HALIMAH BINTI MASDARI

Senin, 20 Januari 2020

Bersyukurlah Maka Hatimu Akan Tenang dan Bahagia

Bersyukurlah maka Hatimu akan 
Tenang dan Bahagia
*****
Blora, 20 Januari 2020


Dear diary digital usangku, suatu saat kisah-kisah nyata perjalananku ini akan terbadikan menjadi bagian dari novelku in syaAllah. Untukmu sobat Halimah, kali ini aku banyak belajar syukur dari observasi (pengamatan) sosial yang kulakukan. Tentang manfaat syukur dan korelasinya dengan hati. 

Perjalanan kali ini aku menjumpai beberapa keluarga. Aku sempat menjumpai keluarga berantem karena ekonomi. Kutanya penghasilannya berapa. Dan betapa terkejutnya aku. Namanya Mr. H (pakai nama inisial saja ya). Dia pekerjaannya membuat danganan atau pegangan sabit. Sehari bisa membuat sekitar 150 danganan, satu danganan harganya 3 rb. Berarti penghasilan per hari sekitar 450 rb. Bagi saya besar. Anehnya kog sampai kebutuhan tak cukup dan masih hutang. 

Disinilah saya mulai merenung. Bapak saya itu penghasilan tak menentu tergantung hasil panen. Kadang keseharian nggak pegang uang, pegangnya pas panen berhasil. Sementara emakku, penghasilan bersih sekitar 50 rb di pasar. Itu pun hanya pon, kliwon, legi. Tapi emak dan bapak selalu merasa cukup. Mereka makan pun tak pernah ngeluh. Alhamdulillah beras punya sendiri hasil panen. Sayur ya apa adanya, ada petani China, terong, singkong, cempokak, rebung ya dimasak. Seadanya yang dipunya. Alhamdulillah cukup ndak ngeluh.

Berhari-hari saya merenung. Lalu kutemui lagi, karyawan pande besi. Penghasilan sekitar 100-200 rb per hari. Tapi mengaku masih kurang. Dan mengeluh bingung ini itulah. Sebenarnya management keuangan mereka bagaimana, penghasilan segitu tidak cukup?. Sebenarnya berapapun penghasilan kita, itu pasti cukup kalau kita hidup sederhana dan banyak syukur. Selain itu pinter management keuangan, pengeluaran harus lebih kecil dari pemasukan atau mentok pengeluaran = pemasukan. Sehingga imbang, syukur-syukur bisa surplus.

Aku berjalan lagi. Ada orang, anggap saja Mr. K. Penghasilan sekitar 500 rb/ hari. Tapi juga punya banyak hutang dan mengeluh kurang. Saya pun heran, hampir 10 orang lebih dengan penghasilan menurut saya besar, kog masih ngerasa kurang, dan banyak hutang. Saya pun mengamati kebiasaan belanja mereka, cara memanage uang, dan menarik kesimpulan. Ternyata mereka semua tidak pernah merasa cukup ya karena pola hidup yang kurang baik, tidak menerapkan menabung meski kecil, boros keuangan, belanja apa saja yang dimau, suka ngutang (gali lubang tutup lubang) untuk beli sesuatu yang bukan primer alias tidak terlalu penting hanya sekedar untuk kesenangan sesaat.

Disinilah saya belajar, kalau rizki diperoleh dengan jalan halal. Lalu setelah memperoleh disyukuri dengan mengucap hamdalah disertai management keuangan yang baik, ya in syaAllah barokah. Bahkan bisa buat nabung dan juga sodaqoh. Budaya boros membeli sesuatu yang tidak penting atau sekedar gaya-gayaan nurutin nafsu itu dihilangkan, nanti in syaAllah barokah. Kalau ngendikan guru saya, rizki barokah itu kalau diperoleh dengan cara halal dan penuh syukur.

Saya berani bilang begini, karena saya sudah mempraktekkan. Penghasilan 10/ hari pernah tahun 2012 selama sebulan, bulan november 2012 saat jadi mahasiswa. Apa saya kekurangan, tidak. Makannya ya ngirit. Nasi masak sendiri, lauk beli 7 ribu buat sehari cukup. 3 ribu nabung. Sampai sekarang yang penghasilan lumayan pun, saya tetap sederhana. Penghasilan saya tidak besar, wong saya cuman guru honorer. Sampingannya yang banyak. Kenapa nyari sampingan? Biar cukup dan tidak banyak ngeluh. Alhamdulillah cukup buat kebutuhan saya, bisa ngirim adek hampir tiap bulan, ngasih bapak ibu, buat sodaqoh. Siapa yang mencukupkan? Allah. Lantaran apa?. Lantaran penuh syukur dan management keuangan yang baik serta tidak pelit sama orangtua dan adek kandung, sama ringan tangan bantu orang juga.

Kalau dipikir secara akal, banyak guru honorer atau guru madrasah itu penghasilannya minim. Tapi barokah. Alhamdulillah bapak saya, penghasilan e nggak seberapa. Saya tahu sendiri, cuman beliau neriman makan apa adanya yang dimasakkan emak. Alhamdulillah cukup, bahkan atas kebaikan allah bisa beli beberapa tanah. Beli tanah lantaran kerja keras mereka, bukan warisan. Menurut saya ya karena barokah. Bapak emak saya orangnya sederhana, suka sedekah semampunya, nggak ngoyo, rajin kerja, ulet. Beliau kalau janji amanah ditepati, kalau berkata bertanggung jawab. Dan mereka tidak suka beli sesuatu dengan hutang. Kata beliau marai kepala pusing hidup banyakan hutang, tidur nggak tenang, ya kalau umur panjang. Kalau mati ninggalin hutang gimana, trus yang ditinggalkan nggak bisa bayar hutang, bisa disiksa malaikat. Lebih baik hidup sederhana asal nggak punya hutang, walau digubug namun ibadah nyaman, tidur terlelap, dan penuh syukur.

Intinya kunci berkahnya rizki:
1. Budayakan beli sesuatu dari nabung, jangan hutang apalagi dari riba atau bahkan dari rentenir. Sudah pasti mencekik kamu. Hutang itu boleh, kalau kepepet banget saja. Ingat, hanya kalau kepepet. Kalau tidak, ya jangan dipepet-pepetkan.
2. Pastikan cara memperoleh rizki dengan cara halal (bukan riba, bukan menipu, bukan merampok, bukan nyogok, bukan berbohong, bukan jual barang haram, bukan menjalani kegiatan haram, bukan nyuri, dll).
3. Selalu syukur dengan rizki yang kamu dapat. Besar maupun kecil ucapkan hamdalah dan syukur sama Allah.
4. Sisihkan penghasilanmu untuk menabung. Jaga jaga, namanya manusia kadang sakit butuh buat beli obat, bisa juga buat investasi beli peralatan jangka panjang, bisnis, tanah, properti, dll.
5. Sempatkan untuk berbagi. Nyenengin orangtua (belikan kesukaan orangtua), nyenengin keluarga, berbagi ke yatim piatu/ dhuafa/ fakir miskin.
6. Hilangkan budaya belanja yang nggak penting. Beli barang yang kamu butuhkan saja. Lebih ya ditabung dan sedekah.
7. Tanamkan prinsip, rizki itu pasti cukup untuk hidup tapi tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Jangan banyakan gaya, sederhana saja. Bergayalah sesuai kemampuanmu dan tidak melanggar syariat agama 😊

Tidak ada komentar :