HALIMAH BINTI MASDARI

Kamis, 22 Desember 2016

ASH-HAABUL UKHDUUD

ASH-HAABUL UKHDUUD
*****

            Di sebuah istana kerajaan, hiduplah seorang raja yang dzalim lagi kafir yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Sang raja melakukan tipu daya agar rakyatnya menyembahnya dengan bantuan sihir si penyihir kerajaan. Suatu hari, terjadilah diskusi antara sang raja dan penyihir tua kerajaan. Penyihir kerajaan merasa usianya telah tua, dan tibalah ia menanti hari kematiannya dari waktu ke waktu.
            “Usiaku telah tua, dan aku sudah dekat akan kematian,” kata penyihir tua kerajaan.
            “Lalu apa yang harus aku lakukan, wahai penyihir? Aku tak bisa melakukan tipu daya tanpamu. Sesungguhnya di negeri ini para manusia itu menyembahku karena jasa sihirmu,” tanya Sang Raja.
            “Paduka, sesungguhnya aku telah menginjak akhir usia dan kesehatanku melemah. Menurut pendapatku, engkau harus memilihkan seorang anak kecil untukku, dan aku akan  mengajarkan sihir kepadanya, sehingga dia bisa menjadi penyihirmu. Jika aku mati, sihirku tidak akan mati dan orang-orang tetap akan menjadi budakmu,” jawab penyihir kerajaan.
            Raja menyetujui itu, kemudian memerintah para kaki tangannya untuk memilihkan anak terpintar di kerajaannya untuk menjadi penyihir barunya. Merekapun memilih “Abdullah bin Tamir”, seorang anak yang paling cerdas di kota itu.
            Abdullah berangkat ke rumah sang penyihir pada hari pertama dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, karena dia telah mendapatkan karunia itu. Sekarang pakaiannya baru dan hartanyapun banyak. Dia akan menjadi penyihir raja, Tuhan yang ditakuti oleh manusia, dan diapun akan menjadi orang yang paling terkenal di kerajaan itu setelah raja, bahkan orang yang terkaya setelah raja. Dia akan dapat mewujudkan semua yang dia inginkan. Pelajaran sihir pun kemudian dimulai.  
*****
            Perjalanan dari rumah Abdullah ke rumah penyihir cukup jauh dan memakan waktu lama, sehingga terkadang dia duduk untuk beristirahat karena kelelahan menempuh perjalanan. Setiap kali perjalanan menuju rumah penyihir, Abdullah selalu melewati sebuah gua kecil di perjalanan. Setiap kali pula, ia mendengar suara syaikh tua yang menyeru: “Wahai Dzat Yang Hidup Kekal, wahai dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, wahai Dzat yang menciptakan langit dan bumi.”
            Abdullah kecil tak berani masuk ke dalam gua karena takut kepada penghuninya, yaitu syeikh tua. Namun demikian, gema dari ucapan itu terus terngiang di telingannya, “Wahai Dzat yang hidup kekal, wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhlukNya”.
            Abdullah kemudian sampai di rumah penyihir, dan penyihir  pun mulai memberikan pelajaran sihir kepadanya. Namun penyihir mengetahui bahwa anak itu tersibukkan oleh sesuatu.
            “Apa yang terjadi padamu, wahai penyihir kecil?,” tanya penyihir tua kerajaan.
            “Tuan, sesungguhnya hari ini aku mendengar beberapa kalimat yang menyibukkan aku dari segala sesuatu,” jawab Abdullah bin Tamir.
`           “Kalimat apa itu,” tanya penyihir tua.
         “Siapakah Dzat yang kekal dan terus menerus mengurusi makhluk-Nya? Siapa Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi?,” tanya Abdullah.
            “Berhati-hatilah mengucapkan perkataan itu, sebab kita semua adalah hamba bagi sang raja. Sesungguhnya kamu adalah seorang penyihir raja, maka pelajarilah sihir yang dapat membuat semua manusia menjadi pembantumu dan kamu akan menjadi orang terkaya di kerajaan ini, bahkan di seluruh dunia,” kata Penyihir tua kerajaan.
            Abdullah terdiam dan kembali mempelajari sihir lagi. Namun kali ini dia mencermati bahwa sihir yang dia pelajari tak lain hanyalah sulap dan tipuan mata, hanya sebuah tipuan yang mengelabui pandangan mata tanpa ada kenyataannya. Bahkan apa yang diterimanya hanyalah halusinasi dan ilusi belaka.
            Sementara itu, suara syeikh tua masih terus terngiang di telinganya: “Wahai Dzat yang hidup kekal, wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya”.
                                                                         *****                                            
       Telur yang ia sembunyikan di balik salah satu lengan baju atau saku “Abdullah”, dia keluarkan dari lengan baju atau saku lainnya, lalu ia menyemburkan api dari mulut, kemudian memadamkannya kembali: dan ada pula yang berupa mantera-mantera yang tidak mengandung hal yang bermanfaat sama sekali.
            Itulah yang diajarkan sang penyihir raja kepada “Abdullah”, sehingga dia merasa dirinya tak lebih dari seorang pelayan raja, sedang raja itu sendiri tak lebih dari manusia lemah yang tidak memiliki kemanfaatan atau kemudharatan apa pun terhadap siapapun. Bahkan dia adalah orang yang selalu memerlukan makanan ketika lapar, memerlukan air ketika haus, dan memerlukan obat ketika sakit. Oh, alangkah besar ketertipuan yang telah dijalani penduduk kerajaan tersebut.
            Ketika Abdullah dalam perjalanan menuju rumah sang penyihir, tiba-tiba dia mendengar suara itu lagi: “Wahai Dzat yang hidup kekal, wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya”.
         Abdullah kecil kemudian memaksakan diri masuk ke dalam gua, hingga dia berada di dalamnya dan menemukan seorang kakek tua yang sedang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya seraya mengatakan: “Wahai Tuhanku, Dzat yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya….Tuhan langit dan bumi. Engkaulah yang patut disembah, tidak ada Tuhan selain-Mu, Engkaulah Tuhan pemilik alam semesta, tidak ada tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau dan Engkau Mahatinggi. Arsy-Mu di atas langit, wahai Dzat yang Maha Penyayang. Maka ampunilah aku dan kasihanilah aku”.  
            Abdullah tidak menyadari dirinya, kecuali saat air matanya menetes di kedua pipinya bak mutiara yang berjatuhan. Tiba-tiba tanpa sadar, lidahnya mengatakan: “Aku beriman kepada Dzat yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya”. 
            Ketika itulah syeikh tua itu tersadar seraya bertanya: “Siapa kamu, wahai anak kecil?”
            “Aku Abdullah bin Tamir, penyihir kecil Raja”.
            “Bagaimana engkau bisa masuk ke sini?”.
        “Aku mendengarmu memanggil Tuhanmu yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan ucapanmu itu mengejutkanku”.
            “Duhai anakkku, sesungguhnya Allah adalah penciptaku, penciptamu, dan pencipta raja yang mengklaim dan mengaku secara bohong bahwa dirinya adalah tuhan selain Allah.”
