air bersih. Keberadaan pertambangan mineral dan logam telah merusak ekosistem lingkungan. Tanah yang subur menjadi gersang, tanaman pertanian tidak dapat tumbuh subur, tanah menjadi retak-retak, bangunan dari tembok mudah retak bahkan roboh, serta adanya waduk pembuangan limbah pertambangan yang mengandung bahan-bahan berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Bukan hanya itu, keberadaan pertambangan mineral dan logam mematikan hewan-hewan di sekitar lokasi pertambangan, mematikan perekonomian masyarakat kecil sekitar, dan tak jarang menyebabkan kematian anak-anak yang bermain di sekitar lokasi pertambangan.

2. Komersialisasi Air Kemasan

Menurut data dari MARS Indonesia, produksi air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 9,47 miliar liter, kemudian meningkat menjadi 10,19 miliar liter pada tahun 2009 dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya, hingga menjadi 14,90 miliar liter pada tahun 2014. Selama periode tersebut produksi AMDK telah meningkat menjadi rata-rata sebesar 7,9% per tahun. Meningkatnya produksi AMDK itu disebabkan oleh permintaan di pasar domestik dan tingginya permintaan dari pasar ekspor.

Komersialisasi air telah mengancam jumlah ketersediaan air tanah yang juga semakin berkurang akibat pembangunan. Sumber-sumber air yang bersih dan unggul telah diambil alih perusahaan swasta. Sisa sumber-sumber air atau media penyimpan air seperti kawasan karst semakin banyak dirusak dan dikeruk untuk pertambangan. Berdasarkan data dari Bappenas pada tahun 2017, sekitar 72 juta orang Indonesia masih belum mempunyai akses air minum yang layak. Selain itu, sekitar 96 juta orang Indonesia masih belum mempunyai akses sanitasi yang layak. Seharusnya dalam menangani kasus privatisasi sumber air, pemerintah tidak mudah memberikan izin kepada pihak sastra dan lebih mengedepankan fungsi sosial (kesejahteraan masyarakat sekitar sumber air) dibandingkan fungsi ekonomi (pajak yang diberikan perusahaan air dalam kemasan).

3. Sikap apatis masyarakat terhadap rusaknya lingkungan

Sikap egois manusia yang mengeksploitasi sumber daya alam hutan berlebihan menjadikan banyak hutan di Indonesia menjadi gundul. Ketika musim penghujan tiba, banjir mudah melanda. Ketika musim kemarau tiba, kekeringan melanda. Tiada lain karena keegoisan manusia yang mengeksploitasi hutan secara besar-besaran demi nilai ekonomi. Padahal fungsi hutan adalah sebagai paru-paru dunia, menyimpan air, mencegah erosi dan banjir, habitat flora dan fauna, serta sumber kekayaan bangsa. Selain itu, sifat boros dalam penggunaan air pun masih banyak dilakukan masyarakat. Alangkah baiknya jika air tidak digunakan, keran dimatikan. Penggunaan air sehemat mungkin agar ketersediaan air terjaga. Banyaknya bangunan-bangunan, tanah yang biasanya ditumbuhi rumput berubah menjadi lantai keramik, lantai paving, lantai moster yang tidak bisa menyerap air saat musim penghujan menjadi penyumbang kelangkaan air.

Gambar 7. Tips Menghemat Air (Picture available at: https://pdamkabtegal.com).

Di samping itu, sikap manusia yang apatis pada lingkungan dengan membuang limbah pestisida dan pupuk yang hanyut dari pertanian serta limbah industri  yang langsung dibuang ke sungai tanpa mengolahnya di instalasi pengolahan air membuat pencemaran air. Tumpahan minyak di tanah, kebocoran air limbah dari tempat pembuangan sampah dapat merembes di bawah tanah dan dapat mencemari air tanah sehingga tidak layak untuk konsumsi manusia dan menyebabkan kelangkaan air bersih.

Dampak kelangkaan air bersih ini tidak dapat diabaikan. Krisis air menyebabkan kelaparan terjadi secara massal untuk manusia dan hewan yang berada di daerah tersebut. Hal ini tiada lain karena aktifitas bercocok tanam para petani terhambat dan berdampak besar pada kebutuhan pokok hidup manusia sehari-harinya. Akibatnya kelaparan merajalela. Kelangkaan air juga menyebabkan lahan basah telah menjadi kering sampai kehilangan kemampuan alami untuk menahan air. Di samping itu, kelangkaan air juga mendorong proses manufaktur dan industri, kegiatan pertambangan, dan bisnis komersial mengalami lesu sebab kerugian ekonomi sangat besar yang berdampak pada kemiskinan.

Kelangkaan air juga menyebabkan manusia kehilangan tumbuhan, kematian pada satwa liar dan hewan lainnya. Akibatnya, terjadi bencana ekologi yang bisa menyebabkan kekurangan makanan dan kualitas hidup yang buruk. Kelangkaan air bersih dapat juga mendorong anak-anak kurang mendapatkan pendidikan bahkan kehilangan pendidikan. Anak-anak akan lebih banyak membantu keluarganya untuk mendapatkan air sehingga akan jarang sekali untuk memikirkan pelajaran sekolah, bahkan tidak sekolah demi mendapatkan air yang bersih untuk minum dan kebutuhan sehari-hari. Lebih parah dari itu semua, kelangkaan air dapat mengakibatkan manusia mengalami kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan lainnya. Bahkan juga menderita penyakit kronis yang mengerikan hingga kematian.