            “Allah?. Oh, itu Tuhan yang Agung. Aku pernah mendengar kata-katamu itu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana cara agar aku dapat menyembah Allah?,” kata Abdullah.
            Syeikh tua itu kemudian mengajari Abdullah bagaimana cara menyembah Allah dan bertasbih kepad Tuhannya. Maka menangislah mata si Abdullah kecil karena keimanannya, yang mengungguli keimanan orang-orang dewasa yang kafir terhadap Allah.
       Ketika itulah syeikh tua itu berkata: “Wahai Abdullah, janganlah kamu menunjukkan keberadaanku kepada orang lain dan sembunyikanlah keimananmu dari mereka, sebab jika raja mengetahui keadaanmu, niscaya dia akan membunuhku dan membunuhmu. Sehingga keimanan di muka bumi ini akan lenyap”.
            “Aku mematuhimu Syeikh, engkau telah menunjukkanku pada Allah, Dzat yang Maha Esa lagi Tunggal,” kata Abdullah kemudian pergi.
*****
            Abdullah tidak lagi peduli terhadap pelajaran sihir yang dia pelajari dari sang penyihir, sebab dia tahu bahwa penyihir itu adalah orang yang banyak berdusta, sedangkan segala sesuatu yang dusta akan segera terbuka di hadapan orang lain, sekalipun pelakunya seorang anak kecil atau orang fakir seperti dirinya.
            Sejak Abdullah beriman kepada Allah, yang terpenting dalam kehidupannya adalah pergi ke gua tempat syeikh tua itu, untuk mendengarkan tasbih dan alunan suara pujiannya, juga belajar kepadanya tentang bagaimana dia mendendangkan tasbih di waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itulah, Abdullah sering terlambat datang ke rumah penyihir.
            Jika Abdullah pergi ke rumah sang penyihir, maka penyihir itu memukulnya karena terlambat, dan jika ia kembali ke rumahnya, maka keluarganya memukulnya karena terlambat. Dengan demikian, si kecil itu berada di antara dua hal, dimana yang paling manis di antara keduanya adalah yang paling pahit akibatnya.
       Abdullah kemudian menceritakan persoalannya, syeikh berkata memberinya nasehat: “Apabila penyihir bertanya kepadamu mengapa kamu terlambat, jawablah bahwa keluargaku menahanku. Jika keluargamu bertanya, jawablah bahwa penyihir menahanku.” 
            Karena jarak antara rumah penyihir dan rumah Abdullah jauh. Sang penyihirpun percaya atas apa yang abdullah katakan dan tidak menanyakan kepada keluarganya. Keluarga Abdullah juga percaya atas apa yang Abdullah katakan dan tidak menanyakan kepada sang penyihir. Dengan demikian, Abdullah terlepas dari kekejaman sang penyihir, juga siksaan keluarganya.
            Ketika Abdullah sedang menyusuri perjalanannya pada suatu hari, tiba-tiba dia melihat desak-desakan manusia. Dia kemudian mendekat, ternyata dia melihat monster menutupi jalan, sehingga tidak ada seorangpun  yang bisa melompat atau melewatinya. Abdullahpun memungut sebutir kerikil dari tanah, lantas berkata: “Sekarang aku dapat mengetahui, apakah syeikh tua yang lebih Allah cintai ataukah penyihir raja”. Dia kemudian berkata: “Ya Allah, jika syeikh tua yang lebih engkau cintai daripada penyihir, maka jauhkanlah hewan ini dari jalan”.  
        Abdullah kemudian melemparkan kerikil itu, dan ternyata monster itu pergi dan tidak lagi menutupi jalan. Abdullah kemudian meneruskan perjalanannya menuju syeikh tua, sedang keimanan telah memenuhi relung hatinya. Dia kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya kepada sang syeikh tua.
            Syeikh tua berkata: “Duhai anakku, sekarang kamu lebih baik daripada aku dan sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepadamu. Jika kamu mendapat cobaan, janganlah engkau tunjukkan tentang keberadaanku kepada pihak yang menyiksamu.”
            Kedua orang itu kemudian larut dalam shalat yang panjang dan do’a kepada Allah.
*****
            Raja memiliki saudara sepupu yang buta sejak kecil. Oleh karena itulah, dia sangat sedih atas nasib yang dialaminya. Dia selalu mencari dokter yang bisa mengembalikan penglihatan yang telah hilang itu, agar sepupunya dapat melihat seperti manusia yang lain.
          Para tabib telah didatangkan, namun tidak seorangpun mampu mengembalikan penglihatannya. Meskipun si buta ini memiliki kekayaan, namun harta itu tidak dapat membahagiakannya dan tidak pula dapat mengembalikan penglihatannya.
            Selanjutnya sepupu raja kedatangan seseorang yang menyampaikan kabar baik kepadanya, bahwa ada seorang tabib di suatu kota yang telah dikunjungi banyak orang, kemudian setiap orang yang berpenyakit itu sembuh, sehingga semua orang mengira bahwa sang tabib memiliki kemampuan untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Si buta kemudian menyiapkan berbagai hadiah dan harta, lalu berangkatlah ia menemui sang tabib yang mujarab itu, yang mampu membuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan tabib-tabib yang lain.
        Sampailah si buta dan orang-orang yang bersamanya di rumah sang tabib, dan mereka mendapati antrean pasien yang cukup panjang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Mereka kemudian meminta izin untuk menemui sang tabib, ternyata mereka dikejutkan dengan sebuah kejutan. Ternyata tabib tersebut adalah Abdullah bin Tamir sendiri, penyihir raja yang kini telah menjadi sosok yang lebih terkenal daripada semua orang, bahkan dari raja itu sendiri.
            Si buta kemudian menawarkan harta dan hadiah kepada Abdullah bin Tamir agar dia mau mengembalikan penglihatannya. Namun Abdullah berkata: “Aku tidak mengambil upah dan aku tidak memerlukan harta. Aku hanya perlu kamu beriman kepada Allah semata.”
             Si buta bertanya: “Siapa itu Allah?”.
            Abdullah menjawab: “Allah adalah Dzat yang akan menyembuhkanmu dari penyakitmu jika aku berdoa kepada-Nya untukmu.”
            “Bagaimana dengan raja, bukankah raja itu Tuhan?.”
          “Apakah raja dapat menyembuhkanmu? Dia adalah hamba, aku adalah hamba, kamu adalah hamba, dan kita semua adalah hamba.”
     Abdullah kemudian mengusap mata si buta dengan kedua tangannya, kemudian Allah menyembuhkannya dan mengembalikan penglihatannya.
            Si buta pun berkata: “Aku beriman kepada Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah.”
         Abdullah kecil yang tumbuh dewasa dan telah menjadi tabib itu pun berkata: “Janganlah kamu memberitahukan perihalku kepada sang raja, karena dia pasti akan membunuhku dan juga kamu.”
            Si buta kemudian keluar dalam keadaaan sehat, dapat melihat, dan dapat berjalan tanpa perlu orang lain untuk menuntunnya. Dia telah beriman kepada Allah setelah kafir kepada-Nya. Dia menyembunyikan keimanannya, meskipun terhadap anak-anak dan istrinya.
*****
            Salah seorang pengawal datang menemui sepupu sang raja. Pengawal itu kemudian berkata: “Raja ingin bertemu denganmu!”
      Dia kemudian berangkat bersama sang pengawal, tanpa memerlukan seorangpun yang menuntunnya membimbingnya berjalan. Ketika dia telah menemui raja, raja sangat terkejut melihat keadaaanya dan dia berkata: “Selamat buat sepupuku yang sudah dapat melihat kembali.”
            Keponakan raja pun menjawab: “Segala puji bagi Allah atas segala hal itu.” 
         Raja langsung marah dan berkata: “Allah, apakah kamu memuji Allah di kerajaan dan istanaku? Apakah kamu percaya kepada Allah?.”
       “Ya, aku percaya kepada Allah yang telah menyembuhkanku dan mengembalikan penglihatanku, wahai raja.”
            “Apakah ada Tuhan selain diriku yang disembah di kerajaanku ini, selain diriku?.”
            “Bahkan semua orang adalah hamba di kerajaan Allah, wahai Raja.’
       Raja kemudian marah dan memanggil para pengawal. Mereka (raja dan para pengawal) kemudian menyiksa sepupu raja hingga dia menunjukkan kepada mereka keberadaan Abdullah. Mereka pun mendatangkan Abdullah dan menyiksanya hingga Abdullah menunjukkan keberadaan syeikh tua. Ketiga orang itu kemudian dihadapkan kepada raja yang lalim itu. Raja kemudian mengikat ketiga orang itu dengan rantai besi.
            Raja berkata: “Ingkarilah Allah!, jika tidak, aku akan membunuh kalian.”
           Sepupu raja yang pernah buta itu menjawab: “Aku tidak akan pernah menyembah selain Allah, dan aku tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
        Para prajurit kemudian membunuh sepupu raja, yaitu dengan cara menggergajinya dengan sebuah gergaji hingga tubuhnya menjadi dua bagian. Mereka kemudian berkata kepada syeikh tua: “Ingkarilah Allah. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang telah kami lakukan kepada si buta itu.’
            Namun steikh tua itu tetap teguh atas keimanannya sehingga mereka membelah tubuhnya dengan gergaji sampai menjadi dua bagian.
            Sekarang tiba giliran “Abdullah”. Mereka berkata kepadanya: “Ingkarilah Allah! Jika tidak, kamu akan jadi seperti mereka.”
            Abdullah menjawab: “Allah adalah Tuhanku, dan aku tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun”.
            Mereka kemudian meletakkan gergaji di atas kepala Abdullah dan hendak membunuhnya. Merekapun mencoba membunuhnya dengan pedang, namun Abdullah tak jua dapat dibunuh, kemudian mereka mencoba membunuhnya dengan panah, anak panah, dan pisau, namun mereka tetap tidak berhasil. Raja tertegun bingung di hadapan Abdullah. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
*****
“Ya Allah, hindarkanlah mereka dariku dengan sesuatu yang Engkau kehendaki.”
            Demikianlah do’a si anak kecil itu saat dia berada di puncak bukit yang tinggi bersama kedua orang pengawal yang akan melemparkannya dari atas bukit supaya dia mati, setelah semua cara dan upaya untuk membunuhnya gagal.
            Allah kemudian mengabulkan do’a Abdullah itu, lalu mendadak  bukit itu berguncang dan para pengawal itu terjatuh dari ketinggiannya dan mati seketika itu juga, sedang Abdullah masih tetap hidup.
            Selanjutnya ia (Abdullah) kembali kepada raja untuk menyerunya kepada Allah, sehingga raja pun menjadi semakin berang. Raja memerintahkan para tentaranya untuk meletakkan Abdullah di sampan dan membawanya ke laut, kemudian dilemparkan di sana agar mati tenggelam. Di tengah gelombang yang dahsyat, suara Abdullah melengking memanggil Tuhannya.  
              “Ya Allah, hindarkanlah mereka dariku dengan sesuatu yang Engkau kehendaki”.
            Sampan itu kemudian terbalik dan Abdullah selamat dari tenggelam, kemudian dia kembali kepada raja dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah dapat membunuhku, kecuali jika kamu melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.’
              Raja berkata: “Apa yang kamu perintahkan kepadaku?.”
            Abdullah menjawab: “Kumpulkanlah semua orang di lapangan yang luas, kemudian ikatlah aku di atas batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tabung anak panahku dan letakkanlah ia di busurnya, kemudian katakanlah: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini. Jika kamu melepaskan anak panah itu, niscaya kamu dapat membunuhku”.
            Raja pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah agar dia dapat menghabisinya.
            Tak lama penduduk kerajaan itu pun berkumpul di sebuah dataran tinggi, kemudian mereka melihat Abdullah terikat di sebuah pohon. Ternyata raja memegang tabung anak panah Abdullah, kemudian mengeluarkan satu anak panah darinya. Semua orang terdiam dan suara raja terdengar keras mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini”.
        Seketika dia melepaskan anak panah itu hingga mengenai kening “Abdullah”, maka Abdullahpun mati secara Syahid. Penduduk kerajaan kemudian sadar bahwa raja mereka tidak dapat membunuh anak itu, kecuali setelah dia mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini”. Mereka semua kemudian berteriak: “Kami beriman kepada Allah, Tuhan anak itu.”
            Tubuh Abdullah memang telah mati, namun do’a dan keimanannya tetap kekal. Rajapun menjadi bingung, sebab semua orang di kerajaannya telah menjadi penyembah Allah, bukan penyembah dirinya seperti dahulu. Dia (raja) kemudian memerintahkan untuk menggali parit yang besar. Setelah itu, dia (raja) memerintahkan para pengawal untuk menyalakan api, maka api yang besarpun dinyalakan. Satu demi satu, kemudian mereka membawa orang-orang mukmin itu. Para tentara pun menyeru: “Apakah kamu akan mengingkari Allah ataukah kami akan melemparkanmu ke dalam parit berapi?”.  
            Tidak ada seorangpun dari orang-orang mukmin itu, kecuali mereka dibakarnya di dalam parit tersebut, hingga yang tersisa hanyalah seorang wanita yang menggendong bayi di kedua tangannya. Mereka mengambil bayi itu dan berkata: “Apakah kamu memilih untuk mengingkari dari beriman kepada Allah? Jika tidak, kami akan membakar bayi kecilmu ini.” 
            Sang Ibu kemudian menatap bayinya dan ingin mengatakan perkataan kafir, namun Allah menghendaki dia tidak menjadi kafir sehingga bayi itu dapat berkata: “Ibu bersabarlah, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran yang nyata.”
            Sang ibu pun menolak kekafiran dan hanya meridhoi keimanan. Maka bayi itu dilemparkan ke parit berapi, setelah itu sang ibu dari bayi tersebut pun dilemparkan ke dalam parit berapi itu. Setelah itu, araja dan para tentaranya akan mendapatkan siksaan yang amat pedih di hari kiamat nanti.   
            “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka ahdzab Jahannam dan bagi mereka ahdzab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj (85): 4-10).