Untuk mengatasi permasalahan krisis air perlu adanya kerjasama dari beberapa elemen baik dari pemerintah selaku pembuat kebijakan, komunitas pecinta lingkungan, komunitas peduli air, dan masyarakat. Mereka perlu bekerjasama untuk menangani kasus kelangkaan air ini. Tanpa adanya kerjasama yang terorganisasi maka solusi krisis air tidak akan tercapai. Beberapa hal yang dapat digalakkan sebagai upaya konservasi air bersih diantaranya:

1. Membuang sampah pada tempatnya, bukan di sungai.
Hal ini penting untuk mencegah pencemaran lingkungan, terutama pencemaran air.

2. Membuat daerah resapan air.
Hal yang dapat dilakukan untuk membuat daerah resapan air diantaranya; lembuatan taman kota, penanaman pohon di kebun, dan reboisasi hutan.

3. Pembuatan biopori
Biopori membuat kawasan menjadi lebih asri dan lebih hijau serta dapat mencegah banjir.

4. Membuat Rainwater Harvesting (Pemanenan Air Hujan). 
Rainwater harvesting termasuk metode konservasi air yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam rumah tangga untuk mendapatkan air jernih yang lebih berkualitas.

5. Reboisasi hutan yang gundul dan gerakan menanam sejuta pohon agar lingkungan asri dan hijau kembali.

6. Hemat dalam menggunakan air yakni menggunakan air seperlunya saja dan tidak membuang-buang air atau menggunakannya secara berlebihan. Ini dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan menggunakan air secara hemat serta mematikan keran apabila tidak digunakan.

Gambar 8. Ayo Hemat Air (Picture available at: http://sda.pu.go.id). 
7. Konservasi lahan untuk mencegah erosi dan menjadi wahana untuk membuat lingkungan tetap lestari dan hijau.

8. Memulihkan kesehatan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Gambar 9. Mewujudkan Ketahanan Air
Berkelanjutan (Picture available at: https://kominfo.go.id) .

9. Kebijakan pemerintah yang pro rakyat dengan lebih mengutamakan kesejahteraan sosial masyarakat dibandingkan fungsi ekonomi yang mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Tidak mudah memberikan izin terhadap pendirian CV maupun PT yang bergerak dalam privatisasi sumber mata air serta tidak mempermudah izin perusahaan pertambangan. Sebagaimana bunyi pasal 33 ayat 3 UUD 1945 (konstitusi tertinggi di Indonesia, di atas peraturan perundung-undangan lainnya) bahwa "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Lebih tegas lagi, pemerintah berani melakukan review dan mencabut izin perusahaan-perusahaan yang selama ini terbukti merampas dan menggusur kehidupan masyarakat, sebab konflik yang terjadi saat ini adalah konflik yang terus mengulang. Karena tidak ada itikad baik dari korporasi untuk menghargai hak-hak masyarakat. Kebijakan dan sanksi yang tegas akan membuat masyarakat sejahtera dan kelangkaan air bersih dapat teratasi. Kelangkaan air bersih adalah masalah krusial sebab air adalah sumber kehidupan. Peduli terhadap ketersediaan air bersih sama halnya dengan peduli dengan keberlangsungan hidup generasi di masa depan.

Gambar 10. Ketahanan Air untuk Kesejahteraan (Picture available at: https://www.akurat.co).
Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

#AiruntukKehidupan
#PerubahanIklimKBR

DAFTAR PUSTAKA:

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. 2019. "Ayo Hemat Air". Available at: http://sda.pu.go.id/pages/infografis. Didownload pada 1 Juni 2020.

Dunia Perikanan. 2017. "Air Sebagai Sumber Kehidupan". Available at: https://www.duniaperikanan.com/2017/12/air-sebagai-sumber-kehidupan.html?m=1. Didownload pada 1 Juni 2020. 

Kominfo. 2015. "Demi Ketahanan Air Berkelanjutan". Available at: https://kominfo.go.id/content/detail/5642/demi-ketahanan-air-berkelanjutan/0/infografis. Didownload pada 1 Juni 2020.

LIPI. 2020. "Krisis Air Bersih". Available at: https://lipi.go.id/. Didownload pada 1 Juni 2020.

Nano Smart Filter. 2020. "Penjernihan Air Menjernihkan Kehidupan". Available at: http://nanosmartfilter.com/tag/krisis-air/. Didownload pada 1 Juni 2020.

Nawa, Candra. 2020. "Ketahanan Air untuk Kesejahteraan". Available at: https://www.google.com/amp/s/m.akurat.co/981534/ketahanan-air-untuk-kesejahteraan. Didownload pada 1 Juni 2020.

Perumda Air Minum Tirta Ayu Kab. Tegal. 2019. "Tips Menghemat Air". Available at: https://pdamkabtegal.com/news/2019/08/07/tips-menghemat-air/. Didownload pada 1 Juni 2020.

Ryan. 2018. "Gerakan 100-0-100". Available at: https://www.google.com/amp/s/m.akurat.co/318211/gerakan-1000100-pembangunan-air-bersih-dan-sanitasi-untuk-hidup-sehat. Didownload pada 1 Juni 2020.

Ryan. 2020. "Ketahanan Air Kuat, Stunting Menurun". Available at: https://www.google.com/amp/s/m.akurat.co/974094/ketahanan-air-kuat-stunting-menurun. Didownload pada 1 Juni 2020.

Saputra, Bobby. 2019. "Daerah Rawan Krisis Air Bersih". Available at: https://www.validnews.id/Infografis-Daerah-Rawan-Krisis-Air-Bersih-MI. Didownload pada 1 Juni 2020.