Hikmah yang dapat dipetik:
  1. Berimanlah kepada Allah SWT kapanpun dan  dimanapun kau berada, baik dalam kondisi lapang maupun susah. Sesungguhnya iman kepada Allah itu lebih kuat dari segala sesuatu. Allah akan senantiasa menolong hamba yang mencintaiNya, beriman padaNya, dan rela berkorban demi agamaNya.
  2. Sihir atau sulap adalah salah satu tipu muslihat yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemudharatan melainkan hanyalah tipu belaka.
  3. Penyihir adalah manusia yang mempersekutukan Allah dan patuh terhadap syetan. Maka jangan sekali-kali engkau persekutukan Allah dengan sesuatu apapun, sebab tiada Tuhan kecuali Allah. Dialah Allah, Dzat Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya, Dzat yang bisa menyembuhkanmu ketika sakit, Dzat yang menghidupkan lagi mematikan.
  4. Allah akan senantiasa memelihara hamba-hambaNya yang beriman.  

TUJUAN PENULISAN KISAH ASH-HABUL UKHDUD
Kisah ini ditulis agar menginspirasi para pembaca untuk senantiasa beriman, tetap menjaga imannya baik dalam kondisi susah maupun lapang. Semoga kisah ini bermanfaat dan semakin memperteguh iman dan keyakinan kita kepada Allah SWT. Tiada kekuatan kecuali dari Allah, tiada Tuhan kecuali Allah. Dialah Tuhan seluruh alam yang menciptakan langit dan bumi, yang terus menerus mengurusi makhluk-makhlukNya.    

REFERENSI:
Ath-Thahir, Hamid A. 2006. Kisah-Kisah dalam Al Qur’an untuk Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam.               
           
           
           



Senin, 19 Desember 2016

KHADIJAH BINTI KHUWAILID, PEMIMPIN WANITA SYURGA

KHADIJAH BINTI KHUWAILID, PEMIMPIN WANITA SYURGA
*****
Berteladan pada Ummul Mukminin, Sayyidah Khodijah RA.


            Siapakah sosok Khadijah binti Khuwailid (Sayyidah Khadijah RA)?. Khadijah binti Khuwailid adalah istri pertama Rosulullah SAW. Rosulullah SAW menikah dengan Sayyidah Khodijah RA pada usia 25 tahun, sedangkan Sayyidah Khodijah RA saat itu berusia 40 tahun. Pernikahan antara Rosulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA, Sayyidah Khodijah RA melahirkan 6 orang anak (2 laki-laki dan 4 perempuan). Anak Rosulullah SAW bersama Sayyidah Khodijah RA yaitu: Qosim, Abdullah, Fatimah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ruqaiyah. Semua anak laki-laki beliau (Rosulullah SAW) meninggal dunia saat mereka masih kecil. Sementara anak-anak perempuan beliau, mereka menjumpai islam, masuk islam dan berhijrah. Semua anak-anak Rosulullah SAW meninggal dunia ketika beliau masih hidup, kecuali Fatimah. Fatimah meninggal dunia setelah enam bulan wafadnya Rosulullah SAW.
            Sayyidah Khodijah RA adalah ummul mukminin, pemimpin kaum wanita seluruh alam pada masanya. Ibu anak-anak Rosulullah SAW. Sayyidah Khodijah RA adalah orang pertama yang beriman dan percaya kepada Rosulullah SAW sebelum siapapun juga mempercayainya. Beliau (Sayyidah Khodijah RA) memiliki banyak keutamaan, dan termasuk di antara wanita sempurna. Ia wanita berakal, mulia, patuh perintah agama, terjaga dan mulia, termasuk salah satu penghuni surga. Beberapa keutamaan besar Sayyidah Khodijah RA diantaranya:
1.      Orang pertama yang shalat bersama Rosulullah SAW.
*****
Wanita pertama yang dinikahi Rosulullah SAW adalah Khadijah, dan orang pertama yang beriman kepada beliau adalah Khodijah”. (Al-Fushul. Hlm, 243).
*****
Imam Az Zuhri RA menuturkan, “Khadijah RA adalah orang pertama yang beriman kepada Allah. Rosul menerima risalah Rabb lalu pulang ke rumah, setiap kali melewati pohon ataupun batu, semuanya mengucapkan salam kepada beliau. Saat masuk menemui Khodijah, beliau berkata, “Tahukah kamu sosok yang aku ceritakan kepadamu yang aku lihat dalam mimpi, dia itu Jibril. Ia memberitahukan kepadaku bahwa ia diutus Rabbku kepadaku.” Beliau memberitahukan wahyu pertamanya. Khadijah berkata, “Bergembiralah, demi Allah, Allah akan selalu memberlakukan padamu dengan baik. Maka dari itu terimalah apa yang datang kepadamu dari Allah, karena itu adalah kebenaran.” [Tarikh Al-Islam, Adz-Dzahabi (I/128)].
*****
2.      Orang pertama yang memberi anak-anak untuk Rosulullah SAW. Sayyidah Khodijah RA adalah istri pertama Rosulullah SAW. Pernikahan antara Rosulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA dikaruniai 6 orang anak (2 laki-laki dan 4 perempuan). Anak Rosulullah SAW bersama Sayyidah Khodijah RA yaitu: Qosim, Abdullah, Fatimah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ruqaiyah.
3.      Orang pertama di antara istri-istri Rosulullah SAW yang diberi kabar gembira surga.
4.      Orang pertama yang diberi salam Rabb
*****
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Jibril datang kepada Rosulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rosulullah, Khadijah akan datang membawa wadah berisi makanan, atau lauk, atau minuman. Jika dia sudah tiba nanti, sampaikan salam Rabbnya kepadanya, juga dariku. Dan sampaikan kabar gembira kepadanya sebuah rumah di surga dari mutiara cekung, tiada kegaduhan dan keletihan di dalamnya.” [Muttafaq “Alaih”. HR. Bukhari (3820), kitab: Keutamaan-keutamaan. HR. Muslim (2432), kitab: Keutamaan Para Sahabat].
*****
5.      Wanita shiddiq pertama di antara para mukminin wanita.
6.      Istri Nabi Muhammad SAW yang lebih dulu meninggal dunia.
7.      Kuburan yang pertama kali disinggahi Nabi Muhammad SAW adalah kuburannya di Mekah.
8.      Pemimpin wanita penghuni surga
*****
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Rosulullah SAW bersabda, “Para pemimpin wanita penghuni surga adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Muhammad, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah istri Fir’aun.” [HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (12179), sanad hadits ini Hasan].
*****
Demikianlah beberapa keutamaan yang dimiliki oleh Sayyidah Khodijah RA. Sayyidah Khodijah RA adalah sosok wanita yang mulia nan lembut budi pekertinya, penyayang dan murah hati. Wahai muslimah nan solikhah, marilah berteladan pada akhlak Sayyidah Khodijah RA. Keteladanan sikap mulia Sayyidah Khodijah RA diantaranya:
1.      Khadijah binti Khuwailid (Sayyidah Khodijah RA) adalah sosok yang dermawan.
Sayyidah Khadijah RA rela memberikan seluruh hartanya untuk mendukung perjuangan Rosulullah SAW, rela mengorbankan harta dan pikirannya untuk  Allah dan Rosulnya.
Diriwayatkan dalam perbincangan hangat antara Rosulullah SAW dan Khodijah RA, datanglah Halimah As Sa’diyah (Ibu susuan yang menyusui Rosulullah SAW). Dalam pertemuan hangat antara Rosulullah SAW dengan Halimah As Sa’diyah, beliau (Rosulullah SAW) menanyakan kondisinya (kondisi Halimah). Halimah As Sa’diyah mengeluhkan kerasnya kehidupan dan kekeringan yang melanda padang luas Bani Sa’ad. Ia (Halimah As Sa’diyah) mengeluhkan kesulitan hidup, dan getirnya kemiskinan. Rosulullah SAW lantas mencurahkan kemuliaan beliau pada Khodijah RA. Khadijah RA tersentuh oleh kondisi Halimah As Sa’diyah, ibunda susuan Nabi Muhammad SAW, konsisi sulit yang menimpanya dan juga kaumnya. Kalbu Khadijah pun menuangkan kasih sayang dan cinta. Dengan rela hati, Khadijah memberi 40 ekor kambing, juga seekor unta yang membawa air. Khadijah juga memberikan bekal seperlunya untuk nanti Halimah As Sa’diyah bawa pulang ke padang luas kampung halamannya”. (Nisa’, Ahlil Bait, hal: 31, 32).
Selain itu, Sayyidah Khodijah RA gemar membagikan hartanya pada fakir atau miskin, Sayyidah Khodijah juga sangat memuliakan tamu dan gemar membantu orang dalam kesusahan.
2.      Sifat mulia dan Mementingkan Orang lain
Khadijah RA sangat mulia dan murah hati. Ia menyukai apa saja yang disukai sang suami, mengorbankan apa pun yang ia miliki demi membahagiakan sang suami. Tatkala Rosulullah SAW merawat putra paman beliau, Ali bin Abi Thalib, Ali menemukan hati penuh kasih dan Ibu yang sangat penyayang di rumah Khadijah, wanita suci nan penuh kasih. Inilah yang membuat Ali merasa tinggal bersama Ibu kandung sendiri. Khadijah memperlakukan Ali dengan sangat baik.  
Demikian halnya ketika Khadijah RA merasa bahwa Rosulullah SAW mencintai Zaid bin Haritsah. Khadijah menghibahkan Zaid kepada beliau, sehingga kedudukan Khadijah kian meningkat di dalam jiwa Nabi Muhammad SAW.
3.       Setia pada Suami, Menemaninya dalam Suka dan Duka
Dear shalihah, sudah selayaknya sebagai wanita kita meneladani sikap sayyidah Khodijah RA yang setia pada suaminya (Nabi Muhammad SAW). Sayyidah Khodijah RA dengan kerelaan hati memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan Rosululklah. Sayyidah Khodijah menemani Rosulullah dalam suka maupun duka. Sayyidah Khodijah menguatkan Rosulullah ketika beliau ketakutan, kedinginan setelah ditemui Jibril dan menerima wahyu, Sayyidah Khodijah memotivasinya dan menyelimutinya. Sayyidah Khodijah RA menemani Rosulullah baik dalam dakwah islam baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Sayyidah Khodijah turut merasakan pedihnya diboikot kaum kafir quraisy menemani Rosulullah SAW. Sungguh betapa mulia nan murah hati Sayyidah Khodijah RA.
Sudah selayaknya kita meniru ummah kita (Sayyidah Khodijah RA) yang begitu setia pada sang suami.
Jadilah wanita…
Yang kala suamimu memandangnya, maka sejuklah hatinya
Yang kala suamimu berduka, maka engkau menguatkan pundaknya
Yang kala suamimu lemah, maka kau pun memotivasinya
Yang kala suamimu mendengarkan katamu, maka tentramlah batinnya
Yang kala bersamamu, maka semakin besar cintanya pada Rabbnya
Yang kala memandangmu mengingatkannya akan kehidupan akherat
Yang kala memandangmu mengingatkannya akan hari kematian
Jadilah wanita…
Yang kala suamimu di sampingmu, menginspirasinya untuk berbuat kebajikan
Yang kala bersamamu, mendorongnya dalam ketaatan pada Rabb dan RosulNya
Yang mana kalian berdua saling bahu membahu dalam kebaikan
Saling mengasihi dan saling mencintai dalam ketaatan
Membangun keluarga yang madani
4.      Khadijah RA adalah sosok yang Rajin Beribadah
Sayyidah Khodijah adalah orang yang pertama beriman pada Allah dan RosulNya. Sayyidah Khodijah orang pertama yang mempecayai Rosulullah SAW. Sayyidah Khodijah RA selalu mendampingi Rosulullah SAW hampir seperempat abad lamanya. Selama itu, ia meminum  dari sumber mata air jernih secara langsung. Meniru perilaku, akhlak, dan kasih sayang beliau (Rosulullah SAW) secara langsung. Sayyidah Khodijah RA senantiasa menjalankan shalat bersama Nabi SAW. Shalat kala itu adalah dua rokaat pada pagi hari dan dua rokaat pada petang hari, sebelum shalat lima waktu ditetapkan pada masa Isra’.
Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah RA, Ia berkata, “Shalat pertama yang diwajibkan adalah dua rokaat, lalu shalat dalam perjalanan ditetapkan, dan shalat saat bermukim disempurnakan”. (Muttafaq Alaih. HR. Bukhari (1090), kitab: Jum’at. Muslim (685), Kitab; Shalat para Musafir dan Qasharnya).
5.      Sayyidah Khodijah RA adalah sosok yang Penyabar dan Pandai Bersyukur
Sayyidah Khodijah RA adalah sosok yang sabar dalam menemani Rosululklah SAW dalam berdakwah baik dakwah secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Beliau (Sayyidah Khodijah RA) menemani dan menguatkan Rosulullah SAW dengan kesabaran ketika sedang diboikot kaum kafir quraisy, dilanda kelaparan dan kemiskinan dan tetap menegakkan islam di jalan Allah. Sayyidah Khodijah RA adalah sosok yang penyabar menerima ujian dari Allah SWT.
Sayyidah Khodijah RA adalah sosok yang pandai bersyukur atas nikmat yang Allah SWT limpahkan padanya. Beliau (Sayyidah Khodijah RA) gemar menyedekahkan hartanya untuk fakir atau miskin sebagai wujud rasa syukurnya atas nikmat yang Allah berikan padanya. Sayyidah Khodijah RA selalu bersyukur atas nikmat keberkahan pernikahan yang dijalaninya bersama Nabi Muhammad SAW. Ia selalu melakukan apapun untuk semata-mata mencari ridho Allah SWT dan RosulNya.
*****
Demikianlah sekilas tentang keutamaan dan keteladanan akhlak mulia Sayyidah Khodijah RA. Semoga kita dapat meneladaninya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan beliau sosok cerminan tauladan dalam berperilaku dan berakhlak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Terimakasih.
  


PERNIKAHAN IDAMAN BERBASIS AJARAN ROSUL

PERNIKAHAN IDAMAN BERBASIS AJARAN ROSUL            
*****
Membangun Keluarga Qur’ani
(Sakinah, Mawaddah, Warrohmah)  
*****

          Pernikahan, siapa sih yang tidak menginginkan pernikahan?. Terutama bagi remaja yang berusia 20-30 an, pernikahan adalah hal yang diimpi-impikan. Setiap orang memiliki konsep tentang bagaimana pesta/ perayaan pernikahannya. Sebagaimana, normalnya manusia, Halimahpun sama. Bahkan aku sudah memikirkan itu sejak kelas V (lima) SD. Bila Sandra Dewi menginginkan pernikahannya di Disneyland, bila Chelsie Olivia mengonsep pernikahannya bak cinderella, bila Oki Setiana Dewi mengonsep pernikahannya bak Barbie muslimah, dan lain sebagainya.
            Hal ini berbeda dengan Halimah, mungkin pemikiran ini akan terdengar asing bahkan aneh. Halimah memang tak ingin tergesa-gesa menikah, in syaallah menikah di usia 24 tahun atau 25 tahun adalah impianku. Usia tepat matang organ reproduksi dan kesiapan mental. Terlebih tepat di usia 25 tahun adalah usia matang dimana Rosulullah SAW menikah. Bahkan ini adalah bagian nadzarku sejak kelas V (lima) SD. Sebelum aku memutuskan pemikiran itu, aku telah melakukan berbagai pengamatan atau survey terkait konsep pernikahan. Berdasarkan survey hasil pengamatan:
1.      Pesta pernikahan tak lebih dari ajang bisnis
Banyak pesta pernikahan dengan tujuan untuk memperoleh laba, tak ubah dari sebuah bisnis. Tak heran, tamu yang di undang dari kalangan middle class ke atas, dengan harapan uang sumbangan yang diberikan berjumlah besar, dengan demikian si pemilik hajat memperoleh untung yang lebih besar. Banyak yang mengadakan pesta besar-besaran melebihi kemampuannya, walaupun bon hutang (karena biaya pesta pernikahan yang mahal) menumpuk. Tak jarang, hasil sumbangan tak sesuai yang diharapkan (uang hasil pesta lebih kecil dari modal yang dikeluarkan untuk mengadakan perayaan pesta pernikahan) setelah menikah malah dibebani bon hutang. Sebagian dari mereka tak jarang merantau hingga ke luar pulau (Misal dari Jawa merantau ke Sumatra  dengan tujuan kerja merantau untuk melunasi hutang), kan sangat miris.
Solusi yang saya tawarkan adalah:
Jadikan pesta pernikahan sederhana saja sesuaikan kemampuan kita, tak usah ngoyo hanya karena mengharap pujian manusia. Kan sangat miris, usai nikah yang harusnya memulai membangun qur’ani justru dibebani bon hutang pesta pernikahan…hehe. Mengadakan pesta sesuai kemampuan saja, kalau memang kaya dan mampu mewah, ya monggo silahkan mewah. In syaallah sesuatu akan menjadi nikmat apabila sederhana, apa adanya, dan tidak ngoyo. Pesta pernikahan sederhana saja, lebih baik uang yang untuk foya-foya digunakan untuk modal bisnis atau disedekahkan yatim piyatu atau fakir miskin, kan lebih bermanfaat..:)
2.      Pesta pernikahan tak lebih dari ajang pamer
Mohon maaf sebelumnya, sungguh ironis bila pernikahan sebagai ajang pamer kecantikan. Pamer keindahan dan kemegahan pesta, sang pengantin dipajang didepan bak manekin yang dipertontonkan banyak orang. Antara tamu laki-laki dan perempuan tiada hijab pemisah, laki-laki dan perempuan dengan bebas berkumpul. Kemewahan yang disuguhkan seolah ajang pameran. Ingatlah bahwa pamer adalah bagian dari syirik kecil, riya atau pamer tidak disukai Allah.

Rasulullah` bersabdah: yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai rasulullah, apakah syirik kecil itu ? ‘beliau menjawab,’yaitu riya’.”(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Baghawi dalam syarhus-sunnah).

           Seolah pesta pernikahan adalah ajang pameran yang dipertontonkan dengan tujuan lomba mengharap pujian orang. Bila pesta mengharapkan pujian maka yang didapatkan jua pujian, bukan keberkahan pernikahan. Oleh-oleh yang didapatkanpun “Wow pengantinnya cantik”, “Wow perancangan pestanya indah”, dan sederet pujian lainnya. Dear salikhah…keindahan keluarga bukanlah apa yang orang puji akan dirimu, namun keindahan keluarga adalah apabila keluarga itu dapat hidup rukun, harmonis, dan saling bahu membahu layaknya sayyidah Khodijah RA dengan Rosulullah SAW.
Solusi yang saya tawarkan:
Pesta pernikahan sederhana saja, kecantikan mempelai wanita tidak dipertontonkan ke khalayak publik. Tamu/ undangan dipisah antara tamu laki-laki dan perempuan, diberikan tempat khusus untuk laki-laki dan perempuan, misalkan dikasih hijab tirai kain yang besar sehingga antara tamu laki-laki dan perempuan tidak campur aduk. Sekaligus sebagai upaya untuk menjaga pandangan karena perkumpulan antara laki-laki dan perempuan kemungkinan mengundang fitnahnya lebih besar.
3.      Keberkahan pesta yang terlalaikan
Dear muslim dan muslimah, terkadang karena kemegahan atau kemewahan dunia, manusia lupa akan perintah atau anjuran Tuhannya. Demi menggapai pujian orang, banyak orang berlomba-lomba menyuguhkan pesta perkawinan. Bahkan mengesampingkan ridho Tuhan. Bahkan pula ada yang rela resepsi mewah berhari-hari, bermalam-malam hingga jutaan, ratusan juta, milyaran hingga triliun-an digelontorkan hanya untuk pesta pernikahan. Tamu yang diundangpun dari kalangan menengah ke atas. Padahal, keberkahan suatu pesta manakala yang diundang dan dijamu adalah dari kaum fakir-miskin, yatim-piyatu, dan dhuafa.
Pernahkah anda berfikir, bahwa kaum borjuis, kaum menengah ke atas sudah terbiasa dihormati dan dijamu makanan enak. Tidak inginkah engkau menghormati dan menjamu para dhuafa, fakir, miskin, yatim piyatu, dan yang terlunta-lunta untuk mendapatkan ridho Tuhanmu. Bersedekah dan berbagi dimomen bahagiamu akan membawa keberkahan untuk kebahagiaan hidupmu. Bukankah engkau akan lebih bahagia, manakala di hari bahagiamu (di hari pernikahanmu), kau jua melihat banyak kaum dhuafa, fakir miskin, yatim-piyatu tersenyum bahagia menikmati pestamu, menikmati hidangan pernikahanmu dan mendoakan pernikahanmu agar penuh berkah, langgeng, harmonis hingga akhir hayat. Perlu engkau ketahui wahai muslim dan muslimah yang taat, doa yatim piyatu, doa dhuafa, doa fakir miskin in syallah tiada penghalang.
Solusi yang saya tawarkan:
Buatlah resepsi pesta pernikahanmu sederhana saja, carilah ridho Tuhanmu dengan mengundang yatim piyatu, fakir miskin, dan dhuafa di acara pernikahanmu. Kendati gelandanganpun, in syallah mereka bisa ditata. Tak perlu kuatir bahwa mereka akan mengacaukan pestamu, karena merekapun punya hati dan mereka punya otak yang bisa diatur. Sebagaimana engkau tak pernah kawatir bahwa esok akan makan apa, maka janganlah engkau kawatir bahwa dengan mengundang mereka (yatim piyatu, fakir miskin, dhuafa) diacara pernikahanmu, maka akan kacau. Yakinlah, luruskan niatmu…bahwa menjadikan momen bahagiamu dengan berbagi kebahagiaan pada yatim piyatu, fakir miskin dan dhuafa akan mendatangkan keberkahan di hidupmu.
Rasululoh bersabda: “Sejelek-jeleknya makanan adalah hidangan walimah yang orang kaya di undang menghadirinya, tetapi orang orang miskin tidak diundang. Barang siapa tidak memenuhi undangan walimahan sungguh dia telah menduharkai Allah dan Rasul-Nya,” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Huroiroh).
4.      Pesta Pernikahan tak Lebih dari Ajang Foya-Foya atau Pemborosan
Sebagaimana umumnya, dengan kebutaan duniawi yang mengatasnamakan “Pernikahan hanya sekali”, lalu orang-orang terkecoh untuk merayakan pesta pernikahan dengan berlomba dengan menunjukkan kemewahan dan kemegahannya, bahkan pesta pernikahan dirayakan besar-besaran, berhari-hari, bermalam-malam. Tak peduli menggelontorkan ratusan juta, milyaran bahkan hingga triliunan.
Kita lupa bahwa pemborosan (foya-foya) merupakan hal yang tidak disukai Allah. Boros adalah saudara syetan, maukah engkau bersaudarakan syetan? Maukah engkau dimasukkan neraka bersama syetan? Berhati-hatilah…syetan itu teramat pandai untuk menggelincirkan manusia ke dalam jurang kemaksiyatan.
وَءَاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Solusi yang saya tawarkan:
Rayakan pesta pernikahan sederhana saja, undang yatim piyatu dan fakir miskin untuk mendapatkan keberkahan pernikahan. Niatkan pernikahanmu lillah, maka penuhilah sunnah Rosul yang dianjurkan dan hindari pemborosan dan riya’…J

*****
Lalu bagaimanakah pesta pernikahan impian Halimah?
Sebagaimana yang sudah kusebutkan diatas, bahwa konsep pernikahanku sudah kupikirkan sejak kelas V SD. Bahwa aku sangat menghendaki pesta pernikahanku sederhana saja, terpenting syarat wajibnya pernikahan terpenuhi yakni::
a.       Ada pengantin pria
b.      Ada pengantin wanita
c.       Ada 2 orang saksi laki-laki
d.      Ada wali nikah
e.       Ijab dan kabul (akad nikah).
Menurutku pernikahan itu tak perlu mewah, sederhana saja yang penting syarat wajibnya terpenuhi. Tak usah dipersulit, harus ini dan itu, justru itu yang akan mempersulit diri. Bagiku sesuatu yang sederhana itu lebih indah, bahkan lebih indah dari kemewahan dunia dan seisinya. Yang kuundangpun cukup keluarga dan kerabat, pesta sederhana kecil-kecilan jauh lebih menyenangkan bagiku.
Ketika resepsi, mungkin konsepku berbeda dari normalnya orang. Semoga nanti pasanganku dapat menerimanya dengan baik. Aaamiin. Aku menginginkan saat resepsi yang diundang adalah yatim piyatu dan fakir miskin, misal mengundang 30 yatim-piyatu dan mengundang 30 fakir miskin, lalu mereka kujamu, diberikan sodaqoh, dan diminta mendengarkan prosesi resepsi dari awal hingga doa. Doa dipimpin oleh kiahi dan anak yatim agar nanti keluarga yang kubangun  in syallah berkah, sakinah, mawaddah, dan warrohmah serta langgeng hingga maut memisahkan kita. Aku pribadi, aku tak mencintai keramaian, hingar-bingar dan hiruk-pikuk dunia, itulah sebabnya dari dulu aku sangat betah di rumah. Berkarya dan membantu Ibu sebisaku di rumah. Keluar rumah kecuali ats izin Ibu Bapak, biasanya saat sekolah atau mengerjakan tugas sekolah. Terlebih aku seorang wanita, harus jelas keluar rumah tujuanku apa?, untuk kemaslahatan atau untuk ngrumpi?, untuk sesuatu yang bermanfaat atau sekedar untuk hedonisme?, Untuk foya-foya ataukah untuk mencari ridho Tuhan?.
Bedakan antara sosialisasi dan ngerumpi, banyak orang salah kaprah mengatakan bahwa bergaul sambil ngrumpi adalah bentuk bersosialisasi. Bersosialisasi menurutku adalah berkumpul sesama manusia untuk bersilaturahmi (No ngrumpi), dan melakukan sesuatu yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Jadi jika kalian berkumpul dan membawa manfaat, itulah sosialisasi yang baik. Namun bila berkumpul justru membuat masalah atau mendatangkan mudharat, menambah maksiyat maka itu bukanlah bersosialisasi kebaikan melainkan tolong-menolong akan kemunkaran. Hal yang paling tidak aku suka ketika kumpul tanpa maksud dan tujuan pasti adalah ghibah. Kita tak pernah tahu, bahwa Ghibah termasuk dosa besar. Bila kau tak doyan makan bangkai, lalu mengapa engkau tega memakan bangkai saudaramu dengan ghibahmu?. Perlu kita ketahui bahwa kelak nanti di akherat, di langit (ada tujuh lapis langit), tiap langit dijaga oleh malaikat Khafadhoh. Dan langit yang pertama adalah langit yang dijaga oleh malaikat khafadhoh agar orang yang ghibah tidak bisa melewatinya. Jika ghibah, maka akan ditolak amalannya dan dilemparkan kembali ke muka bumi, maukah engkau?. Tentu tidak, oleh karena itu marilah berkumpul tetapi berkumpul untuk yang bermanfaat, bukan ghibah.
Bagiku surga wanita ketika belum berumah tangga adalah taat Ibu dan Bapak, dan rumah adalah sebaik-baik surga bagi wanita. Ridho Tuhan bersamaan dengan ridho kedua orangtua. Sementara bila seorang wanita sudah menikah, maka surganya adalah taat suami, karena ridho Tuhan beserta ridho sang suami. Aku selalu berdoa, agar Tuhan senantiasa mengampuni dosaku baik dimasa lalu, saat ini, maupun di masa yang akan datang. Agar Tuhan senantiasa berkenan memberikan hidayahNya untukku, membimbingku ke kehidupan yang lurus meneladani para ummahatul mukminin…
Ridho Allah bersamaan dengan ridho orangtua:
 “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (Hasan. at-Tirmidzi : 1899,  HR. al-Hakim : 7249, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir : 14368, al-Bazzar : 2394).
Ridho Allah bersamaan dengan ridho suami:

“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

Bagaimanakah sosok wanita dalam rumah tangga yang diharapkan Halimah?
Wanita adalah pondasi utama yang menentukan baik tidaknya suatu rumah tangga. Karena wanita adalah madrosah utama bagi putra-putrinya. Bagaimana bila wanita itu meninggalkan urusan rumah tangga dan semuanya diserahkan pada pembantu dan baby sister-nya, sementara ia sibuk menjadi wanita karir. Maka rusaklah generasi masa depan. Hingga ada yang mengatakan bahwa “Hancur tidaknya suatu negara terletak pada wanitanya”. Mengapa demikian?, karena wanita memiliki peran sentral yang mencetak generasi pemuda di masa depan. Sedangkan hancur tidaknya suatu negara terletak ditangan pemuda. Oleh karena itu, bila menginginkan kemajuan Indonesia, maka didiklah wanitanya (calon Ibu dan para Ibu) untuk mennjadi wanita yang cerdas dan berkhlak mulia. Dibalik lelaki yang hebat ada sosok wanita hebat di belakangnya. Bila lelaki itu belum menikah, maka dibalik kehebatan dia ada sosok ibu luar biasa yang senantiasa mendoakannya, mendidiknya dan merawatnya. Bila ia sudah menikah, maka dibalik hebatnya seorang lelaki ada sosok istri dan Ibu yang senantiasa mendukungnya, mendoakannya, dan menemaninya dalam perjuangannya.
“Bolehkan menjadi wanita karir?”, jawabannya adalah boleh dengan cacatan tugas utamamu sebagai seorang Ibu yang menjadi madrosah untuk putra-putrimu tidak terbengkelai dan tidak terabaikan serta tugasmu sebagai seorang istri yang melayani suami tidak terabaikan. Alangkah baiknya, menjadi wanita karir itu dilakukan ketika anak usia 8 tahun ke atas, jadi ketika usia kecil, anak dipegang-dididik Ibu sendiri dengan baik. Itupun atas izin suamimu, bila suamimu mengizinkanmu menjadi wanita karir, maka silahkan tetapi tugasmu sebagi seorang ibu dan seorang istri jangan dilalaikan. Bila suamimu melarangmu menjadi wanita karir, dengan ia menyatakan bahwa ialah yang akan mencukupi kebutuhanmu. Maka janganlah engkau menjadi wanita karir, sebab ridho Tuhanmu bersama ridho suamimu. Syukuri nafkah yang diberikan suami, gunakan sebaik-baiknya dengan managemen keuangan yang baik. Sesuaikan antara pendapatan dan pengeluaran, sehingga dengan demikian keluarga akan damai dan bahagia.
Bagaimanakah agar keluarga madani yang sakinah, mawaddah, warrohmah dan penuh kedamaian terbentuk:
Sebagaimana umumnya wanita, kunci kebahagiaan adalah kasih sayang, saling mengasihi, saling menyayangi dengan kelembutan. Halimah bermimpi suatu saat nanti menikah dengan seorang yang berilmu dan ilmunya diamalkan, sederhana, lembut, penyayang. Aku tak memiliki persyaratan ini-itu, tak mesyaratkan ia harus prestatif, tak mesyaratkan harus kaya, tak mesyaratkan harus tampan. Bagiku yang penting ia bisa mengarahkanku, ia bisa memimpinku dengan ilmunya, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang itu lebih dari cukup. Rumah tangga yang damai sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sayyidah Muthi’ah RA yang siceritakan Rosulullah SAW sebagai ahli surga, maka ketika menikah Halimah menginginkan hal ini:
Peran seorang istri:
1.      Memasakkan suami, melayaninya dengan baik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sayyidah Fatimah RA, menumbuk gandum dan memasaknya untuk dihidangkan ke suaminya.
2.      Mendidik anak-anaknya dengan baik dan kelembutan. Suatu saat nanti ketika berkeluarga, aku ingin menjadi guru bagi putra-putriku di rumah. Aku yang mendidiknya sehingga tak perlu guru les. Karena bagiku, mendidik anak alangkah baiknya dilakukan oleh seorang Ibu sendiri ketika di rumah, kecuali ketika di sekolah/ madrasah/ majlis taklim muta’alim. Itulah alasan mengapa seorang wanita harus cerdas. Wanita cerdas bukan untuk menyaingi suaminya, bukan untuk mengunggulinya melainkan sebagai bekal wanita untuk ia gunakan dalam menddidik putra-putrinya. Suatu saat nanti aku ingin menjadi Ibu yang tak memaksakan kehendakku pada anak, melainkah ibu yang mengarahkan bakat anak, lalu kurahkan dan kubimbing bagaimana mengembangkan bakat dan potensinya. Setiap anak memiliki bakat dan potensi masing-masing, sehingga ia tidak boleh dipaksa menuruti nafsu kedua orangtuanya melainkan orangtua memberikan ruang bagi anak untuk menggali potensi dan bakatnya, lalu dipupuk dan dikembangkan, diarahkan.
3.      Menyambut suami dengan senyuman ketika ia pulang kerja, dan senantiasa membuatnya bahagia atau tersenyum ketika di sampingnya sebagaimana yang dilakukkan para ummahatul mukminin.
4.      Menyiapkan handuk dan air hangat untuk suami mandi ketika ia usai pulang kerja, dan menyiapkan keperluannya. Bukan karena hal lain melainkan karena mencari ridho suami sebab ridho Allah bersama ridho suami.
5.      Tidak mengizinkan tamu laki-laki masuk ke dalam rumah tanpa izin dan sepemgetahuan suami.
6.      Selalu izin ketika hendak pergi.
7.      Senantiasa mendukungnya dalam kebajikan (kebaikan), menguatkannya ketika lemah, menghiburnya ketika sedih, memotivasinya ketika rapuh, dan selalu menemaninya dalam suka dan duka.
8.      Apabila suami marah, digenggam tangannya, ditenangkan, dimbilkan air atau minuman untuk melunakkan keras hatinya. Sebab kekerasan hanya bisa diluluhkan dengan kelembutan.
9.      Ketika dalam keluarga memiliki masalah, masalah itu diselesaikan bukan diumbar atau diceritakan orang lain. Tidak pengadu, sedikit-sedikit ngadu ke orangtua apabila ada masalah dengan suami. Hal ini bisa dilihat dari kisah Sayyidah Fatimah RA dengan Sayyidina Ali RA. 
Peran Suami:
1.      Memberikah nafkah istri baik nafkah materi maupun nafkah hati.
2.      Mengecup kening istri ketika akan berangkat kerja untuk membangun keluarga harmonis.
3.      Membimbing dan mendidik istri. Karena dosa istri, suami juga ikut menanggung sebab suami adalah imam bagi seorang istri yang wajib untuk membimbing, mengarahkan, dan mendidiknya.
4.      Tidak berlaku keras, kasar terhadap wanita. Bila istri salah diberikan pengarahan dengan lembut dan halus. Kecuali bila diperingatkan dengan halus tak bisa, masih membangkang barulah cara keras diperbolehkan. Tetapi alangkah baiknya menggunakan kelembutan.
5.      Ayah adalah sosok yang mendidik istri sekaligus mendidik anak.
6.      Mendidik istri, misalnya tiap malam ketika di rumah, istri diajar ngaji.
7.      Menyayangi istri dengan penuh kelembutan, kasih sayang layaknya keluarga yang dicontohkan Sayyidina Khodijah RA dengan Rosulullah SAW.
8.      Apabila istri marah, istri ditenangkan dengan digenggam tangannya, dipeluk. Sesungguhnya wanita bisa diluluhkan dengan kelembutan, kasih sayang, dan pelukan. (cacatan: memegang tangan, memeluk hanya boleh dilakukan oleh suami istri, atau makhram).
9.      Ketika ada masalah, masalah diselesaikan dengan lembut, tidak menggunakan kata-kata kasar ataupun menggunakan sikap keras. Masalah tidak diumbar, tetapi diselesaikan.

Kunci kebahagiaan adalah kasih sayang. Keluarga yang madani akan terbentuk manakala antara suami istri itu saling bahu membahu, saling mendukung dalam kebaikan, saling memotivasi dan menginspirasi untuk kebajikan, menemani dalam suka dan duka, serta saling menyayangi dan saling mencintai dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.